Dunia maya kembali dihebohkan oleh persaingan sengit antara dua raksasa teknologi dan eksplorasi antariksa, Jeff Bezos dan Elon Musk. Kali ini, ‘perang’ tersebut pecah bukan melalui pernyataan langsung atau rilis produk, melainkan dengan sebuah unggahan foto kura-kura hitam putih di platform X (sebelumnya Twitter), milik Elon Musk sendiri. Unggahan tanpa keterangan teks dari Bezos ini, meskipun sederhana, memicu gelombang spekulasi dan analisis mendalam dari netizen dan pengamat industri, yang meyakini bahwa ini adalah sindiran halus namun tajam yang ditujukan kepada rivalnya.
Jeff Bezos, pendiri Amazon dan Blue Origin, dikenal jarang menggunakan X untuk ekspresi pribadi atau komentar yang memancing kontroversi. Oleh karena itu, kemunculan foto kura-kura tunggal ini segera menjadi pusat perhatian. Publik dengan cepat mencoba menerjemahkan pesan tersirat di baliknya, dan sebagian besar sepakat bahwa ini adalah referensi langsung pada dongeng klasik "Kura-kura dan Kelinci". Dongeng tersebut menceritakan bagaimana kura-kura, dengan kesabaran, kegigihan, dan fokus tak tergoyahkan, berhasil mengalahkan kelinci yang sombong dan terburu-buru.
Dalam konteks persaingan antara Bezos dan Musk, metafora kura-kura dan kelinci menjadi sangat relevan. Kura-kura melambangkan pendekatan yang hati-hati, terencana, dan berorientasi jangka panjang, yang sering diasosiasikan dengan filosofi Bezos dalam membangun perusahaannya, termasuk Blue Origin. Ia percaya pada langkah-langkah yang perlahan namun pasti, membangun fondasi yang kokoh sebelum melaju kencang. Sementara itu, kelinci, dengan kecepatan dan ambisinya yang menggebu-gebu, kerap disematkan pada gaya kepemimpinan Elon Musk yang dikenal agresif, berani mengambil risiko besar, dan seringkali mengumumkan target-target ambisius dengan tenggat waktu yang ketat.
Pesan "perlahan tapi pasti" ini diyakini oleh warganet sebagai sindiran terhadap Musk, khususnya terkait strategi penerbangan antariksa mereka. Bezos, melalui Blue Origin, telah lama menganut filosofi "Moon First" atau "Bulan Dahulu" sebagai langkah awal penjelajahan ruang angkasa. Ia memandang Bulan sebagai batu loncatan penting untuk mempelajari kehidupan di luar Bumi, memanfaatkan sumber daya di sana, dan membangun infrastruktur yang diperlukan sebelum melangkah lebih jauh ke Mars atau bahkan sistem tata surya lainnya.
Momen unggahan foto kura-kura ini tidaklah kebetulan. Unggahan tersebut muncul sekitar 12 jam setelah Elon Musk membuat gebrakan besar di komunitas antariksa. Musk mengumumkan bahwa SpaceX, untuk sementara waktu, akan mengalihkan fokus utamanya ke Bulan, bukan Mars, sebagai tujuan jangka pendek. Ini merupakan perubahan signifikan dalam pemikiran Musk, yang selama bertahun-tahun telah menjadi advokat paling vokal untuk membangun peradaban multi-planet di Mars. Perpindahan fokus ini, meskipun mungkin strategis, dapat diartikan sebagai pengakuan pragmatis terhadap tantangan teknis dan finansial dalam mencapai Mars secara langsung.
Menanggapi unggahan Bezos, Musk, dengan gayanya yang khas, membalas dengan cuitan singkat yang mengindikasikan bahwa ia memahami maksud di balik foto tersebut. "Menuju ke arah kura-kura?" tanyanya, seolah-olah mengkonfirmasi bahwa ia memang sedang mempertimbangkan untuk melambatkan laju atau setidaknya mengubah arah strateginya. Ia menambahkan di cuitan selanjutnya, "Saat ia keluar perlahan, tapi dengan ganas," seakan membaca pikiran rivalnya bahwa strategi kura-kura, meskipun lambat, pada akhirnya bisa menjadi sangat efektif dan dominan. Balasan Musk ini menunjukkan adanya kesadaran akan sindiran tersebut, sekaligus upaya untuk menunjukkan bahwa strategi "kura-kura" pun bisa memiliki kekuatan tersendiri.
Sebenarnya, ide pemukiman manusia di luar angkasa telah lama menjadi impian bersama bagi Bezos dan Musk, meskipun dengan pendekatan yang berbeda. Bezos, melalui Blue Origin, telah berinvestasi besar-besaran dalam teknologi roket yang dapat digunakan kembali, seperti roket New Glenn, dan pesawat pendarat Bulan yang diberi nama Blue Moon. Visinya adalah membangun jembatan permanen ke luar angkasa, memanfaatkan sumber daya Bulan untuk menciptakan koloni dan industri di orbit Bumi, yang kemudian akan menjadi basis untuk eksplorasi lebih lanjut. Pada tahun 2019, ketika mengungkapkan visinya, Bezos secara eksplisit mendukung tujuan NASA untuk mengembalikan manusia ke Bulan melalui Program Artemis. "Saya menyukai ini," kata Bezos saat itu. "Ini adalah hal yang benar untuk dilakukan. Kita dapat membantu memenuhi tenggat waktu itu, tetapi hanya karena kita memulainya tiga tahun yang lalu. Sudah waktunya untuk kembali ke Bulan — kali ini untuk menetap." Pernyataannya ini mencerminkan komitmen jangka panjangnya terhadap Bulan sebagai langkah fundamental.
Di sisi lain, Elon Musk dengan SpaceX, memiliki visi yang lebih ambisius dan radikal: menjadikan manusia sebagai spesies multi-planet dengan mendirikan koloni mandiri di Mars. Proyek Starship-nya dirancang untuk membawa manusia dan kargo dalam jumlah besar ke Mars dengan biaya yang relatif rendah. Namun, tantangan teknis dan finansial yang dihadapi Starship dalam mencapai Mars sangat besar, dan potensi kontrak dengan NASA untuk pendaratan di Bulan melalui program Human Landing System (HLS) mungkin menjadi insentif kuat bagi SpaceX untuk sementara memprioritaskan Bulan. Shift ini bisa jadi merupakan langkah pragmatis untuk mendapatkan dana, menguji teknologi Starship dalam misi berawak, dan membangun rekam jejak yang solid sebelum melangkah ke tujuan Mars yang lebih jauh.
Persaingan antara Bezos dan Musk bukan hanya terbatas pada antariksa. Keduanya adalah inovator ulung yang telah mengubah industri masing-masing. Bezos dengan Amazon mendominasi e-commerce dan komputasi awan, sementara Musk dengan Tesla merevolusi industri otomotif listrik dan dengan SpaceX merevolusi industri peluncuran roket. Rivalitas ini juga seringkali bersifat personal, dengan keduanya kadang-kadang saling melontarkan komentar atau sindiran di media sosial atau wawancara. Mereka adalah dua individu terkaya di dunia, dan persaingan mereka tidak hanya memperebutkan dominasi pasar atau kontrak pemerintah, tetapi juga warisan dan visi mereka tentang masa depan umat manusia.
Di arena antariksa, Blue Origin dan SpaceX memiliki pendekatan yang sangat berbeda. SpaceX dikenal dengan pengembangan cepat, pengujian berulang, dan toleransi tinggi terhadap kegagalan sebagai bagian dari proses pembelajaran. Ini memungkinkan mereka untuk mencapai kemajuan yang luar biasa dalam waktu singkat. Blue Origin, di sisi lain, menekankan pendekatan yang lebih metodis, hati-hati, dan rahasia, dengan fokus pada keandalan dan keamanan. Mereka telah menghadapi kritik karena lambatnya kemajuan, tetapi Bezos berpendapat bahwa kehati-hatian adalah kunci dalam eksplorasi antariksa.
Persaingan untuk mendapatkan kontrak dengan NASA juga menjadi bagian integral dari rivalitas ini. SpaceX berhasil memenangkan kontrak HLS awal untuk Starship sebagai pendarat Bulan untuk misi Artemis, yang memicu protes hukum dari Blue Origin. Meskipun protes Blue Origin akhirnya ditolak, mereka kemudian memenangkan kontrak terpisah untuk pengembangan pendarat Bulan di bawah program yang berbeda. Ini menunjukkan bahwa meskipun Musk mungkin menjadi "kelinci" yang cepat dalam beberapa aspek, strategi "kura-kura" Bezos tetap relevan dan kompetitif dalam jangka panjang.
Pada akhirnya, unggahan foto kura-kura oleh Jeff Bezos ini lebih dari sekadar ledekan ringan. Ini adalah pernyataan filosofis tentang pendekatan mereka terhadap masa depan eksplorasi antariksa dan mungkin juga kehidupan secara umum. Ini adalah cerminan dari dua visi yang berbeda namun sama-sama ambisius untuk kemanusiaan di luar Bumi. Apakah "kura-kura" yang gigih dan terencana akan mengungguli "kelinci" yang cepat dan inovatif, atau apakah kedua pendekatan ini pada akhirnya akan saling melengkapi untuk mendorong batas-batas penjelajahan manusia? Hanya waktu yang akan menjawabnya, namun satu hal yang pasti, persaingan antara Jeff Bezos dan Elon Musk akan terus menjadi salah satu pendorong paling menarik dalam perlombaan antariksa modern. Demikian dilansir dari Arstechnica.

