0

Friceilda Prillea Butuh Aksi Anrez Adelio Soal Tanggung Jawab Bukan Omdo

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Perseteruan yang semakin memanas antara selebgram Friceilda Prillea, yang akrab disapa Icel, dengan aktor Anrez Adelio kini memasuki babak baru. Setelah sebelumnya pihak Anrez mengklaim telah berupaya menunjukkan tanggung jawabnya, Icel akhirnya angkat bicara dengan nada yang sangat tegas dan menohok. Pernyataan Icel ini dilontarkan sebagai respons langsung terhadap klaim Anrez yang dinilai hanya sebatas omongan tanpa bukti nyata.

"Kalau masalah bertanggung jawab, bertanggung jawabnya itu yang mana nih? Aku kan butuhnya tindakan, bukan sekadar omongan dan niat," ujar Icel dengan nada tegas saat ditemui awak media di kawasan Studio TransTV, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, pada Rabu (15/4/2026). Kalimat ini menjadi inti dari kekecewaan Icel yang merasa upayanya untuk mendapatkan kejelasan dan dukungan konkret dari Anrez tidak kunjung membuahkan hasil. Ia secara gamblang menyatakan bahwa janji manis tanpa dibarengi dengan tindakan nyata sama sekali tidak memiliki arti baginya. Bagi Icel, yang terpenting adalah adanya pembuktian nyata atas klaim tanggung jawab yang disebutkan oleh pihak Anrez.

Icel mengakui bahwa ia sangat menghargai jika ada itikad baik yang ditunjukkan oleh Anrez. Namun, ia menegaskan bahwa ia tidak akan tinggal diam dan bungkam jika hanya diberikan janji-janji kosong yang tidak pernah terealisasi. "Aku menghargai itikad baik dia, cuma yang aku tunggu itu sebenarnya tindakannya, bukan cuma ngomong doang," lanjutnya lagi, menekankan kembali permintaannya akan tindakan konkret. Baginya, kata-kata tanpa perbuatan hanya akan menambah luka dan kekecewaan, terutama dalam situasi yang ia hadapi. Ia membutuhkan dukungan nyata, bukan sekadar retorika yang manis di telinga namun hampa di hati.

Tak hanya soal tanggung jawab yang dirasa fiktif dan tidak berwujud, Icel juga membongkar fakta mengejutkan lainnya yang semakin memperburuk pandangannya terhadap sikap Anrez. Ia menyebutkan bahwa Anrez seolah menghilang tanpa jejak, bak ditelan bumi, ketika usia kandungannya menginjak usia tiga bulan. Periode ini merupakan masa krusial dalam kehamilan, di mana dukungan emosional dan fisik sangat dibutuhkan. Kehilangan kontak pada saat-saat genting seperti itu tentu saja meninggalkan luka mendalam bagi Icel.

Keanehan semakin terlihat ketika Anrez baru menampakkan batang hidungnya kembali setelah kasus ini menjadi viral dan ramai diperbincangkan di media sosial. Munculnya Anrez justru di saat masalah ini sudah menjadi konsumsi publik menunjukkan adanya dugaan bahwa ia baru bertindak karena tekanan sosial, bukan karena kesadaran diri akan tanggung jawabnya. "Setelah itu tiga bulan kandungan tidak ada komunikasi sampai akhirnya aku viral, baru dia muncul lagi," sindir Icel dengan nada sarkastis, menunjukkan betapa terkejut dan kecewanya ia dengan pola komunikasi Anrez yang dianggapnya sangat tidak bertanggung jawab.

Menghadapi masa kehamilan yang penuh perjuangan hingga proses melahirkan seorang diri diakui oleh Icel sebagai momen paling menyakitkan dalam hidupnya. Ia harus melewati berbagai tantangan dan kesulitan tanpa kehadiran dan dukungan penuh dari ayah dari anaknya. Pengalaman ini tentu saja meninggalkan jejak emosional yang dalam. Kini, saat sang buah hati tercinta sudah berusia dua bulan, Icel menegaskan bahwa ia tidak lagi membutuhkan drama personal yang berlarut-larut. Fokusnya kini adalah masa depan anaknya dan memastikan hak-haknya terpenuhi. Oleh karena itu, ia memilih untuk menempuh jalur hukum sebagai langkah konkret untuk menuntut hak anaknya.

Icel menekankan bahwa keberaniannya untuk muncul ke publik dan menceritakan kisahnya bukan semata-mata demi mencari belas kasihan dari para netizen. Ia memiliki tujuan yang lebih besar dan pesan yang ingin disampaikan secara langsung kepada pihak Anrez. "Tujuan aku sebenarnya ingin membangunkan pihak terkait dari ‘tidurnya’ gitu, untuk lihat anaknya sudah lahir loh!" cetusnya dengan penuh keyakinan. Pernyataannya ini menunjukkan bahwa ia ingin Anrez sadar akan keberadaan anaknya dan kewajiban yang harus dipenuhinya. Ini adalah panggilan untuk Anrez agar bangkit dari ketidakpeduliannya dan melihat kenyataan bahwa ada seorang anak yang membutuhkan perhatian dan tanggung jawabnya.

Kini, Icel secara tegas menutup pintu untuk segala bentuk urusan personal yang berkaitan dengan Anrez. Segala bentuk pembelaan, klarifikasi, atau ajakan komunikasi dari pihak Anrez harus melalui jalur hukum dan diwakili oleh kuasa hukumnya. Ia tidak ingin lagi terlibat dalam percakapan yang tidak produktif dan hanya berujung pada janji-janji kosong. "Kita hadapi proses hukum yang ada dulu saja, kita hargai proses hukum yang lagi berjalan," tutup Icel, mengakhiri pembicaraan dengan pernyataan yang menunjukkan keseriusannya dalam menempuh jalur hukum dan keyakinannya pada proses peradilan.

Pernyataan Icel ini mencerminkan kelelahannya terhadap janji-janji kosong dan keinginannya untuk mendapatkan keadilan nyata bagi dirinya dan anaknya. Ia tidak lagi tertarik dengan omongan manis, melainkan menuntut tindakan konkret yang dapat membuktikan adanya tanggung jawab. Keputusannya untuk menempuh jalur hukum menunjukkan bahwa ia siap memperjuangkan hak anaknya hingga tuntas, melewati segala rintangan yang mungkin ada. Sikapnya yang tegas ini menjadi bukti bahwa ia tidak akan menyerah begitu saja dan akan terus berjuang demi masa depan buah hatinya.

Lebih lanjut, situasi ini juga menyoroti pentingnya komunikasi yang terbuka dan bertanggung jawab dalam sebuah hubungan, terutama ketika melibatkan konsekuensi yang besar seperti kehamilan. Kehadiran dan dukungan dari kedua belah pihak sangatlah krusial. Kasus Icel dan Anrez menjadi contoh bagaimana kurangnya komunikasi dan tanggung jawab dapat menimbulkan luka yang mendalam dan berujung pada konflik yang lebih besar.

Icel berharap dengan membawa kasus ini ke ranah hukum, Anrez akan benar-benar sadar akan kewajibannya sebagai seorang ayah dan memberikan hak-hak yang seharusnya diterima oleh sang anak. Ia ingin memberikan pelajaran berharga bagi Anrez, bahwa tanggung jawab bukanlah sesuatu yang bisa diabaikan atau ditunda-tunda.

Keputusan Icel untuk tidak lagi berkomunikasi secara langsung dengan Anrez dan menyerahkan segalanya kepada kuasa hukumnya juga merupakan langkah strategis untuk melindungi dirinya dan anaknya dari potensi manipulasi atau janji-janji yang tidak ditepati. Dengan demikian, ia dapat fokus pada pemulihan diri dan membesarkan anaknya dengan baik, sambil menunggu hasil dari proses hukum yang sedang berjalan.

Kasus ini juga mengingatkan kepada publik akan pentingnya perlindungan hukum bagi ibu dan anak, serta konsekuensi yang harus dihadapi bagi pihak yang lalai dalam memenuhi tanggung jawabnya. Friceilda Prillea telah menunjukkan keberaniannya untuk bersuara dan memperjuangkan hak anaknya, sebuah langkah yang patut diapresiasi dan didukung. Ia membutuhkan aksi nyata, bukan sekadar omong kosong, untuk membuktikan bahwa tanggung jawab itu ada dan harus dipenuhi.