BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Mohamed Salah dipastikan akan mengakhiri petualangannya yang gemilang bersama Liverpool di akhir musim 2025/26. Keputusan ini, yang secara resmi diumumkan baru-baru ini, ternyata telah disepakati oleh kedua belah pihak sejak Januari 2026, jauh sebelum musim kompetisi berakhir. Meskipun kontraknya masih berlaku hingga musim panas 2027, kesepakatan perpisahan secara damai telah tercapai, memungkinkan Salah untuk meninggalkan Anfield dengan status bebas transfer. Keputusan ini mengakhiri spekulasi yang telah beredar mengenai masa depan bintang asal Mesir tersebut.
Perjalanan Mohamed Salah di musim 2025/26 ini memang diwarnai berbagai dinamika yang signifikan. Sejak awal musim, Liverpool telah menunjukkan ambisi untuk melakukan peremajaan di lini serang dengan mendatangkan beberapa pemain muda berbakat. Kedatangan Hugo Ekitike, Florian Wirtz, dan Alexander Isak menjadi sinyal kuat bahwa klub mulai bersiap untuk mengurangi ketergantungan pada Mohamed Salah. Ekitike segera menunjukkan potensinya sebagai mesin gol baru, sementara Isak masih berjuang untuk menemukan performa terbaiknya akibat cedera yang kerap menghantuinya. Wirtz, meskipun selalu mendapatkan kesempatan bermain, belum sepenuhnya memuaskan ekspektasi yang diberikan, namun kehadirannya secara kolektif menegaskan langkah Liverpool untuk perlahan-lahan melepaskan diri dari bayang-bayang dominasi Salah di lini serang.
Situasi ini semakin memanas ketika manajer Arne Slot memutuskan untuk mencadangkan Mohamed Salah menjelang akhir tahun 2025. Keputusan ini sempat menimbulkan kekecewaan mendalam bagi Salah, yang kemudian memicu pertemuan penting dengan jajaran petinggi klub, termasuk Direktur Olahraga Richard Hughes. Hasil dari pertemuan tersebut cukup gamblang: Salah tidak lagi memiliki status ‘tak tersentuh’ dalam skuad dan harus siap menerima peran sebagai pemain pengganti. Kekecewaan ini bahkan diungkapkan Salah melalui pernyataan kontroversial yang menggambarkan perasaannya seperti "dilempar ke kolong bus," sebuah metafora yang menyiratkan rasa tidak dihargai.
Momen krusial lain yang turut mempengaruhi situasi ini adalah partisipasi Mohamed Salah di Piala Afrika bersama Timnas Mesir. Selama periode tersebut, agen Salah, Ramy Abbas, bertemu dengan para petinggi Liverpool pada bulan Januari 2026. Dalam pertemuan inilah, kesepakatan fundamental mengenai perpisahan di musim panas 2026, setelah kompetisi usai, tercapai. Keputusan ini menegaskan bahwa sejak Januari, kedua belah pihak telah menyadari bahwa jalan mereka di Liverpool tidak lagi sejalan untuk masa depan.
Setelah kesepakatan tercapai, Mohamed Salah mulai kembali tampil reguler di tim utama, meskipun performa ketajamannya terlihat menurun. Catatan golnya di Premier League musim ini menjadi yang terburuk sejak ia bergabung dengan Liverpool pada tahun 2017, hanya mampu mencetak lima gol dari 22 pertandingan. Penurunan performa ini, ditambah dengan dinamika skuad yang berubah, semakin memperkuat argumen bahwa ini adalah waktu yang tepat bagi Salah untuk mencari tantangan baru.
Meskipun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa Mohamed Salah telah menorehkan sejarah yang tak terhapuskan dalam buku Liverpool. Ia telah menjadi salah satu legenda terbesar klub, mempersembahkan delapan gelar prestisius, termasuk empat kali menjadi top skor Premier League dan tiga kali meraih gelar Pemain Terbaik PFA. Sejak kedatangannya di Anfield, tidak ada pemain lain yang mampu menandingi rekor gol (189) maupun assist (92) yang ia ciptakan di ajang Premier League. Kontribusinya dalam membawa Liverpool meraih kejayaan, terutama gelar Liga Champions dan Premier League yang telah lama dinanti, akan selalu dikenang oleh para penggemar. Perpisahan ini, meski mungkin menyisakan sedikit rasa pahit, merupakan babak baru yang tak terhindarkan bagi Salah dan juga Liverpool, yang kini harus melanjutkan perjalanan tanpa ikon mereka. Keputusan ini, yang diambil dengan kesepakatan bersama, diharapkan dapat memberikan kedua belah pihak penutupan yang positif dan memungkinkan Salah untuk mengakhiri karirnya di Anfield dengan kepala tegak, setelah memberikan segalanya bagi klub.

Perjalanan Mohamed Salah di Liverpool adalah sebuah kisah inspiratif tentang dedikasi, kerja keras, dan pencapaian luar biasa. Sejak ia tiba dari AS Roma pada tahun 2017, Salah telah menjelma menjadi salah satu penyerang paling mematikan di dunia sepak bola. Kecepatannya yang eksplosif, dribblingnya yang memukau, dan naluri mencetak golnya yang tajam telah menjadi momok bagi pertahanan lawan di seluruh Eropa. Ia tidak hanya menjadi andalan lini serang Liverpool, tetapi juga menjadi simbol kebangkitan klub di bawah asuhan Jurgen Klopp. Bersama dengan rekan-rekannya seperti Sadio Mane dan Roberto Firmino, ia membentuk trisula maut yang ditakuti, mengantarkan Liverpool meraih berbagai trofi bergengsi.
Keberhasilan Mohamed Salah tidak hanya diukur dari jumlah gol dan assist, tetapi juga dari pengaruhnya terhadap tim dan para penggemar. Ia telah menjadi idola bagi jutaan orang, tidak hanya di Mesir tetapi juga di seluruh dunia. Kehadirannya di lapangan selalu dinanti, dan setiap penampilannya selalu menjadi sorotan. Ia telah membuktikan bahwa dengan tekad yang kuat dan kerja keras, segala sesuatu mungkin terjadi. Ia telah menginspirasi generasi muda untuk mengejar impian mereka dan tidak pernah menyerah.
Keputusan perpisahan ini, meskipun mengejutkan bagi sebagian orang, sebenarnya bukanlah sesuatu yang datang tiba-tiba. Seperti yang terungkap, kesepakatan untuk berpisah telah terjalin sejak Januari 2026. Hal ini menunjukkan bahwa baik Salah maupun Liverpool telah melakukan refleksi mendalam mengenai masa depan masing-masing. Bagi Liverpool, mendatangkan pemain-pemain baru seperti Ekitike, Wirtz, dan Isak adalah langkah strategis untuk memastikan kelangsungan performa tim di masa mendatang. Peremajaan skuad adalah bagian alami dari siklus sepak bola, dan Liverpool, sebagai klub besar, harus selalu beradaptasi dengan perubahan.
Sementara itu, bagi Mohamed Salah, mungkin ia merasa bahwa ia telah memberikan yang terbaik untuk Liverpool dan kini saatnya untuk mencari tantangan baru yang dapat memberikan pengalaman berbeda dalam kariernya. Keputusan untuk meninggalkan klub yang telah memberikannya begitu banyak kesuksesan tentu tidak mudah, namun ini adalah pilihan profesional yang harus diambil. Status bebas transfer di akhir musim 2025/26 akan memberikannya kebebasan untuk memilih klub berikutnya tanpa adanya biaya transfer yang besar, yang tentunya akan menjadi nilai tambah bagi klub yang merekrutnya.
Perasaan "dilempar ke kolong bus" yang diungkapkan Salah, meskipun terdengar dramatis, mungkin mencerminkan rasa frustrasinya terhadap perubahan dinamika dalam tim. Ketika seorang pemain yang telah menjadi tulang punggung tim selama bertahun-tahun tiba-tiba mulai jarang diturunkan sebagai starter, hal itu tentu dapat mempengaruhi kepercayaan diri dan perasaannya. Pertemuan dengan manajemen klub adalah langkah penting untuk menyelesaikan masalah ini secara terbuka dan profesional.
Meskipun musim 2025/26 ini mungkin tidak berakhir dengan catatan gol yang gemilang seperti musim-musim sebelumnya, warisan Mohamed Salah di Liverpool akan tetap abadi. Ia telah mengukir namanya dalam sejarah klub sebagai salah satu pemain terbaik yang pernah ada. Catatan 189 gol dan 92 assist di Premier League adalah bukti nyata dari kontribusinya yang luar biasa. Ia telah menjadi inspirasi, panutan, dan pahlawan bagi para penggemar Liverpool.
Perpisahan ini menandai akhir dari sebuah era yang luar biasa. Namun, dalam sepak bola, akhir dari satu era seringkali menjadi awal dari era baru. Liverpool akan terus bergerak maju, dan Mohamed Salah akan memulai babak baru dalam kariernya. Keputusan yang diambil secara bersama-sama ini diharapkan akan memberikan penutupan yang positif bagi kedua belah pihak, memungkinkan mereka untuk mengenang masa-masa indah dan melanjutkan perjalanan mereka dengan optimisme. Para penggemar Liverpool akan selalu mengenang jasa-jasa Mohamed Salah dan mendoakan yang terbaik untuk masa depannya.

