Sebuah penemuan arkeologi yang luar biasa baru-baru ini mengguncang dunia ilmiah, membuka lembaran baru dalam sejarah Jalur Sutra dan peradaban Islam di Asia Tengah. Arkeolog internasional dengan bangga mengumumkan keberhasilan mereka dalam mengidentifikasi dan meneliti sisa-sisa kota abad pertengahan yang kini terendam air di kedalaman Danau Issyk-Kul, sebuah danau pegunungan yang ikonik di Kyrgyzstan. Kota kuno ini, yang diyakini pernah menjadi salah satu pusat perdagangan terpenting di sepanjang jaringan Jalur Sutra, telah lama lenyap dari ingatan kolektif, terkubur di bawah permukaan danau setelah sebuah gempa bumi dahsyat yang melanda wilayah tersebut pada abad ke-15. Penemuan ini tidak hanya menawarkan wawasan baru tentang dinamika sejarah kawasan tersebut, tetapi juga menghidupkan kembali kisah-kisah kota yang hilang dan keajaiban arkeologi bawah air.
Tim ahli dari berbagai lembaga penelitian di seluruh dunia bekerja sama dalam sebuah survei bawah air yang cermat untuk mengungkap misteri kota yang tenggelam ini. Penelitian mereka difokuskan pada perairan dangkal Danau Issyk-Kul, dengan kedalaman antara 1 hingga 4 meter, sebuah area yang secara geografis terletak di Pegunungan Tian Shan yang megah, dekat perbatasan Kyrgyzstan-Kazakhstan. Kondisi air danau yang jernih dan relatif dangkal di beberapa bagian memungkinkan para arkeolog untuk melakukan eksplorasi dengan presisi tinggi, menggunakan teknologi modern seperti sonar pencitraan sisi, pemetaan batimetri, dan penyelaman arkeologi langsung.
Dalam ekspedisi yang penuh tantangan namun membuahkan hasil tersebut, para arkeolog berhasil mengidentifikasi dan mendokumentasikan berbagai struktur fisik yang membuktikan keberadaan sebuah permukiman urban yang maju. Di antara temuan yang paling menonjol adalah fondasi bangunan bata yang rumit, sisa-sisa struktur batu yang kokoh, serta mesin penggilingan biji-bijian yang mengindikasikan adanya aktivitas pertanian dan industri yang signifikan. Lebih lanjut, tim juga menemukan arsitektur lain yang diyakini pernah berfungsi sebagai fasilitas umum penting bagi masyarakat kota tersebut, seperti masjid-masjid yang mungkin menjadi pusat kegiatan keagamaan, pemandian umum (hammam) yang berperan dalam kehidupan sosial dan kebersihan, atau fasilitas komersial seperti pasar atau karavanserai yang melayani para pedagang yang melintasi Jalur Sutra.
Para ahli sejarah dan arkeologi sepakat bahwa pada masa kejayaannya, kota yang kini terendam ini merupakan sebuah "pemberhentian penting" dalam jaringan jalur perdagangan yang membentang antara Kekaisaran Tiongkok di Timur dan dunia Barat. Jalur Sutra bukan hanya sekadar rute untuk pertukaran barang, melainkan juga koridor vital bagi pergerakan ide, budaya, agama, dan teknologi. Kota ini, dengan lokasinya yang strategis di persimpangan budaya dan ekonomi, kemungkinan besar menjadi pusat pertemuan bagi pedagang dari berbagai etnis dan agama, termasuk Sogdian, Persia, Turk, dan bahkan Eropa, yang membawa serta sutra, rempah-rempah, batu mulia, keramik, hingga pengetahuan medis dan astronomi. Keberadaannya menyoroti betapa kompleks dan dinamisnya interaksi antar peradaban di Asia Tengah pada masa lampau.
Valerii Kolchenko, yang menjabat sebagai Kepala Kontingen Peneliti Ekspedisi Arkeologi Kyrgyzstan, menegaskan pentingnya penemuan ini dalam konteks sejarah regional. "Monumen yang sedang diteliti adalah sebuah kota atau aglomerasi komersial besar di salah satu bagian penting Jalur Sutra," ujar Kolchenko, seperti dikutip dari The Jerusalem Post. Pernyataannya menggarisbawahi skala dan signifikansi kota tersebut sebagai simpul utama dalam jaringan perdagangan global abad pertengahan. Kota ini bukan hanya sebuah pos terdepan, melainkan sebuah entitas urban yang berkembang dengan infrastruktur yang memadai untuk mendukung kehidupan masyarakatnya dan melayani kebutuhan para musafir dan pedagang.
Namun, kejayaan kota ini harus berakhir secara tragis. Kolchenko menjelaskan bahwa sebuah gempa bumi dahsyat yang terjadi pada awal abad ke-15 Masehi menjadi penyebab utama tenggelamnya kota di bawah permukaan danau. Tragedi ini, menurut Kolchenko, memiliki kemiripan yang mencolok dengan nasib Pompeii di Italia, sebuah kota Romawi kuno yang hancur dan terkubur secara mendadak oleh abu vulkanik akibat letusan dahsyat Gunung Vesuvius pada tahun 79 Masehi. Meskipun penyebabnya berbeda – gempa bumi vs. letusan gunung berapi – kesamaannya terletak pada kehancuran yang tiba-tiba dan pelestarian yang tak terduga. Seperti Pompeii yang mengabadikan kehidupan Romawi kuno, kota di Issyk-Kul ini berpotensi memberikan gambaran "snapshot" tentang kehidupan di sebuah kota Muslim Jalur Sutra pada abad pertengahan, yang diawetkan oleh air danau.
Salah satu aspek yang paling menguatkan identitas kota ini sebagai pusat komunitas Muslim adalah temuan arkeologi yang spesifik terkait praktik keagamaan. Di antara berbagai artefak, para arkeolog menemukan penggilingan biji-bijian, yang menunjukkan aktivitas ekonomi sehari-hari, dan yang lebih signifikan, sisa-sisa kuburan abad ke-13. Posisi jenazah dalam kuburan-kuburan ini menghadap ke arah Mekkah, sebuah ciri umum dan fundamental dalam tradisi pemakaman Islam. Penemuan ini secara definitif menunjukkan bahwa penduduk kota ini sebagian besar adalah Muslim, yang mempraktikkan ajaran Islam dalam kehidupan dan kematian mereka. Keberadaan pemakaman Muslim dari abad ke-13 juga memberikan rentang waktu yang lebih spesifik mengenai kapan kota ini berkembang sebagai pusat Islam.
Selain itu, situs ini juga menyimpan kekayaan artefak berupa terakota dan seni tembikar Islam abad pertengahan. Gaya dan motif pada tembikar tersebut mencerminkan estetika dan keahlian seni Islam pada masa itu, yang sering kali kaya akan pola geometris, kaligrafi, dan motif flora. Kehadiran benda-benda seni dan kerajinan ini menguatkan dugaan bahwa kota tersebut bukan hanya sekadar pos perdagangan, tetapi juga merupakan pusat komunitas Muslim yang aktif, di mana seni, budaya, dan kehidupan keagamaan berkembang pesat sebelum akhirnya ditelan oleh danau. Temuan ini membuka jendela ke dalam kehidupan sosial dan spiritual masyarakatnya, menunjukkan adanya struktur sosial yang terorganisir, praktik keagamaan yang mapan, dan budaya material yang kaya.
Penemuan kota Muslim yang tenggelam di Danau Issyk-Kul ini merupakan salah satu contoh langka dari kota Jalur Sutra yang kini berada di bawah air. Sebagian besar situs Jalur Sutra yang telah ditemukan berada di daratan kering, sering kali terkubur pasir atau reruntuhan. Oleh karena itu, kondisi pelestarian yang unik di bawah air menawarkan potensi luar biasa untuk mengungkap detail-detail yang mungkin tidak akan pernah ditemukan di situs daratan. Air danau, dalam beberapa kasus, dapat membantu melindungi artefak dari kerusakan akibat oksigen, erosi angin, atau penjarahan. Penemuan ini tidak hanya memperkaya pemahaman kita tentang sejarah Jalur Sutra dan dinamika perdagangan di Asia Tengah, tetapi juga memberikan kontribusi signifikan terhadap studi tentang perkembangan agama Islam di wilayah tersebut. Ini adalah sebuah bukti nyata akan kompleksitas dan kekayaan sejarah peradaban manusia yang terus-menerus diungkap, satu per satu, dari balik tirai waktu dan kedalaman alam. Penelitian lebih lanjut diharapkan dapat mengungkap lebih banyak rahasia dari kota yang hilang ini, memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang kehidupan, keyakinan, dan kehancuran sebuah peradaban yang pernah berjaya di jantung Asia.

