0

Tangis Ammar Zoni di Hadapan Pacar, Emosi Anak Disebut dalam Ruang Sidang

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Ammar Zoni, yang selama ini dikenal sebagai sosok tegar, tak kuasa menahan air mata yang membasahi pipinya di hadapan orang-orang terdekatnya. Tangisnya pecah seketika, disaksikan oleh kekasihnya, dokter Kamelia, dan ibu angkatnya, Titik Haryanti, yang duduk tak jauh darinya di ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada Kamis, 12 Februari 2026. Momen emosional ini terjadi sesaat setelah Ammar Zoni mendengarkan kesaksian dari Kanit Reskrim Polsek Cempaka Putih, AKP Yossy Januar. Ia tampak begitu terpukul dan hancur hati mendengar pernyataan saksi yang dianggapnya telah melabelinya sebagai pengedar narkoba, serta yang paling menyakitkan, menyebutkan nama anaknya dalam persidangan.

"Maksudnya terlalu banget, mereka mentang-mentang mereka mempunyai nama gitu, dari kepolisian gimana gitu. Makanya aku benar-benar kayak difitnah banget gitu. Masalah aku apa sih gitu loh," ujar Ammar Zoni, suaranya tercekat oleh isak tangis yang tak terbendung. Air matanya terus mengalir, membasahi wajahnya yang kini terlihat sangat lelah dan rapuh. Di sampingnya, dokter Kamelia tampak berusaha menenangkan, sementara Titik Haryanti menunjukkan ekspresi prihatin yang mendalam. Bagi Ammar Zoni, setahun terakhir ini adalah perjalanan hidup yang penuh dengan cobaan berat. Kehilangan karier yang telah ia bangun dengan susah payah, berakhirnya rumah tangga dengan Irish Bella, dan kini harus menghadapi kenyataan pahit mendekam di balik jeruji besi karena empat kasus narkoba yang serupa, membuatnya merasa seolah-olah tak ada lagi yang tersisa dari dirinya.

"Maksudnya apa gitu kaya jahat banget gitu. Aku udah diginiin, aku udah rusak, udah hancur semuanya, apa sih masih masih pengen dihancurin terus, hidup aku pengen dihancurin terus," ucapnya lirih, nada suaranya dipenuhi keputusasaan. Ia merasa diperlakukan dengan sangat tidak adil. Beban hidup yang ia pikul terasa semakin berat, ditambah lagi dengan tekanan psikologis yang luar biasa di ruang sidang. Setiap kata yang terucap dari saksi seolah menambah luka di hatinya yang sudah tergores dalam. Ia tak mengerti mengapa ia harus terus menerus dihancurkan ketika ia merasa sudah kehilangan segalanya. Kehidupan pribadinya, kariernya, dan rumah tangganya telah hancur berantakan.

Puncak amarah dan kesedihan Ammar Zoni meledak saat saksi mulai menyerempet urusan keluarga dan membawa-bawa nama anaknya dalam persidangan. Sebagai seorang ayah yang sangat menyayangi anak-anaknya, Ammar Zoni merasa harga dirinya diinjak-injak dan martabatnya direndahkan ketika label pengedar narkoba dikaitkan dengan perannya sebagai seorang ayah. Baginya, ini adalah pukulan telak yang paling menyakitkan. Ia tidak bisa mentolerir jika keluarganya, terutama anak-anaknya, harus ikut terseret dalam masalah hukum yang sedang ia hadapi.

"Bawa-bawa keluarga, bawa anak gitu, dibilang aku bandar," ucapnya dengan nada suara yang bergetar, menunjukkan betapa dalamnya luka yang ia rasakan. Ia merasa terpojok dan tidak berdaya. Label "bandar" yang disematkan padanya terasa sangat tidak pantas, terlebih lagi ketika dikaitkan dengan anak-anaknya. Hal ini merusak citra dirinya sebagai seorang ayah dan menggoyahkan fondasi moralnya. Ia merasa bahwa saksi telah melampaui batas dan melakukan fitnah yang keji.

Kasus ini memang menjadi babak paling berat dalam kehidupan Ammar Zoni. Ia didakwa terlibat dalam jaringan pengedar narkoba di dalam Lapas Salemba. Fakta ini tentu saja sangat mengejutkan publik, mengingat citra Ammar Zoni sebagai seorang aktor yang memiliki banyak penggemar. Ia sempat dikirim ke Lapas High Risk Nusakambangan, sebuah penjara dengan keamanan super ketat, sebelum akhirnya dititipkan di Lapas Narkotika Cipinang demi kelancaran jalannya persidangan. Keputusan pemindahan lapas ini menunjukkan betapa seriusnya kasus yang sedang ia hadapi dan betapa besar perhatian pihak berwenang terhadapnya.

Perjalanan Ammar Zoni dalam kasus ini tidaklah mudah. Ia harus menghadapi berbagai macam tahapan hukum, mulai dari penyelidikan, penyidikan, hingga persidangan. Setiap tahapan pasti menimbulkan tekanan mental dan fisik yang luar biasa. Ditambah lagi dengan sorotan publik yang intens, Ammar Zoni harus berjuang keras untuk menghadapi semua ini. Ia merasa seperti sedang berada di ujung tanduk, di mana setiap keputusan dan pernyataan memiliki dampak besar terhadap masa depannya.

Di tengah segala kesulitan yang ia alami, Ammar Zoni hanya bisa berharap pada palu hakim yang akan segera menentukan nasibnya pada akhir sidang nanti. Ia berharap keadilan akan ditegakkan dan ia akan mendapatkan keringanan hukuman. Ia ingin membuktikan bahwa ia bukanlah sosok jahat seperti yang dituduhkan, dan bahwa ia memiliki penyesalan yang mendalam atas perbuatannya. Keinginannya untuk kembali ke kehidupan normal, bertemu kembali dengan anak-anaknya, dan membangun kembali hidupnya menjadi motivasi terbesarnya.

Di ruang sidang yang penuh ketegangan itu, tangisan Ammar Zoni bukan hanya sekadar luapan emosi sesaat, melainkan cerminan dari rasa sakit, penyesalan, dan harapan yang bercampur aduk. Ia telah melalui masa-masa terkelam dalam hidupnya, dan kini ia tengah menanti keputusan yang akan menentukan arah masa depannya. Keberadaan kekasih dan ibu angkatnya di sisi memberikan sedikit kekuatan, namun luka yang tertoreh akibat tuduhan dan sebutan yang dilontarkan di persidangan terasa begitu dalam.

Lebih jauh lagi, kasus ini membuka mata banyak pihak tentang kompleksitas kehidupan di balik layar industri hiburan. Ammar Zoni, yang dikenal dengan paras tampan dan karier gemilang, ternyata menyimpan sisi kelam yang kini harus ia hadapi di pengadilan. Pengakuannya tentang kehidupannya yang "rusak" dan "hancur" menunjukkan betapa besar tekanan yang ia rasakan, baik dari masalah pribadi maupun profesional. Ia merasa telah kehilangan segalanya, dan tuduhan yang dilontarkan di persidangan semakin memperberat bebannya.

Keputusan untuk membawa-bawa nama anak dalam persidangan adalah tindakan yang sangat sensitif dan berpotensi menimbulkan trauma mendalam bagi anak tersebut. Ammar Zoni yang dikenal sangat peduli pada anak-anaknya tentu saja sangat terluka dengan hal ini. Hal ini menunjukkan bahwa persidangan bukan hanya sekadar proses hukum, tetapi juga melibatkan aspek emosional dan psikologis yang sangat kompleks bagi semua pihak yang terlibat, terutama bagi terdakwa yang memiliki tanggungan keluarga.

Kini, harapan Ammar Zoni tertuju pada keadilan yang akan diputuskan oleh majelis hakim. Ia ingin diberi kesempatan untuk memperbaiki diri dan membuktikan bahwa ia masih memiliki harapan untuk masa depan yang lebih baik. Kisah Ammar Zoni menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap dunia hiburan, ada kisah-kisah pribadi yang penuh perjuangan, dan bahwa setiap individu memiliki sisi gelap yang mungkin tersembunyi. Keputusan hakim akan menjadi penentu nasibnya dan memberikan gambaran akhir dari babak kelam dalam kehidupannya.