0

Prilly Latuconsina Olah Daging 8 Kg, Kejailan Omara Bikin Masak Gak Membosankan

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Tradisi merayakan Idul Fitri bagi aktris multitalenta Prilly Latuconsina selalu identik dengan kegiatan memasak rendang dalam jumlah besar. Namun, perayaan Lebaran kali ini menghadirkan nuansa yang berbeda, terutama dengan kehadiran kekasihnya, Omara Esteghlal. Berbeda dengan ekspektasi bahwa Omara akan turut membantu mempercepat proses memasak, justru kehadirannya di dapur Prilly tak terduga membawa cerita lain. Alih-alih efisiensi, momen memasak rendang yang biasanya fokus pada ketelitian dan kesabaran ini justru menjadi lebih panjang durasinya. Prilly sendiri mengakui bahwa bertambahnya waktu memasak bukan karena kesulitan teknis, melainkan karena ulah jahil dan rentetan pertanyaan yang dilontarkan oleh Omara selama berada di dapur.

"Makin lama! Makin lamanya bukan karena gimana-gimana sih, tapi karena diganggu-gangguin, digodain gitu," ungkap Prilly Latuconsina dengan nada geli saat ditemui di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, pada Rabu (25/3/2026). Pernyataan ini secara gamblang menggambarkan bagaimana dinamika dapur Prilly berubah total dengan adanya Omara. Kekasihnya tersebut, yang diakui Prilly memiliki ketidaksigapan dalam urusan dapur, justru menjadi sumber kegaduhan yang membuat aktris berusia 29 tahun itu terkadang kewalahan. Kehadiran Omara membuat suasana dapur yang seharusnya khidmat berubah menjadi arena bermain yang penuh canda tawa. Prilly bahkan menyamakan pengalamannya seperti sedang mengasuh anak kecil, mengingat Omara yang tidak bisa diam dan terus-menerus melakukan hal-hal yang mengalihkan konsentrasinya saat mengaduk bumbu rendang yang membutuhkan ketelatenan tinggi.

Meski secara teknis merasa terganggu oleh ulah kekasihnya, Prilly tidak bisa memungkiri bahwa kehadiran Omara justru membuat suasana dapur menjadi lebih hidup dan penuh keceriaan. "Selalu! Selalu, selalu (dijailin)! Tapi ya enak lah jadi gak ngebosenin ya. Biasa masak rendang sendiri, jadi ada temannya," tuturnya dengan senyum merekah. Interaksi antara keduanya terus berlanjut hingga rendang yang dimasak matang sempurna. Tingkah laku Omara yang penuh keusilan menjadi semacam hiburan tersendiri bagi Prilly di tengah kesibukannya yang padat dalam mempersiapkan hidangan Lebaran. Baginya, ada Omara yang menemaninya di dapur memberikan warna baru dan sentuhan pribadi dalam tradisi mengolah rendang yang telah menjadi rutinitas tahunannya. Pengalaman ini memberikan dimensi baru pada perayaan Lebaran, mengubahnya dari sekadar kewajiban kuliner menjadi momen kebersamaan yang penuh makna dan tawa.

"Gak apa-apa sih, hiburan aku. Kalau gak ada dia sepi soalnya," ujar Prilly Latuconsina, menegaskan betapa kehadiran Omara memberikan arti lebih pada momen spesial tersebut. Keusilan Omara, meskipun terkadang mengganggu fokus, justru menjadi pengingat bagi Prilly bahwa di tengah kesibukan, ada seseorang yang membuatnya merasa nyaman dan bahagia. Ini adalah pengakuan tulus dari seorang Prilly yang biasanya dikenal sebagai sosok yang mandiri dan pekerja keras. Namun, kali ini, ia menemukan bahwa kebersamaan dengan orang terkasih justru dapat menambah kebahagiaan dalam rutinitas yang telah mapan.

Dalam obrolan tersebut, Prilly Latuconsina juga membeberkan informasi menarik mengenai jumlah daging yang ia olah untuk rendang Lebaran tahun ini. Keputusannya untuk mengurangi porsi memasak rendang kali ini didasari oleh perhitungan matang terhadap jadwalnya yang diprediksi akan sangat padat menjelang dan selama momen Idul Fitri. Biasanya, Prilly sanggup mengolah daging hingga 14 kilogram untuk hidangan legendaris ini. Namun, untuk Lebaran kali ini, ia hanya menyiapkan sekitar 8 kilogram saja. Pengurangan porsi ini bukan berarti mengurangi kecintaannya pada tradisi, melainkan sebuah strategi cerdas agar ia bisa menikmati momen Lebaran tanpa terlalu terbebani oleh pekerjaan rumah tangga yang memakan waktu dan tenaga.

"Karena gak masak banyak tahun ini. Sudah tahu Lebaran bakalan sibuk, jadi yang biasanya masak 13 kilo, 14 kilo, kemarin kayak cuma 8 kilo lah," ungkap Prilly Latuconsina, menjelaskan alasan di balik perubahan kuantitas rendang yang ia masak. Keputusan ini menunjukkan kedewasaan Prilly dalam mengelola waktu dan energinya. Ia tidak ingin momen kebersamaan keluarga dan perayaan Idul Fitri terganggu oleh kelelahan akibat pekerjaan rumah tangga yang berlebihan. Dengan mengurangi jumlah rendang, ia memberikan dirinya ruang untuk lebih menikmati suasana Lebaran, berinteraksi dengan keluarga dan kerabat, serta tentu saja, meladeni keusilan Omara tanpa merasa terbebani.

Lebih lanjut, Prilly Latuconsina menekankan bahwa meskipun jumlah rendang berkurang, kualitas dan cita rasa tetap menjadi prioritas utama. Ia tetap menggunakan resep andalannya dan memastikan setiap langkah memasak dilakukan dengan penuh ketelitian, meskipun diiringi oleh celotehan dan godaan dari Omara. Kehadiran Omara justru menjadi katalisator untuk menciptakan pengalaman memasak yang lebih menyenangkan dan berkesan. Hal ini menunjukkan bahwa kebahagiaan dalam sebuah tradisi tidak hanya berasal dari hasil akhir, tetapi juga dari proses dan orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Omara Esteghlal sendiri tampaknya menikmati perannya sebagai "pengganggu" yang lucu di dapur Prilly. Keberaniannya untuk berinteraksi dan menggoda Prilly saat sedang fokus memasak menunjukkan tingkat kedekatan dan kenyamanan yang luar biasa di antara keduanya. Momen-momen seperti inilah yang seringkali menjadi bumbu penyedap dalam sebuah hubungan, menciptakan cerita-cerita unik yang kelak akan menjadi kenangan manis. Interaksi mereka di dapur menjadi cerminan dari dinamika hubungan yang sehat, di mana canda dan tawa menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari.

Tingkah polah Omara, yang digambarkan Prilly sebagai tidak bisa diam, justru menjadi bukti bahwa ia berusaha untuk terlibat dalam kegiatan Prilly, meskipun dengan caranya sendiri yang mungkin tidak konvensional. Daripada hanya duduk diam, ia memilih untuk menjadi bagian dari kesibukan Prilly, meskipun kehadirannya justru menambah durasi memasak. Ini adalah bentuk perhatian dan kasih sayang yang unik, yang pada akhirnya justru membuat Prilly merasa lebih bahagia dan tidak kesepian.

Penting untuk dicatat bahwa di balik keusilan Omara, terselip apresiasi yang mendalam dari Prilly terhadap kehadiran kekasihnya. Ia mengakui bahwa tanpa Omara, suasana dapur akan terasa sepi. Ini menunjukkan betapa Omara telah menjadi bagian penting dalam kehidupan Prilly, bahkan dalam tradisi-tradisi yang bersifat personal seperti memasak rendang untuk Lebaran. Kehadirannya tidak hanya menambah keceriaan, tetapi juga memberikan dukungan emosional yang tak ternilai.

Pengalaman Prilly Latuconsina dalam mempersiapkan rendang Lebaran tahun ini menjadi sebuah cerita yang menarik dan relatable. Ini menunjukkan bahwa bahkan dalam rutinitas yang telah terbiasa, kehadiran orang terkasih dapat membawa perubahan positif yang tak terduga. Keusilan Omara, yang mungkin bagi orang lain bisa dianggap mengganggu, justru menjadi elemen yang membuat Prilly merasa lebih bahagia dan membuat tradisi memasak rendang menjadi lebih hidup dan berkesan.

Keputusan Prilly untuk mengurangi jumlah daging rendang juga menjadi refleksi dari pentingnya keseimbangan antara tradisi dan kebutuhan pribadi. Ia berhasil menemukan cara untuk tetap menjalankan tradisi keluarganya, namun dengan cara yang lebih fleksibel dan sesuai dengan kondisi jadwalnya. Ini adalah contoh bagaimana generasi muda dapat mengadaptasi tradisi agar tetap relevan dan dinikmati tanpa merasa terbebani.

Secara keseluruhan, berita ini tidak hanya menyajikan informasi mengenai aktivitas Prilly Latuconsina, tetapi juga memberikan wawasan tentang bagaimana hubungan yang sehat dan penuh canda tawa dapat memperkaya setiap momen, bahkan dalam kegiatan sehari-hari yang paling sederhana sekalipun. Kehadiran Omara Esteghlal telah mengubah rutinitas memasak rendang Prilly dari sekadar tugas menjadi sebuah pengalaman yang menyenangkan dan penuh makna, membuktikan bahwa cinta dan keusilan bisa menjadi kombinasi sempurna yang membuat hidup lebih berwarna.