0

Bisa Jadi Inspirasi, Kisah Inspiratif Putri Bungsu Ririn Ekawati, Abigail Cattleya Putri, Berjualan Takjil, Ajarkan Nilai Kewirausahaan Sejak Dini

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Semangat berwirausaha sejak dini patut diacungi jempol. Hal ini ditunjukkan oleh Abigail Cattleya Putri, akrab disapa Yaya, putri bungsu dari pasangan selebritas Ririn Ekawati dan Ibnu Jamil. Yaya mencuri perhatian publik dengan inisiatifnya berjualan takjil di depan rumah mereka yang berlokasi di kawasan Bendungan Hilir, Pejompongan, Jakarta Pusat. Keberanian dan kreativitas Yaya dalam menjalankan usaha kecil-kecilan ini tak hanya membanggakan kedua orang tuanya, tetapi juga bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang, terutama anak-anak seusianya, untuk belajar tentang kemandirian finansial dan nilai-nilai kewirausahaan.

Ibnu Jamil, sang ayah sambung, mengungkapkan rasa bangga dan haru melihat Yaya begitu antusias dalam berbisnis. "Senang-senang aja sih, lucu aja kita melihatnya. Dia emang anaknya kan gak bisa diam gitu. Kadang bikin apa, bikin apa," ujar Ibnu Jamil saat ditemui di kediamannya, kemarin. Pernyataan ini menggarisbawahi sifat Yaya yang aktif dan penuh ide kreatif, yang kemudian disalurkan ke dalam kegiatan yang produktif.

Bukan kali pertama Yaya menunjukkan bakat berbisnisnya. Sebelumnya, Ibnu Jamil menceritakan bahwa Yaya pernah mencoba peruntungan dengan membuka bisnis mani pedi dan membuat gantungan kunci. Hal ini menunjukkan bahwa Yaya memiliki jiwa petualang dalam mencoba berbagai jenis usaha, sebuah karakteristik yang sangat penting bagi seorang wirausahawan. Ririn Ekawati dan Ibnu Jamil pun selalu memberikan dukungan penuh terhadap setiap kreativitas anak mereka, termasuk dalam hal berdagang. Dukungan ini sangat krusial dalam menumbuhkan rasa percaya diri dan keberanian anak dalam mencoba hal baru.

"Ya dari kecil kalau segala sesuatu berkaitan dengan kreativitas kita support selagi memang kreativitas itu juga bagus untuk anaknya gitu. Kita cuma tinggal ngarahin kayak biasanya kalau dagang, kita tanya modalnya berapa, terus hari ini dapetnya berapa, jangan lupa dicatat supaya tahu dagangannya tuh untung apa gak gitu," jelas Ibnu Jamil. Pendekatan yang diambil oleh Ibnu dan Ririn sangat bijak. Mereka tidak serta merta mengambil alih kendali, melainkan memberikan arahan dan bimbingan. Ini mengajarkan Yaya untuk bertanggung jawab atas usahanya sendiri, mulai dari perencanaan hingga evaluasi.

Konsep "ngarahin" yang diutarakan Ibnu Jamil mencakup aspek-aspek fundamental dalam berbisnis. Ia mengajarkan Yaya tentang pentingnya pencatatan modal dan omzet harian. Dengan mengetahui berapa modal yang dikeluarkan dan berapa pendapatan yang diperoleh, Yaya dapat belajar menghitung keuntungan. Ini adalah pelajaran berharga yang seringkali terlewatkan oleh banyak orang dewasa sekalipun. Kemampuan mencatat dan menganalisis data keuangan, sekecil apapun itu, adalah fondasi penting untuk kesuksesan bisnis jangka panjang.

Menariknya, Yaya juga berhasil mendapatkan keuntungan dari hasil berjualan takjil. Ketika ditanya mengenai keuntungan yang diperoleh, Ibnu Jamil menjawab dengan bangga, "Iya Rp 25 ribu." Meskipun jumlahnya terbilang kecil, namun ini adalah hasil kerja keras Yaya sendiri. Yang lebih membanggakan adalah niat Yaya untuk menginvestasikan kembali keuntungannya. "Hasilnya buat modal lagi, itu juga masih kurang kayaknya buat modal lagi. Iya, dia bilang gitu," ungkap Ibnu Jamil sambil tersenyum. Sikap ini menunjukkan kedewasaan Yaya dalam berpikir tentang keberlanjutan usahanya. Ia tidak hanya berpuas diri dengan keuntungan yang didapat, tetapi juga memikirkan bagaimana agar usahanya bisa terus berkembang.

Ibnu Jamil dan Ririn memberikan kebebasan penuh kepada Yaya untuk mengelola usahanya sendiri. Mereka percaya bahwa pengalaman langsung adalah guru terbaik. "Kita bebasin dia untuk me-manage semuanya by Yaya. Kita cuma ngasih guidance-guidance aja. Kayak kalau untuk modal tuh berapa, terus supaya dapat untung, jadi pendapatannya itu harus lebih besar. Belum nanti kita kasih tahu juga ada biaya-biaya misalnya ada temannya yang bantuin, jangan lupa dikasih uang. Istilahnya gaji pegawai atau profit sharing," tuturnya. Pembelajaran mengenai biaya operasional, termasuk kompensasi bagi teman yang membantu, adalah pelajaran bisnis yang sangat mendalam. Ini mengajarkan Yaya tentang konsep "cost" dan "profit sharing", sebuah pemahaman yang jarang dimiliki anak seusianya.

Dalam proses berjualan, Yaya juga mengalami berbagai cerita menarik yang memberikan pelajaran berharga. Salah satunya adalah ketika seorang bapak ojek sempat salah paham dan mengira takjil yang dijual Yaya dibagikan secara gratis. "Terus Yaya bilang enggak ini buat jualan. Pas dibilang buat jualan, ojeknya itu pergi gitu. Akhirnya dia bilang, ‘Yah kasihan banget tahu gitu kita kasih’," cerita Ibnu sambil tersenyum. Kejadian ini memberikan Yaya pelajaran tentang bagaimana mengkomunikasikan usahanya dengan jelas dan bagaimana menghadapi kesalahpahaman. Meskipun awalnya mungkin sedikit mengecewakan, namun ini adalah bagian dari proses belajar yang membuat Yaya semakin kuat.

Aspek menarik lainnya adalah sumber modal awal yang digunakan Yaya untuk berjualan takjil. Ternyata, modal tersebut berasal dari uang angpao yang ia terima saat perayaan Tahun Baru Imlek. "Modal dari uang dia kan kemarin dapet uang angpao ya Na? Gong Xi Fa Cai dia dapet uang angpao. Modalnya dari uang angpaonya. Dia beliin modal buah-buahan terus alat-alat yang lainnya juga, sirupnya. Terus kalau untuk wadah-wadahnya kita emang udah punya. Terus sama ini, gelasnya, plastiknya gitu kan kita mesti (pikirkan) nanti bungkusannya pakai apa kalau orang beli," jelas Ibnu Jamil. Penggunaan uang angpao sebagai modal awal adalah contoh cerdas bagaimana anak-anak dapat memanfaatkan rezeki yang mereka terima untuk hal yang produktif. Ini mengajarkan mereka untuk tidak hanya menghabiskan uang, tetapi juga mengembangkannya.

Pemilihan takjil sebagai produk jualan juga patut diperhatikan. Takjil, yang identik dengan bulan Ramadan, adalah pilihan yang strategis dan memiliki permintaan tinggi. Yaya sendiri yang memilih untuk menjual buah-buahan, sirup, dan berbagai perlengkapan pendukung lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa Yaya tidak hanya mengikuti tren, tetapi juga memiliki pemikiran logis dalam memilih produk yang akan dijual.

Proses pembelajaran Yaya dalam berjualan takjil ini tidak hanya berhenti pada aspek finansial semata. Ia juga belajar tentang pentingnya pelayanan pelanggan. Bagaimana ia berinteraksi dengan pembeli, menjawab pertanyaan, dan memastikan kepuasan pelanggan adalah pengalaman yang tak ternilai harganya. Kejadian dengan bapak ojek tadi adalah salah satu contoh bagaimana ia belajar untuk beradaptasi dengan berbagai situasi dan cara berkomunikasi.

Lebih jauh lagi, inisiatif Yaya ini dapat menjadi cikal bakal bagi tumbuhnya jiwa kewirausahaan yang kuat di masa depan. Dengan dibiasakan untuk berdagang, mengelola uang, dan bertanggung jawab atas usahanya sendiri, Yaya akan memiliki bekal yang sangat berharga ketika dewasa nanti. Ia akan lebih siap menghadapi tantangan dunia kerja dan memiliki kemampuan untuk menciptakan peluangnya sendiri.

Dukungan orang tua seperti yang ditunjukkan oleh Ririn Ekawati dan Ibnu Jamil adalah kunci utama keberhasilan anak dalam mengembangkan bakat dan minatnya. Mereka tidak hanya memberikan fasilitas, tetapi juga memberikan bimbingan moral dan mental. Mereka mengajarkan Yaya bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah kesempatan untuk belajar dan bangkit kembali.

Kisah Yaya ini juga memberikan pesan penting kepada para orang tua di luar sana. Bahwa mendidik anak tentang nilai-nilai ekonomi dan kewirausahaan tidak harus menunggu mereka dewasa. Mulai dari hal-hal kecil seperti menabung, membantu pekerjaan rumah tangga yang menghasilkan, hingga mencoba berjualan produk sederhana, semuanya dapat memberikan pelajaran berharga. Mengajarkan anak untuk mandiri secara finansial sejak dini adalah investasi jangka panjang yang akan sangat bermanfaat bagi masa depan mereka.

Di tengah maraknya era digital, kisah Yaya yang terjun langsung berjualan takjil secara konvensional ini menjadi sesuatu yang unik dan menyegarkan. Ini menunjukkan bahwa semangat berbisnis dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, baik online maupun offline. Yang terpenting adalah kemauan untuk belajar, berusaha, dan pantang menyerah.

Penghargaan patut diberikan kepada Ririn Ekawati dan Ibnu Jamil yang telah membimbing putri mereka dengan cara yang sangat positif dan mendidik. Mereka tidak hanya memanjakan anak dengan materi, tetapi juga membekali mereka dengan keterampilan hidup yang esensial. Kemampuan Yaya dalam mengelola modal dari uang angpao, menghitung keuntungan, dan berinteraksi dengan pembeli adalah bukti nyata bahwa pendidikan kewirausahaan sejak dini dapat membuahkan hasil yang luar biasa.

Ke depannya, tentu saja banyak harapan agar Yaya terus mengembangkan bakat dan minatnya dalam berbisnis. Pengalaman berjualan takjil ini hanyalah permulaan dari sebuah perjalanan panjang yang penuh dengan pembelajaran dan kesuksesan. Semoga kisah Abigail Cattleya Putri ini dapat terus menginspirasi anak-anak Indonesia untuk berani bermimpi, berani mencoba, dan berani menjadi pengusaha muda yang sukses. Semangat Yaya, teruslah berkarya!