0

Veri AFI Blak-blakan Ungkap Perjuangan Melawan Ketakutan dan Sederet Penyakit yang Menyerangnya

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Lama tak terdengar kabarnya, sosok Veri AFI, pemenang Akademi Fantasi Indosiar (AFI) musim pertama, kembali mencuri perhatian publik. Perubahan fisiknya yang semakin kurus memicu rasa penasaran dan kekhawatiran akan kondisi kesehatannya. Dalam sebuah pengakuan yang jujur dan terbuka, Veri AFI membeberkan bahwa dirinya telah berjuang melawan berbagai penyakit, baik yang bersifat medis maupun nonmedis, yang telah menggerogoti kesehatan dan kualitas hidupnya selama beberapa waktu terakhir.

Penyakit medis yang dialami Veri AFI berawal dari gangguan pada lambungnya. Kondisi ini kemudian memicu serangkaian masalah kesehatan mental yang kompleks, termasuk anxiety (kecemasan berlebih) dan psikosomatis. Gejala psikosomatis ini begitu parah hingga dalam tiga bulan terakhir, Veri AFI mengaku sama sekali tidak bisa mengonsumsi makanan. Bahkan, sekadar mencium aroma makanan saja sudah menimbulkan rasa mual yang hebat. "Cium aroma makanan aja udah enek duluan," ungkapnya dengan nada prihatin, dikutip dari tayangan Rumpi: No Secret, pada Senin, 13 April 2026.

Lebih lanjut, Veri AFI juga menceritakan pengalaman pahitnya menghadapi ‘sakit’ nonmedis, yang ia rasakan dalam bentuk ketakutan yang mendalam. Ketakutan ini begitu membekas hingga sejak tahun 2019, ia memutuskan untuk mengunci akun Instagram pribadinya dan enggan membagikan foto maupun video dirinya. Keputusan ini diambil karena ia merasa media sosial, terutama Instagram, adalah satu-satunya platform yang terasa aman baginya. "Iya sejak itu juga dikunci. Itu (Instagram) satu-satunya sosmed yang aman, (media sosial) yang lainnya, bikin, di-hack, bikin, di-hack," akunya dengan nada pasrah.

Kondisi kecemasan yang dialami Veri AFI ini seringkali memicu serangan anxiety, yang pada gilirannya memperparah masalah lambungnya yang telah ada. Ia menggambarkan betapa mengerikannya kondisi tersebut. "Kadang-kadang kondisi tertentu yang bikin anxiety muncul dan itu yang memperparah gerd-nya. masih mending kalau sekadar asam lambung naik, makan jadi susah itu masih mending. Kalau aku sampai kebawa mimpi, sampai cium aroma makanan aja udah enek duluan, sampai benar-benar rasa dada kebakar panas, jangankan makan, minum air putih aja sudah gak bisa, sakit banget," jelas Veri AFI dengan suara bergetar menahan emosi.

Penderitaan Veri AFI tidak berhenti sampai di situ. Di tengah perjuangannya melawan penyakit lambung, kecemasan, dan psikosomatis, ia kembali diguncang kabar buruk ketika divonis mengidap ablasio retina. Vonis ini datang di saat yang paling krusial dalam hidupnya, ketika ia sedang menikmati puncak kariernya sebagai desainer grafis, sebuah bidang yang sangat sesuai dengan minat dan bakatnya. "Aku nyambi sebagai desainer grafis, jadi manfaatin mata dan tiba-tiba beberapa tahun lalu aku kena ablasio retina. Mata kiri aku sudah gak bisa lihat, sedangkan desain grafis itu cita-cita aku dari kecil," ungkapnya dengan suara serak menahan kesedihan.

Kehilangan fungsi penglihatan pada salah satu matanya ini menjadi pukulan telak bagi Veri AFI, terutama mengingat profesinya sebagai desainer grafis yang sangat mengandalkan ketajaman visual. Perasaan hancur dan kehilangan begitu mendalam dirasakannya. "Kayak semua benar-benar runtuh. Tadinya seneng baca, bikin gambar, bikin desain akhirnya sampai sekarang gak bisa ngelakuin itu lagi. (Sedih) banget, kebayang gak sih hidup cuma bisa melihat hanya dengan satu mata," tuturnya dengan penuh penekanan, menggambarkan betapa beratnya beban yang ia pikul. Veri AFI, yang lahir pada tanggal 7 Januari 1983, kini harus menghadapi kenyataan hidup yang jauh lebih sulit dari yang pernah ia bayangkan, berjuang untuk bangkit dari keterpurukan fisik dan mental demi menemukan kembali secercah harapan di tengah kegelapan.