Soundlife Hearing Center baru-baru ini menyelenggarakan sebuah acara bertajuk "Hear Well, Live Well" di Mall Epicentrum Offices, Jakarta Selatan, sebuah inisiatif signifikan yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang krusialnya menjaga kesehatan pendengaran sejak dini. Dalam acara tersebut, Soundlife secara resmi memperkenalkan ReSound Vivia, sebuah inovasi revolusioner dalam dunia alat bantu dengar yang diklaim sebagai perangkat berbasis kecerdasan buatan (AI) medical-grade terkecil di dunia. Kehadiran teknologi ini menandai lompatan besar dalam penanganan gangguan pendengaran, menawarkan solusi yang lebih canggih, personal, dan terintegrasi.
Perkenalan ReSound Vivia ini bukan sekadar peluncuran produk, melainkan bagian dari misi Soundlife untuk menyoroti masalah gangguan pendengaran yang semakin meluas di tengah lingkungan modern yang kian bising. Soundlife menekankan bahwa gangguan pendengaran bukanlah monopoli lansia, melainkan kondisi yang dapat menimpa siapa saja, tanpa memandang usia. Dampak dari kondisi ini pun tidak main-main; ia dapat secara signifikan menurunkan kualitas hidup, menghambat interaksi sosial, bahkan memicu berbagai masalah kesehatan mental dan fisik lainnya.
Fungsi utama dari integrasi AI dalam ReSound Vivia terletak pada kemampuannya untuk memproses suara dengan tingkat presisi dan adaptasi yang belum pernah ada sebelumnya. AI pada perangkat ini bekerja layaknya otak kedua bagi telinga, mampu menganalisis lingkungan suara secara real-time dan membuat penyesuaian otomatis untuk mengoptimalkan pengalaman pendengaran penggunanya. Salah satu fungsi paling vital adalah kemampuannya untuk menyaring suara lebih cepat dan menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan yang berbeda-beda. Ini berarti, dalam keramaian kafe, AI akan secara cerdas memprioritaskan suara percakapan dan meredam kebisingan latar belakang. Sebaliknya, saat berada di lingkungan yang tenang, AI akan memastikan setiap nuansa suara terdengar jernih dan natural.
Lebih dari sekadar penyaringan dasar, AI medical-grade pada ReSound Vivia dirancang untuk menghadirkan pengalaman pendengaran yang "organik" atau natural. Konsep "organic hearing" ini mengacu pada upaya untuk meniru cara kerja telinga manusia yang sehat dalam memproses suara, yaitu dengan memahami konteks, arah, dan intensitas suara secara intuitif. AI membantu perangkat untuk tidak hanya memperkuat volume, tetapi juga mengembalikan kedalaman, tekstur, dan arah suara, sehingga pengguna dapat merasakan kembali pengalaman pendengaran yang kaya dan mendekati alami. Misalnya, AI dapat membantu membedakan suara langkah kaki dari belakang atau percakapan dari samping, sesuatu yang seringkali hilang pada alat bantu dengar konvensional.
Fungsi AI juga mencakup personalisasi yang mendalam. Seiring waktu, ReSound Vivia dapat belajar dari preferensi pendengaran penggunanya. Melalui algoritma pembelajaran mesin, AI dapat mengingat pengaturan yang disukai pengguna dalam situasi tertentu, misalnya saat mendengarkan musik atau menonton televisi, dan secara otomatis menerapkan pengaturan tersebut di masa mendatang. Ini menciptakan pengalaman pendengaran yang semakin disesuaikan dan nyaman seiring dengan penggunaan. Selain itu, kemampuan konektivitas AI memungkinkan ReSound Vivia untuk terhubung mulus dengan perangkat lain seperti smartphone atau televisi, mengubahnya menjadi headphone nirkabel yang canggih untuk panggilan telepon atau streaming audio, dengan kualitas suara yang telah dioptimalkan oleh AI.
Para ahli turut menegaskan pentingnya kesehatan pendengaran. Prof. Dr. Suwandhi Widjaja, Sp.PD, Ph.D, FINASIM, dalam keterangannya, menyoroti peran sentral pendengaran dalam proses penuaan yang sehat dan bahagia. Beliau menjelaskan bahwa komunikasi yang nyaman dan kemampuan untuk menikmati berbagai aktivitas sehari-hari sangat bergantung pada kualitas pendengaran yang baik. "Kita tetap bisa menua dengan bahagia—melakukan hal-hal yang kita cintai, berkomunikasi dengan nyaman, dan menikmati hidup dengan penuh makna, yang semuanya bergantung pada pendengaran yang baik," tegasnya. Pendengaran yang prima memungkinkan seseorang tetap aktif secara sosial, terlibat dalam hobi, dan menjaga koneksi emosional dengan keluarga dan teman.
Dukungan medis juga disampaikan oleh Pauline Suwandhi, MD, MRCP (UK), yang menjelaskan keterkaitan gangguan pendengaran dengan peningkatan risiko depresi dan jatuh pada lansia. Gangguan pendengaran dapat menyebabkan isolasi sosial, frustrasi, dan kelelahan mental karena upaya keras untuk memahami percakapan, yang semuanya berkontribusi pada depresi. Selain itu, pendengaran yang buruk dapat memengaruhi keseimbangan dan kesadaran spasial, meningkatkan kemungkinan lansia terjatuh. Menurutnya, teknologi berbasis AI dapat menjadi solusi efektif karena kemampuannya menyaring suara lebih cepat dan menyesuaikan dengan kondisi lingkungan secara dinamis, sehingga mengurangi beban kognitif yang dialami penderita gangguan pendengaran.
Lebih lanjut, dampak gangguan pendengaran meluas hingga ke aspek kognitif. Penelitian menunjukkan adanya korelasi antara gangguan pendengaran yang tidak diobati dengan penurunan fungsi kognitif, bahkan peningkatan risiko demensia. Otak yang terus-menerus bekerja keras untuk memahami suara yang samar atau terdistorsi akan kehabisan sumber daya yang seharusnya dialokasikan untuk memori dan pemrosesan informasi lainnya. Dengan adanya alat bantu dengar berteknologi AI seperti ReSound Vivia, beban kognitif ini dapat dikurangi secara signifikan, memungkinkan otak untuk berfungsi lebih efisien dan berpotensi memperlambat penurunan kognitif.
Wesley Hsu, M.Sc. Audiology, dari Soundlife Hearing Center, menambahkan bahwa pengguna, terutama pemakai alat bantu dengar pertama kali, biasanya membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan perangkat baru. Otak perlu dilatih kembali untuk memproses suara yang kini diperkuat dan dimodifikasi oleh alat. Oleh karena itu, pendampingan profesional dari audiolog menjadi sangat penting. Para audiolog tidak hanya membantu dalam pemilihan dan penyesuaian awal perangkat, tetapi juga memberikan bimbingan dan dukungan selama periode adaptasi, memastikan pengguna mendapatkan manfaat maksimal dari teknologi AI yang canggih ini. Proses ini seringkali melibatkan beberapa sesi penyesuaian dan konsultasi untuk menyempurnakan pengaturan alat agar sesuai dengan kebutuhan dan preferensi individu.
Selain ReSound Vivia, Soundlife juga meluncurkan inovasi lainnya, yaitu ReSound Enzo IA. Ini adalah alat bantu dengar rechargeable berukuran kecil yang dirancang khusus untuk mengatasi gangguan pendengaran berat. Dengan kemampuan pengisian daya ulang, perangkat ini menawarkan kenyamanan dan keberlanjutan bagi pengguna yang membutuhkan amplifikasi suara yang kuat namun tetap ringkas. Perusahaan juga menghadirkan perangkat RIC (Receiver-in-Canal) yang lebih terjangkau, dilengkapi dengan dukungan teknologi Bluetooth Auracast. Bluetooth Auracast merupakan standar baru yang memungkinkan satu sumber audio untuk disiarkan ke banyak perangkat penerima secara simultan, membuka peluang baru untuk pengalaman pendengaran yang lebih inklusif di tempat-tempat umum seperti bioskop, bandara, atau ruang konferensi.
Sebagai penyedia solusi pendengaran terkemuka, Soundlife saat ini menawarkan lebih dari 200 pilihan alat bantu dengar yang bervariasi dalam teknologi, ukuran, dan harga, serta 50 jenis pelindung pendengaran untuk berbagai kebutuhan, mulai dari penggunaan profesional hingga rekreasi. Komitmen Soundlife terhadap aksesibilitas juga tercermin dari program cicilan yang ditawarkan, hingga 24 bulan dengan bunga mulai dari 0%, yang bertujuan untuk meringankan beban finansial bagi masyarakat yang membutuhkan.
CEO Soundlife, IM Chen, menegaskan bahwa layanan purna jual menjadi fokus utama perusahaan. Soundlife memahami bahwa pembelian alat bantu dengar adalah investasi jangka panjang yang membutuhkan dukungan berkelanjutan. Oleh karena itu, Soundlife menyediakan uji coba bebas risiko selama 10 hari, memungkinkan calon pengguna untuk merasakan manfaat perangkat sebelum berkomitmen penuh. Selain itu, setiap pembelian dilengkapi dengan garansi hingga tiga tahun, servis rutin setiap 3–4 bulan untuk memastikan perangkat berfungsi optimal, serta pemeriksaan ulang pendengaran tahunan untuk memantau perubahan kondisi pendengaran dan melakukan penyesuaian yang diperlukan. Pendekatan komprehensif ini memastikan bahwa setiap individu tidak hanya mendapatkan alat bantu dengar terbaik, tetapi juga dukungan penuh sepanjang perjalanan pendengaran mereka, sejalan dengan visi Soundlife untuk membantu setiap orang "Hear Well, Live Well". Dengan teknologi AI yang semakin canggih dan layanan yang berpusat pada pelanggan, Soundlife berusaha untuk mendefinisikan ulang standar perawatan pendengaran di Indonesia.

