0

Menteri Belanda Klaim Jet F-35 Bisa di-Jailbreak Layaknya iPhone

Share

F-35 Lightning II, yang dikembangkan oleh Lockheed Martin, adalah simbol kemajuan teknologi militer abad ke-21. Dengan harga sekitar USD 80 juta per unit, jet tempur generasi kelima ini dilengkapi dengan kemampuan siluman (stealth), sensor fusion yang canggih, dan sistem avionik terintegrasi yang memungkinkan pilot memiliki kesadaran situasional yang tak tertandingi di medan perang. Varian F-35 terbagi menjadi tiga: F-35A untuk lepas landas dan mendarat konvensional, F-35B dengan kemampuan lepas landas pendek dan pendaratan vertikal (STOVL) seperti yang disebutkan Tuinman, dan F-35C untuk operasi kapal induk. Jet ini dirancang untuk menjadi tulang punggung kekuatan udara AS dan sekutunya selama beberapa dekade mendatang, dengan pesanan dan pengoperasian yang meluas ke negara-negara seperti Inggris, Italia, Australia, Norwegia, Denmark, Kanada, Belgia, Polandia, Finlandia, Swiss, Jerman, Jepang, Korea Selatan, dan Israel.

Namun, di balik kecanggihan dan harga fantastisnya, terdapat kerentanan strategis yang kini menjadi sorotan. Dalam sebuah episode podcast populer "Boekestijn en De Wijk," Gijs Tuinman, seorang mantan komandan pasukan khusus yang kini menjabat sebagai Menteri Pertahanan Belanda, dengan tegas menyiratkan bahwa militer Eropa memiliki kapasitas untuk memelihara dan bahkan memodifikasi armada F-35 mereka, terlepas dari dukungan atau pembatasan dari Amerika Serikat. "F-35 benar-benar merupakan produk bersama," jelas Tuinman, menyoroti kontribusi signifikan dari negara-negara sekutu, seperti Inggris yang memproduksi mesin Rolls-Royce untuk beberapa varian F-35. "Dan bahkan jika saling ketergantungan ini tidak menghasilkan pembaruan software, F-35, dalam kondisinya saat ini, masih merupakan pesawat yang lebih baik dari jenis jet tempur lainnya."

Bagian paling provokatif dari pernyataannya adalah ketika ia menyamakan F-35 dengan iPhone. "Saya akan mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak pernah saya katakan, tetapi akan tetap saya katakan, Anda bisa me-jailbreak F-35 persis seperti iPhone," imbuhnya, seperti dikutip dari Futurism. Pernyataan ini, yang diucapkan tanpa penjelasan rinci lebih lanjut, memicu spekulasi luas dan menyoroti kekhawatiran yang mendalam mengenai otonomi dan kedaulatan teknologi di antara produsen senjata AS seperti Lockheed Martin dan militer Eropa yang menjadi pelanggan mereka.

Untuk memahami implikasi "jailbreak" pada F-35, penting untuk mengerti apa artinya "jailbreak" pada iPhone. Jailbreak adalah proses menghilangkan batasan perangkat lunak yang diberlakukan oleh produsen, dalam hal ini Apple, pada perangkat iOS. Ini memungkinkan pengguna untuk menginstal aplikasi dari sumber pihak ketiga, memodifikasi pengaturan sistem secara mendalam, dan menyesuaikan pengalaman pengguna di luar apa yang diizinkan secara resmi. Namun, jailbreak juga datang dengan risiko tinggi, termasuk kerentanan keamanan, potensi kerusakan perangkat lunak, dan hilangnya garansi. Menerapkan analogi ini pada F-35 berarti militer Eropa mungkin sedang mencari atau telah menemukan cara untuk melewati batasan perangkat lunak yang diberlakukan oleh Lockheed Martin, mendapatkan akses tidak sah ke kode inti, atau bahkan menginstal perangkat lunak kustom mereka sendiri. Tujuannya kemungkinan besar adalah untuk mencapai kemandirian operasional dan pemeliharaan, serta untuk mengintegrasikan sistem F-35 dengan aset pertahanan Eropa lainnya tanpa campur tangan AS.

Masalah utama terletak pada bagaimana F-35 menerima pembaruan perangkat lunak. F-35 Lightning II bergantung pada sistem logistik dan informasi yang sangat canggih dan eksklusif yang dikenal sebagai Automatic Logistics Information System (ALIS). Sistem ini, yang kemudian digantikan oleh Operational Data Integrated Network (ODIN) yang lebih modern, bertanggung jawab untuk mengelola seluruh siklus hidup armada F-35, mulai dari pemeliharaan prediktif, diagnostik, perencanaan misi, hingga pengiriman pembaruan perangkat lunak. Lockheed Martin secara rutin mengirimkan pembaruan perangkat lunak melalui ALIS/ODIN ini ke seluruh armada F-35 di dunia, mirip dengan bagaimana Apple merilis pembaruan iOS untuk iPhone secara global. Meskipun negara-negara Eropa memiliki kepemilikan fisik atas jet-jet tempur mahal ini, AS, melalui Lockheed Martin, secara efektif mengendalikan perangkat lunaknya.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan negara-negara sekutu. Jika Washington memutuskan untuk menahan pembaruan perangkat lunak, misalnya sebagai respons terhadap perselisihan perdagangan, masalah geopolitik, atau kebijakan luar negeri lainnya, angkatan udara Belanda atau negara Eropa lainnya berisiko memiliki ‘batu bata’ mahal yang teronggok di landasan. Skenario terburuk adalah ketakutan akan "kill switch" – sebuah kemampuan hipotetis bagi AS untuk melumpuhkan atau menonaktifkan armada F-35 milik sekutu dari jarak jauh, secara efektif mengubah jet tempur canggih menjadi tumpukan logam tak berguna. Kekhawatiran ini bukanlah hal baru. Sepanjang sejarah, AS seringkali menggunakan kontrol teknologi sebagai alat leverage dalam hubungan internasional, terutama dalam konteks penjualan senjata dan kerja sama pertahanan.

Pernyataan Tuinman ini harus dilihat dalam konteks upaya Eropa yang lebih luas untuk mencapai "otonomi strategis" – sebuah konsep yang semakin mendesak di tengah perubahan lanskap geopolitik dan keraguan terhadap komitmen AS di bawah beberapa administrasi. Eropa ingin memiliki kemampuan untuk bertindak secara independen dalam hal pertahanan dan keamanan, tanpa harus selalu bergantung pada AS. Kontrol atas sistem senjata kunci seperti F-35 adalah bagian integral dari visi otonomi ini. Jika Eropa tidak memiliki kendali penuh atas pemeliharaan, peningkatan, dan pengoperasian jet tempur utamanya, kemampuan mereka untuk mempertahankan diri dan memproyeksikan kekuatan secara independen akan sangat terbatas.

Meskipun Tuinman tidak menjelaskan secara rinci bagaimana "jailbreak" F-35 dapat dilakukan, atau apakah ia benar-benar mengetahui trik peretasan backdoor rahasia, pernyataannya mencerminkan keinginan kuat untuk mengurangi ketergantungan ini. Tentu saja, "me-jailbreak" sebuah jet tempur kelas dunia yang dirancang dengan lapisan keamanan berlapis-lapis dan jutaan baris kode yang kompleks, jauh lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Sistem perangkat lunak F-35 sangat rumit dan terintegrasi, dengan banyak subsistem yang saling terkait dan dilindungi oleh langkah-langkah keamanan siber yang ketat, enkripsi, dan deteksi gangguan. Upaya untuk memodifikasi perangkat lunak tanpa otorisasi dapat menyebabkan masalah keselamatan yang parah, penurunan kinerja, hilangnya kemampuan siluman atau sensor, atau bahkan membuat pesawat tidak dapat terbang sama sekali. Selain itu, ada implikasi hukum dan politik yang besar jika sebuah negara sekutu secara terang-terangan melanggar perjanjian lisensi dan memodifikasi jet tempur yang diproduksi oleh AS.

Namun, di tengah ketakutan akan "kill switch" dan keinginan untuk kedaulatan teknologi, tidak mustahil jika negara-negara Eropa, baik secara individu maupun kolektif melalui inisiatif seperti program jet tempur Eropa (Future Combat Air System/FCAS atau Tempest), sedang berinvestasi besar-besaran dalam riset dan pengembangan untuk memahami dan bahkan mengendalikan perangkat lunak F-35. Pernyataan Tuinman bisa jadi merupakan sebuah sinyal, sebuah peringatan kepada Washington dan Lockheed Martin, bahwa Eropa tidak akan pasrah pada kontrol penuh AS atas aset-aset vitalnya. Ini juga bisa menjadi dorongan untuk mendorong negosiasi ulang mengenai syarat-syarat kepemilikan dan pemeliharaan F-35, atau bahkan mempercepat pengembangan alternatif Eropa yang sepenuhnya independen.

Pada akhirnya, klaim Menteri Pertahanan Belanda Gijs Tuinman adalah cerminan dari dinamika kekuatan yang kompleks dalam aliansi transatlantik. Ini bukan hanya tentang teknologi, tetapi tentang kepercayaan, kedaulatan, dan otonomi. Apakah F-35 benar-benar dapat "dijailbreak" seperti iPhone masih harus dibuktikan, tetapi fakta bahwa seorang menteri pertahanan membuat klaim seperti itu menunjukkan bahwa isu kontrol perangkat lunak dan kemandirian teknologi akan terus menjadi medan pertempuran penting di antara sekutu-sekutu dekat di masa depan.