Sutradara Upie Guava, sosok di balik visi futuristik film sci-fi "Pelangi di Mars," mengungkapkan alasan mendalam yang mendorongnya untuk menghadirkan karya ini ke layar lebar. Baginya, "Pelangi di Mars" bukan sekadar tontonan hiburan semata, melainkan sebuah misi budaya dan sosial untuk menyalakan kembali percikan imajinasi dan ambisi di benak anak-anak Indonesia, mengajak mereka untuk memimpikan masa depan yang lebih besar dan gemilang. Film ini adalah seruan untuk kembali ke akar imajinasi kolektif bangsa, yang diyakininya pernah menjadi pondasi kokoh bagi generasi sebelumnya.
Upie mengenang masa kecilnya, sebuah era di mana literatur dan media hiburan secara aktif mendorong anak-anak untuk berani bermimpi melampaui batas-batas yang ada. Generasinya tumbuh besar dengan kisah-kisah petualangan yang mendunia, yang menancapkan benih-benih aspirasi kuat. Karakter ikonik seperti Tintin, jurnalis pemberani yang menjelajahi setiap sudut dunia, atau Indiana Jones, arkeolog penjelajah misteri peradaban kuno, adalah pahlawan yang menginspirasi. Bukan hanya itu, narasi tentang astronaut yang menembus batas atmosfer untuk menjelajahi keajaiban luar angkasa, atau ilmuwan yang menciptakan inovasi revolusioner, turut membentuk pandangan mereka tentang potensi diri dan masa depan. "Kita dulu membaca Tintin dan ingin menjadi wartawan yang menjelajahi dunia. Menonton Indiana Jones dan ingin jadi arkeolog. Banyak anak bermimpi menjadi ilmuwan atau astronaut," ujar Upie saat ditemui di Jakarta, menggambarkan betapa kuatnya pengaruh narasi-narasi tersebut dalam membentuk cita-cita.
Namun, pengamatan Upie terhadap generasi baru kini menunjukkan pergeseran yang signifikan. Ketika ditanya tentang cita-cita mereka, banyak anak-anak yang dengan lugas menjawab ingin menjadi YouTuber atau gamer. Fenomena ini, menurut Upie, bukanlah tentang profesi itu sendiri yang bermasalah. Ia menekankan bahwa menjadi seorang kreator konten atau atlet e-sport adalah pilihan karier yang valid dan bisa sangat menjanjikan di era digital. Masalahnya terletak pada motivasi di baliknya dan persepsi yang mendasarinya. Upie merasa ada indikasi bahwa banyak anak melihat masa depan orang dewasa di sekitar mereka sebagai sesuatu yang kurang menarik, kurang menantang, atau bahkan membosankan. Mereka mungkin merasa bahwa jalur karier konvensional tidak menawarkan kegembiraan atau dampak sebesar yang mereka lihat di dunia maya.
"Saya merasa ada sesuatu yang hilang dalam literasi masa kecil kita," katanya, menyiratkan bahwa ada kekosongan dalam jenis narasi dan role model yang disajikan kepada anak-anak saat ini. Literasi yang dimaksud Upie bukan hanya sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan untuk memahami dan menginterpretasikan dunia, membentuk imajinasi, dan membangun visi masa depan. Jika narasi yang dominan adalah tentang kemudahan mendapatkan ketenaran instan atau keuntungan finansial cepat, tanpa disertai kisah-kisah tentang eksplorasi mendalam, inovasi yang membutuhkan perjuangan, atau pengabdian untuk kemajuan kolektif, maka aspirasi anak-anak pun akan cenderung menyusut.
Oleh karena itulah, Upie Guava merasa terpanggil untuk menciptakan sebuah cerita yang mampu menginspirasi anak-anak agar kembali membayangkan masa depan yang jauh lebih luas, lebih menantang, dan lebih bermakna. "Pelangi di Mars" adalah manifestasi dari panggilan tersebut. Film ini dirancang untuk membuka jendela imajinasi, mengajak mereka untuk melihat bahwa dunia ini—dan alam semesta—penuh dengan potensi tak terbatas untuk dijelajahi, dipahami, dan bahkan diubah.
"Pelangi di Mars" sendiri mengisahkan tentang seorang anak Indonesia bernama Pelangi, yang memiliki keunikan sebagai anak pertama yang lahir di planet Mars. Keberadaan Pelangi di Mars sudah menjadi simbol dari lompatan imajinasi. Namun, ceritanya tidak berhenti di situ. Pelangi memulai sebuah petualangan epik bersama robot-robot sahabatnya, sebuah perjalanan berbahaya demi mencari Zeolit Omega, sebuah mineral langka yang diyakini menjadi satu-satunya harapan untuk menyelamatkan Bumi dari kehancuran. Kisah ini tidak hanya tentang petualangan luar angkasa, tetapi juga tentang keberanian, persahabatan, inovasi, dan tanggung jawab terhadap planet asal.

Upie berharap bahwa karakter Pelangi dapat menjadi referensi baru, pahlawan kontemporer bagi generasi muda Indonesia. Pelangi adalah simbol dari kecerdasan, ketangguhan, dan semangat pantang menyerah yang harus dimiliki oleh anak-anak Indonesia untuk menghadapi tantangan masa depan. "Bangsa besar terbentuk dari mimpi anak-anaknya," tegas Upie, menggarisbawahi bahwa kekuatan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari kekayaan alam atau kekuatan militer, melainkan juga dari kapasitas imajinasi dan aspirasi generasi penerusnya. Mimpi-mimpi besar anak-anak hari ini adalah inovasi dan solusi untuk tantangan masa depan.
Ironisnya, Upie juga menyinggung bahwa Indonesia sebenarnya pernah memiliki tradisi cerita sci-fi dan fantasi yang sangat kuat di masa lalu. Pada era 1960-an hingga 1980-an, industri komik Indonesia sempat berjaya dengan berbagai judul yang menawarkan petualangan futuristik, makhluk-makhluk luar angkasa, dan teknologi canggih. Komik-komik karya seniman legendaris seperti Ganes TH, R.A. Kosasih, atau Djair Warni, seringkali memuat elemen-elemen fiksi ilmiah yang mampu memicu imajinasi pembacanya. Sayangnya, tradisi yang kaya ini perlahan menghilang, tergerus oleh berbagai faktor seperti perubahan tren pasar, masuknya media asing, dan kurangnya regenerasi serta dukungan industri. Kehilangan tradisi ini berarti kehilangan salah satu medium penting untuk membentuk pola pikir inovatif pada generasi muda.
Kesenjangan ini semakin terasa ketika Upie membandingkannya dengan negara lain yang terus mengembangkan literasi fiksi ilmiah mereka. Amerika Serikat, misalnya, tak henti-hentinya memproduksi film-film luar angkasa dengan efek visual memukau dan narasi yang kompleks, mulai dari "Star Wars" hingga "Interstellar," yang secara konsisten membentuk imajinasi generasi mudanya tentang eksplorasi antariksa dan potensi kemanusiaan. Demikian pula Jepang, dengan waralaba seperti Gundam, telah berhasil menciptakan semesta fiksi ilmiah yang mendalam dan relevan, membentuk imajinasi anak-anak mereka tentang robotika, teknologi canggih, dan konflik antarbintang, sekaligus mengajarkan nilai-nilai persatuan dan keberanian. Keberlanjutan produksi konten fiksi ilmiah di negara-negara ini membuktikan bahwa genre ini bukan hanya hiburan, tetapi juga investasi dalam pengembangan kapasitas imajinasi dan inovasi bangsanya.
Melalui "Pelangi di Mars," Upie Guava ingin kembali menghadirkan cerita futuristik yang berakar pada identitas Indonesia, dengan tokoh Indonesia sebagai pusatnya. Ini adalah upaya untuk mengisi kekosongan yang telah lama ada, memberikan anak-anak Indonesia pahlawan lokal yang bisa mereka banggakan dan tiru semangatnya. Proyek ini bukanlah pekerjaan mudah. Setelah lima tahun proses produksi yang panjang dan penuh tantangan, film ini akhirnya rampung. Lima tahun adalah waktu yang sangat lama, mengindikasikan dedikasi luar biasa, investasi teknologi yang tidak sedikit, dan kerja keras tim untuk mewujudkan visi Upie menjadi kenyataan visual yang memukau.
Bagi Upie, momen paling membahagiakan dan mengharukan adalah ketika ia melihat langsung respons anak-anak yang menonton film tersebut. Ketika mata mereka berbinar, ekspresi wajah mereka menunjukkan kekaguman, dan kemudian pertanyaan-pertanyaan imajinatif mulai terlontar dari bibir mereka tentang luar angkasa, robot, atau masa depan, saat itulah Upie merasa semua kerja kerasnya terbayar lunas. "Saat itu saya merasa semua kerja keras ini benar-benar punya arti," ujarnya, menegaskan bahwa tujuan utama film ini telah tercapai: menumbuhkan mimpi-mimpi baru di hati para penonton cilik.
Film "Pelangi di Mars" akan mulai diputar secara terbatas sebagai bagian dari promosi dan pengenalan, sebelum rilis resmi secara luas pada tanggal 18. Ini adalah kesempatan bagi publik, terutama keluarga dan anak-anak, untuk menjadi bagian dari perjalanan inspiratif yang ditawarkan oleh Upie Guava. Harapan besar tersemat pada film ini, agar ia tidak hanya menjadi tontonan yang menghibur, tetapi juga katalisator bagi kebangkitan kembali imajinasi dan ambisi besar di kalangan anak-anak Indonesia, membentuk generasi yang berani bermimpi melampaui batas dan siap membangun masa depan yang lebih cerah bagi bangsa.

