Hubungan antara dua raksasa teknologi, Elon Musk dari Tesla dan X (sebelumnya Twitter), serta Mark Zuckerberg dari Meta Platforms, telah lama dikenal rumit dan penuh dinamika. Dari persaingan bisnis yang sengit hingga tantangan adu jotos di atas ring, keduanya kerap menjadi sorotan publik dengan rivalitas mereka yang unik. Namun, seiring dengan berjalannya waktu dan pergeseran lanskap politik global, terutama pasca-terpilihnya kembali Presiden Amerika Serikat Donald Trump, sebuah babak baru yang mengejutkan tampaknya mulai terbuka dalam narasi perseteruan mereka. Sebuah tawaran bantuan tak terduga dari Zuckerberg kepada Musk, yang terungkap melalui dokumen pengadilan, mengisyaratkan adanya gencatan senjata sementara atau bahkan awal dari sebuah rekonsiliasi.
Sejarah kompleks antara Elon Musk dan Mark Zuckerberg mencapai puncaknya pada tahun 2023 ketika keduanya secara terbuka saling tantang untuk adu jotos. Drama ini bermula dari cuitan Musk yang mengomentari rencana Meta untuk meluncurkan Threads, sebuah platform yang secara langsung menjadi pesaing X. Musk secara bercanda, atau mungkin serius, menantang Zuckerberg untuk "cage match" atau pertarungan di dalam kandang. Zuckerberg, dengan cepat merespons melalui Instagram Stories, memposting tangkapan layar cuitan Musk dengan tulisan singkat: "Send me location." Tantangan ini dengan cepat menyebar luas dan menjadi viral, memicu spekulasi media, taruhan dari publik, dan bahkan persiapan serius dari kedua belah pihak. Musk diketahui berlatih bersama para ahli seni bela diri campuran, sementara Zuckerberg, yang memang memiliki latar belakang dalam jiu-jitsu, juga terlihat meningkatkan latihannya. Dunia menantikan pertarungan yang disebut-sebut sebagai "pertarungan abad ini" antara dua miliarder teknologi. Namun, setelah berbulan-bulan spekulasi, janji-janji yang tak kunjung terpenuhi, dan alasan yang berubah-ubah, pertarungan itu akhirnya batal, meninggalkan banyak penggemar dan pengamat merasa kecewa. Insiden ini tidak hanya menyoroti ego dan sifat kompetitif mereka, tetapi juga memperdalam persepsi publik tentang persaingan pribadi di balik kerajaan teknologi mereka.
Namun, di balik semua ketegangan itu, tampaknya ada faktor eksternal yang cukup kuat untuk mendorong kedua juragan ini meredakan permusuhan mereka: kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih. Pada awal tahun 2025, setelah Trump memenangkan pemilihan presiden untuk periode keduanya, baik Musk maupun Zuckerberg dilaporkan mendekati lingkaran kekuasaan baru tersebut. Bagi para pemimpin teknologi, hubungan dengan pemerintahan yang berkuasa sangat krusial, terutama dalam hal regulasi, kebijakan antimonopoli, dan masa depan inovasi. Trump, dengan pendekatannya yang sering kali tidak konvensional dan kadang-kadang menantang perusahaan teknologi, mungkin telah menciptakan semacam keselarasan kepentingan yang aneh antara Musk dan Zuckerberg. Keduanya, meskipun bersaing, mungkin melihat perlunya front persatuan atau setidaknya komunikasi yang lebih baik dalam menghadapi lanskap politik yang baru.
Momen puncaknya terjadi pada Februari 2025, ketika Zuckerberg mengirimkan pesan pribadi kepada Musk. Isi pesan tersebut mengejutkan banyak pihak, bukan hanya karena konteksnya yang damai, tetapi juga karena pujiannya terhadap kinerja sebuah entitas yang kini sudah bubar: Department of Government Efficiency (DOGE). "Sepertinya DOGE sudah membuat kemajuan," tulis Zuckerberg dalam pesan singkat kepada Musk, sepertinya dikutip dari Engadget, Senin (30/3/2026).
Department of Government Efficiency (DOGE) adalah sebuah inisiatif yang diduga didirikan pada masa pemerintahan Trump sebelumnya, yang berfokus pada upaya efisiensi birokrasi dan restrukturisasi operasional pemerintah federal. Meskipun informasi mengenai DOGE ini terbatas dalam berita yang beredar, bisa dibayangkan bahwa lembaga ini didirikan dengan tujuan ambisius untuk memangkas birokrasi yang dianggap tidak perlu, mengurangi pemborosan anggaran, dan mempercepat proses pengambilan keputusan dalam pemerintahan. Sebuah inisiatif yang berpotensi kontroversial, karena upaya "efisiensi" semacam itu seringkali melibatkan pemangkasan anggaran, restrukturisasi departemen, atau bahkan pemberhentian karyawan, yang dapat memicu protes dan kritik dari berbagai pihak, termasuk serikat pekerja dan kelompok advokasi. Pujian Zuckerberg terhadap "kemajuan" DOGE mengisyaratkan bahwa inisiatif tersebut, meskipun mungkin menimbulkan gesekan, berhasil mencapai beberapa tujuannya dalam pandangannya, atau setidaknya menunjukkan potensi besar dalam menerapkan teknologi dan metodologi baru untuk pemerintahan yang lebih ramping.
Lebih jauh, Zuckerberg tidak hanya memuji, tetapi juga menawarkan bantuan konkret. "Tim kami sudah siaga untuk menghapus konten doxxing atau yang mengancam orang-orang di timmu. Beri tahu saya jika ada hal lain yang dapat saya bantu," imbuhnya. Tawaran ini sangat signifikan. "Doxxing" adalah praktik mencari dan mempublikasikan informasi pribadi atau identitas seseorang di internet tanpa persetujuan mereka, seringkali dengan maksud jahat. Mengingat sifat kontroversial dari upaya efisiensi yang mungkin dilakukan oleh DOGE, tidak mengherankan jika karyawan atau mantan karyawan yang terlibat di dalamnya menjadi sasaran ancaman atau doxxing dari pihak-pihak yang tidak setuju atau terkena dampak kebijakan DOGE. Tawaran Zuckerberg untuk melindungi tim Musk dari ancaman semacam itu tidak hanya menunjukkan solidaritas, tetapi juga memanfaatkan kapasitas moderasi konten yang kuat yang dimiliki Meta. Ini adalah langkah yang menarik, mengingat posisi Meta yang baru diumumkan beberapa pekan sebelumnya pada 3 Februari 2025.
Pada tanggal yang sama dengan pengiriman pesan tersebut, Zuckerberg mengumumkan bahwa Meta akan beralih dari kebijakan moderasi konten yang ketat menuju penekanan yang lebih besar pada "ekspresi bebas". Pergeseran ini merupakan respons terhadap kritik yang sering dilayangkan terhadap Meta dan platform media sosial lainnya yang dituduh bias dalam moderasi konten, atau terlalu ketat dalam membatasi pidato. Dengan beralih ke "ekspresi bebas", Meta mungkin berusaha untuk memposisikan dirinya sebagai juara kebebasan berbicara, sebuah filosofi yang seringkali digaungkan oleh Musk sendiri di platform X. Namun, bahkan dalam kerangka "ekspresi bebas", ada batasan-batasan tertentu, seperti larangan doxxing dan ancaman kekerasan, yang tetap menjadi prioritas. Tawaran Zuckerberg kepada Musk untuk melindungi tim DOGE dari doxxing menunjukkan bahwa meskipun Meta condong ke ekspresi bebas, perusahaan tetap berkomitmen untuk melindungi pengguna dari ancaman langsung dan berbahaya.
Momen penting lainnya adalah ketika seorang jaksa di AS pada hari yang sama mengatakan akan melindungi karyawan DOGE dari "tukang kritik." Ini menggarisbawahi betapa seriusnya ancaman terhadap individu yang terkait dengan inisiatif pemerintah yang kontroversial dan betapa pentingnya perlindungan hukum bagi mereka. Konteks ini semakin memperkuat makna tawaran Zuckerberg kepada Musk; itu bukan hanya isyarat persahabatan, tetapi juga langkah proaktif untuk mengatasi masalah keamanan yang nyata.
Musk membalas pesan Zuckerberg dengan sebuah emoji hati, sebuah respons yang singkat namun sarat makna, mengindikasikan penerimaan atau setidaknya apresiasi atas tawaran tersebut. Namun, karakter Musk yang selalu berorientasi pada peluang bisnis segera muncul. Ia tiba-tiba mengalihkan pembicaraan dari DOGE ke topik yang jauh lebih besar dan strategis: OpenAI. Musk bertanya kepada Zuckerberg apakah ia tertarik untuk membeli OpenAI dengan sejumlah investor lainnya.
Minat Musk terhadap OpenAI bukanlah hal baru. Ia adalah salah satu pendiri awal OpenAI pada tahun 2015, sebuah laboratorium penelitian AI nirlaba yang didirikan dengan misi untuk memastikan kecerdasan buatan umum (AGI) bermanfaat bagi seluruh umat manusia. Namun, Musk kemudian mengundurkan diri dari dewan direksi OpenAI pada tahun 2018 karena konflik kepentingan dengan ambisinya di Tesla dan pandangannya yang berbeda mengenai arah perusahaan. Setelah itu, OpenAI berkembang pesat, terutama dengan peluncuran ChatGPT yang fenomenal, dan beralih ke struktur "capped-profit" yang menerima investasi besar dari Microsoft. Pergeseran ini memicu kekecewaan besar bagi Musk, yang merasa bahwa OpenAI telah menyimpang dari misi nirlaba aslinya dan kini lebih fokus pada keuntungan komersial di bawah kendali korporasi. Oleh karena itu, Musk menggugat OpenAI dan CEO-nya, Sam Altman, dengan tuduhan pelanggaran kontrak dan pengkhianatan terhadap misi awal perusahaan. Keinginannya untuk membeli kembali OpenAI, atau setidaknya mendapatkan kembali kendali atasnya dengan bantuan investor lain seperti Zuckerberg, adalah upaya untuk mengembalikannya ke akarnya dan memastikan pengembangannya sesuai dengan visi awal.
Zuckerberg, yang tampaknya lebih berhati-hati dalam menanggapi tawaran bisnis sebesar itu, meminta agar hal itu didiskusikan secara langsung. Musk kemudian mengatakan ia akan menelepon keesokan harinya. Dokumen pengadilan sebelumnya telah mengungkap bahwa Musk memang mengundang Zuckerberg untuk membantunya membeli OpenAI, menunjukkan bahwa percakapan ini bukan insiden terisolasi melainkan bagian dari strategi yang lebih besar dari Musk. Potensi kolaborasi antara dua tokoh teknologi paling berpengaruh ini dalam upaya mengakuisisi OpenAI bisa mengubah lanskap industri AI secara drastis, memicu kekhawatiran antimonopoli, dan menimbulkan pertanyaan serius tentang masa depan pengembangan AI.
Pesan-pesan ini diungkapkan dalam dokumen pengadilan sebagai bagian dari gugatan Musk terhadap OpenAI dan Sam Altman. Dalam sistem hukum Amerika Serikat, komunikasi antara pihak-pihak yang relevan seringkali harus diungkapkan (discovery) untuk memastikan transparansi dan keadilan dalam persidangan. Namun, pengacara Musk berargumen dalam pengajuan terpisah bahwa percakapannya dengan Zuckerberg seharusnya dikecualikan dari gugatan tersebut. Mereka berpendapat bahwa "pembicaraan baru-baru ini tidak ada hubungannya dengan klaim Musk dan tidak lebih dari upaya para tergugat untuk memicu sentimen negatif terhadap Musk karena hubungannya dengan Zuckerberg."
Argumen ini menarik. Pengacara Musk mungkin khawatir bahwa pengungkapan percakapan ini, yang menunjukkan adanya komunikasi dan potensi kolaborasi dengan Zuckerberg (saingan beratnya), dapat dimanipulasi oleh pihak OpenAI untuk menciptakan narasi negatif tentang Musk. Misalnya, bisa jadi pihak OpenAI berusaha menggambarkan Musk sebagai oportunis yang mencoba memobilisasi kekuatan lain untuk merusak OpenAI, atau sebagai seseorang yang tidak konsisten dengan posisinya yang seringkali anti-kemapanan. Atau, bisa jadi pengungkapan ini akan mengalihkan fokus dari inti gugatan Musk, yaitu pelanggaran misi nirlaba OpenAI, menjadi drama pribadi antara para miliarder. Dengan demikian, upaya untuk mengecualikan percakapan ini adalah langkah strategis untuk mengontrol narasi dan menjaga fokus pengadilan pada substansi klaim Musk.
Implikasi dari pengungkapan ini jauh melampaui ruang sidang. Ini menunjukkan bagaimana politik, persaingan teknologi, dan drama pribadi para miliarder semakin terjalin. Hubungan yang tadinya tegang antara Musk dan Zuckerberg, yang bahkan sempat diwarnai tantangan adu jotos, kini menunjukkan tanda-tanda pencairan. Apakah ini hanya gencatan senjata sementara yang didorong oleh kepentingan bersama, atau awal dari sebuah aliansi yang lebih besar? Kembalinya Trump ke panggung politik AS tampaknya menjadi katalisator yang tidak terduga, memaksa para pemimpin teknologi untuk mengevaluasi kembali strategi dan hubungan mereka.
Tawaran Zuckerberg untuk membantu Musk dalam isu doxxing terkait DOGE, dan upaya Musk untuk melibatkan Zuckerberg dalam pembelian OpenAI, menandai titik balik yang signifikan. Ini bukan hanya tentang dua individu, tetapi juga tentang masa depan perusahaan-perusahaan raksasa yang mereka pimpin, arah pengembangan teknologi seperti AI, dan bagaimana para elite teknologi berinteraksi dengan kekuatan politik. Apakah persaingan sengit mereka akan benar-benar berubah menjadi kolaborasi, ataukah ini hanya manuver strategis di tengah medan pertempuran yang lebih besar, masih harus dilihat. Yang jelas, babak baru dalam saga Musk-Zuckerberg telah dimulai, dan dampaknya mungkin akan terasa di seluruh industri teknologi dan bahkan di luar itu.

