0

AS Jatuhkan Bom Raksasa ‘Penghancur Bunker’ di Dekat Selat Hormuz

Share

Jakarta – Militer Amerika Serikat pada Jumat (20/3/2026) secara dramatis mengumumkan telah menjatuhkan bom dengan teknologi khusus penghancur bunker seberat sekitar 2.200 kilogram atau 5.000 pon, ke situs-situs rudal bawah tanah Iran yang diperkuat di dekat Selat Hormuz. Serangan presisi ini, yang diumumkan oleh Komando Pusat AS (CENTCOM), terjadi di tengah eskalasi perang yang telah melumpuhkan arus pelayaran melalui jalur air Teluk Persia yang vital bagi lalu lintas minyak mentah global.

"Beberapa jam yang lalu, pasukan AS berhasil mengerahkan sejumlah amunisi penembus dalam seberat 5.000 pon ke situs-situs rudal Iran yang diperkuat di sepanjang garis pantai Iran di dekat Selat Hormuz," ungkap komando regional tersebut melalui platform media sosial X. CENTCOM menambahkan bahwa rudal-rudal jelajah anti-kapal Iran di situs-situs ini telah menimbulkan risiko serius bagi pelayaran internasional di selat tersebut, sebuah ancaman yang kini diyakini telah dinetralkan secara signifikan.

Amunisi canggih ini, yang dikenal sebagai GBU-72 Advanced 5K Penetrator, merupakan sebuah bahan peledak berdaya hancur tinggi yang pertama kali dijatuhkan oleh pesawat AS pada tahun 2021. Seorang pejabat AS yang enggan disebut namanya mengonfirmasi kepada CNN mengenai penggunaan bom jenis ini dalam operasi terbaru. GBU-72 dirancang khusus untuk mengatasi tantangan yang ditimbulkan oleh target yang diperkuat dan terkubur jauh di bawah tanah, seperti fasilitas rudal dan komando bawah tanah yang kerap dimiliki oleh kekuatan militer modern, termasuk Iran.

Menurut siaran pers Angkatan Udara AS pada tahun 202, bom berukuran masif ini dikembangkan dengan tujuan strategis untuk menembus lapisan beton dan baja yang tebal, serta lapisan tanah yang dalam, sebelum meledak dan menghancurkan target dari dalam. Kemampuannya untuk menembus target yang sangat terlindungi menjadikannya alat yang tak ternilai dalam menghadapi ancaman dari infrastruktur militer bawah tanah yang sulit dijangkau.

Angkatan Udara AS sebelumnya juga menyebutkan bahwa sejauh ini hanya dua jenis pesawat yang telah disetujui secara resmi untuk menggunakan GBU-72/B: pesawat pembom strategis B-1B Lancer dan jet tempur multiperan F-15E Strike Eagle. Kedua pesawat ini dipilih karena kapasitas muatan, jangkauan, dan kemampuan avionik presisi mereka yang memungkinkan pengiriman amunisi seberat 2.200 kilogram ini dengan akurasi tinggi. Penggunaan pesawat-pesawat tempur ini menunjukkan keseriusan dan skala operasi yang dilakukan oleh militer AS dalam upaya mereka melemahkan kemampuan Iran.

Serangan ini bukan hanya sekadar unjuk kekuatan, melainkan sebuah respons tegas terhadap situasi kritis yang tengah berlangsung di Selat Hormuz. Jalur air vital ini telah ditutup total oleh blokade Iran menggunakan ranjau laut, drone, dan kapal-kapal kecil bersenjata, menghentikan sekitar 27% pasokan energi maritim global. Akibatnya, harga minyak melonjak tajam, melampaui USD 100 per barel, memicu kekhawatiran akan krisis energi global dan dampak ekonomi yang meluas. Iran mengklaim tindakan penyanderaan selat tersebut sebagai balasan atas serangan gabungan yang sebelumnya dilancarkan oleh AS dan Israel terhadap target-target strategis Iran.

Situasi di Selat Hormuz telah menjadi titik didih dalam konflik yang lebih luas antara AS dan Iran, dengan implikasi yang mendalam bagi stabilitas regional dan ekonomi dunia. Ketegangan yang membara ini telah menarik perhatian internasional, dengan banyak negara menyerukan de-eskalasi dan pembukaan kembali jalur pelayaran yang krusial tersebut.

Presiden Donald Trump, yang saat ini memimpin AS, secara publik maupun melalui media sosial, mengecam sekutu-sekutu Eropa, termasuk Prancis dan Inggris, atas penolakan mereka untuk membantu membuka kembali jalur air yang krusial tersebut. Trump menuduh negara-negara Eropa tidak serius dalam menghadapi ancaman Iran dan membiarkan krisis ini berlarut-larut, padahal mereka juga sangat bergantung pada pasokan energi yang melalui Selat Hormuz. Kecaman ini mencerminkan frustrasi Washington terhadap kurangnya dukungan internasional dalam menghadapi apa yang mereka anggap sebagai agresi Iran.

Laksamana Brad Cooper, komandan CENTCOM, dalam pernyataannya menegaskan komitmen AS. "AS akan terus dengan cepat melemahkan kemampuan Iran dalam mengancam kebebasan navigasi di dalam dan di sekitar Selat Hormuz," klaimnya. Pernyataan ini menggarisbawahi tekad AS untuk menjaga jalur pelayaran internasional tetap terbuka, bahkan jika itu memerlukan tindakan militer yang signifikan.

Penggunaan GBU-72 Advanced 5K Penetrator, dengan daya hancurnya yang luar biasa, mengirimkan pesan yang sangat jelas kepada Teheran mengenai keseriusan Washington dalam melindungi kepentingannya dan kepentingan global di kawasan tersebut. Ini juga menunjukkan pergeseran strategi AS dalam menghadapi ancaman infrastruktur militer bawah tanah Iran, yang selama ini menjadi salah satu kekuatan pertahanan utama mereka.

Serangan ini kemungkinan besar akan memicu reaksi keras dari Iran. Meskipun belum ada pernyataan resmi dari Teheran hingga berita ini ditulis, diperkirakan Iran akan mengecam keras tindakan AS sebagai pelanggaran kedaulatan dan agresi militer. Kemungkinan besar akan ada ancaman balasan, baik secara langsung maupun melalui proksi di kawasan tersebut, yang berpotensi meningkatkan eskalasi konflik ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dunia menanti dengan napas tertahan untuk melihat bagaimana Iran akan merespons serangan bom penghancur bunker ini, dan apakah langkah ini akan membuka jalan bagi solusi diplomatik atau malah menyeret kawasan tersebut ke dalam konflik yang lebih luas dan merusak.

Dampak jangka panjang dari serangan ini terhadap kemampuan militer Iran dan stabilitas regional masih harus dilihat. Namun, satu hal yang pasti, insiden ini menandai titik balik signifikan dalam konfrontasi antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran, dengan Selat Hormuz sebagai episentrum ketegangan geopolitik yang terus memanas. Ekonomi global, yang sudah terguncang oleh perang dan krisis energi, kini dihadapkan pada ketidakpastian yang lebih besar lagi.

(fyk/fay)