0

Anwar BAB Mengenang Tradisi Ngaduk Dodol Lebaran yang Hilang, Kini Gelar Open House dengan Sentuhan Toleransi

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Kehangatan perayaan Hari Raya Idulfitri kerap dihiasi berbagai tradisi turun-temurun. Namun, bagi komedian Anwar BAB, beberapa tradisi lama keluarganya, khususnya "ngaduk dodol" menjelang Lebaran, kini telah sirna. Pergantian tradisi ini memaksanya beradaptasi, dengan kini memilih untuk menggelar acara open house di kediamannya yang dihiasi semangat toleransi dan hidangan lezat.

Dalam perbincangan santai di Studio Trans TV, Mampang, Jakarta Selatan, Anwar BAB berbagi cerita pilu namun tetap optimis mengenai perubahan tradisi di keluarganya. "Ngaduk dodol sudah nggak ada," ujarnya dengan nada sedikit sendu. Tradisi membuat dodol bersama, yang biasanya menjadi momen sakral menjelang Lebaran, terpaksa ditinggalkan. Hal ini terjadi lantaran rumah tempat tradisi itu biasa dilakukan kini kosong setelah kepergian kakek dan neneknya. Sebagai salah satu anggota keluarga yang paling dituakan setelah kepergian mereka, ibu dan bapak Anwar menjadi penanggung jawab utama tradisi tersebut. Namun, dengan ketiadaan sosok kakek dan nenek, rumah yang dulunya ramai kini terasa hampa, kehilangan "nyawa"-nya.

Ketiadaan rumah utama keluarga besar untuk berkumpul saat Lebaran membuat Anwar mengambil inisiatif. Ia memutuskan untuk mengubah rumahnya sendiri menjadi pusat perayaan, dengan mendekorasinya secara khusus untuk menyambut seluruh anggota keluarga besar. "Jadi kayak hilang apa ya, hilang nyawa di rumah itu. Akhirnya di rumah aku, aku bikin open house. Jadi aku dekor di situ," jelasnya. Keputusan ini bukan sekadar mengganti tempat, melainkan juga upaya untuk tetap menjaga kebersamaan keluarga di tengah perubahan zaman.

Lebih lanjut, Anwar BAB tidak hanya fokus pada dekorasi, tetapi juga pada kenyamanan para tamu yang hadir. Ia bahkan tak ragu untuk menyewa jasa katering guna memastikan hidangan tersaji dengan sempurna. Baginya, ini bukanlah tindakan berlebihan, melainkan bentuk penghormatan dan pelayanan kepada tamu yang telah bersedia hadir. "Nggak berlebihan, karena kenapa kita ngejamu tamu. Aku nyewa katering dari hari pertama itu. Aku nyari, kan katering banyak yang nggak buka tuh hari Lebaran kan?" tuturnya, menekankan tantangan mencari penyedia jasa kuliner di hari raya.

Keunikan dalam pencarian katering ini justru membawa Anwar pada sebuah pengalaman berharga tentang indahnya toleransi antarumat beragama. Ia menceritakan dengan antusias bagaimana ia akhirnya menemukan jasa katering yang siap beroperasi di hari Lebaran, dan yang lebih mengejutkan, penyedia jasa tersebut berasal dari kalangan non-muslim. "Dia bilang, ‘Kita bisa bantuin’. Jadi kan nggak pada Lebaran, toleransi beragama gitu. Jadi kayak masyaallah makanan insyaallah lengkap," ungkapnya dengan rasa syukur. Momen ini menjadi bukti nyata bahwa semangat berbagi dan saling membantu dapat melampaui sekat perbedaan keyakinan, terlebih di momen-momen besar seperti perayaan hari raya.

Selain tentang tradisi dan katering, Anwar BAB juga dengan bangga membagikan daftar makanan khas Lebaran yang paling dinanti oleh keluarganya. Selera kuliner keluarganya tampaknya sangat kaya, mencakup berbagai hidangan manis hingga gurih. Di urutan teratas adalah "nastar buatan mama aku yang di dalamnya nanas itu ya". Kue kering nanas ini menjadi favorit yang selalu dirindukan. Tak ketinggalan, "tape uli" juga disebut sebagai sajian yang sangat lezat dan menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Lebaran.

Tak hanya hidangan manis, Anwar juga menyebutkan menu utama yang selalu hadir di meja makan keluarganya. "Semur daging, sama sayur kumbuili," katanya. Semur daging yang kaya rasa menjadi hidangan klasik yang disukai banyak orang. Sementara itu, "sayur kumbuili" memiliki penjelasan yang menarik. Bagi masyarakat Sunda, sayur ini dikenal sebagai hidangan yang terbuat dari kentang yang diolah dengan bumbu kuning dan dicampur bihun, serta diberi sentuhan pete untuk menambah aroma dan cita rasa khas. Kombinasi kentang yang lembut, bihun yang kenyal, dan pete yang menggugah selera, menciptakan kelezatan yang unik dan sulit dilupakan.

Sebagai penutup, Anwar BAB menambahkan satu lagi hidangan favorit yang tak kalah istimewa, yaitu "ikan tembang diselimutin". Ia menjelaskan bahwa hidangan ini adalah ikan tembang yang digoreng dengan balutan tepung. Bentuknya yang panjang-panjang dan teksturnya yang renyah menjadi daya tarik tersendiri. "Iya, yang pakai tepung, yang panjang-panjang kan? Itu enak banget," pungkasnya dengan senyum.

Kisah Anwar BAB ini menggambarkan bagaimana tradisi dapat berubah seiring waktu, namun semangat kekeluargaan dan kebersamaan tetap dapat dipertahankan melalui adaptasi. Pengalamannya dalam mencari katering juga menjadi pengingat pentingnya nilai toleransi dan kemanusiaan yang patut dijunjung tinggi, terlebih di momen-momen perayaan keagamaan. Perubahan tradisi bukan berarti kehilangan, melainkan kesempatan untuk menciptakan tradisi baru yang tetap bermakna dan relevan dengan kondisi saat ini. Dengan open house yang hangat, hidangan lezat, dan semangat toleransi, Anwar BAB berhasil menciptakan perayaan Lebaran yang tak kalah meriah, bahkan mungkin lebih kaya makna.