BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Aktor senior Yusuf Surya, yang lebih dikenal dengan julukan Bang Jack berkat perannya yang ikonik dalam sinetron legendaris "Jinny Oh Jinny", baru-baru ini blak-blakan menyuarakan keprihatinannya terhadap perubahan drastis yang melanda industri sinetron di Tanah Air. Pengalamannya yang panjang di dunia hiburan, termasuk masa keemasannya di era 1990-an hingga awal 2000-an, membuatnya sangat merasakan perbedaan fundamental ini. Menurut pengakuannya, honor para pemain sinetron saat ini mengalami penurunan yang sangat signifikan, bahkan tidak mencapai separuh dari apa yang mereka terima di masa lalu. "Kalau dibandingin sama sekarang, honornya itu gak sampai 50 persen dari dulu," ujar Bang Jack dengan nada prihatin saat ditemui awak media di Studio TransTV, kawasan Kapten P Tendean, Jakarta Selatan, pada Jumat, 13 Maret 2026.
Pergeseran lanskap industri hiburan, menurut Bang Jack, telah membawa konsekuensi pada sistem kerja dan nilai ekonomi dalam produksi sinetron. Ia menggambarkan bagaimana di era sebelumnya, meskipun nominal honor mungkin terlihat kecil jika dibandingkan dengan standar saat ini, namun nilai dan daya belinya terasa jauh lebih besar. "Dulu kecil, tapi terasa besar. Kalau sekarang beda, dari kecil ciut," tuturnya, menggambarkan perasaan ketidakpuasan yang dirasakan para aktor terhadap besaran honor yang mereka terima kini. Perbandingan ini bukan sekadar masalah angka, tetapi juga mencerminkan apresiasi terhadap profesi dan kontribusi para pelaku seni yang semakin tergerus.
Lebih jauh, Yusuf Surya tidak hanya menyoroti isu honor, tetapi juga fenomena baru yang semakin marak di kalangan para pekerja seni peran. Ia mengamati bahwa banyak aktor, termasuk teman-teman lamanya, kini mulai beralih profesi menjadi kreator konten digital. Alasan utama di balik pergeseran ini adalah anggapan bahwa menjadi kreator konten menawarkan potensi penghasilan yang lebih cepat dan lebih besar dibandingkan dengan berakting di sinetron. Bang Jack menceritakan pengalamannya bahwa beberapa rekan kerjanya yang dulu hanya mendapatkan peran figuran, kini lebih memilih fokus pada pengembangan konten di platform digital. "Sekarang banyak yang kalau diajak main sinetron malah tanya, ‘Wani piro?’. Karena mereka sudah bisa hitung, mending ngonten, lebih cepat dapat uangnya," jelasnya, menggambarkan realitas baru di mana para aktor mulai membandingkan potensi keuntungan antara berakting di sinetron dan menjadi kreator konten.
Fenomena ini mencerminkan perubahan dalam cara pandang terhadap profesi aktor dan industri hiburan secara keseluruhan. Kebutuhan akan penghasilan yang lebih instan dan fleksibilitas dalam bekerja tampaknya mendorong para aktor untuk mencari alternatif yang dianggap lebih menguntungkan. Di sisi lain, ini juga menunjukkan bagaimana platform digital telah membuka peluang baru bagi para seniman untuk mengekspresikan diri dan membangun karier mereka, meskipun di luar jalur tradisional industri sinetron. Perubahan ini menimbulkan pertanyaan tentang keberlanjutan profesi aktor sinetron di masa depan, serta bagaimana industri ini dapat beradaptasi untuk tetap menarik dan memberikan apresiasi yang layak bagi para talentanya.
Namun, di tengah segala perubahan dan tantangan tersebut, Yusuf Surya tetap memegang teguh filosofi hidupnya sebagai seorang seniman. Ia menyampaikan rasa syukur yang mendalam atas perjalanan kariernya yang telah ia jalani hingga saat ini. Baginya, esensi utama dari menjadi seorang seniman adalah semangat untuk terus berkarya, tanpa memandang kondisi atau situasi yang dihadapi. "Kalau mau jadi orang seni ya harus total. Kalau gak berkarya ya mati. Jadi teruslah berkarya," pesannya dengan tegas, menegaskan pentingnya dedikasi dan konsistensi dalam dunia seni. Pesan ini tidak hanya ditujukan kepada dirinya sendiri, tetapi juga kepada para pelaku seni lainnya, sebagai pengingat akan panggilan jiwa yang harus terus dijaga.
Pernyataan Yusuf Surya ini memberikan gambaran yang cukup jelas tentang dinamika yang terjadi dalam industri sinetron Indonesia. Perbandingan honor antara era 1990-an dan masa kini menunjukkan adanya penurunan nilai ekonomi yang diterima oleh para aktor. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti perubahan pola konsumsi media, persaingan yang semakin ketat, serta model bisnis produksi sinetron yang mungkin telah bergeser. Keberadaan platform digital sebagai alternatif penghasilan juga menjadi poin penting yang perlu dicermati.
Dulu, sinetron menjadi primadona hiburan televisi dan memberikan peluang karier yang sangat menjanjikan bagi para aktor. Nama-nama seperti Yusuf Surya sendiri menjadi bukti betapa populer dan dihargainya profesi aktor pada masa itu. Honor yang mereka terima tidak hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga memberikan rasa aman dan pengakuan atas kerja keras mereka. Sinetron menjadi sumber pendapatan utama yang stabil dan berkelanjutan bagi banyak aktor.
Namun, seiring berkembangnya teknologi dan perubahan tren hiburan, lanskap industri televisi mengalami transformasi besar. Munculnya platform streaming, media sosial, dan konten digital lainnya telah mengubah cara masyarakat mengonsumsi hiburan. Hal ini secara otomatis juga memengaruhi model bisnis produksi sinetron. Efisiensi biaya produksi menjadi semakin penting, yang terkadang berdampak pada pemotongan anggaran untuk honor aktor. Produser mungkin berusaha menekan biaya operasional untuk menjaga agar produksi tetap menguntungkan di tengah persaingan yang semakin sengit.
Fenomena "wani piro" atau pertanyaan mengenai besaran bayaran yang diajukan oleh calon pemain sinetron kini, seperti yang diungkapkan Bang Jack, adalah indikator kuat dari perubahan ini. Para aktor kini lebih kalkulatif dan realistis dalam melihat potensi penghasilan mereka. Mereka tidak lagi hanya mengandalkan honor dari sinetron, melainkan mencari sumber pendapatan lain yang dianggap lebih menguntungkan dan memberikan fleksibilitas yang lebih besar. Menjadi kreator konten di platform seperti YouTube, Instagram, atau TikTok telah membuka pintu bagi para aktor untuk membangun "personal brand" mereka sendiri, menjalin hubungan langsung dengan audiens, dan bahkan menghasilkan pendapatan dari iklan, endorsement, atau penjualan produk.
Pergeseran ini juga bisa diartikan sebagai bentuk pemberdayaan bagi para aktor. Mereka tidak lagi sepenuhnya bergantung pada produser atau stasiun televisi untuk mendapatkan pekerjaan dan penghasilan. Dengan menjadi kreator konten, mereka memiliki kendali lebih besar atas karya dan karier mereka. Mereka bisa memilih topik yang mereka minati, berkreasi sesuai dengan gaya mereka, dan membangun komunitas penggemar yang loyal. Ini adalah langkah maju dalam hal kemandirian finansial dan artistik bagi para pelaku seni.
Meskipun demikian, penting untuk tidak mengabaikan nilai dan kontribusi sinetron sebagai salah satu bentuk karya seni yang telah menghibur jutaan orang selama bertahun-tahun. Sinetron masih memiliki daya tarik tersendiri dan mampu menciptakan bintang-bintang baru. Namun, tantangannya adalah bagaimana industri sinetron dapat beradaptasi dengan perubahan zaman, tetap relevan, dan memberikan apresiasi yang layak bagi para aktornya. Mungkin diperlukan model bisnis baru yang lebih inovatif, kerja sama yang lebih baik antara produser dan aktor, serta upaya untuk meningkatkan nilai ekonomi dari produksi sinetron itu sendiri.
Pesan Yusuf Surya tentang pentingnya terus berkarya adalah sebuah pengingat yang berharga. Di tengah segala ketidakpastian dan tantangan, semangat untuk berkreasi adalah apa yang membedakan seorang seniman. Dunia hiburan selalu dinamis, dan para pelaku seni harus siap untuk beradaptasi, belajar hal baru, dan terus mencari cara untuk mengekspresikan diri mereka. Baginya, "mati" bagi seorang seniman berarti berhenti berkarya. Ini adalah panggilan untuk terus berinovasi, bereksperimen, dan memberikan kontribusi positif melalui karya seni mereka, terlepas dari apakah itu melalui sinetron, film, teater, atau platform digital.
Dalam konteks yang lebih luas, curahan hati Yusuf Surya juga mencerminkan tantangan yang dihadapi oleh banyak profesi kreatif di era digital ini. Perubahan teknologi dan tren pasar memang selalu menghadirkan dampak signifikan. Namun, semangat adaptasi dan inovasi, seperti yang ditunjukkan oleh para aktor yang beralih menjadi kreator konten, adalah kunci untuk bertahan dan berkembang. Industri sinetron Indonesia perlu merespons perubahan ini secara konstruktif, mencari solusi agar profesi aktor tetap menarik dan dihargai, sambil terus memberikan tontonan berkualitas bagi masyarakat.

