0

Habiskan Anggaran Rp 5 Miliar, BYD Atto 3 Jadi Mobil Dinas Pejabat hingga Camat di Banjarmasin

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Pemerintah Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, mengambil langkah signifikan dalam modernisasi armada kendaraan dinasnya dengan memilih BYD Atto 3 sebagai mobil operasional bagi Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) hingga tingkat camat. Keputusan ini tertuang dalam pengadaan 21 unit mobil listrik yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2026, dengan alokasi dana mencapai Rp 5 miliar. Keberadaan armada baru ini diharapkan dapat menunjang mobilitas para pejabat eselon di lingkungan Pemkot Banjarmasin dalam menjalankan tugas-tugas kedinasan.

Langkah Pemkot Banjarmasin ini bukan sekadar pembaruan kendaraan, melainkan sebuah investasi strategis yang didasari oleh pertimbangan efisiensi anggaran dalam jangka panjang. Melalui akun Instagram resminya, @pemko_banjarmasin, pihak pemerintah kota menegaskan bahwa pengadaan mobil listrik ini bukanlah tindakan "gaya-gayaan", melainkan sebuah langkah nyata menuju efisiensi dan komitmen terhadap penggunaan energi bersih. Pernyataan ini menggarisbawahi visi Pemkot Banjarmasin untuk tidak hanya meningkatkan kinerja pelayanan publik, tetapi juga berkontribusi pada kelestarian lingkungan.

Alasan di balik pemilihan mobil listrik, khususnya BYD Atto 3, cukup mendasar dan sangat relevan dengan kebutuhan operasional serta tuntutan zaman. Salah satu keuntungan utama yang dipertimbangkan adalah minimnya perawatan rutin yang diperlukan dibandingkan dengan kendaraan konvensional. Mobil listrik tidak memerlukan penggantian oli mesin, busi, atau filter udara secara berkala, karena komponen geraknya jauh lebih sedikit. Hal ini secara otomatis akan mengurangi biaya operasional dan waktu perawatan yang terbuang, sehingga anggaran yang tadinya dialokasikan untuk perawatan dapat dialihkan ke sektor lain yang lebih prioritas. Lebih jauh lagi, keputusan ini selaras dengan komitmen pemerintah Indonesia dalam transisi energi nasional, yang bertujuan untuk menciptakan kualitas udara perkotaan yang lebih bersih dan sehat.

Untuk memastikan ekosistem kendaraan listrik berjalan lancar, Pemkot Banjarmasin telah menjalin kerja sama strategis dengan PT PLN (Persero). Kolaborasi ini mencakup penyediaan infrastruktur pengisian daya yang memadai, baik di lingkungan perkantoran maupun di lokasi-lokasi strategis lainnya di Kota Banjarmasin. Ketersediaan stasiun pengisian daya yang mudah diakses menjadi kunci utama dalam memastikan para pejabat dapat menggunakan kendaraan dinas listrik ini tanpa kendala. Kerja sama dengan PLN ini menunjukkan kesiapan Pemkot Banjarmasin dalam mengadopsi teknologi ramah lingkungan secara komprehensif.

BYD Atto 3 sendiri merupakan salah satu pemain yang cukup kompetitif di pasar kendaraan listrik Indonesia. Mobil ini menawarkan beberapa varian yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan anggaran. Di pasar domestik, BYD Atto 3 ditawarkan dalam dua opsi harga, di mana varian termurahnya dibanderol sekitar Rp 199 juta, sementara varian termahal mencapai Rp 235 juta (harga on the road Jakarta). Perbedaan harga ini umumnya dipengaruhi oleh kapasitas baterai dan fitur yang ditawarkan.

Varian BYD Atto 3 yang lebih terjangkau dilengkapi dengan baterai berkapasitas 30,08 kWh. Kapasitas baterai ini mampu memberikan jarak tempuh yang cukup memadai, yaitu sekitar 300 kilometer dalam sekali pengisian daya penuh. Jarak tempuh ini sudah lebih dari cukup untuk aktivitas operasional sehari-hari para pejabat di lingkungan perkotaan Banjarmasin. Sementara itu, varian termahal dari BYD Atto 3 hadir dengan baterai yang lebih besar, berkapasitas 38,88 kWh. Dengan baterai yang lebih besar ini, jarak tempuh yang ditawarkan pun meningkat secara signifikan, mencapai 380 kilometer. Peningkatan jarak tempuh ini memberikan keleluasaan lebih bagi para pejabat, terutama jika mereka harus melakukan perjalanan dinas yang lebih jauh atau ke wilayah yang sedikit terpencil.

Salah satu fitur unggulan BYD Atto 3 yang sangat relevan dengan penggunaan operasional adalah ketersediaan opsi pengisian daya cepat atau DC charging. Fitur ini memungkinkan baterai mobil terisi daya hingga 80% dalam waktu yang relatif singkat, bahkan mungkin hanya dalam hitungan puluhan menit, tergantung pada infrastruktur pengisian daya yang digunakan. Kemampuan fast charging ini sangat krusial bagi kendaraan operasional yang seringkali membutuhkan kesiapan tinggi dan minim waktu henti. Jika mobil dinas perlu diisi daya di tengah kesibukan, opsi fast charging akan sangat membantu agar kendaraan dapat segera kembali digunakan.

Pengadaan BYD Atto 3 sebagai mobil dinas ini juga mencerminkan upaya Pemkot Banjarmasin untuk menjadi pionir dalam adopsi kendaraan listrik di tingkat pemerintahan daerah. Dengan menjadi salah satu kota yang pertama kali mengimplementasikan penggunaan mobil listrik secara luas untuk operasional pejabat, Banjarmasin berpotensi menjadi contoh dan inspirasi bagi kota-kota lain di Indonesia. Hal ini juga dapat mendorong pengembangan industri kendaraan listrik di tanah air, baik dari sisi produksi maupun infrastruktur pendukung.

Lebih jauh lagi, penggunaan kendaraan listrik seperti BYD Atto 3 memiliki dampak positif yang lebih luas terhadap kualitas udara perkotaan. Emisi gas buang nol dari kendaraan listrik berkontribusi langsung pada pengurangan polusi udara, yang pada gilirannya akan meningkatkan kesehatan masyarakat. Udara yang lebih bersih juga akan menciptakan lingkungan yang lebih nyaman dan sehat bagi seluruh warga Banjarmasin. Ini adalah manifestasi nyata dari komitmen pemerintah daerah terhadap pembangunan berkelanjutan dan kesejahteraan warganya.

Keputusan untuk menginvestasikan Rp 5 miliar dalam 21 unit BYD Atto 3 ini menunjukkan bahwa Pemkot Banjarmasin melihat potensi besar dalam teknologi kendaraan listrik. Anggaran sebesar itu, jika dihitung per unitnya, berkisar antara Rp 238 juta hingga Rp 285 juta per unit, sedikit di atas kisaran harga on the road Jakarta yang disebutkan. Perbedaan ini bisa jadi disebabkan oleh biaya tambahan seperti pengurusan surat-surat kendaraan di daerah, pengadaan aksesoris khusus untuk operasional dinas, atau bahkan negosiasi harga khusus untuk pengadaan skala besar. Namun, yang terpenting adalah justifikasi di balik pengeluaran tersebut, yaitu efisiensi jangka panjang dan komitmen lingkungan.

BYD Atto 3 sendiri bukan sekadar mobil listrik biasa. Ia dirancang dengan teknologi terkini dan fitur-fitur modern yang menunjang kenyamanan dan keamanan penggunanya. Interiornya dirancang ergonomis, dilengkapi dengan sistem hiburan yang canggih, dan berbagai fitur keselamatan aktif maupun pasif. Hal ini memastikan bahwa para pejabat dapat menjalankan tugasnya dengan nyaman dan aman, bahkan saat melakukan perjalanan jarak jauh. Kualitas material yang digunakan juga menunjukkan bahwa BYD Atto 3 adalah kendaraan yang dibangun untuk ketahanan dan kenyamanan.

Implementasi kebijakan ini juga diharapkan dapat memberikan edukasi dan kesadaran kepada masyarakat luas mengenai manfaat dan kelayakan penggunaan kendaraan listrik. Ketika pejabat publik menggunakan kendaraan listrik, hal ini dapat menjadi simbol nyata dari perubahan positif yang sedang diupayakan oleh pemerintah. Hal ini juga dapat mendorong masyarakat untuk mulai mempertimbangkan kendaraan listrik sebagai pilihan transportasi pribadi di masa depan, seiring dengan semakin berkembangnya infrastruktur pengisian daya dan variasi model kendaraan listrik yang tersedia.

Secara keseluruhan, pengadaan 21 unit BYD Atto 3 oleh Pemkot Banjarmasin dengan anggaran Rp 5 miliar merupakan sebuah langkah progresif yang patut diapresiasi. Keputusan ini mencerminkan visi jangka panjang yang kuat, didukung oleh pemahaman mendalam mengenai manfaat efisiensi, lingkungan, dan teknologi. Dengan dukungan dari PLN dan komitmen yang jelas, Banjarmasin berpotensi menjadi pelopor dalam elektrifikasi armada kendaraan dinas di Indonesia, sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi kelestarian lingkungan dan peningkatan kualitas hidup warganya. Ini adalah contoh bagaimana investasi publik dapat diarahkan untuk mencapai tujuan ganda, yaitu efisiensi anggaran dan keberlanjutan lingkungan.