BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Ramadan tahun ini membawa nuansa yang berbeda dan lebih mendalam bagi komedian yang dikenal dengan gaya jenakanya, Anwar BAB. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang mungkin lebih diwarnai kesibukan duniawi, kali ini Anwar mengaku telah menemukan ketenangan hati yang luar biasa berkat dedikasinya yang lebih besar terhadap amalan-amalan ibadah. Perubahan positif ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan sebuah komitmen yang ia jalani dengan penuh kesadaran, menjadikan bulan suci ini sebagai momentum untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dan memperbaiki kualitas spiritualnya. Pengalaman ini menjadi bukti nyata bahwa di tengah hiruk pikuk kehidupan seorang publik figur, waktu dan niat tulus dapat menciptakan ruang yang lebih luas untuk ibadah dan refleksi diri.
Salah satu pilar utama dalam rutinitas ibadah Ramadan Anwar adalah salat Dhuha yang ia jalani secara konsisten setiap pagi. Bagi Anwar, salat Dhuha bukan lagi sekadar sunnah, melainkan sebuah kewajiban yang tak terpisahkan dari kesehariannya di bulan penuh berkah ini. Ia memahami betul keutamaan salat Dhuha yang memiliki banyak manfaat, baik secara spiritual maupun duniawi, termasuk sebagai pembuka rezeki dan pembersih dosa. Setelah menunaikan salat Dhuha, ia melanjutkan dengan membaca Surat Al-Waqiah. Pilihan surat ini tidaklah sembarangan. Surat Al-Waqiah dikenal sebagai surat yang memiliki keutamaan luar biasa, salah satunya adalah sebagai pembuka pintu rezeki dan pelindung dari kemiskinan. Membaca Surat Al-Waqiah secara rutin setiap pagi menjadi ritual yang memberikan rasa aman dan keyakinan bagi Anwar akan limpahan berkah dari Allah SWT.
Namun, komitmen spiritual Anwar tidak berhenti sampai di situ. Di sela-sela kesibukan aktivitasnya yang padat sebagai seorang komedian yang seringkali berpindah tempat, seperti saat berada di dalam mobil dalam perjalanan menuju lokasi syuting atau acara lainnya, Anwar selalu menyempatkan diri untuk melantunkan zikir pagi dan zikir petang. Ia menjelaskan, "Iya, terus eh dhuha itu wajib banget. Tiap pagi Al-Waqiah, habis Al-Waqiah, siang-siang di mobil ada jeda, baca zikir pagi, zikir petang, gitu," kata Anwar BAB kepada detikcom di Studio Trans TV. Kebiasaan ini menjadi pengingat konstan akan kehadiran Tuhan dalam setiap momen kehidupannya, bahkan di tengah kesibukan yang paling intens sekalipun. Zikir pagi dan petang memiliki peran penting dalam menenangkan jiwa, menjauhkan diri dari hal-hal negatif, serta memohon perlindungan dan keberkahan sepanjang hari. Pengamalan ini menunjukkan keseriusan Anwar dalam menjaga koneksi spiritualnya agar tetap kuat dan terjaga, terlepas dari tantangan dan tuntutan profesinya.
Lebih jauh lagi, Anwar telah memperkaya khazanah amalan ibadahnya selama bulan Ramadan dengan menambahkan beberapa bacaan surat Al-Qur’an dan doa-doa khusus. Di antara amalan tambahan yang ia jalani adalah membaca Surat Yusuf, yang dikenal sebagai surat yang menceritakan kisah Nabi Yusuf AS tentang kesabaran, ketabahan, dan pertolongan Allah dalam menghadapi cobaan. Membaca surat ini diharapkan dapat menumbuhkan kekuatan mental dan keikhlasan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan. Selain itu, ia juga rutin membaca ayat terakhir dari Surat Al-Baqarah. Ayat ini memiliki keutamaan yang sangat besar, diyakini sebagai penangkal segala keburukan dan sebagai sumber kekuatan spiritual. Tak ketinggalan, ia juga mengamalkan Doa Seratus Dinar, sebuah doa yang diajarkan untuk memohon rezeki yang luas dan berkah dari Allah SWT. "Terus ada beberapa amalan-amalan yang kayak Seratus Dinar, terus surat Yusuf, surat ayat terakhir Al-Baqarah, gitu. Jadi kayak apa ya? Berasa kayak… aku pribadi ngerasanya ya satu lebih tenang, dua lebih kayak merdeka gitu, ngerti enggak sih?" ungkapnya.
Pengalaman spiritual ini telah membawa dampak yang signifikan pada perasaan dan pandangan hidup Anwar. Ia menggambarkan perasaannya sebagai kombinasi antara ketenangan batin yang mendalam dan sebuah kebebasan yang ia rasakan. Ketenangan ini bukan sekadar absennya kegelisahan, melainkan sebuah kedamaian yang bersumber dari kedekatan dengan Sang Pencipta. Sementara itu, perasaan "merdeka" yang ia sebutkan mencerminkan pembebasan dari belenggu kekhawatiran dan beban duniawi. Ketenangan dan kebebasan ini muncul dari kesadarannya bahwa ia telah berhasil menemukan keseimbangan yang harmonis antara tuntutan pekerjaan dan kewajiban ibadahnya. "Kita kayak dikasih kayak kepuasan di dalam hati kita gitu kayak kerjaannya dapat, ibadahnya juga enggak ketinggalan, kayak gitu," ujarnya. Keseimbangan ini menciptakan rasa kepuasan batin yang mendalam, di mana ia merasa bahwa kedua aspek penting dalam hidupnya dapat berjalan beriringan tanpa mengorbankan salah satunya.
Keyakinan Anwar semakin menguat terhadap nasihat para ulama dan ustaz yang sering ia dengar. Nasihat tersebut menekankan pentingnya memprioritaskan urusan akhirat, dengan janji bahwa urusan dunia akan secara otomatis dimudahkan dan diraih. Prinsip ini telah terbukti kebenarannya dalam pengalaman pribadi Anwar. Dengan menempatkan ibadah dan akhirat sebagai prioritas utama, ia mendapati bahwa rezeki dan kesuksesan dalam kariernya pun mengalir dengan lebih lancar. "Dan aku yakin dan percaya banget, eh banyak yang bilang kayak ustaz-ustaz kan, katanya kerjalah akhirat, bahwa dunia akan kau raih, dan itu benar," jelasnya. Pengalaman ini memberikan pelajaran berharga baginya dan juga bagi banyak orang, bahwa fokus pada spiritualitas dapat membawa berkah yang tak terduga dalam aspek kehidupan duniawi.
Kebiasaan Anwar yang paling menyentuh adalah rutinitasnya setelah sahur. Ia memiliki sebuah ritual khusus yang ia jalani dengan penuh kekhusyukan. Sebelum azan Subuh berkumandang, Anwar seringkali memilih untuk pergi ke masjid. Di sana, ia tidak hanya menunaikan salat Subuh, tetapi juga melakukan serangkaian ibadah lainnya. Ia menjelaskan, "Terus eh habis makan sisa, ada kayak sebelum azan, aku pergi ke masjid. Di masjid aku benar-benar eh Subuh. Apa? Bakdiah Subuh, terusnya juga, eh, Bakdiah Qobliyah Subuh, terusnya juga tahajud di masjid. Itu ngerasa kayak ya kayak masyaallah gitu sih." Rangkaian ibadah ini mencakup salat Ba’diyah Subuh (salat sunnah setelah Subuh) dan Qabliyah Subuh (salat sunnah sebelum Subuh), serta salat Tahajud di malam hari yang ia lakukan di masjid. Keberadaan di masjid di sepertiga malam terakhir dan menjelang Subuh memberikan suasana spiritual yang sangat kental, memperdalam rasa kedekatan dengan Allah dan memberikan ketenangan jiwa yang luar biasa. Pengalaman ini ia gambarkan sebagai sesuatu yang sangat mengagumkan, "masyaallah," yang mencerminkan rasa syukur dan takjub atas karunia ilahi.
Sejak ia secara konsisten mengamalkan rutinitas ibadah yang telah ia bangun ini, Anwar merasakan perubahan yang nyata dalam kehidupannya. Ia merasa hidupnya menjadi lebih ringan, lebih mudah dijalani, dan dipenuhi dengan rasa syukur yang mendalam. Beban-beban yang mungkin dulu terasa berat kini terasa lebih ringan, seolah-olah ada kekuatan gaib yang membantunya dalam menjalani setiap aktivitas. "Lebih lega gitu. Jadi kerjaan ada aja gitu," lanjutnya. Ungkapan "kerjaan ada aja gitu" bukan berarti ia hanya pasrah menunggu, melainkan ia merasa bahwa setiap pekerjaan yang datang selalu diiringi dengan kemudahan dan keberkahan. Ia menyadari bahwa dengan menempatkan Allah sebagai pusat segala urusannya, maka seluruh aspek kehidupan, termasuk pekerjaan, akan berjalan dengan lebih lancar dan penuh makna. Ramadan kali ini telah menjadi titik balik yang signifikan bagi Anwar BAB, membawanya pada pemahaman yang lebih mendalam tentang arti kekhusyukan ibadah dan keindahan spiritualitas. Ia tidak hanya menjalani ibadah, tetapi benar-benar meresapi setiap momennya, menjadikannya sumber kekuatan, ketenangan, dan kebahagiaan yang hakiki. Komitmennya untuk terus menjaga rutinitas ini bahkan setelah Ramadan berakhir menunjukkan kedalaman transformasinya dan tekadnya untuk menjalani hidup yang lebih bermakna dan bertakwa.

