Jakarta – Perdebatan sengit antara inovasi teknologi dan perlindungan hak kekayaan intelektual kembali memanas, kali ini dengan sorotan tertuju pada Seedance 2.0, sebuah model AI video generator besutan raksasa teknologi asal China, ByteDance. Sempat memukau jagat maya dan memantik kekaguman, khususnya di pusat industri hiburan global, Hollywood, Seedance 2.0 kini menghadapi pembatasan serius. Kemampuan revolusionernya yang dapat menciptakan video super realistis hanya dari deskripsi teks terpaksa diredam setelah dituding melanggar hak cipta oleh sejumlah konglomerat media dan hiburan terkemuka. Insiden ini tidak hanya menandai babak baru dalam pertempuran hukum dan etika di era kecerdasan buatan, tetapi juga menegaskan kekuatan dominan Hollywood dalam menjaga aset-aset intelektualnya.
Seedance 2.0, sebagai model AI video generator terbaru dari ByteDance, pengembang di balik aplikasi TikTok yang mendunia, memang telah menciptakan gelombang sensasi. Teknologi ini memungkinkan pengguna untuk menghasilkan adegan-adegan visual ultra-realistis, yang terkadang sulit dibedakan dari rekaman asli, hanya dengan mengandalkan perintah teks sederhana. Kemudahan akses dan kualitas output yang menakjubkan membuat Seedance 2.0 dengan cepat menjadi viral. Berbagai video yang diunggah di platform media sosial menunjukkan karakter-karakter ikonik dan wajah-wajah mirip selebriti yang dilindungi hak cipta muncul dalam skenario-skenario baru, memicu decak kagum sekaligus kekhawatiran mendalam. Fenomena ini secara langsung mengangkat pertanyaan krusial mengenai batas-batas inovasi AI dan implikasinya terhadap hak kekayaan intelektual (HKI) yang telah lama menjadi pilar industri kreatif.
Hollywood, sebagai benteng HKI dan rumah bagi waralaba hiburan bernilai miliaran dolar, tentu saja tidak tinggal diam. Ketika video-video hasil Seedance 2.0 mulai beredar luas, menampilkan karakter Disney, Marvel, atau bahkan aktor-aktor ternama dalam konteks yang tidak sah, alarm bahaya pun berdering kencang. Industri hiburan menyadari bahwa teknologi semacam ini, jika tidak diatur, berpotensi menggerogoti nilai-nilai aset kreatif mereka, mengancam mata pencarian seniman, penulis, sutradara, dan pekerja efek visual yang selama ini menjadi tulang punggung produksi konten. Kekhawatiran ini bukan hanya tentang kerugian finansial, melainkan juga tentang erosi kontrol atas narasi, karakter, dan citra yang telah dibangun dengan investasi besar dan kerja keras selama puluhan tahun.
Tudingan utama terhadap ByteDance adalah bahwa Seedance 2.0, dalam proses pelatihannya, telah menggunakan pustaka karakter dan kemiripan selebriti yang dilindungi hak cipta tanpa izin. Model AI generatif, seperti Seedance, memerlukan kumpulan data pelatihan yang sangat besar untuk "belajar" bagaimana menciptakan gambar atau video. Seringkali, data ini diambil dari internet, yang secara inheren mengandung jutaan aset berhak cipta. Para penuduh berargumen bahwa ByteDance telah membekali Seedance dengan materi-materi "bajakan" ini, kemudian menggambarkannya seolah-olah karakter atau citra tersebut berada di domain publik atau dapat digunakan secara bebas. Praktik semacam ini, jika terbukti benar, merupakan pelanggaran hak cipta yang serius, karena secara efektif menciptakan karya turunan (derivative works) dari aset-aset orisinal tanpa persetujuan atau kompensasi yang layak kepada pemegang hak.
Menanggapi gelombang protes dan peringatan keras dari Hollywood, ByteDance akhirnya menyatakan komitmennya untuk memperkuat "safeguard" atau perlindungan guna memastikan video yang dihasilkan Seedance 2.0 tidak melanggar hak cipta. "ByteDance menghormati hak kekayaan intelektual dan kami telah mendengar kekhawatiran terkait Seedance 2.0," kata seorang juru bicara ByteDance dalam pernyataan resmi seperti dikutip dari CNBC. "Kami mengambil langkah-langkah untuk memperkuat perlindungan yang ada saat ini untuk mencegah penggunaan hak kekayaan intelektual dan kemiripan tanpa izin oleh pengguna," sambungnya. Pernyataan ini, yang dirilis pada Senin, 16 Februari 2026, mengindikasikan bahwa ByteDance bersedia untuk mengalah dan menyesuaikan operasinya demi meredakan ketegangan dengan industri hiburan. Langkah-langkah yang mungkin akan diterapkan termasuk sistem filter yang lebih ketat, deteksi otomatis terhadap karakter atau wajah berhak cipta, dan pembatasan penggunaan bagi pengguna yang mencoba menghasilkan konten semacam itu.
Tanggapan ByteDance ini tentu saja bukan tanpa sebab. Raksasa teknologi asal China itu menghadapi tekanan yang luar biasa dari Motion Picture Association (MPA), sebuah asosiasi berpengaruh yang mewakili studio-studio besar di Hollywood. MPA adalah suara kolektif bagi pemain-pemain kunci di industri, termasuk Netflix, Disney, Sony Pictures, Universal Pictures, dan Warner Bros. Discovery. Pada akhir pekan sebelum pernyataan ByteDance, MPA mengeluarkan pernyataan publik yang isinya sangat tegas, meminta ByteDance untuk segera menghentikan apa yang mereka sebut sebagai "aktivitas pelanggaran hak cipta." Ini adalah bentuk peringatan keras yang menunjukkan keseriusan dan kesatuan Hollywood dalam menghadapi ancaman AI terhadap HKI.
Lebih lanjut, tekanan tidak hanya datang dari MPA secara kolektif, tetapi juga dari studio-studio individu. Disney, raksasa hiburan yang dikenal sangat protektif terhadap aset-asetnya seperti Mickey Mouse, Star Wars, dan karakter-karakter Marvel, tidak tinggal diam. Mereka mengirimkan surat peringatan resmi (cease-and-desist letter) kepada ByteDance. Dalam surat tersebut, Disney menuduh induk TikTok itu telah mendistribusikan dan mereproduksi kekayaan intelektualnya menggunakan alat AI tanpa izin. Tuduhan yang sangat serius ini secara eksplisit menyebutkan bahwa ByteDance telah "membekali Seedance dengan pustaka berisi karakter dengan hak cipta yang diperoleh secara tidak resmi alias bajakan," dan parahnya lagi, "menggambarkannya seolah-olah karakter itu ada di domain publik." Ini menunjukkan bahwa Disney tidak hanya khawatir tentang output AI, tetapi juga tentang bagaimana model tersebut dilatih dan data apa yang digunakan.
Tidak hanya Disney, Paramount Skydance, salah satu studio besar yang juga merupakan bagian integral dari MPA, turut mengirimkan surat peringatan dengan isi tuduhan yang serupa. Gelombang protes dari studio-studio besar ini menggarisbawahi betapa seriusnya Hollywood memandang ancaman dari AI generatif yang tidak terkontrol. Bagi studio-studio ini, kekayaan intelektual adalah darah kehidupan mereka. Setiap karakter, alur cerita, dan dunia yang mereka ciptakan adalah aset berharga yang memerlukan perlindungan hukum yang ketat untuk memastikan kelangsungan bisnis dan investasi kreatif mereka.
Insiden Seedance 2.0 ini bukanlah kasus tunggal, melainkan bagian dari perdebatan yang lebih luas mengenai hak cipta di era AI. Model-model AI generatif lainnya, seperti Midjourney, Stable Diffusion, DALL-E, dan bahkan Sora dari OpenAI, juga telah menghadapi tuntutan hukum atau setidaknya kritik keras terkait penggunaan data pelatihan yang berpotensi melanggar hak cipta. Pertanyaan fundamentalnya adalah: apakah penggunaan materi berhak cipta untuk melatih AI merupakan "penggunaan wajar" (fair use) yang diizinkan, ataukah itu adalah pelanggaran yang memerlukan lisensi? Hukum di berbagai negara masih berusaha mengejar ketertinggalan dengan perkembangan teknologi ini, menciptakan area abu-abu yang dimanfaatkan oleh perusahaan-perusahaan teknologi.
Dampak dari insiden ini terhadap industri hiburan dan kreator sangat signifikan. Jika AI dapat menghasilkan konten yang menyerupai karya berhak cipta tanpa perlu membayar lisensi atau royalti, maka nilai karya orisinal akan tergerus. Ini berpotensi mengancam mata pencarian jutaan seniman, penulis, musisi, dan pekerja kreatif lainnya yang bergantung pada perlindungan HKI. Selain itu, ada juga kekhawatiran tentang potensi penyalahgunaan AI untuk menciptakan deepfakes atau konten yang menyesatkan, yang dapat merusak reputasi individu atau bahkan memengaruhi opini publik.
Ke depan, insiden Seedance 2.0 mungkin akan menjadi katalisator bagi perkembangan kerangka hukum dan etika yang lebih jelas untuk AI generatif. Industri teknologi mungkin akan didorong untuk mengembangkan model lisensi baru untuk data pelatihan, memungkinkan kreator untuk mendapatkan kompensasi yang adil jika karya mereka digunakan untuk melatih AI. Perusahaan seperti ByteDance mungkin perlu berinvestasi lebih besar dalam kurasi data dan teknologi deteksi HKI untuk memastikan kepatuhan. Pada akhirnya, episode ini menyoroti perlunya keseimbangan yang hati-hati antara mendorong inovasi teknologi yang luar biasa dan menjaga integritas serta nilai dari karya-karya kreatif yang telah ada. Hollywood telah mengirimkan pesan yang jelas: era AI tidak berarti era tanpa aturan, terutama ketika menyangkut perlindungan kekayaan intelektual mereka yang tak ternilai.

