0

Keluarga Istri Pertama Tegaskan Pesulap Merah Tak Diizinkan Poligami, Klaim Ada Bukti Kuat

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Nama Pesulap Merah, yang dikenal sebagai Marcel Radhival, kembali menjadi perbincangan hangat di kalangan publik. Kali ini, sorotan tajam tertuju pada pengakuan terbukanya mengenai praktik poligami dengan Ratu Rizky Nabila. Ironisnya, pengakuan ini muncul tak lama setelah istri pertamanya, Tika, tutup usia akibat penyakit kanker mulut yang dideritanya. Tuduhan poligami tanpa restu ini segera memicu reaksi keras dari pihak keluarga almarhumah Tika.

Endang, ibunda almarhumah Tika, dengan tegas membantah keras klaim yang menyebutkan bahwa mendiang putrinya telah memberikan izin untuk melakukan poligami. Menurut penuturan Endang, Marcel sama sekali tidak pernah mengajukan permohonan izin kepada Tika. Lebih mengejutkan lagi, Tika sendiri disebut tidak mengetahui adanya pernikahan kedua yang dijalani oleh suaminya. "Gimana mau izin dong, mendiang juga gak tahu. Jadi dia tuh bohong kalau bilang dapat izin dari istri, itu gak ada," ujar Endang dengan nada tegas saat ditemui di Studio Trans TV pada Selasa, 10 Februari 2026. Pernyataan Endang ini bukan sekadar gertakan, melainkan didukung oleh bukti-bukti kuat yang dimiliki oleh keluarga.

Fariz, adik kandung almarhumah Tika, turut memperkuat pernyataan ibunya. Ia mengungkapkan bahwa keluarga memiliki bukti konkret yang menunjukkan bahwa almarhumah Tika tidak pernah menyetujui atau merestui praktik poligami yang dilakukan oleh Marcel. "Kita punya bukti semuanya, kalau almarhum tuh tidak pernah menyetujui mereka," tegas Fariz, menyiratkan adanya dokumen atau kesaksian yang mendukung klaim mereka. Bukti ini menjadi landasan kuat bagi keluarga untuk membantah narasi yang dibangun oleh Marcel.

Lebih lanjut, Endang menegaskan bahwa praktik poligami tersebut dilakukan secara diam-diam, tanpa sepengetahuan dan persetujuan dari pihak keluarga almarhumah Tika. Ketika ditanya apakah tindakan poligami tersebut dilakukan secara tersembunyi, Endang hanya menjawab singkat dengan "Iya," yang mengindikasikan bahwa segalanya memang dilakukan secara diam-diam tanpa transparansi. Hal ini menambah daftar kekecewaan keluarga terhadap Marcel.

Kekecewaan keluarga tidak berhenti pada isu izin poligami semata. Mereka juga mengungkapkan rasa sakit hati dan kekecewaan mendalam terhadap sikap Marcel pasca mencuatnya isu poligami ini. Endang menyatakan bahwa tidak ada itikad baik, bahkan permintaan maaf sekalipun, yang ditunjukkan oleh menantunya, bahkan hingga proses pemakaman Tika yang seharusnya menjadi momen penuh duka dan penghormatan. "Di saat pemakaman pun Marcel gak menemui ibu. Yang menemui ibu tuh hanya adiknya," ungkap Endang dengan nada pilu. Sikap acuh tak acuh ini semakin memperburuk pandangan keluarga terhadap Marcel.

Puncak kekecewaan keluarga terjadi ketika Marcel dinilai kerap membawa-bawa nama almarhumah Tika dalam berbagai pernyataannya di hadapan publik. Endang merasa sangat terganggu dan marah ketika Marcel terus-menerus menjadikan mendiang putrinya sebagai tameng atau bahan argumen. "Apalagi sekarang dia kan apa-apa atas nama istri yang udah gak ada. Otomatis kita marah. Kenapa harus bawa-bawa istri yang udah gak ada? Kasihan, jangan main fitnah terus," seru Endang, menunjukkan betapa tidak pantasnya tindakan tersebut. Ia merasa bahwa almarhumah Tika tidak seharusnya dijadikan alat untuk kepentingan pribadi atau pembelaan diri.

Mengenai komunikasi terakhir dengan Marcel, Endang menjelaskan bahwa pertemuan tatap muka terakhir terjadi saat prosesi pemakaman Tika. Setelah momen duka tersebut, komunikasi antara keluarga dan Marcel hanya berlangsung singkat, sekitar satu atau dua hari, sebelum keluarga kembali dikejutkan oleh kabar yang lebih menghebohkan. Kejutan ini diduga berkaitan dengan isu poligami yang kini tengah ramai dibicarakan.

Situasi semakin rumit ketika keluarga Tika mendapati fakta bahwa kunci rumah yang dulu ditinggali oleh Marcel dan Tika telah diganti. Hal ini menyebabkan keluarga Tika tidak dapat mengakses atau mengambil barang-barang peninggalan almarhumah. "Ibu dapat berita dari tetangga, katanya rumah Tika gemboknya diganti semua. Padahal kunci rumah Tika ada di ibu. Ternyata katanya sengaja diganti untuk alasan keamanan," tutur Endang dengan nada frustrasi. Penggantian kunci secara sepihak ini menimbulkan pertanyaan besar dan kecurigaan mengenai motif di baliknya, seolah ada upaya untuk memutuskan hubungan dan membatasi akses keluarga almarhumah terhadap harta peninggalan.

Keluarga almarhumah Tika secara tegas menyatakan penolakan mereka terhadap klaim poligami yang dilontarkan oleh Pesulap Merah. Dengan adanya bukti kuat dan kesaksian langsung dari ibunda dan adik almarhumah, narasi yang dibangun oleh Pesulap Merah dinilai tidak berdasar dan merupakan kebohongan. Sikap Marcel yang dianggap tidak menghargai mendiang istri pertamanya, serta tindakan penggantian kunci rumah secara sepihak, semakin mempertegas ketidakpercayaan keluarga terhadapnya. Isu ini membuka tabir gelap di balik kehidupan pribadi sang pesulap, dan keluarga almarhumah Tika bertekad untuk terus memperjuangkan kebenaran dan nama baik mendiang putri mereka. Reaksi publik yang muncul juga menunjukkan simpati yang besar terhadap keluarga almarhumah, dan kritik tajam ditujukan kepada Pesulap Merah atas tindakannya yang dianggap tidak etis dan menyakitkan. Berbagai pihak berharap agar kasus ini dapat segera terselesaikan dengan adil, dan kebenaran dapat terungkap sepenuhnya demi menghormati almarhumah Tika.