Musyawarah Kerja Wilayah (MUSKERWIL) Rifa’iyah Jawa Tengah diproyeksikan akan menjadi momentum krusial dalam membawa warna baru bagi arah kebijakan dan realisasi program organisasi di masa depan. Perhelatan akbar ini tidak sekadar menjadi agenda administratif, melainkan simbol kebangkitan dan penguatan sinergi antarunsur organisasi. Keberhasilan agenda strategis ini sangat ditentukan oleh soliditas, kerja sama, dan kolaborasi seluruh elemen yang terlibat, mulai dari pengurus wilayah hingga akar rumput di tingkat daerah.
Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Ketua Pengurus Wilayah Rifa’iyah Jawa Tengah, K.H. Isrofi Makfud, dalam rapat koordinasi intensif yang mempertemukan Pengurus Wilayah (PW), Organizing Committee (OC), dan Steering Committee (SC) pada Kamis (9/4). Pertemuan strategis ini dilaksanakan di kediaman Bendahara MUSKERWIL, H. Jamil, yang berlokasi di Cepokomulyo, Gemuh, Kabupaten Kendal. Agenda utama pertemuan ini adalah pemantapan teknis sekaligus penyamaan persepsi di antara panitia pelaksana agar seluruh rangkaian kegiatan di Temanggung nantinya berjalan tanpa kendala berarti.
Dalam arahannya, K.H. Isrofi Makfud menekankan pentingnya keterlibatan aktif dan militansi seluruh elemen organisasi. Menurut beliau, suksesnya sebuah acara besar dalam organisasi keagamaan sebesar Rifa’iyah tidak bisa hanya mengandalkan segelintir orang, melainkan harus melibatkan partisipasi kolektif, baik dalam penyebaran informasi yang masif maupun dalam upaya penggalangan dana secara gotong royong. Beliau menegaskan, "Sesungguhnya Allah sangat mencintai orang yang berjuang dengan bersatu padu," sebuah kutipan nilai Al-Qur’an yang menjadi pengingat bagi seluruh panitia agar senantiasa menjaga kerukunan dan semangat kebersamaan selama masa persiapan hingga hari pelaksanaan.
Senada dengan Ketua PW, Sekretaris SC, Budi Utomo, memberikan penekanan khusus pada pentingnya komunikasi dan koordinasi yang intensif. Ia menyatakan bahwa koordinasi yang rapi adalah kunci agar visi dan tujuan kegiatan dapat tercapai secara maksimal. "Laporan yang terbuka dan transparan dari panitia sangat penting, sehingga setiap celah kekurangan dapat segera diidentifikasi dan dilengkapi bersama-sama," jelas Budi.
Lebih lanjut, Budi membedah secara rinci dua aspek utama yang harus dimatangkan oleh tim. Pertama, tahap persiapan yang mencakup penentuan lokasi yang strategis, penjadwalan waktu, serta pemenuhan berbagai kebutuhan teknis yang bersifat mendasar. Kedua, tahap pelaksanaan yang menyangkut pembagian tugas fungsional panitia, manajemen administrasi, hingga teknis operasional jalannya MUSKERWIL dan prosesi pelantikan pengurus.
Ketua OC, Amin Ridhoi, memberikan update terkait progres di lapangan. Ia mengungkapkan bahwa proses perizinan penggunaan fasilitas gedung milik Pemerintah Kabupaten Temanggung telah diajukan secara resmi. Amin menegaskan kesiapan penuh panitia dalam memfasilitasi seluruh kebutuhan teknis yang diminta oleh SC. "Pelantikan dan MUSKERWIL direncanakan berada dalam satu lokasi agar mobilitas peserta lebih efisien. Namun, jika SC menghendaki tempat yang terpisah karena alasan teknis tertentu, OC siap menyesuaikan diri dan memfasilitasi dengan sebaik-baiknya," tegasnya.

Rapat yang dihadiri oleh sekitar 20 peserta dari berbagai unsur strategis tersebut menghasilkan sejumlah kesepakatan krusial. Salah satu keputusan paling signifikan adalah penunjukan Gedung Pemuda Temanggung sebagai pusat pelantikan sekaligus tempat penyelenggaraan MUSKERWIL. Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan aksesibilitas lokasi yang cukup representatif bagi peserta dari seluruh pelosok Jawa Tengah. Selain itu, panitia juga berkomitmen untuk segera melakukan validasi dan konfirmasi daftar undangan guna memastikan kehadiran para delegasi.
Dari data yang dihimpun, jumlah peserta pelantikan telah ditetapkan sebanyak 45 orang, sementara peserta MUSKERWIL diperkirakan mencapai 200 orang yang merupakan utusan resmi dari Pengurus Daerah Rifa’iyah se-Jawa Tengah. Pembagian kerja pun telah diatur secara sistematis; SC bertanggung jawab penuh atas substansi materi, penyusunan agenda, serta administrasi persuratan. Sementara itu, untuk sektor pendanaan, panitia memperkirakan anggaran sebesar Rp50 juta. Sebagian dana telah mulai diupayakan oleh pihak PW, dan kekurangan yang tersisa akan ditangani secara mandiri oleh OC Temanggung sebagai bentuk tanggung jawab tuan rumah.
Rapat koordinasi ini dihadiri oleh tokoh-tokoh kunci, di antaranya Ketua PW K.H. Isrofi Makfud, Bendahara MUSKERWIL H. Jamil, H. Torik, dan Ustaz Hanafi. Dari jajaran SC hadir Sekretaris Budi Utomo dan Ustaz Dimyatie. Sementara dari unsur OC, hadir Ketua Amin Ridhoi beserta lima anggota tim inti lainnya. Ketidakhadiran Ketua SC, Dr. Ali Khomaeni, dikarenakan adanya kewajiban akademik sebagai dosen di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang yang sedang bertugas di luar negeri. Meski demikian, Dr. Ali tetap memberikan arahan strategis melalui komunikasi jarak jauh untuk memastikan bahwa persiapan teknis tetap berada di jalur yang benar dan berjalan optimal.
MUSKERWIL ini diharapkan menjadi momentum refleksi bagi keluarga besar Rifa’iyah di Jawa Tengah untuk mengevaluasi kinerja organisasi selama satu periode ke belakang dan menyusun langkah-langkah inovatif untuk masa depan. Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, Rifa’iyah dituntut untuk lebih adaptif tanpa meninggalkan akar nilai keagamaan yang dipegang teguh.
Kesiapan Gedung Pemuda Temanggung sebagai lokasi utama diharapkan dapat memberikan kenyamanan bagi para peserta, sehingga fokus pembahasan dalam MUSKERWIL tidak terganggu oleh kendala fasilitas. Semangat kolaborasi yang digaungkan oleh para pimpinan menjadi oase di tengah padatnya agenda organisasi. Dengan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan partisipasi aktif dari seluruh pengurus daerah, acara ini optimis akan berjalan sukses.
Pada akhirnya, MUSKERWIL bukan hanya soal seremonial pelantikan atau penyusunan program kerja di atas kertas, melainkan tentang bagaimana menyatukan visi dalam ikatan persaudaraan yang kuat. Sebagaimana yang diamanatkan dalam rapat tersebut, keberhasilan ini adalah milik bersama. Setiap kekurangan yang mungkin muncul di lapangan nantinya diharapkan dapat diselesaikan dengan musyawarah mufakat, sesuai dengan semangat Rifa’iyah yang menjunjung tinggi kebersamaan dan ukhuwah islamiyah. Panitia pun berkomitmen untuk terus menjaga komunikasi yang intensif hingga hari pelaksanaan tiba, memastikan setiap detail kecil tertangani dengan baik demi keberhasilan agenda besar ini bagi kemaslahatan umat.

