0

Startmu Terlalu Lambat, Liverpool Masih Berjuang Menemukan Ritme Permainan Ideal di Bawah Taktik Arne Slot

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Liverpool tengah dilanda kegalauan dalam upayanya meraih konsistensi performa di pentas sepak bola Eropa. Enam pertandingan terakhir menjadi saksi bisu perjuangan keras The Reds, yang diwarnai dengan dua kekalahan pahit yang menyakitkan. Pertandingan melawan Bournemouth dan Manchester City secara spesifik meninggalkan luka mendalam, di mana gol-gol di menit-menit akhir pertandingan berhasil meruntuhkan harapan dan menyisakan rasa getir bagi para pendukung. Namun, di balik rentetan hasil yang belum memuaskan ini, tersimpan sebuah persoalan fundamental yang mulai disorot tajam oleh berbagai pihak, termasuk oleh mantan pemain legendaris klub, John Aldridge. Persoalan tersebut adalah kebiasaan Liverpool memulai pertandingan dengan tempo yang terlalu lambat, sebuah pola yang kerap kali membuat tim kesulitan untuk membangun momentum dan mengendalikan jalannya laga sejak awal.

Kelemahan dalam memulai pertandingan ini bukan sekadar anekdot atau kebetulan semata, melainkan sebuah pola yang mulai terlihat jelas dalam beberapa pertandingan terakhir. Contoh paling nyata dapat disaksikan saat Liverpool berhadapan dengan Bournemouth. Dalam kurun waktu 33 menit pertama pertandingan, anak asuh Arne Slot sudah tertinggal dua gol, sebuah defisit yang jelas memberatkan dan memaksa mereka untuk bekerja ekstra keras dalam sisa waktu. Situasi serupa juga terjadi dalam laga melawan Newcastle United, di mana lini pertahanan Liverpool, yang dikomandoi oleh Virgil van Dijk, terlihat lamban bereaksi dan tertinggal lebih dulu akibat gol cepat dari Anthony Gordon. Keterlambatan dalam merespons serangan lawan ini menjadi celah yang kerap dimanfaatkan oleh tim-tim lawan untuk mendapatkan keuntungan awal.

John Aldridge, seorang penyerang ikonik Liverpool di era 1980-an, menyuarakan keprihatinannya terkait gaya permainan yang diterapkan oleh pelatih kepala saat ini, Arne Slot. Aldridge mengamati bahwa filosofi permainan Slot yang cenderung mengutamakan kontrol permainan dan membangun serangan secara bertahap, meskipun memiliki kelebihan tersendiri, justru sering kali menghambat tim untuk dapat membangun momentum yang dibutuhkan sejak menit-menit awal pertandingan. Pendekatan yang lebih sabar ini, menurut Aldridge, justru membuka peluang bagi lawan untuk mengambil inisiatif dan memanfaatkan kelambanan Liverpool.

"Satu hal yang terus bikin saya khawatir adalah kami memulai pertandingan dengan sangat lambat. Ini hampir menjadi hal yang amat diketahui," ungkap Aldridge dengan nada prihatin dalam sebuah kolom yang ditulisnya untuk Liverpool Echo. Pernyataannya ini bukanlah tanpa dasar, melainkan sebuah observasi mendalam terhadap pola permainan tim yang konsisten ia saksikan. Aldridge menambahkan bahwa gaya permainan ini mungkin merupakan konsekuensi dari penerapan taktik Arne Slot yang lebih menekankan pada penguasaan bola dan kontrol permainan, sebuah pendekatan yang berbeda jika dibandingkan dengan intensitas tinggi yang menjadi ciri khas di era awal kepelatihan Jurgen Klopp. Namun, perbedaan ini, menurut Aldridge, justru semakin terlihat jelas dan menjadi masalah yang signifikan di musim ini.

Lebih lanjut, Aldridge menguraikan bahwa kebiasaan memulai laga dengan tempo lambat ini memiliki dampak yang cukup signifikan, terutama saat bermain di kandang sendiri. "Artinya, khususnya di laga kandang, tidak banyak hal di lapangan yang dapat membangkitkan semangat penonton," ujar Aldridge. Ia menjelaskan bahwa meskipun ini mungkin merupakan taktik yang disengaja oleh Arne Slot untuk memungkinkan Liverpool menjalankan rencana permainan mereka, memahami lawan, dan baru kemudian meningkatkan tempo serta menguasai permainan, namun strategi ini justru berisiko di era sepak bola modern yang semakin cepat dan dinamis.

"Tetapi masalahnya adalah tim-tim lain sekarang mulai menyadari hal itu dan beberapa memulai laga dengan cepat dalam upaya untuk menjebak kita," tegas Aldridge. Ia melihat bahwa lawan-lawan Liverpool kini mulai membaca permainan tim dan memanfaatkan kelambanan mereka di awal laga. Dengan memulai pertandingan secara agresif, tim lawan berusaha untuk memberikan tekanan dan menciptakan keunggulan sebelum Liverpool sempat menemukan ritme permainan terbaik mereka. Hal ini, menurut Aldridge, bisa menimbulkan kesan bahwa Liverpool justru terlalu menghormati lawan mereka, atau bahkan kurang memiliki kepercayaan diri untuk mengambil inisiatif sejak awal pertandingan.

Analisis Aldridge ini menyoroti sebuah dilema taktis yang dihadapi oleh Liverpool di bawah kepelatihan Arne Slot. Di satu sisi, pendekatan yang berorientasi pada kontrol dan kesabaran dalam membangun serangan dapat memberikan stabilitas dan meminimalkan risiko kesalahan di lini pertahanan. Namun, di sisi lain, sepak bola modern menuntut intensitas tinggi sejak menit pertama, kemampuan untuk merespons perubahan momentum dengan cepat, dan keberanian untuk mengambil risiko demi mengendalikan jalannya pertandingan. Kegagalan Liverpool untuk menyeimbangkan kedua aspek ini, terutama dalam hal memulai pertandingan, menjadi salah satu faktor utama yang menghambat mereka untuk tampil konsisten dan meraih hasil yang diinginkan.

Perluasan data mengenai situasi Liverpool menunjukkan bahwa masalah konsistensi bukanlah isu baru bagi klub. Dalam beberapa musim terakhir, meskipun berhasil meraih gelar-gelar bergengsi, terkadang Liverpool menunjukkan periode performa yang naik turun. Hal ini sering kali dikaitkan dengan kelelahan pemain akibat jadwal padat, cedera pemain kunci, atau adaptasi terhadap perubahan taktik. Namun, dalam kasus ini, sorotan terhadap "start lambat" yang diutarakan oleh Aldridge memberikan perspektif yang lebih spesifik mengenai kelemahan yang perlu segera diatasi.

Penting untuk dicatat bahwa Arne Slot, sebagai pelatih baru, masih dalam tahap adaptasi dan mencoba menerapkan filosofi permainannya di klub sebesar Liverpool. Dibutuhkan waktu bagi pemain untuk sepenuhnya memahami dan mengaplikasikan instruksi pelatih di lapangan. Namun, masukan dari figur berpengalaman seperti Aldridge seharusnya menjadi bahan evaluasi yang serius bagi staf kepelatihan.

Solusi untuk mengatasi masalah "start lambat" ini mungkin melibatkan beberapa aspek. Pertama, dari sisi taktik, Arne Slot perlu mengevaluasi kembali bagaimana timnya dapat membangun intensitas sejak menit awal tanpa mengorbankan kontrol permainan. Ini bisa berarti perubahan dalam formasi awal, instruksi pressing yang lebih agresif di zona awal, atau bahkan strategi transisi yang lebih cepat dari bertahan ke menyerang.

Kedua, dari sisi mental, para pemain perlu ditanamkan kepercayaan diri yang lebih besar untuk mengambil inisiatif dan tidak ragu untuk mendominasi permainan sejak peluit dibunyikan. Penguatan mental ini bisa dilakukan melalui latihan, diskusi tim, atau bahkan dengan menampilkan kembali momen-momen kejayaan di mana Liverpool tampil garang sejak awal pertandingan.

Ketiga, analisis performa individu juga penting. Apakah ada pemain tertentu yang cenderung lambat dalam memulai pertandingan? Bagaimana cara untuk membantu mereka menemukan ritme lebih cepat? Ini bisa melibatkan penyesuaian dalam rutinitas pemanasan atau peran spesifik di awal laga.

Pola permainan Liverpool yang dimulai dengan tempo lambat ini memang menimbulkan kekhawatiran. Jika tidak segera diatasi, kebiasaan ini berpotensi terus dimanfaatkan oleh lawan-lawan yang cerdas dan agresif. Konsistensi adalah kunci dalam perburuan gelar, dan konsistensi itu harus dimulai dari saat pertandingan dimulai. The Reds perlu menemukan cara untuk tidak hanya mengendalikan permainan, tetapi juga untuk mengendalikan momentum sejak menit pertama, agar tidak terus menerus tertinggal dan harus berjuang keras untuk mengejar ketertinggalan. Perjalanan Liverpool di bawah Arne Slot masih panjang, dan mengatasi masalah "start lambat" ini akan menjadi salah satu ujian terpenting bagi kesuksesan mereka di masa depan. Harapannya, tim dapat belajar dari pengalaman pahit ini dan segera menemukan solusi yang tepat agar dapat tampil lebih meyakinkan sejak awal pertandingan.