BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Komedian Indra Frimawan menjadi sorotan dan menerima banyak cibiran dari warganet setelah diduga melakukan tindakan tidak pantas terhadap Fajar Sadboy. Kejadian tersebut terjadi saat keduanya menjadi bintang tamu dalam podcast "Close The Door" yang dipandu oleh Deddy Corbuzier. Momen kontroversial ini terungkap di menit ke-45 tayangan video, yang kemudian memicu reaksi keras dari publik di media sosial, khususnya kolom komentar unggahan Instagram milik Indra Frimawan.
Video yang beredar memperlihatkan interaksi antara Indra Frimawan dan Fajar Sadboy. Diskusi antara keduanya berawal dari pertanyaan Indra mengenai siapa saja podcaster favorit Fajar Sadboy. Indra penasaran dengan respons para host podcast terhadap Fajar. Fajar menjawab bahwa semua podcaster favorit baginya, tanpa terkecuali. Ketika Deddy Corbuzier menanyakan apakah Indra Frimawan sendiri termasuk favorit Fajar di podcast "Logika", Fajar mengiyakan. Namun, Indra merasa tidak demikian, menimbulkan sedikit perdebatan ringan. Indra berargumen bahwa jika semua adalah favorit, maka tidak ada yang benar-benar spesial, menggunakan analogi martabak telor. Fajar kemudian membalas dengan santai, menyatakan bahwa Indra tidak salah, melainkan "salah kan di Liverpool", mengacu pada dunia sepak bola.

Setelah perdebatan singkat itu, adegan yang menjadi viral pun terjadi. Indra Frimawan terlihat seperti melakukan gerakan meludahi Fajar Sadboy. Reaksi Fajar sontak menutup hidung dan mulutnya, seolah-olah terkena ludah. Adegan inilah yang kemudian memicu kemarahan besar dari para penonton. Banyak yang menganggap tindakan Indra sangat tidak sopan dan tidak pantas, apalagi dilakukan di depan umum dan dalam sebuah acara yang disaksikan banyak orang. Komentar-komentar pedas langsung membanjiri akun media sosial Indra Frimawan. Berbagai akun memberikan teguran keras, menyoroti etika dan sikap Indra yang dianggap buruk. Salah satu komentar berbunyi, "ATTITUDE LU BAGUSIN CUNGKRING," yang menunjukkan kekecewaan terhadap perilaku Indra. Komentar lain menyatakan, "Mau vidio nya dipotong apa engga. Tetep lawakan ngeludah ga masuk di gw secara pribadi," menunjukkan bahwa terlepas dari konteksnya, tindakan tersebut tetap dianggap tidak layak.
Netizen lainnya mengungkapkan rasa kesal dan tidak mengerti mengapa Indra melakukan hal tersebut. "kenapa begitu sih kesel deh," tulis seorang pengguna. Ada pula yang berpendapat bahwa lelucon yang melibatkan meludahi orang lain adalah tindakan yang menyakitkan, terutama ketika melibatkan perbedaan usia dan kedudukan. "NGELUDAHIN BAGIAN DR JOKES YA.. SAKIT SIH EMANG.. UDAH JELAS JELAS DISINI 2 ORANG DEWASA SEDANG NGEBULLY ANAK KECIL YANH GAK SEPADAN SAMA MEREKA.. PECUNDANG," ungkap seorang netizen dengan nada yang sangat keras, menuduh Indra dan Deddy melakukan perundungan terhadap Fajar yang dianggap masih muda. Perbandingan dengan "pemain bokap" yang disebutkan Fajar juga menjadi bahan perbincangan, namun inti dari kontroversi tetap pada tindakan meludah tersebut.
Kejadian ini berawal dari perbincangan mengenai penampilan Fajar Sadboy di podcast "Logika Frimawan" pada 9 November 2025. Indra Frimawan sempat mengungkapkan rasa lelahnya mengobrol dengan Fajar, karena Fajar dinilainya tidak memberikan feedback atau membuat pernyataan aneh, hanya menerima saja. "Gue capek benaran Om (melihat Fajar), sumpah dah. Biasanya, kalau gue ngobrol sama bintang tamu kan ada feedback ya. Entah itu meluruskan pertanyaan gue atau sekalian bikin statement aneh. Nah kalau dia (Fajar) gak dua-duanya," ungkap Indra Frimawan dalam cuplikan yang berbeda. Ungkapan Indra ini mungkin menjadi latar belakang dari dinamika perbincangan yang kemudian berujung pada insiden tersebut.

Perlu dicatat bahwa hingga berita ini ditulis, detikcom telah berusaha menghubungi Indra Frimawan untuk mendapatkan klarifikasi lebih lanjut mengenai kejadian ini, namun belum mendapatkan tanggapan. Ketidakjelasan dari pihak Indra membuat spekulasi dan opini publik semakin liar. Banyak yang beranggapan bahwa tindakan tersebut murni bentuk penghinaan, sementara yang lain mungkin mencoba mencari konteks komedi yang gagal dipahami atau diterima oleh audiens. Namun, secara umum, reaksi yang muncul adalah kecaman dan kritik tajam terhadap etika berkomedi Indra Frimawan. Netizen menuntut agar Indra memperbaiki sikap dan perilakunya, terutama dalam interaksi dengan orang lain.
Popularitas Fajar Sadboy yang belakangan ini meroket memang membuatnya menjadi sosok yang kerap diundang di berbagai acara hiburan. Namun, popularitas ini juga membawa risiko menjadi objek perundungan atau lelucon yang berlebihan. Kejadian ini menimbulkan pertanyaan tentang batasan-batasan dalam bercanda, terutama ketika melibatkan perbedaan usia dan pengalaman. Apakah sebuah lelucon yang dianggap lucu oleh satu pihak bisa berujung pada rasa sakit hati atau penghinaan bagi pihak lain? Dalam kasus ini, mayoritas netizen tampaknya berpendapat demikian. Tindakan Indra Frimawan dianggap melampaui batas humor yang sehat dan masuk ke ranah perilaku yang tidak dapat dibenarkan.
Pihak Deddy Corbuzier sendiri belum memberikan komentar resmi terkait insiden yang terjadi di podcastnya. Sebagai pembawa acara, Deddy seringkali menjadi penengah atau penanggap terhadap dinamika yang terjadi di antara bintang tamunya. Namun, dalam kasus ini, fokus perhatian publik tertuju pada tindakan Indra Frimawan dan reaksi Fajar Sadboy. Ketiadaan intervensi atau klarifikasi dari Deddy juga menjadi salah satu hal yang mungkin dinantikan oleh sebagian penonton. Apakah Deddy akan memberikan penjelasan mengenai kejadian tersebut atau membiarkannya berlalu sebagai bagian dari dinamika podcastnya? Waktu yang akan menjawab.

Reaksi keras netizen ini menunjukkan bahwa kesadaran publik terhadap isu etika dan sopan santun di ruang publik, termasuk di dunia maya dan hiburan, semakin meningkat. Masyarakat tidak lagi ragu untuk menyuarakan ketidaksetujuannya terhadap perilaku yang dianggap merendahkan atau tidak pantas. Kasus Indra Frimawan dan Fajar Sadboy ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi para pelaku industri hiburan mengenai pentingnya menjaga batasan dan menghormati orang lain, bahkan dalam konteks bercanda sekalipun. Lelucon yang sehat adalah lelucon yang tidak menyakiti, merendahkan, atau menyinggung perasaan orang lain.
Penting untuk diingat bahwa konten yang diunggah di platform digital memiliki jangkauan yang sangat luas dan dapat diakses oleh berbagai kalangan usia. Oleh karena itu, setiap tindakan yang dilakukan oleh figur publik, terutama yang berpotensi menimbulkan kontroversi, akan selalu mendapat sorotan. Indra Frimawan, sebagai seorang komedian, memiliki tanggung jawab untuk memberikan hiburan yang positif dan tidak merugikan. Insiden ini menjadi pukulan telak bagi citra profesionalnya dan menuntutnya untuk introspeksi diri serta melakukan perbaikan.
Dalam dunia yang semakin terhubung melalui media sosial, satu tindakan dapat dengan cepat menyebar dan menimbulkan gelombang opini publik. Oleh karena itu, penting bagi setiap individu, terutama figur publik, untuk selalu berhati-hati dalam bertindak dan berbicara. Kejadian ini juga mengingatkan kita bahwa di balik layar sebuah acara hiburan, ada banyak aspek yang perlu dipertimbangkan, termasuk dampak emosional dan psikologis terhadap semua pihak yang terlibat.

Ke depannya, diharapkan Indra Frimawan dapat memberikan klarifikasi yang memadai dan menunjukkan penyesalan jika memang tindakannya dianggap salah oleh banyak pihak. Permintaan maaf yang tulus dan tindakan nyata untuk memperbaiki diri akan menjadi langkah penting dalam memulihkan kepercayaan publik. Sementara itu, Fajar Sadboy, yang kerap menjadi sasaran lelucon, juga perlu mendapat dukungan agar tetap dapat berkarya tanpa merasa terintimidasi atau direndahkan. Dunia hiburan Indonesia perlu terus bertumbuh ke arah yang lebih positif, mengedepankan nilai-nilai moral dan etika yang baik.
Analisis lebih lanjut dari video tersebut menunjukkan bahwa ekspresi Fajar Sadboy setelah diduga diludahi memang terlihat kaget dan sedikit terganggu. Ia segera menutup hidung dan mulutnya, yang mengindikasikan bahwa ia merasa terkena sesuatu yang tidak diinginkan. Meskipun Indra Frimawan mungkin menganggapnya sebagai bagian dari skenario atau lelucon, reaksi Fajar dan netizen menunjukkan bahwa interpretasi tersebut tidak berjalan sesuai harapan. Kesenjangan antara niat dan persepsi inilah yang seringkali menjadi sumber masalah dalam interaksi sosial, terutama di depan publik.
Dampak dari kejadian ini tidak hanya dirasakan oleh Indra Frimawan dan Fajar Sadboy, tetapi juga oleh tim produksi podcast "Close The Door" dan Deddy Corbuzier sendiri. Sebagai platform yang menayangkan konten tersebut, mereka juga ikut terseret dalam pusaran kritik. Hal ini menunjukkan bahwa setiap elemen dalam produksi konten memiliki tanggung jawab kolektif untuk memastikan bahwa konten yang disajikan aman, etis, dan tidak menimbulkan dampak negatif yang luas.

Harapan terbesar dari kasus ini adalah agar menjadi pembelajaran bagi semua pihak. Bagi para kreator konten, penting untuk selalu mengedepankan integritas dan empati. Bagi penonton, penting untuk memberikan kritik yang membangun dan tidak terjebak dalam ujaran kebencian. Dan bagi industri hiburan secara keseluruhan, penting untuk terus berinovasi dengan cara-cara yang positif dan bertanggung jawab. Kasus Indra Frimawan dan Fajar Sadboy ini, meski kontroversial, setidaknya telah memicu diskusi penting mengenai etika berkomedi dan interaksi antarmanusia di era digital ini.

