0

Gokil! Influencer Ditawari Rp 10 Miliar untuk Promosikan AI

Share

Gelombang masif investasi dalam bidang kecerdasan buatan (AI) telah mencapai puncaknya, tidak hanya dalam pengembangan teknologi itu sendiri, tetapi juga dalam strategi pemasarannya. Di tengah persaingan sengit antara raksasa teknologi seperti Microsoft dan Google, serta startup inovatif, sebuah tren baru muncul yang menghebohkan: penawaran fantastis hingga miliaran rupiah kepada para influencer digital untuk mempromosikan produk-produk AI generatif mereka. Angka-angka yang beredar sungguh "gokil" – mencapai Rp 10 miliar untuk sebuah kolaborasi, menandai era baru dalam lanskap pemasaran digital.

Laporan terbaru menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan teknologi terkemuka, dalam upaya mereka untuk menancapkan dominasi di pasar AI, tidak ragu mengucurkan dana besar untuk menjangkau audiens secara lebih personal dan autentik. Sumber yang akrab dengan kesepakatan tersebut mengungkapkan bahwa Microsoft dan Google, dua pemain kunci dalam perlombaan AI, kabarnya telah membayar influencer antara USD 400.000 hingga USD 600.000, atau setara dengan Rp 6,7 miliar hingga Rp 10 miliar, untuk kerja sama jangka panjang yang berlangsung selama beberapa bulan. Ini bukan sekadar endorsement satu kali, melainkan kemitraan strategis yang mendalam.

"Yang kita lihat adalah peningkatan pengeluaran untuk kreator dalam jumlah besar dari merek-merek AI ini," ujar AJ Eckstein, pendiri dan CEO agensi Creator Match, seperti dikutip dari CNBC pada Selasa, 10 Februari 2026. Pernyataan ini menggarisbawahi pergeseran signifikan dalam alokasi anggaran pemasaran, di mana para kreator konten digital kini menjadi garda terdepan dalam memperkenalkan teknologi AI kepada masyarakat luas. "Setiap bulannya, ada banyak merek AI yang menunjukkan ketertarikan mereka," sambungnya, menegaskan bahwa tren ini bukan fenomena sesaat, melainkan strategi berkelanjutan yang diadopsi oleh banyak pemain di industri AI.

Creator Match sendiri telah menjadi saksi mata langsung dari fenomena ini, bekerja sama dengan berbagai perusahaan yang berfokus pada AI, termasuk nama-nama besar seperti Anthropic, pengembang chatbot Claude yang inovatif; HeyGen, platform AI untuk pembuatan video; dan Notion, aplikasi produktivitas yang kini semakin terintegrasi dengan AI. Eckstein menjelaskan bahwa perusahaan AI secara aktif mencari cara-cara baru dan efektif untuk memasarkan produk mereka. Tujuannya bukan hanya sekadar menjual, tetapi juga membangun koneksi yang lebih kuat dan mendalam dengan pengguna, dengan cara yang jauh lebih autentik daripada iklan tradisional.

Kebutuhan akan "keaslian" ini sangat krusial di ranah AI. Teknologi kecerdasan buatan, dengan segala kompleksitas dan potensi disruptifnya, seringkali dianggap sebagai entitas yang steril, rumit, atau bahkan menakutkan bagi sebagian orang. Di sinilah peran influencer menjadi krusial: mereka bertindak sebagai jembatan yang demistifikasi teknologi, menyajikannya dalam konteks yang relevan, mudah dipahami, dan menarik bagi audiens mereka. Mereka mengubah narasi dari "AI yang menakutkan" menjadi "AI yang membantu" atau "AI yang menginspirasi."

Perusahaan AI telah meningkatkan anggaran iklan mereka secara drastis dalam setahun terakhir, mencerminkan intensitas persaingan dan urgensi untuk mencapai adopsi massal. Menurut data dari Sensor Tower, platform AI generatif secara kolektif telah menghabiskan lebih dari USD 1 miliar untuk iklan digital di Amerika Serikat saja pada tahun 2025. Angka ini menunjukkan peningkatan yang mencengangkan sebesar 126% dari tahun sebelumnya, menandakan bahwa industri AI berada dalam fase ekspansi pemasaran yang belum pernah terjadi sebelumnya. Investasi jumbo ini bukan hanya untuk mengungguli pesaing, tetapi juga untuk mendidik pasar dan menciptakan kebutuhan baru akan produk-produk AI.

Bentuk kolaborasi antara perusahaan AI dengan influencer sangat beragam, disesuaikan dengan platform dan target audiens. Beberapa kolaborasi mengambil bentuk postingan mendalam di LinkedIn, di mana influencer dengan latar belakang teknis atau profesional dapat menjelaskan cara menggunakan fitur-fitur canggih seperti Claude Code untuk mempermudah pekerjaan. Sementara itu, di platform visual seperti Instagram, kolaborasi bisa berupa video pendek yang menarik dan kreatif, menampilkan fitur-fitur seru dari Microsoft Copilot atau kemampuan analisis cepat dari Perplexity Comet, seringkali dibalut dalam gaya hidup atau skenario penggunaan sehari-hari yang relatable. Konten tidak lagi sebatas ulasan produk kering, melainkan narasi personal tentang bagaimana AI dapat mempermudah pekerjaan sehari-hari, meningkatkan produktivitas, atau bahkan membuka peluang kreatif baru.

Salah satu kreator konten yang telah merasakan langsung "angin segar" dari industri AI adalah Megan Lieu. Ia dikenal karena konten-kontennya yang berfokus pada AI dan teknologi, berhasil menarik perhatian perusahaan-perusahaan teknologi terkemuka. Lieu mengungkapkan bahwa latar belakangnya sebagai seorang ilmuwan data (data scientist) adalah faktor kunci yang membuat perusahaan AI tertarik untuk berkolaborasi dengannya. Keahlian teknis dan pemahaman mendalam tentang AI memberinya kredibilitas yang tak ternilai di mata audiens maupun brand. Ia bukan hanya seorang influencer, tetapi juga seorang ahli di bidangnya.

Lieu memulai kemitraan pertamanya dengan perusahaan AI pada tahun 2025, menandai awal dari perjalanan yang menarik di persimpangan teknologi dan pemasaran digital. Kolaborasi terbesarnya hingga saat ini adalah bersama Anthropic, di mana ia berperan penting dalam mempromosikan chatbot inovatif mereka, Claude. Meskipun Lieu tidak menyebutkan secara spesifik berapa bayaran yang diterimanya dari Anthropic, ia memberikan gambaran umum tentang tarifnya. Rate card-nya untuk konten bersponsor biasanya berada di kisaran USD 5.000 hingga USD 30.000, tergantung pada kompleksitas dan skala kampanye yang dijalankan. Angka ini, meskipun jauh di bawah tawaran Rp 10 miliar yang menghebohkan, tetap menunjukkan nilai tinggi yang diberikan kepada kreator dengan niche spesifik dan audiens yang terlibat.

"Brand-brand ini sangat ingin konsumennya tahu bahwa kami terkait dengan AI," kata Lieu, yang memiliki hampir 400.000 pengikut di berbagai platform media sosial. Pernyataan ini merangkum esensi dari strategi pemasaran AI saat ini: membangun asosiasi positif, kepercayaan, dan pemahaman melalui suara-suara yang dipercaya dan dihormati di ruang digital. Mereka ingin menembus keraguan atau ketakutan yang mungkin dimiliki sebagian pengguna tentang AI, dengan menunjukkan bahwa teknologi ini dapat diakses, bermanfaat, dan bahkan menyenangkan.

Fenomena ini juga menyoroti evolusi peran influencer. Mereka tidak lagi hanya sekadar "penjual" produk, tetapi menjadi "pencerita" dan "edukator." Untuk teknologi sekompleks AI, influencer yang memiliki pemahaman teknis atau setidaknya mampu menyederhanakan konsep kompleks menjadi sangat berharga. Ini menciptakan peluang baru bagi para ahli dan profesional di bidang teknologi untuk beralih atau menambahkan peran sebagai kreator konten, memonetisasi keahlian mereka dengan cara yang belum pernah ada sebelumnya.

Di balik gemerlap angka dan kolaborasi, ada pula tantangan. Para influencer harus menjaga kredibilitas mereka, memastikan bahwa promosi AI yang mereka lakukan tidak menyesatkan atau terlalu melebih-lebihkan kemampuan teknologi. Etika dalam pemasaran AI, termasuk transparansi penuh mengenai sponsorship dan potensi bias dalam AI itu sendiri, menjadi sangat penting. Konsumen semakin cerdas, dan setiap klaim yang tidak berdasar dapat merusak reputasi influencer dan merek yang mereka promosikan.

Ke depannya, tren ini diperkirakan akan terus tumbuh. Seiring dengan semakin matangnya teknologi AI dan semakin meluasnya adopsi di berbagai sektor, permintaan akan influencer yang mampu mengkomunikasikan nilai dan manfaat AI akan semakin tinggi. Anggaran pemasaran AI kemungkinan besar akan terus meningkat, dan persaingan untuk mendapatkan talenta influencer terbaik akan semakin sengit. Ini bukan hanya tentang berapa banyak pengikut yang dimiliki seseorang, tetapi seberapa dalam pemahaman mereka tentang teknologi dan seberapa efektif mereka dapat mengkomunikasikan pesan tersebut kepada audiens yang relevan.

Era di mana influencer menjadi ujung tombak dalam mempromosikan teknologi masa depan seperti AI telah tiba. Dengan tawaran yang mencapai puluhan miliar rupiah, jelas bahwa perusahaan teknologi melihat nilai yang sangat besar dalam kekuatan personal branding dan koneksi autentik yang ditawarkan oleh para kreator digital. Ini adalah bukti nyata bahwa di tengah revolusi AI, sentuhan manusiawi melalui suara-suara yang dipercaya tetap menjadi aset tak ternilai. Dunia pemasaran digital tidak akan pernah sama lagi, dengan AI dan influencer membentuk simbiosis yang akan terus mengubah cara kita berinteraksi dengan teknologi.