BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Dunia perfilman Indonesia kembali kedatangan karya monumental yang siap mengguncang rasa penasaran penonton. Film "Setan Alas!", sebuah produksi kolaborasi antara Sekolah Vokasi UGM dan Akasacara Film, dijadwalkan akan tayang serentak di seluruh bioskop Tanah Air pada tanggal 5 Maret 2026. Namun, sebelum menyapa publik secara luas, film ini telah menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih tiga penghargaan bergengsi dalam ajang JAFF Indonesian Screen Awards di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2023. Tiga kategori yang berhasil disabet adalah Best Film, Best Storytelling, dan Best Editing, membuktikan kualitas artistik dan naratif yang mumpuni dari karya ini. Keberhasilan ini menjadi angin segar dan penanda bahwa genre horor Indonesia semakin matang dan mampu bersaing di kancah internasional.
Kiprah sutradara Yusron Fuadi dalam genre horor bukanlah hal baru. Sebelumnya, ia telah sukses menggarap film-film yang mengusung pendekatan meta-horor, seperti "Tengkorak" (2018), "Darah Nyai" (2025), dan "Keadilan" (2025). Pendekatan meta-horor ini merujuk pada film yang tidak hanya menyajikan elemen-elemen seram secara konvensional, tetapi juga mengupas lebih dalam tentang makna di balik ketakutan itu sendiri, seringkali dengan sentuhan ironi atau refleksi kritis terhadap genre horor itu sendiri. Dalam konferensi pers yang diadakan di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, Yusron Fuadi menjelaskan visi artistiknya di balik "Setan Alas!". "Setan Alas! tidak hanya sebuah cerita yang menakut-nakuti. Saya ingin penonton tertawa, berpikir, dan menyadari bahwa rasa takut sering kali lahir dari cara kita memandang sesuatu," ujar Yusron Fuadi. Pernyataannya ini mengindikasikan bahwa "Setan Alas!" akan menawarkan pengalaman menonton yang multidimensional, menggabungkan elemen kejutan horor dengan humor yang cerdas dan pesan filosofis yang merangsang pemikiran.
Yusron Fuadi lebih lanjut memaparkan bahwa "Setan Alas!" sengaja dirancang untuk menantang ekspektasi penonton terhadap formula film horor yang sudah umum. "Banyak orang merasa sudah tahu pola film horor. Justru di situ kami mencoba berdialog dengan penonton, mempertanyakan kembali pakem yang sudah dianggap biasa," tambahnya. Pernyataan ini menyiratkan bahwa film ini akan bermain dengan klise-klise horor yang sudah familiar, kemudian memutarnya balik atau memberikan kejutan tak terduga yang membuat penonton terdiam sejenak, merenungkan kembali persepsi mereka tentang apa yang seharusnya menakutkan. Proses produksi film ini dimulai pada tahun 2022 dan memakan waktu satu tahun untuk diselesaikan, menunjukkan dedikasi dan ketelitian tim dalam mewujudkan visi kreatif ini.
Sinopsis "Setan Alas!" membentangkan premis yang terdengar klise pada awalnya, namun berpotensi dikembangkan menjadi sesuatu yang jauh lebih kompleks. Cerita berpusat pada sekelompok mahasiswa, Budi (diperankan oleh Haydar Salishz), Ani (Putri Anggi), Iwan (Adhin Abdul Hakim), dan Amir (Winner Wijaya), yang memutuskan untuk menghabiskan waktu liburan di sebuah villa tua yang terpencil. Rencana liburan yang seharusnya menyenangkan ini seketika berubah menjadi mimpi buruk ketika salah satu dari mereka meninggal dunia secara misterius. Kejadian tragis ini memicu gelombang kecurigaan, prasangka, dan interpretasi ketakutan yang berbeda di antara para mahasiswa yang tersisa. Dalam situasi panik, mereka berusaha mencari pertolongan dengan menembus hutan lebat di sekitar villa. Namun, harapan mereka pupus ketika jalan keluar seolah tertutup oleh kekuatan supernatural yang tak terlihat. Amir, salah satu karakter, mulai meyakini bahwa ada kekuatan gelap yang sedang mempermainkan dan memburu mereka satu per satu. Terjebak di lokasi terkutuk tanpa jaminan keselamatan, para mahasiswa ini dipaksa untuk berpikir cepat dan bertarung melawan rasa takut yang semakin menguasai demi mempertahankan hidup mereka.
Potensi "Setan Alas!" untuk melampaui genre horor konvensional semakin terlihat dari pemilihan para aktornya. Film ini dibintangi oleh deretan talenta muda yang menjanjikan, termasuk Adhin Abdul Hakim, Anastasia Herzigova, Haydar Salishz, Winner Wijaya, Ibrahim Alhami, dan Putri Anggie. Kehadiran almarhum Ernanto Kusumo dalam salah satu peran juga menambah kedalaman emosional pada film ini. Namun, kejutan terbesar yang dinanti-nantikan adalah penampilan Hanung Bramantyo dalam peran yang tak terduga. Kehadiran sutradara kawakan seperti Hanung Bramantyo, yang dikenal dengan karyanya yang kaya akan nuansa dan makna, dalam peran yang berbeda dari biasanya, tentu akan menambah dimensi menarik dan memberikan nilai tambah pada "Setan Alas!". Kemungkinan besar, Hanung Bramantyo akan memberikan sentuhan khasnya yang mampu mengangkat narasi dan karakter dalam film ini ke level yang lebih tinggi, mungkin sebagai figur misterius atau bahkan sebagai komentator ironis terhadap situasi yang dihadapi para mahasiswa.
Pendekatan meta-horor yang diusung oleh Yusron Fuadi dalam "Setan Alas!" membuka ruang interpretasi yang luas. Ketakutan, dalam konteks film ini, tidak hanya berasal dari kehadiran entitas gaib, tetapi juga dari psikologi manusia itu sendiri: ketakutan akan kematian, ketakutan akan ketidakpastian, ketakutan akan kehilangan kendali, dan yang paling krusial, ketakutan yang lahir dari cara pandang dan prasangka kita. Film ini berpotensi mengeksplorasi bagaimana kepanikan dapat memicu irasionalitas dan membuat individu saling mencurigai, bahkan ketika mereka dihadapkan pada ancaman eksternal yang sama. Hutan yang terpencil dan villa tua yang angker dapat menjadi metafora dari kondisi psikologis para karakter, tempat di mana bayangan ketakutan mereka sendiri mulai mengambil bentuk.
Elemen komedi yang diisyaratkan oleh Yusron Fuadi juga menjadi daya tarik tersendiri. Dalam genre horor, penambahan unsur komedi seringkali dilakukan untuk meredakan ketegangan sesaat atau untuk menciptakan kontras yang mengejutkan. Namun, jika komedi ini dijalin dengan cerdas, ia bisa menjadi alat yang efektif untuk menyoroti absurditas situasi atau untuk menggarisbawahi sifat manusiawi para karakter dalam menghadapi keadaan yang ekstrem. Bayangkan saja, di tengah ancaman kematian yang nyata, para mahasiswa ini justru terlibat dalam dialog-dialog jenaka yang muncul dari kepanikan mereka, atau dari usaha mereka untuk mencari cara keluar yang justru semakin memperkeruh keadaan. Hal ini dapat menciptakan momen-momen yang tidak hanya menyeramkan tetapi juga menghibur dan relatable bagi penonton.
Pentingnya narasi dan dialog dalam "Setan Alas!" juga ditekankan oleh Yusron Fuadi. Dengan mengatakan bahwa film ini ingin "berdialog dengan penonton, mempertanyakan kembali pakem yang sudah dianggap biasa," sutradara ini menunjukkan ambisinya untuk menciptakan sebuah film yang tidak hanya menghibur tetapi juga merangsang diskusi. Film horor seringkali dikritik karena formula yang repetitif dan kurangnya kedalaman karakter. "Setan Alas!" tampaknya berupaya untuk keluar dari jebakan tersebut dengan menawarkan sebuah cerita yang memancing penonton untuk berpikir kritis tentang apa yang membuat mereka takut, dan bagaimana cara mereka merespons ketakutan tersebut. Penggunaan meta-horor juga memungkinkan film ini untuk melakukan kritik terhadap genre horor itu sendiri, menyoroti bagaimana eksploitasi ketakutan terkadang lebih didorong oleh kepentingan komersial daripada keinginan untuk menyampaikan cerita yang bermakna.
Penghargaan yang diraih di JAFF 2023, terutama dalam kategori Best Storytelling dan Best Editing, menjadi bukti nyata bahwa "Setan Alas!" memiliki keunggulan dalam hal narasi dan penyampaian cerita. Best Storytelling menunjukkan bahwa alur cerita film ini mampu memikat dan menggugah, sementara Best Editing mengindikasikan bahwa film ini memiliki ritme yang kuat, transisi yang mulus, dan mampu membangun ketegangan secara efektif. Kemampuan editing yang baik sangat krusial dalam film horor untuk menciptakan atmosfer yang mencekam, mengendalikan tempo adegan, dan memastikan bahwa setiap kejutan atau momen menegangkan tersampaikan dengan maksimal kepada penonton.
Dengan segala potensi yang dimilikinya, "Setan Alas!" bukan sekadar film horor biasa. Ia adalah sebuah eksperimen artistik yang berani, sebuah upaya untuk mendefinisikan ulang batas-batas genre horor Indonesia. Perpaduan antara elemen meta-horor yang cerdas, humor yang tak terduga, dan refleksi mendalam tentang sifat ketakutan manusia, menjadikan film ini sebagai salah satu produksi yang paling dinanti di tahun 2026. Penonton akan diajak untuk tidak hanya berteriak ketakutan, tetapi juga tertawa, merenung, dan mungkin, akhirnya, memahami bahwa "Setan Alas!" yang sesungguhnya mungkin ada di dalam diri kita sendiri, dalam cara kita memandang dunia dan merespons ketakutan yang tak terhindarkan. Tayang perdana pada 5 Maret 2026, "Setan Alas!" siap membuktikan bahwa horor Indonesia memiliki kedalaman dan keberanian untuk mengeksplorasi lebih dari sekadar penampakan hantu.

