Di tengah gemerlap kekayaan yang nyaris tak terbayangkan, sebuah realitas kontras muncul dari kehidupan salah satu figur paling berpengaruh di dunia, Elon Musk. Alih-alih tinggal di istana mewah yang sering diasosiasikan dengan para miliarder, pendiri Tesla dan SpaceX ini memilih sebuah hunian yang jauh dari ekspektasi: sebuah rumah modular sederhana berukuran hanya 35 meter persegi. Kisah ini tidak hanya menarik perhatian, tetapi juga memicu perdebatan mengenai definisi kemewahan, prioritas, dan gaya hidup di era modern.
Rumah utama Elon Musk ini terletak di dekat Starbase SpaceX di Texas, sebuah lokasi yang strategis mengingat fokus utamanya pada eksplorasi antariksa. Keberadaan rumah ini pertama kali menjadi sorotan publik setelah sebuah postingan di platform media sosial X pada tanggal 11 Maret memperlihatkan interiornya. Postingan tersebut secara jelas menggambarkan bahwa tidak ada barang mewah di dalamnya, melainkan hanya perabotan esensial yang menunjang kehidupan sehari-hari.
Gambaran interior rumah Musk sangat jauh dari stereotip kekayaan. Di dalamnya, pengunjung akan menemukan dapur kecil yang fungsional, sebuah lemari es sederhana, meja makan minimalis, meja kayu biasa, beberapa koleksi buku, dan model roket yang kemungkinan besar menjadi pengingat akan ambisi luar angkasanya. Kesederhanaan ini menjadi bukti nyata bahwa bagi Elon Musk, kemewahan bukanlah prioritas utama. Fungsi dan kepraktisan adalah kunci.
Kisah tentang kesederhanaan hunian Musk ini semakin diperkuat oleh ibundanya, Maye Musk. Maye Musk pernah membagikan pengalaman uniknya saat mengunjungi putranya. Ia menyindir bahwa lemari es yang terlihat di foto tidak berisi makanan, sebuah detail kecil namun signifikan yang menggambarkan gaya hidup anaknya. Lebih jauh, Maye Musk mengungkapkan bahwa saat ia menginap, ia harus tidur di garasi yang terletak di sebelah kanan ruangan dalam foto tersebut. Pengalaman ini tentu saja mengejutkan banyak orang, mengingat status anaknya sebagai orang terkaya di dunia.
Maye Musk juga menambahkan detail lain yang memperkuat kesan minimalis di rumah putranya. Ia mengatakan bahwa hanya ada satu handuk di kamar mandi, yang ia tinggalkan untuk Elon setelah menggunakannya. Meskipun demikian, Maye Musk mengaku tidak keberatan dengan kondisi tersebut. Ia bahkan menyebutkan bahwa ia pernah menghabiskan waktu yang jauh lebih menantang, yakni tiga minggu di Gurun Kalahari selama masa kanak-kanaknya tanpa mandi. Pengalaman masa kecilnya ini membentuk perspektifnya dan membuatnya tidak terlalu terpengaruh oleh kurangnya fasilitas mewah di rumah putranya.
Melansir VN Express, Elon Musk, yang masih menduduki posisi orang terkaya di dunia dengan perkiraan kekayaan bersih sekitar USD 814,3 miliar (lebih dari Rp 13.807 triliun) per 20 Maret menurut Forbes, sebelumnya telah mengkonfirmasi sendiri bahwa properti inilah yang menjadi tempat tinggal utamanya. Dalam sebuah postingan tahun 2022 di X, ia secara terbuka menyatakan, "Rumah utama saya sebenarnya adalah rumah senilai ~$50k di Boca Chica / Starbase yang saya sewa dari SpaceX. Tapi itu cukup mengagumkan." Pernyataan ini menegaskan bahwa pilihannya adalah keputusan sadar, bukan karena keterpaksaan.

Rumah tersebut adalah model ‘Casita’ yang dibangun oleh startup Boxabl yang berbasis di Las Vegas. Konsep rumah modular ini sangat inovatif dan sesuai dengan filosofi kepraktisan Musk. Dengan luas sekitar 35 meter persegi, rumah ini dirancang agar dapat dilipat untuk diangkut menggunakan truk dan dipasang dalam waktu hanya satu hari. Fleksibilitas ini menjadikannya solusi hunian yang efisien dan cepat, cocok untuk lingkungan seperti Starbase yang terus berkembang.
Struktur rumah Boxabl Casita juga dirancang untuk tahan terhadap berbagai kondisi lingkungan ekstrem, menjadikannya pilihan yang cerdas dari segi durabilitas. Materialnya tahan terhadap jamur, angin kencang, api, air, dan serangan serangga. Meskipun ringkas, rumah ini sudah mencakup semua area fungsional yang penting, termasuk dapur kecil, ruang tamu, dan kamar tidur, semuanya terintegrasi dalam desain yang efisien. Bagi Musk, rumah ini berfungsi sebagai tempat peristirahatan setelah hari kerja yang panjang dan melelahkan di fasilitas Starbase SpaceX yang berdekatan. Ini adalah tempat di mana ia bisa beristirahat dan mengisi ulang energi tanpa terganggu oleh kerumitan atau kemewahan yang berlebihan.
Pilihan tempat tinggal Elon Musk ini memicu berbagai spekulasi dan pertanyaan. Bagaimana mungkin orang terkaya di dunia, yang memiliki sumber daya tak terbatas untuk membangun atau membeli properti paling mewah sekalipun, memilih untuk hidup dalam kesederhanaan ekstrem? Beberapa analisis menunjukkan bahwa ini mungkin merupakan cerminan dari dedikasi total Musk terhadap pekerjaannya dan misinya. Dengan tinggal di dekat Starbase, ia dapat meminimalkan waktu perjalanan dan memaksimalkan fokusnya pada proyek-proyek ambisiusnya di SpaceX, yang bertujuan untuk membawa umat manusia ke Mars.
Gaya hidup minimalis yang dianut Musk juga bisa jadi merupakan sebuah pernyataan filosofis. Di tengah budaya konsumerisme yang merajalela, Musk mungkin ingin menunjukkan bahwa kebahagiaan dan produktivitas tidak selalu berbanding lurus dengan kepemilikan materi yang melimpah. Ini adalah manifestasi dari pemikirannya yang seringkali tidak konvensional, menantang norma-norma yang ada. Dengan memilih rumah sederhana, Musk secara tidak langsung juga mengirimkan pesan tentang pentingnya efisiensi, keberlanjutan, dan fokus pada tujuan yang lebih besar daripada sekadar akumulasi kekayaan pribadi.
Keputusan Musk untuk hidup sederhana juga didukung oleh riwayatnya dalam menjual properti-properti mewahnya di masa lalu. Pada tahun 2020, Musk pernah membuat janji untuk "tidak memiliki rumah," dan ia menindaklanjuti janji tersebut dengan menjual sebagian besar properti mewahnya, termasuk beberapa mansion di California. Langkah ini semakin memperkuat citranya sebagai seorang visioner yang lebih peduli pada misi dan inovasi daripada kemewahan pribadi. Penjualan properti-properti tersebut diperkirakan menghasilkan puluhan juta dolar, yang kemudian dapat dialokasikan untuk proyek-proyek perusahaannya atau investasi lainnya.
Meskipun demikian, ada pula laporan yang mencoba menyoroti aspek lain dari kepemilikan properti Musk. Pada bulan Oktober 2024, The New York Times melaporkan bahwa ia telah membeli beberapa properti di Austin, Texas, senilai sekitar USD 35 juta atau setara dengan sekitar Rp 593 miliar. Properti-properti ini diduga dibeli untuk membuat sebuah kompleks pribadi yang diperuntukkan bagi 11 anaknya dan dua dari tiga ibu mereka. Laporan tersebut menyebutkan bahwa properti-properti itu mencakup sebuah vila bergaya Tuscan seluas 14.400 kaki persegi, sebuah rumah besar dengan enam kamar tidur, dan sebuah rumah besar lainnya yang terletak sekitar 10 menit berjalan kaki. Namun, Elon Musk kemudian dengan tegas membantah laporan tersebut, menyatakan bahwa informasi tersebut tidak akurat. Bantahan ini kembali menegaskan sikapnya yang konsisten dalam menolak kepemilikan properti mewah, setidaknya sebagai tempat tinggal pribadinya.
Kisah Elon Musk dan rumah 35 meter perseginya akan terus menjadi narasi yang menarik. Ini adalah sebuah paradoks modern yang menantang pandangan konvensional tentang kekayaan dan kesuksesan. Bagi sebagian orang, ini adalah bukti kejeniusan Musk yang tidak terganggu oleh kemewahan duniawi, sementara bagi yang lain, ini mungkin dilihat sebagai bagian dari citra publik yang ia bangun. Apapun interpretasinya, satu hal yang jelas: Elon Musk terus menjadi sosok yang penuh kejutan, bahkan dalam urusan paling personal sekalipun, yaitu tempat ia menyebut "rumah."

