0

Inter Dorong Malago Jadi Presiden FIGC, Milan dan Juventus Menolak

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Upaya kuat dari Presiden Inter Milan, Beppe Marotta, untuk memuluskan jalan Giovanni Malago menduduki kursi kepresidenan Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) tengah menghadapi resistensi sengit. Dukungan yang digalang Marotta untuk Malago, yang dianggap sebagai penerus potensial pasca mundurnya Gabriele Gravina akibat kegagalan Italia menembus Piala Dunia 2026, ditentang keras oleh dua raksasa Serie A, AC Milan dan Juventus. Skenario ini memecah belah kekuatan di liga kasta tertinggi Italia, memicu perdebatan sengit mengenai arah masa depan sepak bola Italia.

Keputusan Gabriele Gravina untuk mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Presiden FIGC menjadi titik picu dimulainya perebutan kekuasaan di federasi sepak bola Italia. Gravina, yang masa kepemimpinannya diwarnai oleh kegagalan memilukan tim nasional Italia untuk lolos ke Piala Dunia 2026, membuka jalan bagi figur-figur lain untuk mengisi pos strategis tersebut. Di tengah kekosongan kepemimpinan ini, Giovanni Malago muncul sebagai salah satu kandidat terkuat yang diunggulkan banyak pihak. Namanya tidak hanya beredar di kalangan pengamat sepak bola, tetapi juga menjadi fokus lobi-lobi intens di balik layar.

Pergerakan Beppe Marotta dalam menggalang dukungan untuk Malago patut dicermati. Sebagai orang nomor satu di Inter Milan, Marotta memiliki pengaruh yang signifikan dalam dinamika persepakbolaan Italia. Ia tak segan-dengannya melobi para petinggi klub Serie A lainnya, berusaha membangun konsensus dan memenangkan suara mayoritas yang krusial untuk pemilihan Presiden FIGC. Strategi Marotta ini berpusat pada pemahaman akan struktur pemungutan suara di Serie A. Klub-klub Serie A, secara kolektif, menyumbang porsi suara yang tidak sedikit, yaitu total 18 persen dari keseluruhan suara, yang diwakili oleh 20 delegasi. Kabar yang beredar menyebutkan bahwa Malago, berkat manuver Marotta, telah berhasil mengamankan dukungan dari mayoritas klub. Keberhasilan ini, jika terealisasi, akan menjadi kemenangan politik yang signifikan bagi kubu Inter Milan.

Namun, ambisi Marotta dan dukungan terhadap Malago tidak serta merta diterima oleh seluruh elemen Serie A. AC Milan dan Juventus, dua klub dengan sejarah dan tradisi panjang di sepak bola Italia, secara tegas menyatakan penolakan mereka terhadap opsi Malago sebagai Presiden FIGC. Alih-alih mendukung Malago, kedua klub raksasa ini justru mengusung nama Adriano Galliani sebagai alternatif. Galliani, yang memiliki rekam jejak panjang dan mentereng di dunia sepak bola, terutama dalam perannya di AC Milan, dianggap sebagai sosok yang lebih representatif dan mampu membawa perubahan positif bagi sepak bola Italia. Penolakan ini menunjukkan adanya perbedaan pandangan yang mendasar mengenai visi dan strategi yang harus dijalankan oleh FIGC di masa mendatang.

Menariknya, gagasan untuk melihat Adriano Galliani menduduki posisi tertinggi di federasi sepak bola Italia bukanlah hal yang baru. Ternyata, opsi ini sempat terlintas di benak Galliani sendiri, meskipun ia belum secara resmi menyatakan ketertarikannya untuk maju. Pernyataan Galliani sendiri memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai posisinya. "Beberapa direktur telah menghubungi saya beberapa hari yang lalu untuk menanyakan ketersediaan saya. Saya tidak pernah menerimanya," ujar Galliani, mengindikasikan bahwa tawaran memang telah datang kepadanya. Namun, ia juga menambahkan bahwa ia belum membuat keputusan final. "Saya telah mengklarifikasi bahwa saya akan melakukan penilaian untuk melihat bagaimana situasinya akan berkembang," jelasnya. Pernyataannya ini membuka ruang negosiasi dan pertimbangan lebih lanjut, di mana peran klub-klub yang mendukungnya, termasuk Milan dan Juventus, akan sangat krusial.

Meskipun demikian, dalam kesempatan yang sama, Galliani juga melontarkan pernyataan yang menarik dan berpotensi menjadi gol untuk Malago. Ia secara implisit memberikan sinyal dukungan kepada Malago, meskipun posisinya sendiri masih abu-abu. "Pada akhirnya, saya percaya bahwa Presiden FIGC terbaik, dan bukan hanya sebagai ekspresi keinginan Lega Serie A, adalah Giovanni Malago," sambungnya. Pernyataan ini bisa diinterpretasikan sebagai pengakuan atas kualitas dan kapabilitas Malago, atau bisa juga sebagai strategi politik untuk menenangkan situasi dan menjaga hubungan baik dengan pihak-pihak yang mendukung Malago. Apapun motifnya, pernyataan ini menambahkan kompleksitas pada perebutan kursi Presiden FIGC.

Pemilihan Presiden FIGC dijadwalkan akan diselenggarakan pada tanggal 22 Juni 2026. Tanggal ini memberikan jangka waktu yang cukup bagi para kandidat untuk mempersiapkan diri, membangun koalisi, dan melakukan kampanye. Namun, aturan mainnya cukup ketat: setiap kandidat baru harus secara resmi dikonfirmasi setidaknya 40 hari sebelum tanggal pemilihan. Hal ini berarti bahwa manuver politik dan lobi-lobi akan semakin intensif menjelang tenggat waktu tersebut. Perang dingin antara kubu yang mendukung Malago dan kubu yang mengusung Galliani, dengan Inter Milan di satu sisi dan AC Milan serta Juventus di sisi lain, akan terus memanas. Siapa yang akan memegang kendali federasi sepak bola Italia akan sangat bergantung pada kemampuan negosiasi, kekuatan lobi, dan kesepakatan yang dapat dicapai di antara klub-klub Serie A.

Dampak dari pemilihan ini tidak hanya bersifat internal di Italia, tetapi juga berpotensi memengaruhi arah sepak bola Italia di kancah internasional. Presiden FIGC yang terpilih akan memegang tanggung jawab besar dalam merumuskan kebijakan, mengembangkan talenta muda, serta meningkatkan standar kompetisi di liga domestik. Kegagalan Italia menembus Piala Dunia 2026 menjadi pengingat keras akan perlunya reformasi mendasar. Apakah Malago, dengan dukungan Inter Milan, mampu membawa angin segar, ataukah Galliani, yang didukung oleh Milan dan Juventus, akan menjadi pilihan yang lebih tepat untuk memulihkan kejayaan sepak bola Italia, masih menjadi pertanyaan besar yang akan terjawab pada Juni 2026. Dinamika politik di balik layar FIGC ini mencerminkan persaingan abadi antar klub-klub besar Italia, di mana kepentingan individu seringkali bersinggungan dengan kepentingan kolektif sepak bola nasional.