0

Demi Anak, Virgoun Siap Mediasi dengan Inara Rusli untuk Akhiri Perseteruan Perebutan Hak Asuh Anak

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Titik terang mulai terlihat dalam perseteruan panjang antara musisi Virgoun Tambunan dan mantan istrinya, Inara Rusli, yang berpusat pada perebutan hak asuh ketiga buah hati mereka. Setelah menjalani proses klarifikasi di Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), Virgoun secara tegas menyatakan kesiapannya untuk duduk semeja dalam mediasi dengan Inara Rusli, yang difasilitasi oleh pihak Komnas PA. Pernyataan ini disampaikan oleh kuasa hukum Virgoun, Sandy Arifin, usai pertemuan di kantor Komnas PA, Pasar Rebo, Jakarta Timur, pada Selasa, 10 Februari 2026. "Tadi juga ditanyakan ke klien kami, bahwa bilamana ada mediasi yang akan dilakukan oleh pihak Komnas bersama pihak keluarga, insya Allah kita akan hadir," ujar Sandy Arifin, mengonfirmasi kesiapan kliennya untuk berpartisipasi dalam upaya penyelesaian damai.

Dalam pertemuan tersebut, Virgoun menunjukkan sikap yang lebih tenang dan terbuka, menyerahkan sepenuhnya penilaian mengenai kelayakan hak asuh anak kepada lembaga perlindungan anak yang kredibel seperti Komnas PA. Ia menekankan bahwa kepentingan terbaik anak harus menjadi prioritas utama, bahkan jika itu berarti harus mengesampingkan ego orang tua. "Ya sebenarnya gua orang gak sempurna. Jadi kalau setiap kekurangan dikoreksi, atau melibatkan pihak ketiga yang akan membantu buat masa depan anak-anak, buat gua ya syukur alhamdulillah," ungkap Virgoun, menunjukkan kerendahan hati dan kesadaran akan tanggung jawabnya sebagai orang tua.

Keinginan Virgoun untuk menempuh jalur mediasi ini didorong oleh kekhawatiran mendalam terhadap kondisi psikis ketiga anaknya. Ia mengaku sangat prihatin melihat anak-anaknya terus-menerus terpapar oleh pemberitaan mengenai konflik yang melibatkan kedua orang tua mereka. "Bismillah saya siap (untuk mediasi dengan Inara Rusli). Mental anak-anak yang paling penting dijaga," tegas Virgoun, menekankan bahwa menjaga kesehatan mental anak adalah prioritas mutlak.

Lebih dari sekadar kekhawatiran terhadap mental anak, Virgoun juga mengaku merasa lelah dengan rentetan permasalahan hukum yang tak kunjung menemukan titik akhir. Ia menyadari bahwa sebagai seorang ayah, ia harus menjaga stabilitas emosional dan mental agar dapat terus memberikan pengasuhan yang optimal bagi anak-anaknya tanpa harus terus-menerus terbelit dalam urusan hukum yang pelik. "Gua sendiri harus tetap stabil karena gak mau urusan sama hukum lagi, pusing. Jadi harus dijalani memang buat masa depan anak-anak," tuturnya, menggambarkan betapa beratnya beban yang ia rasakan.

Sebelum proses mediasi formal dilaksanakan, Komnas PA berencana untuk melakukan kunjungan langsung ke kediaman Virgoun. Kunjungan ini bertujuan untuk melakukan observasi dan penilaian terhadap kondisi lingkungan tempat tinggal anak-anak saat ini, serta memastikan bahwa lingkungan tersebut kondusif bagi tumbuh kembang mereka. "Intinya kalau memang untuk kebaikan anak-anak, kita jalankan," pungkas Virgoun, menegaskan kembali komitmennya untuk mengutamakan kesejahteraan anak di atas segalanya. Keputusan Virgoun untuk berdamai melalui mediasi ini merupakan langkah krusial yang diharapkan dapat mengakhiri konflik yang telah berlangsung lama dan memberikan ketenangan bagi seluruh pihak, terutama bagi ketiga buah hati mereka.

Virgoun, yang dikenal dengan karya-karyanya yang menyentuh hati seperti "Surat Cinta Untuk Starla," kini dihadapkan pada tantangan terberat dalam hidupnya: memisahkan urusan pribadi dengan tanggung jawab sebagai orang tua. Keputusannya untuk bersedia dimediasi menunjukkan kedewasaan dan kesadaran akan dampak jangka panjang dari perseteruan orang tua terhadap perkembangan anak. Ia memahami bahwa peran sebagai orang tua tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan fisik semata, melainkan juga mencakup perlindungan emosional dan psikologis. Komnas PA, sebagai lembaga yang bertugas melindungi hak-hak anak, memainkan peran sentral dalam memfasilitasi dialog konstruktif antara Virgoun dan Inara Rusli. Diharapkan, mediasi ini dapat menghasilkan kesepakatan yang adil dan berpihak pada kepentingan terbaik anak, sehingga mereka dapat tumbuh dalam lingkungan yang stabil dan penuh kasih sayang, terlepas dari perbedaan yang ada di antara kedua orang tua mereka.

Proses mediasi ini menjadi sorotan publik, tidak hanya karena popularitas Virgoun dan Inara Rusli, tetapi juga karena mencerminkan realitas pahit yang dihadapi banyak keluarga yang mengalami perpisahan. Kasus ini membuka ruang diskusi yang lebih luas mengenai pentingnya memprioritaskan anak dalam setiap proses perceraian dan perebutan hak asuh. Pengalaman Virgoun yang mengakui ketidaksempurnaannya dan bersedia dikoreksi oleh pihak ketiga patut diapresiasi. Ini menunjukkan bahwa, di balik citra publik, terdapat individu yang berjuang untuk menjadi orang tua yang lebih baik. Kesediaannya untuk terlibat dalam mediasi yang difasilitasi oleh Komnas PA adalah bukti nyata dari komitmennya untuk memperbaiki situasi dan memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya.

Sementara itu, Inara Rusli, yang juga tengah berjuang untuk hak asuh anak-anaknya, diharapkan dapat merespons positif upaya mediasi ini. Keterbukaan kedua belah pihak untuk berdialog adalah kunci utama dalam mencapai solusi yang memuaskan. Komnas PA, dengan pengalaman dan keahliannya, akan menjadi mediator yang netral dan objektif, membantu Virgoun dan Inara Rusli untuk melihat permasalahan dari sudut pandang yang lebih luas dan berfokus pada kesejahteraan anak. Kunjungan Komnas PA ke kediaman Virgoun juga merupakan langkah penting untuk mendapatkan gambaran yang komprehensif mengenai lingkungan tempat anak-anak tinggal. Penilaian langsung ini akan memberikan dasar yang kuat bagi Komnas PA dalam memberikan rekomendasi yang tepat terkait hak asuh.

Keputusan Virgoun untuk tidak ingin lagi berurusan dengan hukum lebih lanjut juga menjadi poin penting. Ia menyadari bahwa energi dan waktu yang seharusnya dicurahkan untuk pengasuhan anak malah terbuang untuk menyelesaikan masalah hukum. Hal ini menegaskan bahwa jalan damai melalui mediasi adalah pilihan yang paling bijaksana, tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk masa depan anak-anaknya. Kelelahan Virgoun terhadap proses hukum adalah suara hati banyak orang tua yang mengalami hal serupa. Ia ingin kembali fokus pada perannya sebagai ayah, memberikan dukungan dan bimbingan yang dibutuhkan anak-anaknya untuk tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan berkarakter.

Keberanian Virgoun untuk mengakui kekurangannya dan membuka diri terhadap bantuan pihak ketiga adalah cerminan dari perjuangan batin yang ia jalani. Ia tidak membiarkan egonya menghalangi langkah menuju perdamaian. Kesadaran ini sangat penting dalam setiap konflik keluarga, terutama ketika anak-anak menjadi korban. Mediasi yang difasilitasi oleh Komnas PA bukan hanya sekadar forum diskusi, tetapi juga merupakan proses edukatif bagi kedua orang tua mengenai hak dan kebutuhan anak. Diharapkan, melalui mediasi ini, Virgoun dan Inara Rusli dapat membangun kembali komunikasi yang sehat demi kepentingan anak-anak mereka.

Peran Komnas PA dalam kasus ini sangatlah krusial. Lembaga ini bukan hanya sebagai fasilitator, tetapi juga sebagai penjaga kepentingan anak. Dengan pengalaman dan pemahaman mendalam tentang isu perlindungan anak, Komnas PA dapat membimbing Virgoun dan Inara Rusli untuk mencapai kesepakatan yang tidak hanya adil secara hukum, tetapi juga memberikan rasa aman dan nyaman bagi anak-anak mereka. Kunjungan ke kediaman Virgoun merupakan bagian dari upaya Komnas PA untuk memahami secara utuh kondisi anak-anak, termasuk lingkungan sosial, pendidikan, dan dukungan emosional yang mereka terima. Informasi ini akan menjadi dasar bagi rekomendasi yang akan diberikan kepada pengadilan jika diperlukan, atau sebagai panduan dalam mediasi.

Virgoun, dengan pernyataan "Bismillah saya siap," telah menunjukkan langkah awal yang positif. Ini adalah keberanian untuk melangkah keluar dari zona nyaman konflik dan merangkul solusi damai. Keputusan ini didasari oleh kesadaran mendalam akan pentingnya menjaga mental anak-anak. Paparan terus-menerus terhadap berita konflik orang tua dapat meninggalkan luka emosional yang dalam pada anak-anak. Oleh karena itu, upaya mediasi ini adalah langkah proaktif untuk meminimalisir dampak negatif tersebut.

Lebih jauh lagi, Virgoun secara eksplisit menyatakan bahwa ia "gak mau urusan sama hukum lagi, pusing." Pernyataan ini mencerminkan beban psikologis yang ditanggung olehnya akibat perseteruan hukum yang berkepanjangan. Dengan memilih mediasi, ia berupaya untuk keluar dari siklus negatif tersebut dan kembali fokus pada hal yang paling penting: menjadi orang tua yang stabil dan mampu memberikan dukungan terbaik bagi anak-anaknya. Ia menyadari bahwa untuk mengasuh anak dengan baik, ia sendiri harus dalam kondisi mental yang stabil.

Keseluruhan pernyataan Virgoun dalam berita ini menggambarkan kedewasaan dan kesadaran yang mendalam akan tanggung jawabnya sebagai orang tua. Ia tidak lagi terjebak dalam ego atau emosi pribadi, melainkan memprioritaskan kesejahteraan anak di atas segalanya. Keputusannya untuk bersedia dimediasi dengan Inara Rusli, difasilitasi oleh Komnas PA, adalah langkah maju yang patut diapresiasi dan menjadi harapan bagi banyak keluarga yang mengalami konflik serupa. Dengan niat baik dan kesiapan untuk berdialog, diharapkan mediasi ini akan membawa hasil yang positif dan mengembalikan kedamaian dalam keluarga mereka, demi masa depan anak-anak yang lebih cerah.