0

Momen Erika Carlina Gelar Tedak Siten Andrew Tepat di Jumat Agung

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Artis yang kian bersinar di kancah hiburan Tanah Air, Erika Carlina, baru-baru ini menggelar sebuah perhelatan budaya yang penuh makna dan khidmat untuk putra semata wayangnya, Andrew Raxy Neil, yang akrab disapa Enduw. Acara yang sarat akan tradisi Jawa ini diselenggarakan di kawasan Cirendeu, Tangerang Selatan, pada hari Jumat, 3 April 2026. Pemilihan tanggal ini sendiri memiliki makna tersendiri, bertepatan dengan momen sakral Jumat Agung, yang secara kebetulan selaras dengan weton kelahiran Andrew. Erika Carlina, yang dikenal dengan parasnya yang menawan dan kepribadiannya yang hangat, rupanya telah merencanakan acara ini dengan matang, meskipun persiapan yang dilakukan terbilang cukup singkat, yaitu sekitar dua minggu.

Awalnya, niat Erika Carlina adalah untuk menggelar acara yang lebih intim dan sederhana, hanya dihadiri oleh keluarga terdekat. Namun, seiring berjalannya waktu, menyadari betapa banyaknya orang yang menyayangi dan ingin bertemu dengan Andrew, Erika memutuskan untuk membuka pintu dan mengadakan sebuah perhelatan yang lebih besar agar semua kerabat dan sahabat dapat turut berbahagia serta menyaksikan momen penting ini. "Karena memang tadinya penginnya intimate aja acara keluarga. Cuma banyak banget yang pengin ketemu sama Andrew, jadi kayaknya sekalian bikin acara aja deh biar semua bisa ketemu," ungkap Erika Carlina dengan senyum merekah saat ditemui di lokasi acara. Ia mengaku tak menyangka antusiasme dari teman-teman dan kerabat begitu besar, banyak yang belum memiliki kesempatan untuk bertemu langsung dengan sang buah hati, dan hari itu menjadi momen pertama mereka untuk berkenalan dengan Andrew. Kebahagiaan terpancar jelas di wajah Erika melihat putranya dikelilingi oleh begitu banyak cinta.

Prosesi tedak siten yang digelar oleh Erika Carlina ini sangat kental dengan nuansa adat Jawa. Untuk memastikan keaslian dan kelancaran jalannya upacara adat ini, Erika secara khusus mendatangkan para pemandu acara dari Yogyakarta, kota yang dikenal sebagai jantung kebudayaan Jawa. Hal ini menunjukkan betapa Erika Carlina sangat menghargai dan ingin melestarikan warisan leluhur dalam momen penting tumbuh kembang putranya. "Prosesinya tadi benar-benar Jawa banget ya karena orang-orang yang ngadain tedak sitennya itu langsung dari Jogja," jelas Erika, menekankan komitmennya terhadap tradisi.

Pemilihan tanggal acara yang jatuh tepat pada Jumat Agung bukanlah sebuah kebetulan semata, melainkan sebuah kesengajaan yang didasarkan pada keyakinan akan pentingnya mengikuti hari dan weton kelahiran Andrew. "Iya, pas banget sama Jumat Agung. Cuman aku sempatin tadi buat berangkat Jumat Agung juga karena tedak siten itu kan harus ikutin hari dan weton lahirnya Andrew. Nah, itu tuh tepat di tanggal 3 ini dan Jumat, dan bertepatan dengan Jumat Agung," tutur bintang film Pabrik Gula itu. Keputusan ini mencerminkan kedalaman spiritualitas Erika Carlina yang ingin menyelaraskan momen penting kehidupan putranya dengan hari-hari yang memiliki makna spiritual mendalam.

Dalam ritual tedak siten ini, Andrew menjalani serangkaian prosesi yang sarat akan filosofi. Salah satu ritual yang paling ikonik adalah ketika Andrew diajak untuk menaiki tangga tujuh rupa, yang melambangkan tujuh tingkatan kehidupan yang harus dilalui manusia, mulai dari yang terendah hingga yang tertinggi. Setelah menapaki tangga tersebut, Andrew kemudian dimasukkan ke dalam kurungan ayam. Di dalam kurungan ayam inilah, Andrew diberi berbagai macam benda yang konon dapat mencerminkan masa depan dan takdirnya. Ritual ini bukan sekadar permainan, melainkan sebuah simbolisasi pembelajaran hidup. "Itu prosesinya kayak ngajarin Andrew kalau mau naik ke atas itu harus pelan-pelan dari bawah dulu. Ketika sudah sampai atas, pelan-pelan turun ke bawah karena roda berputar," terang Erika Carlina, menjelaskan makna filosofis di balik setiap gerakan ritual.

Dari berbagai benda yang tersedia, Andrew menunjukkan ketertarikannya pada beberapa objek yang dianggap memiliki makna simbolis. "Andrew tadi pertama kali ambil pesawat, habis itu ambil gitar, habis itu ambil uang," ungkap Erika Carlina dengan nada bangga dan penuh harapan. Pemilihan pesawat bisa diartikan sebagai simbol cita-cita untuk menjelajahi dunia, meraih kebebasan, dan memiliki pandangan yang luas. Gitar, di sisi lain, melambangkan potensi kreativitas, bakat seni, dan kemampuan untuk mengekspresikan diri melalui musik. Sementara itu, uang, tentu saja, merepresentasikan kemakmuran, kesuksesan finansial, dan kemampuan untuk mandiri. Pilihan-pilihan ini tentu saja membuat Erika Carlina dan keluarga semakin optimis akan masa depan cerah yang menanti Andrew.

Di balik kelancaran dan keindahan acara yang telah terselenggara, Erika Carlina mengakui adanya sedikit kekhawatiran terkait cuaca. Belakangan ini, hujan seringkali datang tanpa diduga, sehingga berpotensi mengganggu jalannya acara yang sebagian besar digelar di luar ruangan. Demi memastikan momen sakral ini berjalan tanpa hambatan, Erika bahkan sampai menggunakan jasa pawang hujan. "Aku sih yang penting enggak hujan deh. Percaya gak percaya ya udahlah ya. Ternyata emang ketahan tadi dan baru hujannya setelah acara selesai," pungkasnya dengan rasa lega. Tindakan ini menunjukkan betapa Erika Carlina sangat berusaha untuk menciptakan momen yang sempurna bagi putranya, bahkan jika itu berarti harus menempuh cara-cara yang dianggap kurang lazim oleh sebagian orang.

Prosesi tedak siten ini bukan hanya sekadar perayaan fisik, tetapi juga merupakan momen penting bagi Erika Carlina untuk menanamkan nilai-nilai luhur dan tradisi kepada putranya sejak dini. Dengan menggelar acara ini secara khidmat dan penuh makna, Erika berharap Andrew dapat tumbuh menjadi pribadi yang berbudaya, menghargai leluhur, serta memiliki bekal spiritual dan filosofis yang kuat untuk menghadapi masa depannya. Kehadiran para sahabat dan keluarga yang turut berbagi kebahagiaan semakin memperkaya makna acara ini, menjadikannya sebuah kenangan manis yang tak terlupakan bagi Erika Carlina dan seluruh keluarga besarnya, sekaligus menjadi bukti nyata bahwa tradisi Jawa masih terus hidup dan relevan di era modern ini.