0

Benarkah Rudal Iran Bisa Jangkau London? Ini Kata Pemerintah Inggris

Share

Pertanyaan mengenai jangkauan dan kemampuan rudal Iran kembali mencuat ke permukaan, memicu kekhawatiran dan perdebatan di kancah internasional. Pemicunya adalah klaim provokatif dari Israel yang menyatakan bahwa Iran memiliki rudal jarak jauh yang mampu menjangkau benua Eropa, termasuk Ibu Kota Inggris, London. Klaim ini muncul tak lama setelah insiden dugaan serangan Iran ke pangkalan militer gabungan Amerika Serikat dan Inggris di Diego Garcia, sebuah wilayah yang secara geografis berada sangat jauh dari Iran.

Insiden Diego Garcia, yang menurut laporan merupakan target serangan rudal Iran namun gagal mencapai sasaran, menjadi katalisator bagi spekulasi mengenai ambisi dan kapasitas militer Teheran. Pangkalan militer AS-Inggris di Kepulauan Chagos itu sendiri berjarak sekitar 3.800 kilometer dari wilayah Iran. Jarak yang signifikan ini secara otomatis menimbulkan pertanyaan serius: jika Iran mampu menargetkan lokasi sejauh itu, seberapa jauh lagi rudal mereka bisa melesat?

Menyusul laporan mengenai upaya serangan tersebut, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dengan cepat mengeluarkan pernyataan yang mengklaaskan bahwa Iran telah mengembangkan rudal dengan daya jangkau hingga 4.000 kilometer. IDF bahkan mengklaim bahwa sejak tahun lalu, mereka telah mengungkap niat Teheran untuk mengembangkan rudal yang tidak hanya mampu mencapai Eropa, tetapi juga Asia dan Afrika. Klaim Israel ini tentu saja memicu gelombang kekhawatiran, terutama di negara-negara Eropa yang berpotensi masuk dalam jangkauan tersebut.

Namun, Pemerintah Inggris dengan tegas membantah klaim tersebut. Menteri Perumahan Inggris, Steve Reed, yang bertindak sebagai juru bicara pemerintah dalam isu ini, menyebut bahwa tidak ada bukti spesifik yang mendukung klaim Israel bahwa Iran menargetkan Inggris atau bahkan memiliki kemampuan untuk melakukannya jika mereka mau. Reed menegaskan bahwa tidak ada penilaian resmi yang menunjukkan ancaman langsung semacam itu. Pernyataan ini bertujuan untuk meredakan kekhawatiran publik dan menegaskan kemampuan pertahanan Inggris.

"Tidak ada indikasi Iran menargetkan Inggris atau bahkan mampu melakukannya," ujar Reed, seperti dikutip dari BBC pada Senin (23/3/2026). Ia menambahkan dengan keyakinan, "Kami sepenuhnya mampu melindungi negara ini dan menjaganya tetap aman." Pernyataan ini mencerminkan sikap tenang namun tegas dari pemerintah Inggris, yang ingin memastikan warga negaranya merasa aman di tengah gejolak informasi dan klaim yang beredar.

Perdebatan mengenai jangkauan rudal Iran ini bukan hal baru. Sudah lama kapasitas rudal balistik Teheran menjadi sorotan internasional, terutama dalam konteks program nuklirnya dan peran Iran di Timur Tengah. Amerika Serikat, di bawah pemerintahan mantan Presiden Donald Trump, juga pernah mengklaim bahwa Iran sedang mengembangkan rudal yang dapat mengancam Eropa dan berupaya menciptakan rudal untuk menyerang AS. Klaim-klaim ini seringkali dikaitkan dengan upaya menekan Iran terkait program nuklir dan misilnya.

Menariknya, Iran sendiri memiliki narasi yang berbeda. Menteri Luar Negeri Iran, beberapa waktu sebelum insiden ini, menyatakan bahwa negaranya secara sengaja membatasi jangkauan rudalnya pada 2.000 kilometer. Alasan di balik pembatasan ini adalah agar Iran tidak dianggap sebagai ancaman global. Batasan 2.000 kilometer ini, menurut Iran, cukup untuk tujuan pertahanan regional mereka tanpa memicu kekhawatiran internasional yang lebih luas. Pernyataan ini kontras dengan klaim Israel dan AS, menciptakan "credibility gap" yang signifikan di antara pihak-pihak yang terlibat.

Lantas, bagaimana pandangan para ahli militer dan keamanan mengenai kemampuan rudal Iran ini? Dr. Sidharth Kaushal, seorang peneliti senior di Royal United Services Institute (RUSI), memberikan perspektif yang lebih mendalam mengenai aspek teknis dan strategis dari jangkauan rudal. Kaushal menjelaskan bahwa jangkauan rudal bersifat elastis. Artinya, jika sebuah rudal dilengkapi dengan hulu ledak yang lebih ringan, jangkauannya secara teoretis dapat diperjauh. Ini berarti bahwa angka 2.000 kilometer yang disebutkan Iran mungkin bukan batas absolut kemampuan teknis rudal mereka jika modifikasi tertentu dilakukan.

Namun, Kaushal menekankan bahwa meski secara teoretis Iran mungkin memiliki rudal yang mampu mencapai Inggris dengan hulu ledak ringan, hal itu bukanlah ancaman yang paling mendesak atau realistis. Ada beberapa alasan kuat untuk pandangan ini. Pertama, akurasi rudal balistik konvensional akan menurun drastis pada jarak yang sangat jauh. Rudal yang diluncurkan sejauh ribuan kilometer mungkin tidak akan mampu mengenai target presisi, melainkan hanya mengenai area yang luas. Ini mengurangi nilai strategisnya sebagai senjata penyerang.

Kedua, dan mungkin yang paling krusial, rudal semacam itu harus melewati wilayah udara yang dijaga sangat ketat sebelum dapat memasuki wilayah udara Inggris. Eropa memiliki sistem pertahanan udara terintegrasi yang canggih, terutama melalui NATO, yang dirancang untuk mendeteksi dan mencegat ancaman rudal. Inggris sendiri memiliki sistem pertahanan udara yang kuat, termasuk kapal perang dengan kemampuan anti-rudal dan pesawat tempur yang siap siaga. Menerobos pertahanan berlapis ini dengan sejumlah kecil rudal akan menjadi misi yang sangat berisiko dan kemungkinan besar akan gagal.

Kaushal mempertanyakan motivasi di balik serangan semacam itu. "Pertanyaan besarnya adalah terus kenapa? Jika Anda hanya bisa meluncurkan sejumlah kecil rudal balistik bersenjata konvensional melalui wilayah udara yang dijaga ketat dan rudal itu tidak akurat pada jarak yang sangat jauh, apa yang ingin dicapai Iran?" ujarnya. Pertanyaan ini menyoroti aspek strategis dari penggunaan senjata. Sebuah serangan rudal konvensional ke London, bahkan jika berhasil mengenai sasaran area, kemungkinan besar akan memicu respons militer yang masif dan menghancurkan dari Inggris dan sekutunya, tanpa memberikan keuntungan militer atau politik yang signifikan bagi Iran.

Dari perspektif geopolitik yang lebih luas, program rudal Iran seringkali dilihat sebagai bagian dari strategi pertahanan asimetris dan penangkal terhadap kekuatan militer yang lebih besar, terutama Amerika Serikat dan Israel. Kemampuan rudal Iran dirancang untuk memproyeksikan kekuatan di kawasan Teluk dan memberikan opsi retaliasi jika terjadi serangan terhadap wilayah mereka. Memperluas jangkauan rudal untuk menargetkan London atau kota-kota Eropa lainnya akan mengubah secara fundamental sifat ancaman Iran dari regional menjadi interkontinental, yang kemungkinan besar akan memicu eskalasi konflik yang tidak diinginkan oleh Teheran.

Selain itu, pengembangan rudal jarak jauh interkontinental juga memerlukan investasi besar dalam penelitian dan pengembangan, serta teknologi yang lebih canggih untuk sistem panduan dan navigasi yang presisi pada jarak ekstrem. Meskipun Iran telah menunjukkan kemajuan signifikan dalam teknologi rudal, mencapai tingkat akurasi dan keandalan yang diperlukan untuk ancaman jarak jauh yang kredibel masih merupakan tantangan besar.

Sebagai kesimpulan, klaim Israel bahwa rudal Iran bisa menjangkau London, meskipun secara teoretis mungkin bisa dilakukan dengan modifikasi tertentu pada hulu ledak, tidak didukung oleh bukti konkret mengenai niat atau kemampuan operasional yang realistis dari Iran. Pemerintah Inggris secara tegas membantah adanya ancaman langsung dan menegaskan kesiapan pertahanannya. Para ahli juga meragukan efektivitas dan tujuan strategis dari serangan semacam itu, mengingat keterbatasan akurasi pada jarak jauh dan sistem pertahanan udara yang canggih di Eropa. Oleh karena itu, kekhawatiran akan rudal Iran yang menargetkan London, meskipun menarik perhatian media, saat ini masih dianggap sebagai skenario yang sangat tidak mungkin terjadi secara praktis dan strategis. Ini lebih merupakan bagian dari narasi geopolitik yang kompleks dan perang informasi di Timur Tengah.

(fyk/hps)