BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Momen Lebaran, yang seharusnya menjadi perayaan penuh kedamaian dan kehangatan keluarga, justru menyajikan pengalaman yang mencekam bagi pedangdut asal Thailand, Jirayut. Kepulangannya ke negeri gajah putih untuk merayakan hari raya Idulfitri, Jirayut justru harus berbagi cerita ngeri mengenai konflik yang tak kunjung padam di daerah kelahirannya. Alih-alih mendengar suara gemuruh petasan yang lazim mengiringi malam takbiran, Jirayut mengaku mendengar dentuman ledakan yang menggetarkan. Pengalaman mengerikan ini bahkan sempat ia abadikan melalui sebuah unggahan video yang sontak membuat para penggemarnya dan netizen lainnya merasa khawatir. "Kalau mungkin buat orang-orang yang bukan asli sana pasti panik ya. Kalau kalian gimana berada di situ? Pasti takut kan," ujar Jirayut saat ditemui awak media di Studio TransTV, Kapten P Tendean, Jakarta Selatan, pada hari Senin, 6 April 2026. Pernyataannya ini mencerminkan betapa mengerikannya situasi yang ia alami, di mana kedamaian hari raya tercabik oleh realitas konflik bersenjata yang masih terus berlanjut.
Ketegangan yang dirasakan Jirayut memuncak ketika ia menceritakan pengalaman dramatis yang terjadi saat ia sedang berada dalam perjalanan. Situasi menjadi semakin mencekam ketika sebuah helikopter militer tiba-tiba muncul dan berputar-putar tepat di atas kendaraan yang ditumpanginya. Peristiwa ini, tentu saja, menambah rasa was-was dan ketakutan yang mendalam. "Mungkin kalau kalian ke sana, kalian pikir itu petasan, padahal bukan. Kemarin kejadiannya sebelum Takbiran. Bayangin saja pas aku lagi di jalan, kejadian itu ada helikopter muter di atas mobil aku," ungkapnya dengan nada serius, menggambarkan betapa nyata ancaman yang mengintai di sekelilingnya. Ia mengakui bahwa bagi orang yang tidak terbiasa, situasi seperti ini pasti akan menimbulkan kepanikan luar biasa. Namun, Jirayut mencoba menyikapinya dengan sedikit lebih tenang, meskipun ia tidak menampik bahwa rasa takut tetap ada.
Jirayut menjelaskan bahwa ia sebenarnya sudah terbiasa dengan situasi konflik yang terjadi di daerah asalnya. Ia telah tinggal di sana sejak kecil, sehingga kebisingan ledakan dan kehadiran aparat keamanan menjadi pemandangan yang lumrah baginya. Namun, di balik ketenangan yang ia tunjukkan, terselip rasa lelah yang mendalam melihat konflik tersebut terus berulang, terutama di momen-momen penting seperti perayaan hari raya Idulfitri dan tahun baru. "Dalam otak aku, aku bikin video itu biar kalian tahu saja kalau konflik di sana belum kelar-kelar dari dulu. Aku jadi bertanya-tanya kapan sih ini berakhir," keluhnya dengan nada prihatin. Pertanyaan retoris ini mencerminkan kelelahan batinnya akan siklus kekerasan yang tak berkesudahan, serta kerinduannya akan kedamaian yang sejati di tanah kelahirannya. Ia berharap dengan membagikan pengalamannya, ia dapat meningkatkan kesadaran publik akan situasi yang terjadi di wilayahnya.
Meskipun situasi diwarnai oleh ketegangan yang kental dan bunyi ledakan yang menggelegar di malam hari, Jirayut memilih untuk tetap tegar dan menjalani momen Lebaran bersama keluarga besarnya. Baginya, pulang ke kampung halaman adalah sebuah kewajiban yang tak terhindarkan, sebuah momen penting untuk berkumpul dan merayakan hari raya bersama orang-orang terkasih. Ia menyadari bahwa setiap momen kepulangannya diwarnai oleh ancaman yang seolah mengintai, namun ia berusaha untuk tidak terlalu memikirkannya. "Tapi ya udahlah, entar juga berlalu kayak angin lewat saja," pungkasnya dengan nada pasrah namun tetap menyimpan harapan. Sikapnya ini menunjukkan kekuatan mentalnya dalam menghadapi situasi yang sulit, serta prioritasnya yang utama, yaitu kebersamaan keluarga. Ia mencoba melihat setiap kesulitan sebagai sesuatu yang bersifat sementara dan akan berlalu.
Lebih dalam mengenai latar belakang konflik yang dialami Jirayut, daerah asalnya di Thailand selatan memang telah lama menjadi lokasi konflik antara pemerintah Thailand dan kelompok separatis Melayu-Muslim. Konflim ini telah berlangsung selama beberapa dekade dan telah menimbulkan banyak korban jiwa serta penderitaan bagi masyarakat setempat. Gejolak ini seringkali meningkat di hari-hari besar keagamaan atau hari-hari nasional, menciptakan suasana yang tidak kondusif dan penuh ketakutan. Jirayut, sebagai salah satu warga yang terdampak langsung, seringkali harus menghadapi kenyataan pahit ini setiap kali ia pulang kampung. Pengalaman yang ia bagikan bukan hanya sekadar cerita pribadi, tetapi juga menjadi cerminan dari kondisi yang dialami oleh banyak penduduk di wilayah tersebut.
Pernyataan Jirayut mengenai suara ledakan yang ia dengar sangatlah signifikan. Di banyak daerah, suara ledakan di malam takbiran biasanya identik dengan suara kembang api atau petasan yang digunakan untuk memeriahkan malam perayaan. Namun, bagi Jirayut, suara tersebut ternyata berasal dari aktivitas militer atau bahkan bentrokan yang terjadi di sekitarnya. Hal ini menunjukkan betapa jauhnya realitas yang ia alami dari gambaran perayaan Lebaran yang damai dan meriah yang mungkin dibayangkan oleh orang lain. Kemunculan helikopter militer di atas kendaraannya saat ia sedang berada di jalan adalah bukti nyata dari situasi yang tidak stabil dan penuh kewaspadaan. Helikopter militer yang berputar-putar di atas kepala bisa menjadi indikasi adanya operasi keamanan, patroli, atau bahkan respons cepat terhadap insiden yang terjadi.
Jirayut mengungkapkan rasa lelahnya melihat konflik yang terus berulang. Ini adalah perasaan yang wajar dirasakan oleh siapapun yang hidup dalam situasi yang penuh ketidakpastian dan kekerasan. Kelelahan ini bukan hanya kelelahan fisik, tetapi juga kelelahan emosional dan mental. Ia merindukan kedamaian dan stabilitas di tanah kelahirannya, sebuah kerinduan yang mungkin juga dirasakan oleh banyak orang di sana. Pertanyaannya, "kapan sih ini berakhir," adalah sebuah pertanyaan yang menggema dari hati banyak orang yang mendambakan solusi damai dan akhir dari siklus kekerasan. Ia berharap agar konflik ini dapat segera terselesaikan agar generasi mendatang dapat merasakan kedamaian.
Meskipun demikian, Jirayut tetap memilih untuk menunjukkan ketegaran. Ia tidak membiarkan situasi mencekam tersebut merenggut kebahagiaan momen Lebaran bersama keluarganya. Baginya, berkumpul dengan keluarga adalah prioritas utama, dan ia berusaha untuk menjalani momen tersebut dengan sebaik-baiknya, meskipun ancaman selalu mengintai. Sikapnya ini mencerminkan nilai-nilai kekeluargaan yang kuat dan kemampuan adaptasinya dalam menghadapi kesulitan. Ia mengibaratkan situasi tersebut seperti "angin lewat," sebuah metafora yang menunjukkan bahwa ia mencoba untuk tidak terlalu terbebani oleh ketegangan yang ada, dan berharap agar semuanya akan berlalu.
Pernyataan Jirayut juga menyoroti pentingnya kesadaran publik terhadap konflik yang terjadi di berbagai belahan dunia, termasuk di wilayah yang mungkin tidak sering diberitakan oleh media arus utama. Dengan membagikan pengalamannya, Jirayut secara tidak langsung mengajak para pendengarnya untuk lebih peduli dan memahami realitas yang dihadapi oleh masyarakat di daerah konflik. Ia memberikan gambaran yang lebih otentik tentang bagaimana konflik tersebut memengaruhi kehidupan sehari-hari, bahkan di momen-momen sakral seperti perayaan hari raya.
Sebagai seorang figur publik, Jirayut memiliki platform yang cukup luas untuk menyuarakan pengalamannya. Video yang ia unggah dan wawancara yang ia berikan menjadi cara untuk mendidik publik dan mendorong empati. Pengalamannya di Thailand selatan bukanlah sesuatu yang terisolasi, melainkan bagian dari isu yang lebih besar mengenai perdamaian dan stabilitas di kawasan tersebut. Ia berharap agar ceritanya dapat memberikan kontribusi positif dalam upaya penyelesaian konflik dan terciptanya kedamaian yang berkelanjutan.
Lebih jauh lagi, kita bisa membayangkan bagaimana suasana malam takbiran di kampung halaman Jirayut. Di satu sisi, ada tradisi dan kegembiraan menyambut hari kemenangan. Di sisi lain, ada suara-suara yang tidak seharusnya ada, yaitu suara ledakan yang mengindikasikan adanya ketegangan. Helikopter militer yang berputar-putar di atas kepala menjadi pengingat konstan akan situasi keamanan yang rapuh. Hal ini menciptakan kontras yang tajam antara harapan akan kedamaian dan realitas konflik yang masih membayangi. Jirayut harus menavigasi kedua sisi ini, berusaha untuk tetap menjaga semangat perayaan sambil tetap waspada terhadap potensi bahaya.
Perkataan Jirayut bahwa ia membuat video agar "kalian tahu saja kalau konflik di sana belum kelar-kelar dari dulu" menunjukkan niatnya yang tulus untuk berbagi informasi dan meningkatkan kesadaran. Ia tidak mencari sensasi, melainkan ingin agar dunia luar memahami perjuangan yang dihadapi oleh masyarakat di kampung halamannya. Pertanyaannya tentang kapan konflik ini akan berakhir adalah sebuah seruan untuk perdamaian dan resolusi.
Meskipun ia menghadapi situasi yang menakutkan, Jirayut tetap berusaha untuk melihat sisi positifnya. Keputusannya untuk tetap pulang kampung dan berkumpul dengan keluarga adalah bukti kekuatan ikatan keluarga yang ia miliki. Ia menyadari bahwa momen kebersamaan ini sangat berharga, terutama di tengah situasi yang tidak pasti. Ia menganggap bahwa kesulitan ini adalah bagian dari kehidupan yang harus dihadapi dan dilalui, seperti "angin lewat."
Pengalaman Jirayut ini juga bisa menjadi bahan refleksi bagi kita semua tentang arti kedamaian dan bagaimana pentingnya menghargai keamanan yang kita miliki. Di banyak tempat, perayaan hari raya masih diwarnai oleh ancaman dan ketakutan. Kisah Jirayut mengingatkan kita untuk tidak menganggap remeh kedamaian dan untuk terus mendukung upaya-upaya yang bertujuan untuk mencapai resolusi damai bagi konflik di seluruh dunia. Ketegaran dan semangatnya dalam menghadapi situasi yang sulit patut diapresiasi, dan pengalamannya dapat menjadi inspirasi bagi banyak orang.

