BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Proses pemulihan hubungan antara penyanyi Denada dan putranya, Ressa Rizky Rossano, yang sempat dilanda konflik, kini menunjukkan perkembangan positif berkat pendampingan psikolog profesional, Intan Erlita. Dalam beberapa sesi pertemuan yang telah dilakukan, Intan Erlita menyaksikan secara langsung bagaimana dinamika emosional antara ibu dan anak ini perlahan kembali terjalin, bahkan semakin menguat. "Hubungannya juga semakin erat," ungkap Intan Erlita dalam wawancara eksklusif dengan detikcom di Studio Pagi-Pagi Ambyar Trans TV pada Selasa, 14 April 2026. Pernyataan ini menjadi penanda penting bahwa jurang pemisah yang sempat tercipta kini mulai menyempit, digantikan oleh gelombang rekonsiliasi dan pemahaman yang lebih mendalam.
Intan Erlita menekankan prinsip mendasar dalam penyelesaian konflik keluarga, yaitu bahwa akar permasalahan dan solusinya pada akhirnya harus datang dari pihak-pihak yang terlibat langsung. Peran psikolog, dalam hal ini, adalah sebagai fasilitator yang membantu membuka ruang komunikasi, mengelola emosi, dan membimbing kedua belah pihak untuk menemukan jalan keluar bersama. "Dan sebenarnya ini, sebenarnya konflik keluarga yang memang harusnya mereka menyelesaikan," tegasnya. Pendekatan ini tidak bersifat intervensif secara langsung untuk menentukan siapa yang salah atau benar, melainkan memberdayakan Denada dan Ressa untuk mengambil kendali atas pemulihan hubungan mereka. Ini adalah esensi dari terapi keluarga yang berfokus pada kemandirian dan kekuatan internal keluarga itu sendiri.
Mengingat kembali perjalanan hubungan Denada dan Ressa, sempat terjadi periode kerenggangan yang bahkan berujung pada tindakan hukum berupa gugatan yang diajukan oleh sang anak. Situasi ini tentu menimbulkan luka dan kecemasan bagi kedua belah pihak. Namun, kabar baiknya, seperti yang disampaikan oleh Intan Erlita, permasalahan pelik tersebut kini telah menemukan titik terang dan akhirnya terselesaikan. "Dan akhirnya alhamdulillah, ini udah selesai permasalahannya," sambungnya dengan nada lega. Penyelesaian ini bukan sekadar penghentian sebuah proses hukum, melainkan sebuah momentum untuk membangun kembali fondasi hubungan yang lebih kokoh dan saling pengertian.
Ketika ditanya mengenai metode spesifik yang diterapkan untuk memperbaiki kedekatan emosional antara Denada dan Ressa, Intan Erlita memberikan pandangan yang menarik. Ia tidak melihat adanya pendekatan "ajaib" atau formula baku yang digunakan. Sebaliknya, ia mengamati bahwa kedekatan itu terjalin secara alami, tumbuh seiring berjalannya waktu dan melalui proses-proses internal yang dijalani oleh Denada dan Ressa sendiri. "Mereka juga udah saling dekat. Jadi mereka udah berjalan sama-sama. Natural aja, karena akhirnya dua-duanya saling mengakui dan saling merindukan, kalau aku lihatnya gitu," jelasnya. Penekanan pada "natural" ini menunjukkan bahwa pemulihan emosional yang otentik seringkali tidak dapat dipaksakan, melainkan perlu diberi ruang untuk berkembang dengan sendirinya, didorong oleh kesadaran dan keinginan tulus dari masing-masing individu.
Lebih lanjut, Intan Erlita menjelaskan bahwa proses penyembuhan emosional ini melibatkan pengakuan atas kesalahan dan kerinduan yang mendalam. Pengakuan ini bisa berarti pengakuan atas peran masing-masing dalam terciptanya konflik, atau pengakuan atas rasa sakit yang mungkin telah ditimbulkan. Kerinduan, di sisi lain, adalah bukti nyata bahwa ikatan emosional antara Denada dan Ressa tidak pernah benar-benar putus, melainkan hanya tertutup oleh lapisan-lapisan kesalahpahaman atau kekecewaan. Kemunculan kembali perasaan rindu ini menjadi bahan bakar utama untuk proses rekonsiliasi. Psikolog bertindak sebagai katalisator yang membantu kedua belah pihak untuk membuka diri terhadap perasaan-perasaan ini dan mengekspresikannya dengan cara yang sehat.
Pendekatan yang digunakan Intan Erlita dalam kasus Denada dan Ressa ini sangat menekankan pada kekuatan intrinsik keluarga. Ia tidak datang dengan solusi siap pakai, melainkan dengan serangkaian alat dan teknik yang memungkinkan Denada dan Ressa untuk mengeksplorasi perasaan mereka sendiri, memahami perspektif satu sama lain, dan akhirnya menemukan solusi yang paling sesuai untuk mereka. Ini adalah filosofi terapi keluarga yang berpusat pada klien, di mana setiap keluarga dianggap unik dan memiliki kapasitas bawaan untuk menyembuhkan diri sendiri. Peran psikolog adalah sebagai pemandu yang memberikan arah, namun roda kemudi tetap berada di tangan Denada dan Ressa.
Proses pemulihan hubungan ibu dan anak seperti ini seringkali merupakan perjalanan yang kompleks dan membutuhkan waktu. Ada kalanya terjalin kemajuan yang pesat, namun tak jarang pula ada kemunduran kecil yang menguji kesabaran. Namun, dengan kehadiran seorang profesional seperti Intan Erlita, Denada dan Ressa memiliki dukungan yang stabil dan objektif untuk menavigasi setiap tantangan. Ia dapat membantu mengidentifikasi pola-pola komunikasi yang tidak sehat, mengajarkan strategi coping yang lebih efektif, dan memfasilitasi dialog yang konstruktif.
Kisah Denada dan Ressa ini menjadi pengingat penting bagi banyak keluarga bahwa konflik, meskipun menyakitkan, bukanlah akhir dari segalanya. Dengan kemauan yang kuat, dukungan yang tepat, dan kesediaan untuk saling memahami, hubungan yang retak sekalipun dapat diperbaiki dan bahkan menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Keberanian Denada dan Ressa untuk mencari bantuan profesional dan keterbukaan mereka terhadap proses ini patut diapresiasi. Hal ini menunjukkan kedewasaan emosional dan komitmen mereka untuk memulihkan ikatan keluarga yang berharga.
Lebih jauh lagi, Intan Erlita juga memberikan penekanan pada pentingnya "mengakui". Pengakuan di sini bisa berarti mengakui bahwa ada kesalahan yang telah dilakukan, baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Bisa juga berarti mengakui bahwa ada luka yang dirasakan, atau bahwa ada kebutuhan yang belum terpenuhi dalam hubungan tersebut. Ketika kedua belah pihak bersedia untuk mengakui kelemahan dan kesalahan mereka, ini membuka pintu bagi empati dan pengampunan. Tanpa pengakuan, seringkali akan sulit untuk melangkah maju, karena setiap pihak mungkin akan terus merasa bahwa mereka adalah korban yang tidak bersalah.
Aspek "saling merindukan" yang disebutkan oleh Intan Erlita juga sangat krusial. Kerinduan adalah indikator kuat dari ikatan emosional yang dalam dan cinta yang masih ada. Bahkan di tengah konflik terburuk sekalipun, seringkali ada sisa-sisa kasih sayang yang tetap hidup. Mengakui dan membiarkan perasaan rindu ini muncul ke permukaan dapat menjadi pendorong emosional yang kuat untuk rekonsiliasi. Ini adalah bukti bahwa, di balik segala ketegangan dan perbedaan, ada fondasi cinta yang kuat yang ingin diperbaiki.
Dalam konteks yang lebih luas, kasus Denada dan Ressa ini dapat memberikan pelajaran berharga bagi masyarakat tentang pentingnya kesehatan mental dan hubungan interpersonal. Semakin banyak orang yang menyadari bahwa konflik dalam keluarga bukanlah sesuatu yang harus disembunyikan atau diabaikan, melainkan sesuatu yang memerlukan perhatian dan penanganan yang tepat. Memanfaatkan jasa psikolog atau terapis keluarga bukan lagi sebuah stigma, melainkan sebuah langkah proaktif untuk menjaga keutuhan dan keharmonisan keluarga.
Intan Erlita, sebagai seorang profesional, memainkan peran vital dalam memfasilitasi proses ini. Ia tidak hanya memberikan saran, tetapi juga menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung di mana Denada dan Ressa dapat mengekspresikan diri mereka tanpa rasa takut dihakimi. Kemampuannya untuk mendengarkan secara aktif, menunjukkan empati, dan memberikan wawasan yang konstruktif adalah kunci keberhasilan dalam membimbing mereka menuju rekonsiliasi.
Pada akhirnya, berita ini tidak hanya melaporkan sebuah penyelesaian konflik, tetapi juga sebuah kisah tentang harapan, ketahanan, dan kekuatan cinta keluarga. Pendampingan psikolog yang diberikan oleh Intan Erlita telah menjadi jembatan yang menghubungkan kembali hati Denada dan Ressa, memulihkan harmoni yang sempat hilang, dan memperkuat ikatan mereka untuk masa depan yang lebih baik. Ini adalah bukti nyata bahwa dengan bimbingan yang tepat, bahkan luka yang paling dalam pun dapat disembuhkan.

