0

Ajie Darmaji Pastikan Warisan Mpok Alpa Dibagi Rata untuk 4 Anak

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Pengadilan Agama Jakarta Selatan telah secara resmi mengabulkan permohonan perwalian anak-anak almarhumah komedian Mpok Alpa. Dalam putusan yang dibacakan, Ajie Darmaji, suami almarhumah, ditetapkan sebagai wali sah bagi ketiga anak mereka yang masih berada di bawah umur. Keputusan ini memberikan Ajie Darmaji hak dan kewenangan penuh untuk mewakili kepentingan hukum ketiga buah hatinya, baik dalam lingkup pengadilan maupun di luar itu. Perlu dicatat bahwa dari keempat anak Mpok Alpa, anak sulungnya, Sherly, tidak termasuk dalam penetapan perwalian karena usianya yang sudah dianggap cukup dewasa. Meskipun demikian, Sherly tetap diakui sebagai salah satu ahli waris sah atas peninggalan mendiang ibundanya.

Perihal pembagian aset peninggalan Mpok Alpa, Ajie Darmaji telah memberikan penegasan yang lugas dan adil. Seluruh warisan yang ditinggalkan oleh Mpok Alpa akan dibagikan secara merata kepada keempat orang anaknya. Ajie Darmaji secara spesifik menyatakan pilihannya untuk menerapkan hukum adat dalam proses pembagian warisan ini. Keputusan ini diambil agar tidak ada diskriminasi atau perbedaan perlakuan antara anak laki-laki dan anak perempuan. Ajie Darmaji mengungkapkan, "Pembagiannya ke anak ya rata. Karena mungkin yang kita pakai Hukum Adat ya. Kalau Hukum Islam kan laki-laki itu lebih besar. Saya pakai Hukum Adat. Karena sama-sama lahir dari rahim ibunya. Jadi nggak ada yang dibeda-bedain." Pernyataan ini menunjukkan komitmennya untuk menciptakan keadilan bagi seluruh keturunannya, tanpa memandang jenis kelamin.

Lebih lanjut, mengenai aset properti berupa dua unit rumah yang dimiliki oleh keluarga, Ajie Darmaji menjelaskan bahwa pembagiannya akan bersifat fleksibel. Prioritas utama dalam pembagian ini adalah untuk memenuhi kebutuhan anak-anak di masa depan. Ajie Darmaji juga tidak keberatan apabila Sherly, anak sulungnya, memiliki keinginan untuk menempati salah satu dari rumah peninggalan Mpok Alpa. Ia berujar, "Ya sama-sama sebenarnya. Nanti yang mana duluan yang ketemu jodohnya, ya kayak Kakak, tinggalin. Rumah juga kalau nggak ada orangnya kan bisa rusak." Fleksibilitas ini menunjukkan kepedulian Ajie Darmaji terhadap kebutuhan dan kenyamanan anak-anaknya, serta pemahamannya akan dinamika kehidupan keluarga.

Ajie Darmaji juga mengungkapkan bahwa Sherly telah mengetahui rencana pembagian warisan ini dan diberikan kebebasan untuk menempati rumah orang tuanya kelak ketika ia sudah berkeluarga. "Sudah ngomong sih Kakak, ketika punya jodoh, tempatin nggak apa-apa. Apa yang orang tua punya, nikmatin. Orang tua nyari uang buat anak kan ibadah," tuturnya, menekankan filosofi bahwa harta yang dicari orang tua adalah untuk dinikmati oleh anak-anak mereka, dan itu merupakan bentuk ibadah.

Menyinggung isu mengenai hubungan Ajie Darmaji dengan Sherly yang sempat dikabarkan mengalami kerenggangan, Ajie Darmaji dengan tegas membantah adanya konflik serius. Ia menjelaskan bahwa persoalan yang terjadi hanyalah sebatas kesalahpahaman atau misscommunication. "Kemarin cuma misscom saja, salah paham. Kita ngurusin hak perwalian atau waris tuh disangkanya ada yang mau dijual. Padahal nggak ada satupun yang kita lepas. Semua masih aman," tegasnya, memberikan klarifikasi bahwa segala upaya yang dilakukan adalah untuk menjaga aset keluarga, bukan untuk menjualnya.

Ajie Darmaji menegaskan bahwa seluruh upaya yang ia lakukan saat ini adalah semata-mata demi masa depan anak-anaknya. "Kita bertahan, terus bertahan untuk anak. Semangat kerja ya untuk anak," ujarnya, menggambarkan dedikasinya sebagai seorang ayah tunggal. Perannya kini berganda, harus menjalankan fungsi sebagai ayah sekaligus ibu bagi anak-anaknya. Ia mengakui bahwa tugas ini bukanlah perkara yang mudah. "Saya ini sudah ngerangkap jadi bapak, jadi ibu juga. Kalau jadi bapak masih enak, kalau jadi ibu ini yang saya bingung. Ngurusin anak, sarapan, baju, itu yang paling sulit," bebernya, menggambarkan tantangan emosional dan praktis yang dihadapinya.

Sebagai seorang ayah tunggal, Ajie Darmaji mengungkapkan harapan agar tidak banyak orang yang harus mengalami kehilangan pasangan seperti dirinya. "Mudah-mudahan nggak ada yang ngalamin kayak saya. Kelihatannya gampang dibilang sabar. Coba jalanin. Teori gampang, praktiknya suruh dah," ungkapnya, memberikan perspektif mendalam tentang kesulitan yang dihadapi dalam situasi kehilangan dan peran ganda.

Ketika ditanya mengenai detail aset apa saja yang tercatat atas nama almarhumah Mpok Alpa, Ajie Darmaji memberikan penjelasan yang gamblang. Ia menegaskan bahwa seluruh harta yang mereka miliki diperoleh bersama selama masa pernikahan. "Selama ini apa-apa yang kita beli ya berdua. Nama saya sama almarhum," jelasnya. Aset-aset tersebut mencakup rumah dan kendaraan, yang semuanya tercatat atas nama Ajie Darmaji dan almarhumah Mpok Alpa. "Nggak ada nama orang lain. Kita cari dari nol, kita cari berdua, kita berjuang dari nol," pungkas Ajie Darmaji, menekankan bahwa semua yang mereka miliki adalah hasil kerja keras dan perjuangan bersama sejak awal pernikahan mereka.

Keputusan Pengadilan Agama Jakarta Selatan mengenai perwalian anak-anak Mpok Alpa menandai babak baru dalam kehidupan Ajie Darmaji dan keempat buah hatinya. Penetapan Ajie Darmaji sebagai wali sah bagi tiga anak di bawah umur memberikan kepastian hukum dalam pengelolaan hak-hak mereka. Namun, yang paling menonjol dari pernyataan Ajie Darmaji adalah komitmennya yang kuat terhadap keadilan dan kesetaraan dalam pembagian warisan. Dengan memilih hukum adat, ia berupaya memastikan bahwa keempat anaknya akan menerima bagian yang sama, tanpa memandang perbedaan gender. Pernyataan ini tidak hanya menunjukkan kebijaksanaan Ajie Darmaji dalam menghadapi situasi yang sulit, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai kekeluargaan yang ia junjung tinggi.

Fokus Ajie Darmaji tidak hanya terbatas pada pembagian aset semata, tetapi juga pada kesejahteraan jangka panjang anak-anaknya. Fleksibilitas dalam pembagian aset properti, seperti rumah, menunjukkan pemahamannya akan kebutuhan yang dinamis seiring waktu. Memberikan keleluasaan bagi Sherly untuk menempati rumah orang tuanya kelak ketika berkeluarga adalah bukti nyata dari kasih sayangnya yang tak terbatas. Hal ini juga mencerminkan prinsip bahwa rumah adalah tempat berlindung dan bertumbuh, dan ia ingin memastikan anak-anaknya selalu merasa memiliki tempat yang aman dan nyaman.

Pengakuan Ajie Darmaji mengenai tantangan menjadi ayah tunggal yang harus merangkap peran ibu memberikan gambaran realistis tentang beban emosional dan fisik yang ia pikul. Pengalamannya ini patut menjadi pelajaran berharga bagi banyak orang, bahwa menghadapi kehilangan dan membesarkan anak-anak sendirian memerlukan kekuatan dan ketangguhan yang luar biasa. Harapannya agar orang lain tidak mengalami hal serupa adalah ungkapan empati yang mendalam.

Penting untuk digarisbawahi bahwa Ajie Darmaji menekankan bahwa seluruh aset yang diperoleh adalah hasil kerja keras bersama dengan almarhumah Mpok Alpa. Pencatatan aset atas nama keduanya secara bersama menunjukkan kemitraan yang kuat dalam membangun rumah tangga dan mengumpulkan kekayaan. Hal ini semakin memperkuat argumennya bahwa pembagian warisan harus dilakukan secara adil dan setara, sebagai bentuk penghormatan terhadap kontribusi kedua belah pihak.

Dalam konteks hukum, penetapan wali oleh pengadilan memiliki implikasi yang luas, terutama terkait hak asuh dan pengelolaan aset anak di bawah umur. Ajie Darmaji, sebagai wali sah, memiliki tanggung jawab untuk mengelola segala sesuatu yang berkaitan dengan kepentingan anak-anaknya, termasuk warisan. Keputusannya untuk menerapkan hukum adat dalam pembagian warisan merupakan pilihan yang dapat diterima selama tidak bertentangan dengan hukum positif yang berlaku dan tidak merugikan hak-hak ahli waris.

Lebih jauh, penyelesaian masalah warisan ini juga menjadi penanda bahwa Ajie Darmaji berupaya untuk menjaga keharmonisan keluarga, bahkan di tengah cobaan berat. Klarifikasinya mengenai kesalahpahaman dengan Sherly menunjukkan bahwa komunikasi terbuka dan kejujuran adalah kunci untuk mengatasi setiap persoalan yang muncul. Komitmennya untuk "bertahan untuk anak" adalah moto yang kuat, yang mencerminkan dedikasi seorang ayah yang luar biasa.

Kisah Ajie Darmaji ini tidak hanya tentang pembagian harta, tetapi juga tentang nilai-nilai keluarga, keadilan, dan keteguhan hati seorang ayah. Ia menjadi contoh bagaimana menghadapi kehilangan dengan kepala tegak dan fokus pada masa depan generasi penerus. Komitmennya untuk membagi warisan Mpok Alpa secara rata kepada keempat anaknya, dengan mengedepankan prinsip hukum adat, patut diapresiasi sebagai upaya mulia untuk memastikan keadilan dan keutuhan keluarga.