0

Kembali ke Rumah: Ayo Mondok di Pesantren Rifa’iyah

Share

Di berbagai pelosok negeri yang dahulu dikenal sebagai benteng pertahanan ajaran Tarajumah, kini kita menyaksikan sebuah pemandangan yang menyayat hati. Gema pengajian sorogan dan bandongan yang dulunya menjadi denyut nadi kehidupan masyarakat Rifa’iyah, kini mulai meredup. Lantunan hafalan tanbihun dan nasihat duso gede lan cilik perlahan memudar, digantikan oleh hiruk-pikuk modernitas yang menjauhkan generasi muda dari akar tradisinya. Masjid dan langgar yang dulu menjadi pusat peradaban dan mercusuar dakwah KH. Ahmad Rifa’i, kini banyak yang kehilangan gairahnya. Keheningan di tempat-tempat tersebut seolah menjadi saksi bisu bahwa ruh Rifa’iyah sedang berada di ambang tantangan zaman yang sangat serius. Fenomena ini bukan sekadar pergantian generasi, melainkan sebuah alarm keras yang menandakan bahwa warisan agung seorang mujaddid besar sedang berada di persimpangan jalan yang menentukan nasibnya di masa depan.

Kita tidak bisa memungkiri bahwa KH. Ahmad Rifa’i adalah sosok ulama yang luar biasa. Beliau bukan hanya seorang pendakwah, tetapi juga pemikir yang menggubah ilmu tauhid, fiqih, tasawuf, hingga sosial-politik ke dalam bentuk syair-syair yang merakyat dan mudah dipahami oleh lapisan masyarakat paling bawah. Warisan intelektual beliau yang mencakup lebih dari 65 kitab adalah harta karun yang tak ternilai harganya. Namun, ada kekhawatiran mendalam bahwa kitab-kitab monumental seperti Riyatal Himmah, Tasyrihatal Muhtaj, Tabyinal Islah, Abyanal Hawaaij, Asnal Miqosad, Husnul Mitholab, Wadhihah, Tadzkiyah, Muslihat, dan Tahsinah—yang dikenal sebagai "Sepuluh Bismillah"—hanya akan berakhir menjadi pajangan di lemari atau artefak sejarah yang dikagumi, namun tidak lagi dibaca, dipelajari, apalagi diamalkan.

Penting bagi kita untuk memahami bahwa ajaran Rifa’iyah bersifat eksklusif dalam hal transmisi keilmuannya. Ia bukan ajaran yang bisa dipelajari secara otodidak melalui internet atau sekadar membaca terjemahan. Ajaran Tarajumah dibangun di atas fondasi sanad yang tersambung secara estafet dari KH. Ahmad Rifa’i kepada para pengikutnya, dan terus terjaga hingga saat ini melalui mata rantai guru dan murid. Jika rantai ini putus, maka hilanglah kunci untuk memahami ajaran tersebut secara utuh dan maknawi. Oleh karena itu, ketika seorang orang tua memutuskan untuk tidak menyekolahkan anaknya di lembaga pendidikan Rifa’iyah, secara tidak langsung ia sedang memutus mata rantai sanad keilmuan yang telah dijaga dengan darah dan air mata oleh para pendahulu kita.

Kembali ke Rumah: Ayo Mondok di Pesantren Rifa’iyah

Pendidikan Rifa’iyah bukanlah sekadar persoalan administratif tentang ijazah atau mengejar standar akademis semata. Ini adalah soal menjaga amanah agung yang telah diwariskan oleh sang mujaddid. Seringkali, orang tua terjebak dalam arus pragmatisme pendidikan, di mana mereka lebih memilih lembaga pendidikan umum atau pondok pesantren non-Rifa’iyah dengan alasan fasilitas atau prestise. Namun, setelah beberapa tahun berjalan, penyesalan pun datang. Mereka menyadari bahwa anak-anak mereka tumbuh menjadi asing di rumah sendiri. Mereka tidak lagi mengenal kitab-kitab dasar Tarajumah, tidak mampu membaca irengan dengan baik, dan yang lebih menyedihkan, mereka kehilangan kedekatan emosional dan spiritual dengan tradisi yang seharusnya menjadi identitas diri mereka. Ketidakmampuan anak dalam memahami dasar-dasar agama melalui manhaj Rifa’iyah adalah kerugian besar yang dampaknya tidak hanya dirasakan oleh individu tersebut, tetapi juga oleh komunitas secara luas.

Kita tidak sedang menyalahkan pilihan orang tua, namun ini adalah sebuah ajakan untuk melakukan refleksi kolektif. Sudah saatnya kita "kembali ke rumah". Kembali ke lembaga pendidikan yang mengerti betul bagaimana menanamkan akidah yang lurus, ibadah yang kuat, dan akhlak yang mulia sebagaimana dicontohkan dalam manhaj Rifa’iyah. Pendidikan di lembaga Rifa’iyah memberikan kelebihan yang tidak dimiliki oleh sekolah lain: yaitu pembiasaan melalui moco ireng, lafal makno, maqsud, dan musyawarah kitab yang intensif. Di sinilah seorang santri dibentuk karakternya melalui interaksi langsung dengan teks-teks klasik yang penuh dengan nilai-nilai kebijaksanaan.

Saat ini, jaringan pendidikan Rifa’iyah telah berkembang luas. Dari tingkat pendidikan dasar (TK/RA) hingga menengah (SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA/SMK), tersedia lembaga-lembaga yang secara serius menjaga kemurnian ajaran KH. Ahmad Rifa’i. Mereka memadukan kurikulum nasional yang progresif dengan tradisi pesantren yang membumi. Dengan menyekolahkan anak di lembaga-lembaga ini, orang tua sedang melakukan investasi akhirat yang sesungguhnya. Kita sedang memastikan bahwa di masa depan, masih ada generasi yang mampu melafalkan bait-bait kitab kuning dengan fasih, yang mampu menjelaskan hukum agama dengan landasan dalil yang kuat, dan yang memiliki loyalitas tinggi terhadap organisasi serta ajaran Tarajumah.

Mari kita bayangkan, jika sepuluh tahun ke depan tidak ada lagi anak-anak kita yang mengaji di langgar-langgar, siapa yang akan menggantikan peran para kiai dan tokoh agama kita saat ini? Siapa yang akan membimbing masyarakat dalam memahami syariat secara tepat? Jika kita abai sekarang, maka sejarah akan mencatat bahwa kita adalah generasi yang membiarkan cahaya ilmu dari KH. Ahmad Rifa’i padam. Jangan biarkan Tarajumah menjadi sesuatu yang hanya bisa ditemukan dalam catatan kaki buku sejarah. Jadikanlah ia hidup, berdenyut, dan menjadi pedoman hidup bagi anak cucu kita.

Kembali ke Rumah: Ayo Mondok di Pesantren Rifa’iyah

Keputusan untuk memondokkan anak di pesantren Rifa’iyah adalah sebuah pernyataan sikap. Itu adalah bukti bahwa kita mencintai warisan ulama kita lebih dari sekadar kebanggaan seremonial. Pendidikan pesantren bukan hanya tentang belajar ilmu, tetapi tentang "menjadi". Menjadi pribadi yang berjiwa Rifa’iyah, yang tahu kapan harus bersikap tegas dalam prinsip dan kapan harus santun dalam bermuamalah. Lingkungan pesantren yang kondusif akan membentengi anak-anak kita dari pengaruh buruk pergaulan bebas dan degradasi moral yang kian hari kian mengkhawatirkan.

Mari kita kesampingkan ego dan keraguan. Mari kita bangun kembali semangat "Ayo Mondok" di pesantren-pesantren Rifa’iyah. Dukungan kita—baik dalam bentuk menyekolahkan anak di sana, membantu operasional lembaga, maupun menyebarkan syiar tentang pentingnya pendidikan Rifa’iyah—adalah bentuk nyata pengabdian kepada KH. Ahmad Rifa’i. Mari kita pastikan bahwa ketika kita sudah tiada nanti, warisan ini tetap berdiri tegak, terjaga kemurniannya, dan terus memberikan manfaat bagi umat. Panggilan sejarah ini tidak akan datang dua kali. Tanggung jawab untuk menjaga kelangsungan ajaran ini ada di pundak kita sekarang, di detik ini, di langkah pertama yang kita ambil untuk mendaftarkan anak-anak kita ke pesantren Rifa’iyah.

Jangan menunggu sampai kita melihat masjid-masjid benar-benar sepi. Jangan menunggu sampai kitab-kitab karya KH. Ahmad Rifa’i benar-benar tidak ada lagi yang bisa membacanya. Mulailah sekarang, dari keluarga kecil kita sendiri. Jadikan pendidikan Rifa’iyah sebagai prioritas utama. Dengan memondokkan anak-anak kita di lembaga Rifa’iyah, kita sedang menjamin bahwa mata rantai emas yang telah tersambung berabad-abad lamanya tidak akan putus di tangan kita. Mari kita kembali ke rumah, kembali ke pangkuan ajaran yang telah membesarkan kita, dan bersama-sama merawat masa depan Rifa’iyah dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan. Inilah saatnya untuk bergerak, karena menjaga ajaran KH. Ahmad Rifa’i adalah menjaga kehormatan dan martabat kita sebagai pengikut beliau. Ayo mondok, ayo belajar, dan ayo jaga warisan ini sampai ujung waktu.