BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Artis Meisita Lomania baru-baru ini mengungkapkan pengalaman pahit yang dialaminya di masa lalu, yang ternyata masih membekas dan menimbulkan trauma mendalam hingga kini. Pengakuan ini muncul saat Meisita membahas tentang "Epstein Files" yang belakangan ini menjadi sorotan publik. Terpaan informasi terkait kasus tersebut rupanya memicu kembali ingatan Meisita akan masa kecilnya yang kelam, di mana ia pernah menjadi korban pelecehan seksual.
Dalam sebuah kesempatan saat menjadi bintang tamu di acara "Rumpi No Secret" yang tayang di kanal YouTube Trans TV Official pada Rabu (18/2/2026), Meisita Lomania tak kuasa menahan emosinya saat menceritakan kembali peristiwa traumatis tersebut. Ia mengaku bahwa bahunya yang sedikit membungkuk adalah akibat dari beberapa kali pengalaman pelecehan seksual yang dialaminya. "Aku tuh ini (bahu) agak sedikit bungkuk, karena dulu beberapa kali ngalamin pelecehan seksual, hampir mau dirudapaksa itu sempat 2 kali pas SD sama SMP," ujarnya dengan nada suara bergetar. Pengalaman mengerikan ini terjadi berulang kali di masa sekolahnya, meninggalkan luka emosional yang sangat dalam.

Meisita menambahkan bahwa dirinya masih sangat mengingat wajah pelaku pelecehan seksual tersebut. Namun, ia juga menyebutkan bahwa orang yang bertanggung jawab atas traumanya itu kini sudah meninggal dunia. "Aku ingat orangnya, tapi sekarang orangnya sudah meninggal," tuturnya dengan tatapan nanar. Peristiwa ini terjadi puluhan tahun lalu, namun baru terkuak kembali ke permukaan setelah Meisita terpicu oleh pemberitaan mengenai "Epstein Files". "Setelah 30 tahun, itu aku ke-trigger gegara yang Epstein File," ungkapnya. Pemberitaan yang mengungkap praktik eksploitasi seksual di kalangan elit tersebut, bagaikan membuka kembali luka lama yang selama ini tertutup rapat.
Trauma yang dialami Meisita tidak hanya berdampak pada kondisi fisiknya, seperti bahu yang membungkuk, tetapi juga sangat memengaruhi aspek psikologis dan kehidupannya, terutama dalam hal membangun hubungan. Ia mengaku bahwa trauma masa lalu tersebut membuatnya sangat sulit untuk percaya pada orang lain, dan bahkan menimbulkan ketakutan untuk menikah. "Trauma itu susah ya dibilang sembuh. Kita bisa memaafkan, tapi kita tidak bisa melupakan dan tidak punya rasa percaya lagi," jelasnya dengan pilu. Kehilangan kepercayaan ini menjadi hambatan besar bagi Meisita untuk dapat menjalani hubungan yang sehat dan intim, karena bayang-bayang masa lalu selalu menghantuinya.
Meskipun menghadapi perjuangan berat untuk mengatasi traumanya, Meisita Lomania menunjukkan ketangguhan luar biasa. Ia bertekad untuk terus berjuang demi kehidupan yang lebih baik dan berusaha keras untuk melupakan masa lalu yang kelam. "Aku sudah nanemin hidup berkali-kali, mati sekali, maka aku setiap hari buka lembaran baru, aku sampai ada di sini," ujarnya dengan penuh keyakinan. Pernyataannya ini menunjukkan bahwa Meisita telah melalui berbagai cobaan dan rintangan yang mengancam nyawanya, namun ia memilih untuk terus bertahan dan bangkit. Ia menjadikan setiap hari sebagai kesempatan baru untuk memulai kembali, melepaskan beban masa lalu, dan membangun masa depan yang lebih cerah.

Kisah Meisita Lomania ini menjadi pengingat penting akan dampak jangka panjang dari pelecehan seksual. Meskipun pelaku mungkin telah tiada, luka yang ditinggalkan bisa membekas seumur hidup, mempengaruhi kepercayaan diri, hubungan sosial, dan kesehatan mental korban. Dukungan dan pemahaman dari lingkungan sekitar sangat krusial bagi para penyintas untuk dapat bangkit dan pulih. Meisita sendiri, melalui pengakuannya, berupaya membuka diri dan mungkin juga menjadi inspirasi bagi banyak orang yang mengalami hal serupa untuk berani bersuara dan mencari bantuan.
Publikasi "Epstein Files" memang telah memicu gelombang pengungkapan kasus-kasus pelecehan dan eksploitasi seksual di berbagai belahan dunia. Kasus Jeffrey Epstein, seorang pengusaha dan tokoh publik yang terlibat dalam jaringan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur, membuka mata banyak orang terhadap sisi gelap dunia yang tersembunyi di balik kemewahan dan kekuasaan. Daftar nama-nama yang terkait dengan Epstein, yang dirilis ke publik, menimbulkan berbagai macam reaksi dan pengungkapan, termasuk yang dialami oleh Meisita Lomania.
Pelecehan seksual, terutama yang terjadi di usia dini, dapat meninggalkan luka psikologis yang dalam dan bersifat jangka panjang. Korban seringkali mengalami gejala seperti gangguan stres pasca-trauma (PTSD), depresi, kecemasan, gangguan makan, dan kesulitan dalam membangun hubungan interpersonal. Trauma ini dapat mempengaruhi cara pandang korban terhadap diri sendiri, orang lain, dan dunia secara keseluruhan. Dalam kasus Meisita, trauma tersebut manifestasinya terlihat jelas dalam kesulitan membangun kepercayaan dan ketakutan untuk menikah.

Proses pemulihan dari trauma pelecehan seksual bukanlah hal yang mudah dan seringkali membutuhkan waktu yang panjang serta dukungan profesional. Terapi psikologis, seperti terapi kognitif perilaku (CBT) atau terapi trauma, dapat membantu korban untuk memproses pengalaman traumatis mereka, mengembangkan strategi koping yang sehat, dan membangun kembali rasa percaya diri serta kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain. Dukungan dari keluarga, teman, dan komunitas yang memahami juga memegang peranan penting dalam proses penyembuhan.
Meisita Lomania, dengan keberaniannya menceritakan pengalamannya, menunjukkan bahwa berbicara tentang trauma adalah langkah awal yang penting menuju kesembuhan. Meskipun ia mengakui bahwa melupakan sepenuhnya adalah hal yang sulit, ia telah memilih untuk fokus pada "membuka lembaran baru" setiap hari. Ini adalah pendekatan yang sehat untuk mengelola trauma, yaitu dengan belajar hidup berdampingan dengan ingatan tanpa membiarkannya mendikte masa depan.
Kisah Meisita juga menyoroti betapa pentingnya kesadaran publik terhadap isu pelecehan seksual dan dampaknya. Dengan semakin banyak orang yang berani bersuara, diharapkan akan tercipta lingkungan yang lebih aman dan mendukung bagi semua orang, terutama anak-anak dan perempuan. Pengungkapan "Epstein Files" dan kesaksian seperti Meisita Lomania adalah bagian dari gerakan global untuk keadilan dan akuntabilitas, serta upaya untuk mencegah terjadinya kekerasan serupa di masa depan.

Perjuangan Meisita untuk bangkit dari masa lalu yang kelam adalah inspirasi. Ia telah membuktikan bahwa meskipun luka masa lalu mungkin tidak pernah benar-benar hilang, kekuatan untuk hidup, untuk mencari kebahagiaan, dan untuk membangun kembali diri sendiri tetap ada. Dengan dukungan yang tepat dan tekad yang kuat, para penyintas pelecehan seksual dapat menemukan jalan menuju pemulihan dan kehidupan yang penuh harapan. Pengalaman pahitnya, yang kini terungkap, diharapkan dapat menjadi pengingat bagi masyarakat luas tentang pentingnya perlindungan terhadap anak-anak dan penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku kekerasan seksual.

