Tahun 2026 nampaknya akan menjadi penanda strategi baru bagi Apple, raksasa teknologi asal Cupertino, California. Setelah bertahun-tahun dikenal dengan produk-produk premiumnya, kini Apple dikabarkan sedang bersiap untuk meluncurkan deretan produk yang lebih terjangkau, termasuk sebuah MacBook yang secara eksplisit ditujukan untuk segmen pasar yang lebih luas. Berita ini datang di tengah spekulasi mengenai iPhone 17e yang juga akan hadir dengan harga yang lebih kompetitif, menandakan sebuah pergeseran filosofi yang menarik dari perusahaan berlogo apel tergigit tersebut.
Menurut laporan eksklusif dari jurnalis teknologi ternama Mark Gurman dari Bloomberg, Apple berencana untuk mengumumkan MacBook terjangkau ini dalam sebuah acara khusus yang diperkirakan akan diselenggarakan pada bulan Maret 2026. Gurman, yang dikenal dengan akurasi bocorannya, mengindikasikan bahwa langkah ini adalah bagian dari upaya Apple untuk memperluas pangsa pasarnya, terutama di kalangan pelajar, mahasiswa, dan juga segmen bisnis yang mencari perangkat Apple dengan investasi awal yang lebih rendah.
Salah satu aspek yang paling menarik dari bocoran ini adalah pendekatan Apple terhadap desain dan pilihan warna. Berbeda dengan lini MacBook Air dan MacBook Pro yang biasanya hadir dalam palet warna yang lebih konservatif seperti perak, abu-abu ruang, dan emas, MacBook murah ini akan tampil lebih berani. Apple kabarnya sedang menguji coba berbagai pilihan warna yang cerah dan menarik, termasuk kuning muda, hijau muda, biru, dan merah muda. Pilihan warna yang ceria ini secara jelas menunjukkan target pasar utama produk ini: generasi muda yang menginginkan perangkat dengan sentuhan personal yang lebih ekspresif.
Namun, Gurman juga menambahkan bahwa Apple tidak melupakan preferensi klasik. Pilihan warna seperti perak dan abu-abu gelap juga sedang dalam tahap pengujian, yang kemungkinan akan menarik bagi pengguna bisnis atau mereka yang lebih menyukai tampilan yang profesional dan minimalis. Meskipun tidak semua enam warna yang diuji coba ini akan hadir di versi final, kehadiran palet warna yang lebih beragam menandai sebuah tren yang semakin kuat di Apple. Dalam beberapa tahun terakhir, Apple memang semakin berani bermain dengan warna pada produk-produknya. Contohnya dapat dilihat pada iMac terbaru keluaran tahun 2024 yang hadir dalam tujuh pilihan warna yang semarak, serta MacBook Air paling anyar yang memperkenalkan warna Sky Blue yang menawan sebagai pengganti Space Gray yang telah lama dikenal. Pergeseran ini menunjukkan bahwa Apple menyadari pentingnya personalisasi dan ekspresi diri dalam pasar teknologi modern.
Selain aspek warna yang mencolok, bocoran Gurman juga memberikan gambaran mengenai spesifikasi fisik lainnya. MacBook murah ini dikabarkan akan mengusung layar dengan diagonal kurang dari 13 inci. Bocoran sebelumnya, yang beredar di berbagai forum teknologi, bahkan secara spesifik menyebutkan ukuran layar sekitar 12,9 inci. Ukuran layar yang relatif lebih kecil ini akan menjadikan MacBook ini sangat portabel dan mudah dibawa kemana-mana, ideal untuk pelajar yang sering berpindah kelas atau profesional yang bekerja secara hybrid. Meskipun harganya terjangkau, diharapkan Apple tetap mempertahankan kualitas layar Retina yang menjadi ciri khas produk-produknya, meskipun mungkin tanpa fitur ProMotion atau kecerahan puncak setinggi model premium lainnya. Layar yang tajam dan jernih akan tetap menjadi prioritas untuk pengalaman pengguna yang optimal, terutama untuk aktivitas membaca, menulis, dan menjelajah web.
Salah satu bocoran yang paling mencengangkan dan sekaligus memicu perdebatan di kalangan pengamat teknologi adalah terkait chipset yang akan digunakan. Laporan awal dari Engadget, mengutip sumber yang tidak disebutkan namanya, menyebutkan bahwa MacBook murah ini akan ditenagai oleh chipset A18 Pro. Pernyataan ini sontak memicu tanda tanya besar di kalangan pengamat teknologi dan penggemar Apple. Selama ini, Apple secara konsisten membedakan lini prosesornya: chip A-series (seperti A18 Pro) dirancang khusus untuk iPhone dan iPad, sementara chip M-series (M1, M2, M3, dst.) adalah otak di balik performa MacBook dan Mac desktop.
Jika rumor A18 Pro benar adanya, ini akan menjadi langkah radikal dan belum pernah terjadi sebelumnya bagi Apple. Integrasi chip yang biasanya ditemukan di iPhone ke dalam sebuah MacBook akan menandai perubahan paradigma yang signifikan dalam strategi arsitektur perangkat keras mereka. Namun, skenario yang lebih mungkin dan realistis adalah Apple akan menggunakan varian chip M-series yang lebih rendah, seperti versi yang dioptimalkan dari chip M1 atau M2. Penggunaan chip M-series yang sudah ada dan terbukti kinerjanya, namun dengan konfigurasi yang disesuaikan untuk menekan biaya produksi, akan lebih masuk akal. Ini memungkinkan Apple untuk tetap menawarkan pengalaman macOS yang mulus dan efisien daya, sambil menjaga harga tetap terjangkau.
Terlepas dari jenis chip yang dipilih, tujuan utamanya adalah menawarkan performa yang cukup untuk target pasar yang dituju. MacBook murah ini tidak akan ditujukan untuk tugas-tugas berat seperti pengeditan video 4K profesional atau rendering 3D kompleks. Sebaliknya, ia akan dioptimalkan untuk aktivitas sehari-hari seperti penjelajahan web, aplikasi produktivitas (pengolah kata, spreadsheet, presentasi), komunikasi video, dan bahkan pekerjaan kreatif ringan. Keseimbangan antara performa yang memadai dan efisiensi daya akan menjadi kunci, memastikan pengguna mendapatkan pengalaman yang responsif tanpa menguras baterai terlalu cepat.
Meskipun harganya terjangkau, Apple dikabarkan tidak akan mengorbankan kualitas material dan konstruksi. MacBook murah ini tidak akan terbuat dari plastik murahan. Sebaliknya, Apple kabarnya sudah menciptakan proses pembuatan cangkang aluminium baru yang lebih cepat dan lebih efisien ketimbang yang dipakai untuk MacBook Air dan MacBook Pro saat ini. Inovasi dalam proses manufaktur ini memungkinkan Apple untuk mempertahankan tampilan premium dan nuansa kokoh yang menjadi ciri khas produknya, sambil secara signifikan mengurangi biaya produksi. Ini adalah kabar baik, karena salah satu daya tarik utama MacBook adalah desainnya yang elegan dan material berkualitas tinggi, bahkan untuk model entry-level sekalipun. Penggunaan aluminium juga berarti perangkat akan tetap ringan, awet, dan memiliki kemampuan disipasi panas yang lebih baik dibandingkan plastik.
Rumor terbaru yang beredar mengindikasikan bahwa MacBook murah ini akan dibanderol dengan harga yang sangat kompetitif, yakni antara USD 699 dan USD 799. Jika dikonversi ke Rupiah dengan kurs saat ini (sekitar Rp 16.900 per USD), harga tersebut berkisar antara Rp 11,7 jutaan hingga Rp 13,4 jutaan. Rentang harga ini menempatkan MacBook baru ini di posisi yang sangat menarik di pasar laptop. Sebagai perbandingan, MacBook Air M2 saat ini dibanderol mulai dari sekitar USD 999 (Rp 16,8 jutaan), sementara MacBook Air M1 yang masih dijual juga berada di atas kisaran harga ini.
Harga yang agresif ini menunjukkan ambisi Apple untuk tidak hanya bersaing di segmen premium, tetapi juga untuk merambah pasar laptop "budget" yang selama ini didominasi oleh laptop berbasis Windows dan Chromebook. Dengan harga di bawah USD 800, MacBook ini akan menjadi pilihan yang sangat menarik bagi pelajar, institusi pendidikan, dan usaha kecil menengah yang membutuhkan ekosistem Apple yang stabil dan aman tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam. Ini juga bisa menjadi gerbang bagi pengguna Windows atau Chromebook untuk pertama kalinya merasakan pengalaman macOS, yang pada akhirnya dapat mengikat mereka lebih jauh ke dalam ekosistem Apple. Potensi dampak pada pasar pendidikan sangat besar, di mana permintaan akan perangkat yang handal, mudah dikelola, dan terjangkau selalu tinggi.
Strategi Apple untuk menghadirkan produk yang lebih terjangkau tidak berdiri sendiri. Kehadiran MacBook murah ini sejalan dengan rumor tentang iPhone 17e yang juga akan diluncurkan dengan harga yang lebih rendah. Huruf "e" pada iPhone 17e, yang mungkin melambangkan "economy" atau "essential," mengindikasikan bahwa Apple sedang merancang sebuah lini produk baru yang lebih mudah diakses. Ini menunjukkan bahwa Apple sedang melakukan diversifikasi strategis untuk menarik lebih banyak konsumen di berbagai segmen pendapatan, terutama di pasar negara berkembang di mana harga menjadi faktor penentu utama. Dengan demikian, Apple berharap dapat memperluas basis penggunanya dan mengamankan loyalitas merek sejak usia dini.
Secara keseluruhan, bocoran mengenai MacBook murah ini, jika terbukti benar, akan menjadi salah satu pengumuman paling signifikan dari Apple dalam beberapa tahun terakhir. Perangkat ini berpotensi mengubah lanskap pasar laptop entry-level dan memperkuat posisi Apple di segmen pendidikan dan bisnis. Kombinasi harga terjangkau, pilihan warna yang menarik, kualitas material yang tetap premium, dan pengalaman macOS yang andal akan menjadikannya pesaing yang tangguh. Kita tunggu saja pengumuman resmi dari Apple pada Maret 2026 untuk mengetahui kebenaran rumor ini dan melihat bagaimana MacBook murah ini akan membentuk masa depan komputasi personal.

