0

Ramadan Pertama Tanpa Mpok Alpa, Ajie Darmaji Menangis Haru: Kenangan Indah dan Perjuangan Menyongsong Bulan Suci Tanpa Sang Istri Tercinta

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Suasana haru menyelimuti Ajie Darmaji dan keluarganya saat melakukan tradisi sakral menjelang bulan suci Ramadan, yaitu ziarah ke makam mendiang istri tercinta, Nina Carolina, yang lebih dikenal dengan sapaan Mpok Alpa. Ini menandai Ramadan pertama yang harus dijalani oleh Ajie dan anak-anak mereka tanpa kehadiran sosok Mpok Alpa, yang telah berpulang ke Rahmatullah pada Agustus 2025 lalu. Kepergian Mpok Alpa meninggalkan duka mendalam yang terasa semakin pekat di momen-momen penting keluarga, termasuk menyambut bulan penuh keberkahan ini.

Biasanya, momen menjelang bulan puasa selalu menjadi waktu yang spesial bagi Ajie Darmaji dan Mpok Alpa untuk melakukan tradisi ziarah ke makam orang tua mereka. Namun, takdir berkata lain. Tahun ini, peran itu harus diemban oleh Ajie sendiri, yang dengan penuh kasih menabur bunga di pusara wanita yang telah mengisi hari-harinya dengan cinta dan tawa. Dengan mata yang berkaca-kaca, ia tak bisa menahan diri untuk mengenang dan membandingkan suasana Ramadan tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya, ketika Mpok Alpa masih hadir di sisi mereka, berbagi kehangatan dan keceriaan. Suaranya bergetar saat ia menceritakan betapa berbedanya perasaan kali ini. "Tahun kemarin masih kita yang ziarah sama almarhumah ke makam orang tua. Sekarang justru kita yang ziarahin makam almarhumah dan orang tua. Untuk mengenang semasa hidupnya, beliau memang selalu suka ziarah menjelang Ramadan," ungkap Ajie Darmaji dengan suara pilu saat ditemui di Tempat Pemakaman Umum (TPU) kawasan Ciganjur, Jakarta Selatan, pada Sabtu, 14 Februari 2026. Kata-katanya menggambarkan betapa mendalamnya rasa kehilangan yang ia rasakan, dan betapa tradisi yang dulunya dilakukan bersama kini harus dilalui dengan kesendirian.

Kesedihan semakin terasa nyata karena ini merupakan kali pertama anak-anak mereka, termasuk si kembar yang masih balita, diajak untuk berziarah langsung ke makam ibu mereka. Ajie Darmaji mengakui adanya rasa khawatir yang mendalam dan berat hati membayangkan bagaimana keluarga kecilnya akan menjalani hari-hari awal Ramadan tanpa kehadiran Mpok Alpa. Ia tahu bahwa anak-anaknya, terutama yang sudah cukup besar untuk memahami, pasti akan merasakan kekosongan yang ditinggalkan oleh ibu mereka. "Iya, ini Ramadan pertama tanpa almarhumah. Hari pertama puasa nanti kita juga belum tahu seperti apa rasanya. Mudah-mudahan semuanya kuat dan tegar," tuturnya, berusaha keras menahan air mata yang terus menggenang di pelupuk matanya. Kegelisahan ini bukan tanpa alasan, karena Mpok Alpa adalah sosok sentral dalam keluarga, yang selalu menciptakan suasana hangat dan penuh canda, terutama di bulan Ramadan.

Kerinduan terhadap sosok Mpok Alpa tidak hanya dirasakan oleh Ajie Darmaji, tetapi juga oleh anak-anak mereka yang mulai menyadari ketidakhadiran sang ibu di momen-momen spesial keluarga. Putri Mpok Alpa, Sherly, turut mengungkapkan betapa beratnya kehilangan tersebut, terutama karena Ramadan seharusnya menjadi waktu kebersamaan yang penuh suka cita di rumah baru mereka. Rumah baru yang menjadi impian Mpok Alpa, kini harus diisi dengan kesedihan. "Banyak momen yang seharusnya bisa kami jalani lengkap di Ramadan tahun ini, di rumah baru bersama anak-anak. Tapi tahun ini harus dilewati tanpa almarhumah. Itu yang paling berat," ungkap Sherly dengan nada sedih. Ia membayangkan betapa indahnya jika Mpok Alpa masih ada untuk menikmati rumah baru mereka dan merayakan Ramadan bersama.

Kenangan manis tentang persiapan puasa Mpok Alpa pun kembali terlintas dalam benak Ajie Darmaji. Ia teringat jelas antusiasme sang istri dalam menyambut Ramadan tahun lalu. Mpok Alpa bahkan sempat mengajaknya untuk membeli meja makan yang lebih besar agar seluruh keluarga bisa berkumpul dan berbuka puasa bersama dengan nyaman. Momen sederhana namun penuh makna ini menjadi bukti betapa Mpok Alpa selalu memprioritaskan kebersamaan keluarga. "Dua hari menjelang Ramadan, dia ngajak cari meja makan. Katanya biar kita bisa makan rame-rame. Di rumah Cibinong kan mejanya kecil, makanya beli yang besar. Sekalian beli piring dan sendok baru," kenang Ajie Darmaji dengan nada lirih, senyum tipis tersungging di bibirnya saat mengingat kembali kebahagiaan kecil itu.

Persiapan menyambut Ramadan tahun lalu terasa begitu berbeda. Mpok Alpa, dengan semangatnya yang khas, tidak hanya memikirkan kebutuhan fisik seperti meja makan baru, tetapi juga memastikan segala sesuatunya siap untuk menyambut bulan suci. Ia seringkali menyiapkan bahan-bahan makanan pokok, memastikan stok kurma selalu ada, dan bahkan merencanakan menu-menu spesial untuk sahur dan berbuka puasa. Ajie Darmaji mengingat bagaimana Mpok Alpa selalu antusias mencari resep-resep baru dan mencoba memasaknya untuk keluarga. Kegembiraannya saat berhasil membuat hidangan yang disukai keluarga menjadi kebahagiaan tersendiri baginya.

Kini, Ajie Darmaji harus mengambil alih peran tersebut, meskipun dengan hati yang berat. Ia bertekad untuk melanjutkan tradisi dan menjaga semangat Ramadan yang telah diajarkan oleh Mpok Alpa. Ia tahu bahwa ini tidak akan mudah, terutama bagi anak-anak yang masih kecil dan belum sepenuhnya mengerti. Namun, ia percaya bahwa kekuatan cinta dan kenangan indah akan membantunya dan keluarga melewati masa sulit ini. Ia berharap Mpok Alpa dapat tersenyum di alam sana melihat keluarga yang ia cintai tetap kuat dan tegar.

Anak-anak Mpok Alpa, meskipun masih kecil, juga menunjukkan tanda-tanda kerinduan. Mereka seringkali bertanya tentang ibu mereka, menanyakan kapan Mpok Alpa akan pulang atau kapan mereka bisa bertemu lagi. Ajie Darmaji berusaha menjelaskan dengan cara yang paling lembut dan penuh kasih, bahwa ibu mereka kini berada di tempat yang lebih baik, namun cintanya akan selalu bersama mereka. Ia sering mengajak anak-anaknya untuk berdoa bersama untuk almarhumah, mengajarkan mereka untuk selalu mengenang kebaikan Mpok Alpa.

Momen ziarah ke makam menjadi lebih dari sekadar tradisi. Itu adalah kesempatan bagi Ajie Darmaji dan anak-anaknya untuk merasakan kedekatan dengan Mpok Alpa, untuk berbicara dengannya, dan untuk memohon kekuatan dari Yang Maha Kuasa. Mereka meletakkan bunga-bunga segar di atas pusara, membersihkan area makam, dan duduk bersama dalam keheningan, merenungi setiap momen indah yang pernah mereka lalui bersama. Ajie Darmaji tak lupa membacakan surah Yasin dan doa-doa untuk almarhumah, berharap amal ibadahnya diterima di sisi-Nya.

Perasaan kehilangan ini tentu saja menjadi ujian berat bagi Ajie Darmaji. Ia harus menjadi ayah sekaligus ibu bagi anak-anaknya, membesarkan mereka dengan cinta dan kasih sayang yang sama seperti yang selalu diberikan oleh Mpok Alpa. Namun, ia yakin bahwa ia tidak sendirian. Ia memiliki dukungan dari keluarga besar dan teman-teman Mpok Alpa yang selalu siap membantunya. Ia juga percaya bahwa Mpok Alpa selalu menjaganya dari surga.

Menjelang Ramadan tahun ini, Ajie Darmaji bertekad untuk mengisi rumah mereka dengan semangat kebaikan dan kebersamaan. Ia akan berusaha menciptakan suasana yang hangat dan penuh cinta, seperti yang selalu dilakukan oleh Mpok Alpa. Ia akan mengajak anak-anaknya untuk lebih giat beribadah, berbagi dengan sesama, dan meneladani akhlak mulia Mpok Alpa. Ia berharap Ramadan ini akan menjadi ajang untuk memperkuat ikatan keluarga dan untuk terus mengenang serta menghargai warisan cinta dari Mpok Alpa.

Perjuangan Ajie Darmaji dalam menjalani Ramadan pertamanya tanpa Mpok Alpa adalah sebuah kisah tentang kekuatan cinta, ketabahan, dan harapan. Meskipun air mata tak dapat terbendung, ia berusaha tegar demi anak-anaknya. Kenangan indah bersama Mpok Alpa akan menjadi bekal berharga dalam menjalani setiap detik di bulan suci ini. Ia yakin, dengan doa dan dukungan orang-orang terkasih, ia akan mampu melewati setiap tantangan dan menjadikan Ramadan ini sebagai momen refleksi dan penguatan iman, sambil terus membawa nama baik Mpok Alpa dalam setiap kebaikannya. Kepergian Mpok Alpa memang meninggalkan luka, namun cintanya akan terus hidup dalam hati keluarga dan semua orang yang pernah mengenalnya. Ajie Darmaji dan anak-anaknya akan terus berjuang, menjadikan kenangan Mpok Alpa sebagai sumber inspirasi dan kekuatan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.