0

Duh! Balotelli Kena Rasisme di Liga UEA, Akui Diejek Mirip Monyet dan Disuruh Makan Pisang

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Pengalaman pahit kembali menghampiri striker kawakan Mario Balotelli. Belum genap setahun merumput di Liga Uni Emirat Arab (UEA) bersama klub Al Ittifaq, "Super Mario" julukannya, telah merasakan getirnya aksi rasisme dari suporter tim lawan. Insiden ini terjadi setelah laga kontra Dubai City, di mana Balotelli mengaku menjadi sasaran ejekan bernada rasial yang menyakitkan. Mantan bintang AC Milan dan Liverpool ini mengungkapkan kekecewaannya dan menegaskan bahwa tindakan semacam itu sama sekali tidak dapat ditoleransi di dunia sepak bola.

Mario Balotelli, yang bergabung dengan Al Ittifaq pada Januari 2026, baru saja menorehkan sejarah sebagai pemain yang pernah membela belasan klub di berbagai liga top Eropa sebelum akhirnya menjajal panggung Timur Tengah. Keputusannya untuk melanjutkan karier di UEA setelah periode singkat di Genoa menandai babak baru dalam perjalanan panjangnya di dunia sepak bola profesional. Namun, antusiasme untuk memulai petualangan baru ini sedikit ternoda oleh insiden yang sangat tidak menyenangkan. Balotelli, yang memiliki latar belakang keturunan Afrika, telah berulang kali menghadapi diskriminasi rasial sepanjang kariernya, namun ia berharap lingkungan baru ini akan berbeda.

Menurut laporan dari Tribuna, Balotelli secara terbuka menyatakan keluh kesahnya mengenai serangan rasis yang diterimanya. Ejekan tersebut tidak hanya sekadar suara, tetapi juga disertai dengan tindakan yang sangat merendahkan martabatnya sebagai seorang manusia dan atlet. "Selama laga, saya diserang beberapa kali. Mereka menirukan suara monyet dan berteriak ‘makan pisang’," ungkap Balotelli dengan nada prihatin. Pernyataan ini menggambarkan betapa parahnya ejekan yang dilontarkan, yang secara eksplisit merujuk pada stereotip rasial yang merendahkan.

Balotelli menambahkan, "Saya sudah pernah mengalaminya, tapi tidak menyangka akan terjadi di sini. Semoga ada aksi nyata atas hal tersebut." Pernyataan ini menunjukkan bahwa ia tidak asing dengan fenomena rasisme dalam sepak bola, namun ia sangat menyayangkan bahwa hal serupa masih terus terjadi, bahkan di liga yang ia anggap sebagai tempat baru untuk berkarya. Ia berharap agar insiden ini tidak hanya berlalu begitu saja, melainkan mendorong adanya tindakan nyata dari pihak terkait, baik itu klub, federasi sepak bola UEA, maupun otoritas liga untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa depan.

Lebih lanjut, Balotelli menyayangkan kejadian tersebut dan menegaskan pandangannya bahwa rasisme seharusnya tidak memiliki tempat di dunia sepak bola. Sebagai seorang pemain profesional yang telah malang melintang di berbagai kompetisi internasional, ia memiliki pemahaman yang mendalam tentang dampak negatif rasisme terhadap individu dan olahraga secara keseluruhan. "Tidak ada tempat bagi rasisme di sepak bola. Itu tidak bisa dibenarkan," tegasnya dengan penuh keyakinan. Pernyataan ini adalah seruan keras agar seluruh elemen sepak bola, mulai dari pemain, pelatih, suporter, hingga pengurus, bersatu padu untuk memberantas segala bentuk diskriminasi.

Mario Balotelli tidak hanya berbicara untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk mewakili jutaan pemain lain yang mungkin pernah atau masih mengalami perlakuan rasis. "Saya bersuara bukan untuk diri saya sendiri tetapi untuk setiap pemain yang mengalaminya. Sudah cukup," tutupnya dengan tegas. Pesan ini menggarisbawahi bahwa perjuangan melawan rasisme adalah perjuangan kolektif. Ia ingin memberikan dukungan kepada mereka yang merasa tidak berdaya dan mendorong agar suara mereka didengar. Balotelli berharap dengan keberaniannya bersuara, akan ada kesadaran yang lebih besar dan tindakan yang lebih efektif untuk menciptakan lingkungan sepak bola yang lebih inklusif dan menghargai keberagaman.

Rasisme dalam sepak bola adalah masalah global yang kompleks dan telah lama menjadi sorotan. Insiden yang menimpa Balotelli ini kembali mengingatkan kita akan betapa panjangnya jalan yang harus ditempuh untuk mencapai sepak bola yang bebas dari diskriminasi. Sejarah mencatat banyak kasus rasisme yang menimpa pemain kulit hitam, mulai dari ejekan bernada binatang, lemparan pisang, hingga nyanyian dan spanduk bernada hinaan. Fenomena ini tidak hanya menyakiti individu yang menjadi korban, tetapi juga mencoreng citra olahraga yang seharusnya menjunjung tinggi sportivitas dan persatuan.

Penting untuk dicatat bahwa Balotelli bukanlah pemain pertama yang menjadi korban rasisme di liga UEA. Meskipun liga ini dikenal sebagai destinasi yang menarik bagi banyak pemain top dunia, insiden rasisme sesekali masih mencuat ke permukaan. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada upaya untuk meningkatkan standar sepak bola dan menciptakan lingkungan yang aman, akar rasisme masih perlu diberantas secara tuntas. Dukungan dari federasi sepak bola UEA dan FIFA sangat krusial dalam menindak tegas pelaku rasisme dan memberikan sanksi yang berat agar efek jera tercipta.

Dalam konteks ini, peran suporter menjadi sangat vital. Suporter adalah denyut nadi sepak bola, namun ketika energi mereka disalahgunakan untuk menyebarkan kebencian dan diskriminasi, dampaknya bisa sangat merusak. Edukasi kepada suporter tentang pentingnya menghargai perbedaan dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan harus terus digalakkan. Kampanye anti-rasisme yang konsisten dan masif dapat membantu mengubah pola pikir dan perilaku, menciptakan budaya sepak bola yang lebih positif dan inklusif.

Lebih jauh, klub-klub sepak bola juga memiliki tanggung jawab besar dalam memerangi rasisme. Mereka perlu memiliki kebijakan yang jelas terhadap tindakan rasisme, baik yang dilakukan oleh pemain, staf, maupun suporter mereka sendiri. Pemberian sanksi yang tegas kepada anggota klub yang terlibat dalam aksi rasisme akan mengirimkan pesan kuat bahwa klub tidak mentolerir perilaku semacam itu. Selain itu, klub juga bisa berperan aktif dalam kampanye anti-rasisme dan mempromosikan nilai-nilai keberagaman di dalam dan di luar lapangan.

Pernyataan Balotelli yang menegaskan bahwa "sudah cukup" merupakan refleksi dari rasa lelah dan frustrasi yang mendalam terhadap fenomena rasisme yang terus berulang. Ini adalah panggilan untuk bertindak, bukan hanya bagi para pesepak bola, tetapi juga bagi seluruh pemangku kepentingan di dunia olahraga dan masyarakat luas. Perjuangan melawan rasisme adalah perjuangan yang panjang dan membutuhkan komitmen berkelanjutan dari semua pihak. Dengan bersatu padu, kita dapat menciptakan lingkungan sepak bola yang benar-benar mencerminkan nilai-nilai sportivitas, rasa hormat, dan persatuan, di mana setiap individu, terlepas dari latar belakangnya, dapat merasa aman dan dihargai. Insiden yang menimpa Mario Balotelli ini harus menjadi momentum untuk introspeksi dan aksi nyata demi masa depan sepak bola yang lebih baik.