0

Zuckerberg Dicecar Soal Dampak Buruk Filter Kecantikan di Instagram

Share

CEO Meta, Mark Zuckerberg, baru-baru ini menjadi sorotan dalam persidangan penting di Pengadilan Tinggi Los Angeles. Ia memberikan kesaksian yang mengungkap berbagai aspek operasional perusahaannya, mulai dari komunikasi dengan CEO Apple Tim Cook terkait kesejahteraan remaja, hingga pembelaannya atas fitur filter kecantikan di Instagram yang kini menjadi subjek kritik tajam. Persidangan ini menyoroti dugaan dampak negatif media sosial terhadap kesehatan mental dan perilaku pengguna muda, dengan fokus khusus pada peran filter digital.

Dalam kesaksiannya, Zuckerberg berusaha menunjukkan komitmen Meta terhadap kesejahteraan pengguna muda. Ia mengungkapkan pernah menghubungi CEO Apple, Tim Cook, pada Februari 2018 untuk membahas isu tersebut. Pengacara pembela, Paul Schmidt, mempresentasikan pertukaran email antara kedua pemimpin teknologi tersebut sebagai bukti bahwa Zuckerberg secara proaktif memikirkan keselamatan pengguna Instagram, bahkan bersedia berkomunikasi dengan perusahaan saingan. "Saya pikir ada peluang yang bisa dilakukan oleh perusahaan kami dan Apple, dan saya ingin membicarakannya dengan Tim," ujar Zuckerberg, seraya menambahkan, "Saya peduli dengan kesejahteraan remaja dan anak-anak yang menggunakan layanan kami." Langkah ini diambil untuk meyakinkan juri bahwa Zuckerberg tidak abai terhadap isu krusial ini, bertentangan dengan narasi yang sebelumnya disajikan oleh pihak penggugat di pengadilan.

Namun, di tengah upaya pembelaan tersebut, Zuckerberg menghadapi rentetan pertanyaan menohok mengenai filter kecantikan di Instagram. Fitur ini, yang memungkinkan pengguna mengubah penampilan wajah mereka secara digital, dituding mempromosikan standar kecantikan yang tidak realistis dan bahkan mendorong keinginan untuk melakukan operasi plastik. Isu ini sebelumnya juga telah menjadi fokus dalam kesaksian Kepala Instagram, Adam Mosseri, menunjukkan betapa sentralnya filter ini dalam kasus hukum yang sedang berjalan.

Pihak penggugat mendesak Zuckerberg mengenai keputusannya untuk tetap mengizinkan fitur filter kecantikan, meskipun telah menerima panduan dan peringatan dari para pakar mengenai dampak negatifnya. Zuckerberg menyebut perusahaannya telah berkonsultasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk memahami implikasi penggunaan filter semacam itu. Namun, ia secara khusus ditanya tentang hasil studi Universitas Chicago, di mana 18 pakar menyatakan secara tegas bahwa filter kecantikan memiliki dampak buruk, terutama bagi gadis remaja. Studi tersebut kemungkinan besar menyoroti bagaimana filter ini dapat memperparah dismorfia tubuh, menurunkan rasa percaya diri, dan menciptakan tekanan psikologis untuk mencapai kesempurnaan fisik yang tidak nyata.

Menanggapi desakan tersebut, Zuckerberg mengaku telah melihat masukan dari para pakar dan mendiskusikannya dengan tim internalnya. Namun, keputusannya pada akhirnya bermuara pada prinsip kebebasan berekspresi. "Saya benar-benar ingin lebih condong pada memberikan orang-orang kemampuan untuk mengekspresikan diri," katanya, mencoba menyeimbangkan antara potensi bahaya dan hak pengguna untuk berkreasi dan berbagi konten sesuai keinginan mereka. Argumen ini menyoroti dilema etis yang sering dihadapi perusahaan teknologi: bagaimana menyeimbangkan inovasi dan kebebasan pengguna dengan tanggung jawab sosial dan perlindungan dari potensi bahaya. Pihak penggugat berpendapat bahwa kebebasan berekspresi tidak boleh mengorbankan kesehatan mental dan fisik pengguna, terutama mereka yang masih rentan seperti remaja.

Persidangan yang dimulai pada akhir Januari ini berpusat pada klaim seorang wanita muda yang menyatakan dirinya kecanduan media sosial dan aplikasi streaming video seperti Instagram dan YouTube. Kasus ini menjadi representasi dari semakin banyaknya kekhawatiran publik dan hukum mengenai desain aplikasi yang sengaja dibuat untuk memaksimalkan waktu penggunaan, yang dapat berujung pada adiksi. Wanita muda tersebut mengklaim bahwa paparan konstan terhadap konten yang tidak realistis, termasuk melalui filter kecantikan, telah merusak citra diri dan kesehatannya.

Dalam konteks ini, Zuckerberg juga menepis anggapan bahwa peningkatan waktu yang dihabiskan pengguna di Instagram adalah tujuan utama perusahaan. Ia bersikeras bahwa fokus utama adalah membangun layanan untuk membantu orang-orang terhubung. Namun, para pengacara penggugat mengajukan bukti yang kontradiktif, termasuk catatan dari Adam Mosseri yang menunjukkan target internal Meta untuk secara aktif meningkatkan waktu keterlibatan harian pengguna di platform. Target tersebut mencakup peningkatan menjadi 40 menit pada tahun 2023 dan menjadi 46 menit pada tahun 2026. Angka-angka ini menunjukkan adanya dorongan strategis untuk menjaga pengguna tetap terikat pada platform selama mungkin, yang secara langsung berkaitan dengan model bisnis berbasis iklan Meta.

Zuckerberg membela diri dengan menyebut bahwa perusahaannya menggunakan pencapaian target tersebut secara internal untuk mengukur performa melawan pesaing. Ia menegaskan bahwa tujuan utama Meta adalah membangun layanan untuk membantu orang-orang terhubung, dan waktu keterlibatan hanyalah salah satu metrik untuk menilai seberapa baik mereka mencapai tujuan tersebut. Namun, pihak penggugat berargumen bahwa dorongan agresif untuk meningkatkan waktu penggunaan ini secara inheren menciptakan risiko adiksi dan mengabaikan kesejahteraan pengguna demi keuntungan finansial.

Persidangan ini bukan hanya tentang Meta, tetapi juga tentang tanggung jawab yang lebih luas dari seluruh industri teknologi dalam membentuk pengalaman digital pengguna, terutama generasi muda. Kritikus berpendapat bahwa perusahaan media sosial memiliki kewajiban untuk merancang platform yang aman dan etis, bukan hanya yang menarik dan menguntungkan. Kasus ini dapat menjadi preseden penting yang memaksa perusahaan teknologi untuk meninjau ulang fitur-fitur yang mereka tawarkan, cara mereka mengukur keberhasilan, dan bagaimana mereka menyeimbangkan kebebasan berekspresi dengan perlindungan pengguna dari potensi bahaya. Dampak filter kecantikan terhadap citra diri dan kesehatan mental remaja menjadi salah satu contoh nyata dari tantangan yang kompleks ini.

Perdebatan mengenai filter kecantikan dan dampaknya terhadap kesehatan mental remaja telah menjadi topik diskusi yang intens di kalangan psikolog, orang tua, dan pembuat kebijakan. Banyak yang berpendapat bahwa paparan terus-menerus terhadap citra diri yang telah diubah secara digital dapat menciptakan "standar kecantikan yang tidak mungkin" dan memicu perasaan tidak memadai, kecemasan, bahkan depresi pada pengguna muda. Kasus hukum ini berpotensi membuka jalan bagi regulasi yang lebih ketat terhadap desain platform media sosial dan fitur-fitur yang dianggap berpotensi merugikan.

Pengadilan Los Angeles akan terus menguji batas-batas tanggung jawab perusahaan teknologi di era digital ini. Kesaksian Zuckerberg dan bukti-bukti yang diajukan akan menjadi kunci dalam menentukan apakah raksasa media sosial seperti Meta telah gagal dalam melindungi pengguna muda mereka, atau apakah mereka telah melakukan upaya yang memadai dalam menghadapi tantangan yang kompleks ini. Pertarungan antara "kebebasan berekspresi" dan "perlindungan pengguna" akan terus menjadi inti perdebatan yang krusial ini.