0

Banjir Bandang Berulang, Tanda Ekosistem Hutan Mengalami Keruntuhan Fungsi

Share

Banjir bandang yang melanda berbagai wilayah Indonesia dengan frekuensi dan intensitas yang semakin meningkat tidak lagi dapat dipandang hanya sebagai fenomena alam biasa atau dampak sederhana dari curah hujan ekstrem dan deforestasi. Di balik setiap aliran deras yang membawa lumpur, kayu, dan batu, terdapat pesan ekologis yang jauh lebih mendalam: ekosistem hutan sebagai penyangga kehidupan sedang mengalami keruntuhan fungsi yang kritis. Fenomena ini, menurut para ahli, merupakan sinyal kuat bahwa sistem penopang kehidupan alami telah mencapai ambang batas daya lentingnya.

Hendra Gunawan, Peneliti Ahli Utama Konservasi Keanekaragaman Hayati Pusat Riset Ekologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menegaskan bahwa serangkaian banjir bandang yang terjadi berulang kali harus diinterpretasikan sebagai "alarm ekologis" atau bahkan "keruntuhan fungsi ekosistem" (ecosystem collapse). Ini bukan sekadar kerusakan parsial, melainkan disfungsi sistemik yang mengancam keberlanjutan lingkungan dan kehidupan manusia.

"Banjir bandang saat ini bukan lagi sekadar kejadian alam biasa yang bisa dijelaskan dengan curah hujan tinggi semata. Ini adalah indikator bahwa ekosistem hutan di banyak bentang alam kita telah berada pada kondisi kritis, kehilangan kemampuan dasar untuk mengatur dan menopang kehidupan," jelas Hendra, sebagaimana dikutip dari website BRIN beberapa waktu lalu.

Ia menguraikan bahwa di wilayah tropis, hujan lebat adalah siklus alamiah yang wajar. Hutan tropis sejatinya dirancang untuk menghadapi curah hujan tinggi, dengan kanopi lebat yang memecah energi tetesan air, lapisan serasah tebal yang menyerap dan menahan air, serta jaringan akar yang kompleks yang mengikat tanah dan mencegah erosi. Namun, ketika hutan kehilangan kemampuan fundamental ini—kemampuan mengatur tata air, menstabilkan tanah, serta meredam energi hujan—maka curah hujan singkat pun dapat berubah menjadi malapetaka. Aliran deras yang membawa lumpur, kayu, dan batu akan meluluhlantakkan permukiman, infrastruktur, dan lahan pertanian, meninggalkan jejak kehancuran yang mendalam.

Deforestasi, atau hilangnya tutupan hutan, memang merupakan salah satu faktor yang paling sering disoroti. Alih fungsi lahan untuk pertanian dan perkebunan monokultur, aktivitas pertambangan yang merusak, pembalakan liar, hingga pembangunan infrastruktur telah mengubah struktur lanskap hutan secara drastis. Pohon-pohon yang berfungsi sebagai "pompa air" alami dan "jangkar" tanah telah lenyap. Namun, Hendra menekankan bahwa deforestasi hanya menjelaskan apa yang hilang, bukan sepenuhnya menjawab mengapa bencana kini menjadi semakin cepat, ekstrem, dan destruktif. Ada dimensi yang lebih kompleks yang sedang bekerja.

Menurutnya, kerusakan yang terjadi bersifat sistemik dan fundamental. Hutan, dalam pandangan ekologis, bukanlah sekadar kumpulan pohon belaka. Ia adalah sebuah sistem kompleks yang melibatkan interaksi dinamis antara tanah yang subur, sumber daya air yang vital, beragam jenis tumbuhan, satwa liar yang berperan dalam rantai makanan, mikroorganisme tanah yang tak kasat mata namun esensial, serta iklim mikro yang unik dalam sebuah jaringan kehidupan yang saling bergantung. Ketika tekanan antropogenik—tekanan akibat aktivitas manusia—berlangsung secara terus-menerus dan melampaui batas, daya lenting (resiliensi) sistem tersebut akan melemah. Ibarat pegas yang terus-menerus diregangkan, ia akhirnya akan patah atau runtuh.

Pada tahap keruntuhan inilah, fungsi-fungsi ekologis vital tidak lagi berjalan sebagaimana mestinya. "Air hujan tidak lagi terserap dan tersimpan di dalam tanah sebagai cadangan air bawah tanah, melainkan langsung mengalir deras ke hilir, memicu banjir bandang dan erosi. Stabilitas lereng melemah drastis akibat rusaknya sistem perakaran pohon yang mengikat tanah. Pengendalian iklim mikro terganggu, menyebabkan suhu ekstrem dan perubahan pola cuaca lokal. Dan yang tak kalah penting, habitat keanekaragaman hayati menyusut drastis, mengancam kepunahan spesies-spesies penting," jelas Hendra, menggambarkan dampak berantai dari keruntuhan ini.

Proses Menuju Keruntuhan Ekosistem yang Terabaikan

Hendra memaparkan bahwa keruntuhan ekosistem hutan bukanlah kejadian tiba-tiba yang muncul tanpa peringatan. Sebaliknya, ia adalah hasil dari proses spasial bertahap dan sering kali luput dari perhatian publik maupun pengambil kebijakan. Perubahan lanskap hutan itu gradual, seringkali dimulai dari skala kecil, namun dampaknya terakumulasi seiring waktu hingga mencapai titik kritis.

"Perubahan lanskap hutan itu perlahan, seperti tetesan air yang terus-menerus mengikis batu. Awalnya mungkin terlihat kecil, sepele, namun dampak kumulatifnya akan sangat besar dan seringkali irreversible," ujarnya.

Ia mengidentifikasi lima proses utama yang secara progresif mengubah dan merusak matriks lanskap hutan:

  1. Fragmentasi: Ini adalah tahap awal di mana hutan yang sebelumnya luas dan utuh terpecah-pecah menjadi fragmen-fragmen kecil dan terisolasi. Fragmen-fragmen ini menjadi seperti "pulau" di tengah "lautan" lahan non-hutan, membuat ekosistem di dalamnya rentan terhadap gangguan eksternal dan kehilangan keanekaragaman hayati.
  2. Diseksi: Proses ini terjadi ketika lanskap hutan terbelah oleh pembangunan infrastruktur linear, seperti jalan raya, jalur pipa, atau saluran irigasi. "Begitu ada jalan yang membelah, secara ekologis hutan itu sudah tidak lagi utuh. Ia terpisah menjadi dua bagian yang rentan terhadap gangguan antropogenik, efek tepi (edge effect) yang merusak, dan isolasi populasi satwa tertentu yang kesulitan bermigrasi atau mencari pasangan," jelasnya. Efek tepi ini menyebabkan perubahan kondisi mikroekologi di pinggir hutan, seperti peningkatan suhu, penurunan kelembaban, dan masuknya spesies invasif.
  3. Perforasi: Ditandai dengan munculnya "lubang-lubang" di dalam bentang hutan yang sebelumnya padat, akibat pembukaan lahan skala kecil atau menengah untuk permukiman, pertanian subsisten, atau pertambangan ilegal. Lubang-lubang ini tidak hanya mengurangi luas hutan tetapi juga meningkatkan fragmentasi dan akses manusia ke jantung hutan.
  4. Shrinkage: Ini adalah fase penyusutan bertahap dari fragmen hutan yang tersisa. Fragmen-fragmen yang sudah terfragmentasi dan terisolasi mulai menyusut ukurannya akibat tekanan dari luar, seperti perluasan lahan pertanian di sekelilingnya, kebakaran hutan, atau degradasi internal.
  5. Attrition: Pada fase paling lanjut dan paling merusak, fragmen-fragmen hutan kecil yang tersisa tersebut hilang sepenuhnya. Ini adalah titik di mana ekosistem hutan di area tersebut benar-benar lenyap, digantikan oleh bentuk penggunaan lahan lain atau lahan tandus.

"Proses-proses ini bisa terjadi bersamaan atau bergantian, saling memperparah. Karena berjalan perlahan, sering kali kita tidak menyadari bahwa sistemnya sedang menuju titik kritis yang tak dapat kembali," tegas Hendra, mengingatkan akan bahaya kelalaian dalam memantau perubahan lanskap.

Ia juga menyoroti tanda-tanda awal degradasi yang dapat dikenali dari terganggunya spesies kunci atau indikator. Di Sumatera, misalnya, meningkatnya konflik antara Harimau Sumatera dan manusia bukan sekadar masalah konflik satwa-manusia biasa. "Ketika harimau masuk ke permukiman atau melintasi jalan raya dengan frekuensi yang mengkhawatirkan, itu bukan hanya soal konflik yang harus diselesaikan. Itu adalah indikator kuat bahwa habitatnya sudah tidak lagi utuh, sehat, dan mampu menopang kehidupannya. Ruang gerak mereka menyempit, sumber makanan berkurang, memaksa mereka mencari alternatif ke wilayah manusia," ujarnya.

Menanam Pohon Saja Tidak Cukup untuk Memulihkan

Hendra mengingatkan adanya persepsi keliru yang memandang hutan hanya sebagai kumpulan pohon. Cara pandang yang simplistis ini kerap melahirkan solusi instan dan dangkal berupa program penanaman pohon massal tanpa perencanaan ekologis yang matang dan berbasis lanskap.

"Menanam pohon tidak otomatis memulihkan ekosistem. Ini adalah mitos yang berbahaya jika tidak disertai pemahaman yang komprehensif," tegasnya.

Restorasi sejati, menurut Hendra, jauh lebih kompleks dan menuntut pendekatan ilmiah. Ia harus berfokus pada pemulihan fungsi dan proses ekologis yang telah rusak, bukan sekadar mengganti tutupan vegetasi. Tanpa pendekatan ilmiah berbasis ekosistem yang melibatkan pemahaman mendalam tentang jenis tanah, hidrologi, keanekaragaman hayati lokal, dan interaksi spesies, rehabilitasi berisiko menghasilkan "hutan semu." Hutan semu ini mungkin terlihat hijau dari luar, tetapi rapuh secara ekologis, miskin keanekaragaman hayati, dan tidak memiliki daya tahan atau kemampuan fungsional sebagaimana hutan alami. Mereka cenderung monoculture, tidak memiliki lapisan serasah yang kaya, dan kurang mampu menahan air atau menstabilkan tanah secara efektif.

Pergeseran Paradigma Pembangunan yang Mendesak

Dalam kesempatan yang sama, Hendra menegaskan bahwa menghentikan eksploitasi hutan saja tidak otomatis menyelesaikan persoalan yang sudah terlanjur akut. "Penghentian eksploitasi itu penting dan merupakan langkah awal yang krusial, tetapi tidak cukup. Ekosistem yang sudah rusak parah perlu dipulihkan secara aktif dengan pendekatan terpadu lintas sektor dan berbasis bentang alam," ujarnya.

Ia menekankan pentingnya konsistensi kebijakan antar sektor, sehingga upaya konservasi di satu sektor tidak dianulir oleh kebijakan pembangunan di sektor lain. Integrasi antara konservasi, restorasi, dan pembangunan berkelanjutan harus menjadi inti dari setiap perencanaan. Lebih dari itu, kolaborasi nyata dan sinergis antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, organisasi masyarakat sipil, dan masyarakat lokal adalah kunci keberhasilan. Tanpa kolaborasi ini, upaya restorasi akan menjadi parsial dan tidak berkelanjutan.

Lebih jauh, Hendra mengingatkan bahwa selama hutan terus dipahami hanya sebagai sumber daya ekonomi yang dapat dieksploitasi untuk keuntungan jangka pendek, siklus kerusakan lingkungan dan bencana alam akan terus berulang, bahkan mungkin semakin parah.

Menurutnya, banjir bandang yang terjadi berulang kali adalah pesan keras, bahkan ultimatum, dari alam itu sendiri. Jika cara pandang terhadap hutan tidak berubah—dari sekadar komoditas menjadi sistem penyangga kehidupan yang tak ternilai—maka bencana ekologis yang lebih besar akan terus diwariskan kepada generasi berikutnya, mengancam masa depan bangsa.

Sebaliknya, apabila hutan ditempatkan pada posisi yang semestinya, yaitu sebagai sistem penyangga kehidupan yang esensial bagi kelangsungan peradaban, maka arah pembangunan dapat disusun ulang. Pembangunan dapat didesain untuk menjaga resiliensi ekosistem, memastikan keberlanjutan fungsi-fungsi ekologis, dan pada saat yang sama menjamin kesejahteraan manusia secara jangka panjang.

"Sudah saatnya kita belajar dari alam, memahami setiap sinyal yang diberikannya, sebelum alarm ekologis ini berubah menjadi keruntuhan yang tidak lagi dapat dipulihkan. Masa depan kita dan generasi mendatang sangat bergantung pada bagaimana kita merespons panggilan darurat dari hutan," pungkasnya, memberikan peringatan keras sekaligus ajakan untuk bertindak.