BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) secara tegas menyatakan ketidakminatan untuk mengikuti langkah strategis produsen otomotif Jepang lainnya, terutama Toyota, yang baru-baru ini meluncurkan varian mobil termurah di pasar Indonesia. Keputusan ini didasari oleh rekam jejak historis Suzuki yang tidak pernah mengadopsi strategi serupa. Donny Saputra, Deputy Managing Director Sales & Marketing 4W PT SIS, mengonfirmasi bahwa hingga saat ini, pihaknya belum memiliki niat untuk memproduksi varian termurah. Namun, ia tidak menutup kemungkinan adanya perubahan strategi di masa mendatang, meskipun fokus utama Suzuki tetap pada jalur yang berbeda. "Sampai dengan saat ini sih belum (minat bikin mobil varian termurah), tidak lah," ujar Donny Saputra dalam sebuah kesempatan wawancara di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat.
Berbeda dengan strategi yang ditempuh oleh beberapa kompetitor, Suzuki justru cenderung memperkaya lini produknya dengan varian yang berada di segmen yang lebih tinggi. Sebagai contoh nyata dari pendekatan ini adalah peluncuran Varian Cruise Hybrid pada model Suzuki Ertiga. Donny menjelaskan bahwa filosofi Suzuki adalah menambahkan varian yang posisinya lebih premium, bukan justru menciptakan segmen paling ekonomis. Namun, ia mengakui bahwa ada kebutuhan spesifik, seperti untuk armada atau fleet, yang mungkin memerlukan penyesuaian. "Kalau kami kan selama ini menambahnya varian yang di atas. Tapi apabila ada kebutuhan, misalnya kebutuhan fleet seperti APV. Kalau kita bicara APV sebagai minibus kan butuh tiga baris, tapi kalau ambulans kan butuhnya baris depan saja," ungkapnya. Fleksibilitas dalam adaptasi produk untuk kebutuhan khusus armada seperti ambulans menunjukkan bahwa Suzuki tetap responsif terhadap pasar, namun tidak dengan cara menciptakan varian termurah secara umum.
Langkah Toyota yang meluncurkan varian termurah untuk model seperti Yaris Cross dan Alphard di ajang Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026 memang menjadi sorotan. Inisiatif ini disebut-sebut sebagai respons terhadap dinamika persaingan harga yang semakin ketat di pasar otomotif Indonesia. Namun, Suzuki memilih untuk tidak terjebak dalam perang harga tersebut. Donny Saputra menyatakan bahwa Suzuki menghormati setiap keputusan strategis yang diambil oleh merek lain, termasuk strategi perang harga. Ia meyakini bahwa setiap perusahaan memiliki pertimbangan matang berdasarkan kebutuhan dan kondisi internal mereka. "Kalau kami dari Suzuki melihatnya agak berbeda dengan rekan-rekan (brand Jepang) lain. Saya yakin keputusan merek lain sudah menyesuaikan kebutuhan dan kondisi mereka," tuturnya.

Pernyataan Donny Saputra ini menggarisbawahi komitmen Suzuki untuk tidak serta-merta mengikuti tren yang sedang berkembang. Fokus utama Suzuki bukan terletak pada persaingan harga jangka pendek, melainkan pada pembangunan nilai produk dan penguatan kepercayaan konsumen dalam jangka panjang. "Tapi Suzuki melihat penjualan nggak hanya proses jangka pendek, penjualan itu proses saat akuisimu dan konsumsi produk. Apabila merek lain melakukan perang harga, ya itu ranah mereka. Tapi kalau kami lebih fokus memberikan nilai ke konsumen saat mereka melakukan pembelian dan pascapembelian," jelasnya. Pendekatan ini menunjukkan bahwa Suzuki memandang hubungan dengan konsumen sebagai sebuah siklus yang berkelanjutan, bukan sekadar transaksi jual beli.
Lebih lanjut, Donny Saputra menekankan bahwa Suzuki sangat memprioritaskan bagaimana nilai (value) produk dapat tersampaikan secara optimal kepada konsumen. Hal ini mencakup seluruh aspek, mulai dari kualitas produk itu sendiri hingga layanan purna jual. Suzuki yang telah hadir di Indonesia sejak tahun 1970-an sangat memahami betapa berharganya kepercayaan yang telah dibangun bersama konsumen. "Kami melihatnya bagaimana set value ini bisa ter-deliver ke konsumen. Kami sudah di Indonesia dari 70-an, membangun kepercayaan konsumen kami itu bukan hal mudah. Sulit untuk kami recover kalau kami mencederai kepercayaan itu," tegasnya. Penegasan ini menunjukkan bahwa Suzuki bersedia mengorbankan potensi keuntungan jangka pendek dari strategi harga agresif demi menjaga integritas merek dan loyalitas pelanggan.
Strategi Suzuki yang berfokus pada nilai dan kepercayaan konsumen tercermin dalam berbagai aspek operasional mereka. Perusahaan ini tidak hanya menjual mobil, tetapi juga berusaha memberikan pengalaman kepemilikan yang memuaskan. Hal ini dapat diartikan sebagai investasi pada kualitas produk yang tahan lama, layanan purna jual yang responsif dan profesional, serta inovasi yang terus menerus untuk memenuhi kebutuhan dan ekspektasi pasar. Dengan menahan diri dari strategi perang harga, Suzuki secara implisit menawarkan kepada konsumen sebuah jaminan bahwa mereka tidak akan mengorbankan kualitas demi harga yang lebih murah.
Dalam konteks persaingan otomotif di Indonesia yang dinamis, langkah Suzuki ini bisa dilihat sebagai strategi diferensiasi yang cerdas. Alih-alih bersaing di arena yang sama dengan para kompetitor, Suzuki memilih untuk membangun posisinya sebagai merek yang menawarkan nilai lebih, keandalan, dan kemitraan jangka panjang dengan konsumennya. Hal ini sangat penting mengingat pasar otomotif Indonesia terus berkembang dan konsumen menjadi semakin cerdas dalam memilih produk yang sesuai dengan kebutuhan dan anggaran mereka. Dengan menonjolkan kualitas dan kepercayaan, Suzuki berupaya menciptakan loyalitas merek yang kuat, yang pada akhirnya akan menjadi pilar keberlanjutan bisnis mereka di masa depan.

Keputusan untuk tidak meluncurkan varian termurah juga dapat diinterpretasikan sebagai upaya Suzuki untuk menjaga citra mereknya di mata konsumen. Varian termurah terkadang diasosiasikan dengan penurunan kualitas atau fitur yang dikurangi, yang dapat merusak persepsi merek secara keseluruhan. Dengan tetap fokus pada varian yang menawarkan nilai terbaik dalam segmennya, Suzuki ingin memastikan bahwa setiap produk yang mereka tawarkan mencerminkan standar kualitas dan inovasi yang telah menjadi ciri khas mereka. Hal ini penting untuk menarik segmen konsumen yang lebih luas yang mencari kendaraan yang tidak hanya terjangkau, tetapi juga berkualitas dan dapat diandalkan.
Menariknya, Suzuki juga menunjukkan bahwa mereka terbuka terhadap kebutuhan spesifik pasar, seperti yang dicontohkan dengan penggunaan APV untuk armada khusus. Ini menandakan bahwa meskipun tidak ingin menciptakan varian termurah secara umum, Suzuki tetap fleksibel dalam menyesuaikan produknya untuk memenuhi permintaan pasar yang beragam. Fleksibilitas ini adalah kunci untuk tetap relevan dan kompetitif tanpa harus mengorbankan filosofi inti perusahaan. Dengan demikian, Suzuki tampaknya sedang menavigasi pasar otomotif Indonesia dengan strategi yang terukur dan berorientasi pada keberlanjutan.
Secara keseluruhan, penolakan Suzuki untuk meniru strategi varian termurah dari Toyota merupakan cerminan dari keyakinan kuat mereka pada nilai jangka panjang, kualitas produk, dan pembangunan kepercayaan konsumen. Dalam lanskap otomotif yang semakin kompetitif, pendekatan Suzuki ini dapat menjadi strategi yang membedakan mereka dari pesaing dan membangun basis pelanggan yang loyal dan puas. Fokus pada "set value" kepada konsumen, baik saat pembelian maupun pascapembelian, menjadi pondasi utama Suzuki dalam membangun hubungan yang langgeng dan mengukuhkan posisinya di pasar Indonesia.

