0

Pemain Diaspora ke Klub Lokal demi AFF? Arya Sinulingga: Teori Konspirasi!

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Munculnya gelombang pemain diaspora yang bergabung dengan klub-klub sepak bola lokal di Indonesia belakangan ini telah memicu berbagai spekulasi dan dugaan. Salah satu narasi yang beredar adalah bahwa kedatangan para pemain berdarah Indonesia yang bermain di luar negeri ini merupakan sebuah strategi yang terencana oleh Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Tujuannya diduga kuat adalah untuk memperkuat Tim Nasional Indonesia dalam menghadapi turnamen Piala AFF 2026, dengan ambisi besar untuk akhirnya meraih gelar juara untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Daftar nama pemain diaspora yang meramaikan kancah sepak bola Indonesia memang cukup panjang dan menarik perhatian. Mereka antara lain Thom Haye, Eliano Reijnders, Jordi Amat, Rafael Struick, Jens Raven, Shayne Pattynama, Mauro Zijlstra, Cyrus Margono, Dion Markx, dan Ivar Jenner. Kehadiran mereka di berbagai klub Tanah Air ini, mulai dari liga utama hingga kasta yang lebih rendah, memunculkan pertanyaan mengenai motif di baliknya.

Salah satu argumen yang mendukung teori konspirasi ini adalah fakta bahwa Piala AFF 2026 tidak termasuk dalam kalender resmi FIFA. Hal ini menjadi krusial karena jika seorang pemain berstatus profesional di luar negeri dipanggil oleh tim nasional negara lain yang bukan anggota FIFA, klubnya seringkali memiliki hak untuk menolak memberikan izin karena tidak adanya kewajiban internasional. Namun, dengan bermain di klub lokal Indonesia, para pemain diaspora ini secara otomatis akan lebih mudah diakses dan dipanggil oleh pelatih Timnas Indonesia tanpa hambatan izin dari klub luar negeri yang mungkin sebelumnya menjadi kendala. Hal ini tentu saja memuluskan jalan bagi PSSI untuk merakit skuad terkuatnya demi menggapai mimpi juara Piala AFF.

Menanggapi narasi yang berkembang ini, Arya Sinulingga, seorang Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI, dengan tegas membantah dan menyebutnya sebagai sebuah "teori konspirasi". Ia berpendapat bahwa spekulasi semacam ini terlalu berlebihan dan tidak didasarkan pada logika yang rasional. Arya menekankan bahwa urusan transfer pemain, termasuk biaya yang dikeluarkan, sepenuhnya merupakan tanggung jawab klub, bukan PSSI.

"Ya ini, kita ini terlalu banyak teori konspirasi ya. Jadi saya harap teman-teman wartawan juga mencerdaskan. Yang membuat isu juga maunya mencerdaskan, karena namanya pemain, transfer, itu menyangkut uang. Yang bayar pemain siapa? Apakah PSSI atau klub?" ujar Arya kepada para wartawan di GBK Arena, Jakarta, pada hari Senin, 9 Februari 2026.

Arya melanjutkan penjelasannya dengan menegaskan bahwa jika klub yang menjadi pihak yang membayar gaji dan biaya transfer pemain, maka PSSI tidak memiliki keterlibatan langsung dalam urusan finansial tersebut. "Kalau klub, berarti urusannya apa nih? Urusan duit. Tawar-menawar. Yang bayar klub. PSSI enggak ada ikut-ikutan di bayar situ. Bayar-bayar nggak ada situ urusan PSSI. Jadi lucu kalau dibilang bahwa skenario PSSI begitu ya, untuk AFF," tegasnya.

Ia juga menekankan bahwa setiap pemain yang direkrut oleh klub lokal pasti mendapatkan kompensasi finansial yang tidak sedikit. PSSI, menurut Arya, tidak pernah ikut campur dalam negosiasi gaji atau biaya transfer pemain diaspora. Keputusan perekrutan pemain oleh klub semata-mata didasarkan pada kebutuhan tim dan strategi manajemen klub itu sendiri.

"Jadi mungkin ya pengamatnya itu berada dari luar semesta, alam semesta. Nggak ada, di dunia nggak ada yang seperti itu begitu. Jadi pakai logika sederhana, itu uang antar uang. Yang bayar klub. Kalau klubnya enggak mau bayar, emang PSSI bisa nyuruh klubnya?" ucapnya, menyindir betapa tidak realistisnya teori konspirasi tersebut.

Arya Sinulingga juga memberikan analogi yang lebih gamblang untuk menggambarkan betapa keliru anggapan bahwa PSSI memiliki kekuatan untuk memaksa klub melakukan transfer pemain demi kepentingan Timnas. " ‘Hei klub, lu bayar ya?’ Ya nggak mau-lah. Klubnya akan bilang, ‘Lho PSSI ngasih apa ke gua?’. Pemainnya bilang, ‘Eh pemain, lu turunin ya harga lu, supaya klubnya ngambil’. Mana mau pemainnya. Kalau enggak cocok harga enggak akan mau, itu sederhana banget," tuturnya, menekankan bahwa logika pasar dan kesepakatan finansial adalah dasar utama dalam setiap transfer pemain.

Pernyataan Arya ini bertujuan untuk meluruskan persepsi publik dan media yang mungkin terlalu cepat mengambil kesimpulan tanpa melihat realitas di lapangan. Ia ingin menegaskan bahwa proses naturalisasi dan kedatangan pemain diaspora memiliki alasan yang lebih murni, yaitu untuk meningkatkan kualitas liga domestik dan memberikan kesempatan bagi talenta-talenta muda berdarah Indonesia untuk berkarier di tanah air, yang pada akhirnya juga akan berkontribusi pada peningkatan performa Timnas Indonesia secara keseluruhan, bukan semata-mata untuk "memborong" pemain demi satu turnamen spesifik.

Lebih jauh, Arya mungkin juga ingin menggarisbawahi bahwa keberhasilan Timnas Indonesia di masa depan adalah hasil dari sebuah ekosistem sepak bola yang sehat, di mana klub-klub memiliki otonomi dalam mengambil keputusan strategis mereka, termasuk dalam hal perekrutan pemain. Intervensi PSSI dalam urusan bisnis klub dianggap tidak etis dan tidak akan pernah terjadi. PSSI lebih berperan sebagai regulator, fasilitator, dan pembina, bukan sebagai pihak yang mendikte keputusan operasional klub.

Pernyataan Arya Sinulingga ini diharapkan dapat memberikan pandangan yang lebih jernih dan objektif mengenai fenomena pemain diaspora di Indonesia. Alih-alih terjebak dalam narasi konspiratif yang tidak berdasar, publik dan media diharapkan dapat melihat fenomena ini dari perspektif yang lebih rasional dan realistis, yang mengutamakan logika bisnis dan kebutuhan murni dari masing-masing klub. Teori konspirasi, seperti yang diungkapkan Arya, justru berpotensi menyesatkan dan tidak membantu dalam upaya memajukan sepak bola Indonesia secara berkelanjutan.

Ke depannya, diharapkan PSSI dapat terus bersinergi dengan klub-klub lokal dalam membangun sepak bola Indonesia yang lebih kuat dan berdaya saing. Fokus harus tetap pada pembinaan pemain muda, peningkatan kualitas liga, dan penciptaan lingkungan kompetisi yang sehat, di mana semua pihak dapat berkontribusi secara positif tanpa perlu dikaitkan dengan agenda-agenda tersembunyi yang tidak berdasar. Dengan demikian, ambisi untuk meraih gelar juara Piala AFF 2026, jika memang menjadi target, dapat dicapai melalui jalur yang benar dan terstruktur, bukan melalui "skenario" yang hanya ada dalam imajinasi.