BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – PT Agrinas Pangan Nusantara, sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak dalam sektor pangan, telah memulai langkah strategisnya dengan mengimpor mobil pick up dari India. Kendaraan operasional ini ditujukan untuk mendukung aktivitas Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Sebagian dari total rencana impor sebanyak 105.000 unit pick up tersebut kini telah tiba di Indonesia, menandai dimulainya implementasi proyek yang ambisius ini. Salah satu model yang telah mendarat dan siap beroperasi adalah pick up Mahindra Scorpio. Unit-unit Mahindra Scorpio yang akan digunakan oleh KDMP ini telah dihiasi dengan livery atau stiker khas Koperasi Desa Merah Putih, menunjukkan identitas dan tujuan penggunaannya. Keputusan untuk memilih pick up dengan penggerak empat roda atau 4×4 ini didasarkan pada persyaratan spesifik yang diajukan oleh PT Agrinas Pangan Nusantara. Namun, spesifikasi ini justru menimbulkan pertanyaan dan potensi kritik, di mana sebagian pihak beranggapan bahwa fitur penggerak 4×4 pada pick up yang akan digunakan untuk operasional desa ini bisa jadi mubazir atau tidak dimanfaatkan secara optimal.
Fenomena impor pick up dengan spesifikasi penggerak 4×4 dari India ini menarik perhatian para pakar otomotif dan praktisi keselamatan berkendara. Erreza Hardian, seorang pakar berkendara yang juga merupakan anggota Kebijakan dan Advokasi Berkendara Direktorat Keselamatan Berkendara Ikatan Motor Indonesia (IMI), memberikan pandangannya mengenai hal ini. Menurut Erreza, kepemilikan kendaraan dengan fitur canggih seperti penggerak 4×4 atau four-wheel drive (4WD) tidak serta-merta menjamin pemanfaatannya. Ia menekankan bahwa mengandalkan pengalaman mengemudi semata tidaklah cukup untuk memaksimalkan potensi fitur 4×4. Jika pengemudi hanya mengandalkan kebiasaan atau tidak memahami cara kerjanya, maka fitur 4×4 tersebut berpotensi besar menjadi mubazir karena tidak pernah diaktifkan dalam kondisi yang tepat.
"Membaca buku manual kendaraan adalah langkah penting agar pengurus dan operator koperasi memahami," ujar Erreza kepada detikOto. Ia melanjutkan, "Jangan sampai setiap saat hanya menggunakan 2WD seperti yang banyak ditemukan di site (pertambangan dan perkebunan). Padahal syarat pengadaan (pick up KDMP) jelas (harus penggerak 4×4), jadi malah percuma, ini justru akan mengarah kepada opini ngapain impor, kendaraan niaga existing di Indonesia juga banyak." Pernyataan Erreza ini menyoroti pentingnya edukasi dan pemahaman mendalam mengenai teknologi kendaraan yang diimpor, terutama ketika kendaraan tersebut akan dioperasikan oleh banyak individu dengan tingkat pemahaman yang mungkin beragam. Tanpa pemahaman yang memadai, investasi pada fitur canggih seperti 4×4 bisa menjadi sia-sia dan menimbulkan pertanyaan efisiensi pengadaan.
Pada dasarnya, kendaraan dengan penggerak 4×4 menawarkan fleksibilitas yang lebih tinggi dalam berbagai kondisi medan. Konfigurasi penggerak pada umumnya meliputi tiga pilihan utama yang dapat dipilih oleh pengemudi sesuai dengan karakteristik jalan yang dilalui. Pilihan pertama adalah 2H (Two-Wheel Drive High Range), di mana tenaga mesin hanya disalurkan ke dua roda penggerak, biasanya roda belakang. Mode ini paling umum digunakan pada kondisi jalan normal dan rata karena lebih efisien dalam konsumsi bahan bakar. Pilihan kedua adalah 4H (Four-Wheel Drive High Range). Dalam mode ini, keempat roda kendaraan menjadi roda penggerak, memberikan traksi yang lebih baik untuk kondisi jalan yang sedikit licin atau membutuhkan stabilitas lebih, seperti saat hujan deras atau jalanan berkerikil. Mode 4H dapat digunakan pada kecepatan yang relatif tinggi.
Pilihan ketiga, dan yang paling krusial untuk medan berat, adalah 4L (Four-Wheel Drive Low Range). Mode ini merupakan jantung dari kemampuan off-road kendaraan 4×4. Dengan menggunakan rasio gigi yang lebih rendah, 4L menghasilkan torsi maksimal pada kecepatan rendah. Ini sangat penting untuk menaklukkan medan yang sangat berat, seperti tanjakan curam, lumpur tebal, pasir bergerak, atau bebatuan besar. Dengan torsi yang besar, kendaraan dapat merangkak perlahan namun pasti melewati rintangan tanpa kehilangan momentum. Kemampuan 4L ini memungkinkan kendaraan untuk memiliki kontrol yang lebih baik dan mengurangi risiko terjebak atau selip di medan ekstrem.
Erreza Hardian menekankan kembali pentingnya pemanfaatan fitur 4WD ketika memang dibutuhkan. "Jadi ketika diperlukan traksi maka gunakan selalu fitur 4WD-nya," tegasnya. Ia berargumen bahwa ada beberapa keuntungan signifikan jika fitur ini dimanfaatkan dengan benar. Pertama, adalah prinsip pemanfaatan investasi. Mengingat kendaraan ini dibeli dengan spesifikasi 4×4, tidak memanfaatkannya akan menjadi pemborosan. Kedua, penggunaan 4WD secara tepat dapat memberikan manfaat fungsional. "Ya ngapain kalau tidak dipakai," ujarnya menyindir potensi pemborosan. "Dengan 4WD, kendaraan akan lebih ekonomis, punya daya cengkeram yang baik, karena ada prinsip menarik dan mendorong, memperpendek jarak pengereman bahkan lebih nyaman untuk penumpang dan membawa barang," jelasnya lebih lanjut.
Konsep "menarik dan mendorong" yang dimaksud Erreza merujuk pada distribusi tenaga ke keempat roda. Ketika semua roda berputar dan memiliki traksi, kendaraan menjadi lebih stabil dan dapat mengatasi beban atau tanjakan dengan lebih mudah. Daya cengkeram yang superior juga berkontribusi pada peningkatan keamanan saat pengereman, karena beban pengereman dapat didistribusikan ke keempat roda, sehingga memperpendek jarak yang dibutuhkan untuk berhenti. Selain itu, pada kecepatan rendah, penggerak 4×4, terutama dalam mode 4L, dapat memberikan pengendaraan yang lebih halus dan nyaman, baik bagi penumpang maupun saat mengangkut barang, karena mengurangi guncangan dan menjaga stabilitas kendaraan di medan yang tidak rata.
Pertimbangan pengadaan pick up 4×4 untuk operasional Koperasi Desa Merah Putih ini tentu memiliki latar belakang dan tujuan yang spesifik. Kemungkinan besar, PT Agrinas Pangan Nusantara dan KDMP telah melakukan kajian mendalam mengenai kondisi geografis dan medan operasional di wilayah pedesaan yang akan dilayani. Indonesia memiliki bentang alam yang sangat beragam, dengan banyak daerah pedesaan yang masih memiliki akses jalan yang buruk, berlumpur, berbukit, atau bahkan belum teraspal sepenuhnya. Dalam konteks seperti ini, penggerak 4×4 menjadi fitur yang sangat relevan dan krusial untuk memastikan kelancaran logistik dan distribusi barang atau hasil pertanian. Kendaraan 4×4 dapat menjangkau daerah-daerah terpencil yang sulit diakses oleh kendaraan konvensional 2WD, membuka akses bagi petani untuk mendistribusikan hasil panen mereka ke pasar, serta memfasilitasi pengangkutan sarana produksi pertanian ke desa-desa.
Namun, isu "mubazir" yang diangkat oleh Erreza Hardian tetap menjadi poin penting yang perlu menjadi perhatian. Jika kendaraan ini hanya digunakan di jalanan desa yang rata dan beraspal, maka fitur 4×4 memang akan menjadi overkill dan tidak memberikan nilai tambah yang signifikan. Hal ini justru bisa menimbulkan pertanyaan mengenai efisiensi anggaran dan pengadaan barang. Oleh karena itu, pelatihan dan sosialisasi yang intensif mengenai kapan dan bagaimana menggunakan fitur 4×4 menjadi sangat vital. Para pengurus dan operator KDMP harus dibekali pengetahuan yang memadai agar dapat mengidentifikasi kondisi medan yang memerlukan penggunaan penggerak 4×4, dan juga memahami cara mengoperasikannya dengan aman dan benar.
Selain itu, perlu juga dipertimbangkan aspek perawatan. Kendaraan dengan sistem penggerak 4×4 umumnya memiliki perawatan yang sedikit lebih kompleks dibandingkan kendaraan 2WD. Jika fitur ini tidak pernah digunakan, komponen-komponen terkait sistem penggerak 4×4 mungkin tidak mendapatkan pelumasan dan pergerakan yang optimal, yang berpotensi menimbulkan masalah di kemudian hari. Oleh karena itu, meskipun tidak selalu digunakan, melakukan siklus penggunaan fitur 4×4 secara berkala, misalnya sebulan sekali, dapat membantu menjaga kondisi komponen dan memastikan kesiapannya saat dibutuhkan.
Proyek impor 105.000 unit pick up ini adalah skala yang sangat besar dan memiliki implikasi ekonomi serta sosial yang signifikan. Jika fitur 4×4 ini dapat dimanfaatkan secara optimal, maka kendaraan ini akan menjadi aset yang sangat berharga bagi pemberdayaan ekonomi pedesaan. Kemampuannya untuk menjangkau area yang sulit dijangkau akan membuka peluang baru bagi petani dan pelaku usaha kecil di desa. Namun, jika fitur canggih ini terbuang sia-sia karena kurangnya pemahaman atau kondisi operasional yang tidak mendukung, maka akan menjadi sebuah kerugian dan mungkin memunculkan persepsi negatif terhadap program pemerintah ini.
Ada beberapa langkah konkret yang dapat diambil untuk memastikan fitur 4×4 tidak menjadi mubazir. Pertama, PT Agrinas Pangan Nusantara dan KDMP perlu bekerja sama dengan produsen atau distributor Mahindra di Indonesia untuk menyelenggarakan program pelatihan yang komprehensif. Pelatihan ini tidak hanya mencakup cara mengaktifkan mode 4×4, tetapi juga pemahaman tentang kapan mode tersebut diperlukan, teknik mengemudi di medan berat, serta perawatan dasar. Kedua, perlu dilakukan pemetaan detail terhadap kondisi medan di setiap wilayah operasional KDMP. Data ini akan membantu dalam menentukan prioritas penggunaan kendaraan 4×4 dan mengidentifikasi area-area yang memang membutuhkan kapabilitas tersebut.
Ketiga, PT Agrinas Pangan Nusantara dapat menjajaki kemungkinan pengembangan infrastruktur pendukung di desa-desa yang akan dilayani. Meskipun ini mungkin di luar cakupan langsung pengadaan kendaraan, namun perbaikan akses jalan di beberapa titik kritis dapat memaksimalkan penggunaan kendaraan 4×4 dan mengurangi risiko kerusakan kendaraan akibat medan yang terlalu ekstrem. Keempat, perlu ada sistem pelaporan dan evaluasi berkala mengenai penggunaan kendaraan. Laporan ini dapat mencakup data mengenai frekuensi penggunaan fitur 4×4, kondisi medan yang dihadapi, serta kendala yang ditemui. Data ini akan sangat berharga untuk perbaikan program di masa mendatang.
Penting juga untuk melihat aspek positif dari spesifikasi 4×4 ini. Kendaraan dengan penggerak 4×4 umumnya memiliki konstruksi sasis yang lebih kokoh dan suspensi yang lebih kuat untuk menopang beban dan mengatasi guncangan di medan berat. Hal ini berarti bahwa bahkan ketika digunakan di jalan rata, kendaraan ini berpotensi memiliki daya tahan yang lebih baik dan kenyamanan yang lebih tinggi dibandingkan pick up konvensional yang dirancang hanya untuk penggunaan di jalan aspal. Durabilitas yang lebih tinggi dapat berarti biaya perawatan jangka panjang yang lebih rendah dan umur pakai kendaraan yang lebih panjang, yang pada akhirnya juga berkontribusi pada efisiensi anggaran.
Selain itu, dalam konteks program pemberdayaan, kemampuan 4×4 juga dapat memberikan rasa aman dan percaya diri bagi para pengemudi. Mengetahui bahwa kendaraan mereka mampu mengatasi berbagai kondisi medan dapat mengurangi kekhawatiran saat menjalankan tugas, terutama di daerah yang belum terjamah infrastruktur jalan yang memadai. Hal ini dapat meningkatkan semangat kerja dan efektivitas operasional secara keseluruhan.
Jika kita melihat fenomena ini secara lebih luas, pengadaan kendaraan operasional yang memiliki kemampuan lebih dari standar umum seringkali didasari oleh antisipasi terhadap kondisi yang tidak terduga atau potensi pengembangan di masa depan. Mungkin saja PT Agrinas Pangan Nusantara dan KDMP tidak hanya berfokus pada kondisi saat ini, tetapi juga memproyeksikan kebutuhan di masa mendatang, di mana aksesibilitas ke daerah-daerah yang lebih terpencil akan menjadi semakin penting seiring dengan pertumbuhan sektor pertanian dan ekonomi pedesaan.
Pada akhirnya, pertanyaan apakah fitur penggerak 4×4 pada pick up impor dari India ini akan menjadi mubazir atau tidak, sangat bergantung pada bagaimana kendaraan ini dioperasikan, dikelola, dan diintegrasikan dalam strategi operasional Koperasi Desa Merah Putih. Dengan pemahaman yang tepat, pelatihan yang memadai, dan perencanaan yang matang, fitur 4×4 ini berpotensi menjadi aset yang sangat berharga dalam mewujudkan tujuan pemberdayaan ekonomi pedesaan dan meningkatkan aksesibilitas di seluruh nusantara. Kegagalan dalam memanfaatkan fitur ini justru akan menjadi sorotan kritis, namun potensi manfaatnya jika dikelola dengan baik, bisa sangat luar biasa.

