0

Harga Bitcoin Hancur, Penambang Mulai Matikan Perangkat

Share

Jakarta – Pasar kripto kembali bergejolak hebat setelah harga Bitcoin (BTC) anjlok signifikan, merosot tajam ke bawah level psikologis USD 64.000. Penurunan drastis ini memicu gelombang aksi jual masif, yang memperparah keraguan investor terhadap aset digital utama tersebut. Dalam setahun terakhir, Bitcoin telah kehilangan hampir 30% dari nilainya, sebuah indikasi nyata dari tekanan pasar yang sedang berlangsung. Pada satu titik, harga Bitcoin bahkan menyentuh USD 62.303, level terendah sejak Maret 2024, sebelum sedikit pulih dan diperdagangkan di sekitar USD 63.010.

Analis Deutsche Bank, Marion Laboure, menyoroti bahwa penjualan yang stabil dan berkelanjutan ini menjadi sinyal kuat bahwa minat investor terhadap kripto secara keseluruhan sedang meredup, digantikan oleh gelombang pesimisme yang kian meningkat. "Penjualan yang stabil ini menurut pandangan kami menandakan investor kehilangan minat dan pesimisme secara keseluruhan tentang kripto semakin meningkat," ujarnya dalam catatan riset yang dikutip dari CNBC. Sentimen negatif ini diperparah oleh berbagai faktor makroekonomi global, termasuk kekhawatiran inflasi, kebijakan moneter yang ketat, serta ketidakpastian regulasi yang masih membayangi industri kripto di berbagai negara. Para investor yang sebelumnya memegang Bitcoin sebagai "aset aman" atau lindung nilai terhadap inflasi kini mulai mempertanyakan narasi tersebut, terutama di tengah kinerja aset tradisional seperti emas yang jauh lebih stabil.

Bisnis Penambangan Bitcoin yang Tercekik

Kejatuhan harga Bitcoin ini memiliki konsekuensi langsung dan parah bagi industri penambangan token digital. Proses penambangan kripto, yang dikenal sangat intensif dalam komputasi dan boros energi, kini menjadi jauh kurang ekonomis, bahkan merugi bagi banyak pelaku. Seiring dengan harga Bitcoin yang terus merosot dan biaya listrik yang menanjak, para penambang menghadapi situasi yang sangat sulit. Laporan dari Bloomberg mengindikasikan bahwa perusahaan-perusahaan komputasi skala besar, yang merupakan tulang punggung operasi penambangan, mulai mematikan peralatan mereka. Langkah ini diambil sebagai upaya untuk mengurangi kerugian operasional yang membengkak.

Data dari Luxor Technology, sebuah platform analitik penambangan kripto, menunjukkan bahwa indeks harga hash—metrik yang digunakan untuk menentukan seberapa besar pendapatan yang bisa diraih penambang dari menambang kripto—telah mencapai titik terendah dalam sejarah pada minggu ini. Ini adalah indikator krusial yang mencerminkan profitabilitas penambangan yang anjlok ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ketika harga hash rendah, itu berarti pendapatan yang dihasilkan dari setiap unit daya komputasi (hash rate) yang digunakan untuk menambang Bitcoin tidak lagi mampu menutupi biaya operasional, terutama biaya listrik yang merupakan komponen terbesar.

Menurut Coindesk, yang dikutip oleh detikINET dari Futurism, biaya rata-rata untuk menambang satu Bitcoin saat ini berkisar di angka USD 87.000. Angka ini jauh melampaui harga jual Bitcoin saat ini yang berada di kisaran USD 63.010. Perbedaan signifikan ini menciptakan kondisi yang sangat tidak menguntungkan, di mana penambang secara efektif kehilangan sekitar USD 24.000 untuk setiap Bitcoin yang berhasil mereka tambang. Situasi ini memaksa banyak penambang, terutama yang memiliki efisiensi rendah atau beroperasi di wilayah dengan biaya energi tinggi, untuk memilih opsi mematikan perangkat mereka daripada terus menumpuk kerugian. Ini bukan hanya tentang profitabilitas jangka pendek, tetapi juga tentang keberlanjutan bisnis jangka panjang.

Perbandingan Historis dan Badai Sempurna

Kehancuran harga Bitcoin kali ini dianggap sebagai salah satu yang paling signifikan dalam sejarah baru-baru ini, dengan beberapa pihak membandingkannya dengan momen dramatis ketika Tiongkok melarang penambangan kripto pada tahun 2021. Larangan tersebut memicu eksodus massal penambang dari Tiongkok dan menyebabkan volatilitas ekstrem di pasar. Namun, penurunan kali ini terjadi dalam konteks yang berbeda, di mana investor terus melepas cadangan mereka tanpa ada pemicu regulasi tunggal yang jelas dari satu negara. Para penggemar kripto bahkan mulai memperkirakan skenario terburuk, dengan beberapa prediksi menunjukkan harga Bitcoin bisa menukik hingga hanya USD 30.000 jika tren negatif ini berlanjut.

Harry Sudock, Chief Business Officer perusahaan penambangan CleanSpark, menegaskan tingkat keparahan situasi ini. "Penurunan ini bersejarah, terbesar sejak pelarangan di China," ujarnya. Sudock menjelaskan bahwa kombinasi "badai musim dingin" yang menaikkan harga listrik—terutama di wilayah-wilayah dengan operasi penambangan besar seperti Texas, Amerika Serikat—dan aksi jual sektor teknologi yang lebih luas baru-baru ini, kemungkinan besar menjadi penyebab utama kehancuran ini. Kenaikan harga listrik musiman, ditambah dengan tekanan jual di pasar saham teknologi yang sering berkorelasi dengan aset berisiko seperti kripto, menciptakan "badai sempurna" yang menghantam profitabilitas penambangan. Ini menunjukkan betapa rentannya industri penambangan terhadap fluktuasi harga energi dan sentimen pasar yang lebih luas.

Mematikan perangkat keras penambangan selama kondisi cuaca ekstrem atau lonjakan harga listrik memang bukan hal baru bagi para penambang yang adaptif. Mereka sering kali memiliki strategi untuk mengoptimalkan operasi berdasarkan harga energi real-time. Namun, penurunan kali ini terjadi pada momen yang aneh, mempertanyakan salah satu narasi inti Bitcoin. Kripto sering dipuja sebagai aset aman atau "emas digital" oleh para pendukungnya, yang seharusnya menjadi pelindung nilai di tengah gejolak ekonomi dan geopolitik. Mengingat gejolak geopolitik global yang meningkat dan ketidakpastian ekonomi yang merajalela, harga kripto seharusnya meroket sebagai tempat berlindung. Namun, kenyataannya justru sebaliknya.

Mitos Aset Aman dan Kinerja Emas

Paradoks ini semakin jelas terlihat ketika membandingkan kinerja Bitcoin dengan logam mulia, terutama emas, yang justru berkinerja sangat baik di tengah ketidakpastian ini. Nilai satu ons emas mencapai rekor tertinggi sepanjang masa pada akhir tahun lalu, bahkan sempat menembus USD 2.400, karena investor secara massal mencari investasi yang jauh lebih aman dan teruji daripada mata uang kripto yang dikenal sangat fluktuatif. Harga emas sejak itu sempat turun, namun tetap stabil di harga yang jauh lebih tinggi daripada sebelum kenaikan signifikan tersebut.

Perbandingan ini secara efektif membongkar narasi "emas digital" yang selama ini disematkan pada Bitcoin. Emas, dengan sejarah ribuan tahun sebagai penyimpan nilai dan aset fisik yang langka, terbukti lebih tangguh dalam menghadapi tekanan pasar dan ketidakpastian global. Investor cenderung beralih ke aset yang memiliki rekam jejak terbukti sebagai pelindung kekayaan, bukan aset yang rentan terhadap spekulasi dan sentimen pasar yang cepat berubah. Fluktuasi harga Bitcoin yang ekstrem, bahkan ketika pasar global menunjukkan tanda-tanda ketidakpastian, mengikis kepercayaan pada kemampuannya untuk berfungsi sebagai aset aman yang sejati. Ini memaksa banyak investor untuk mengevaluasi kembali portofolio mereka dan mempertanyakan posisi Bitcoin dalam strategi investasi jangka panjang mereka.

Masa Depan Penambang: Beralih ke AI?

Di tengah krisis profitabilitas penambangan kripto, beberapa perusahaan penambangan mulai mengambil langkah strategis yang drastis: mereka beralih haluan dengan mengalokasikan perangkat keras komputasi mereka untuk menggerakkan model kecerdasan buatan (AI) daripada menambang kripto. Langkah ini bukan tanpa alasan. Permintaan akan daya komputasi tinggi untuk pelatihan dan operasional model AI generatif telah melonjak drastis dalam beberapa tahun terakhir, menciptakan pasar baru yang sangat menguntungkan bagi penyedia infrastruktur komputasi. Unit pemrosesan grafis (GPU) yang digunakan dalam penambangan kripto, terutama untuk algoritma tertentu, juga sangat dicari di industri AI.

Perusahaan-perusahaan penambangan yang memiliki pusat data skala besar dan ribuan GPU melihat ini sebagai peluang emas untuk mendiversifikasi pendapatan dan memanfaatkan aset yang sudah mereka miliki. Daripada membiarkan perangkat keras mereka mati dan tidak produktif, mereka mulai menjajaki kontrak untuk menyediakan kapasitas komputasi bagi startup AI, peneliti, atau bahkan perusahaan teknologi besar yang membutuhkan daya pemrosesan yang masif. Ini bisa menjadi penyelamat bagi banyak penambang yang tertekan.

Namun, apakah langkah itu akan menjadi taruhan yang lebih aman mengingat investor juga mulai ragu terhadap potensi gelembung di sektor AI? Hal itu masih harus dilihat nanti. Meskipun permintaan AI saat ini sangat tinggi, pasar ini juga memiliki dinamika dan risiko tersendiri, termasuk persaingan yang ketat, biaya pengembangan yang tinggi, dan potensi regulasi di masa depan. Ada kekhawatiran bahwa euforia seputar AI bisa saja membentuk gelembung spekulatif serupa dengan yang terjadi di sektor kripto. Peralihan ini menuntut adaptasi signifikan dalam hal keahlian operasional, perangkat lunak, dan model bisnis.

Implikasi Jangka Panjang

Penurunan harga Bitcoin yang parah dan krisis di sektor penambangan ini memiliki implikasi jangka panjang yang mendalam bagi seluruh ekosistem kripto. Pertama, ini bisa memicu konsolidasi besar-besaran di industri penambangan, di mana hanya penambang yang paling efisien, dengan akses ke energi murah, atau yang memiliki modal besar untuk beradaptasi, yang akan bertahan. Penambang kecil kemungkinan besar akan tersingkir. Kedua, ini mungkin memperlambat laju inovasi di Bitcoin, karena lebih sedikit sumber daya yang dialokasikan untuk memelihara jaringan. Ketiga, kegagalan Bitcoin sebagai aset aman dalam kondisi pasar saat ini bisa mengubah persepsi investor global secara permanen, mendorong mereka ke aset yang lebih tradisional dan terbukti.

Masa depan Bitcoin dan industri penambangannya berada di persimpangan jalan. Apakah ini hanya fase koreksi sementara sebelum kembali bangkit, ataukah ini merupakan titik balik yang menandakan perubahan struktural yang lebih dalam? Yang jelas, para penambang harus menghadapi kenyataan pahit bahwa model bisnis mereka sangat bergantung pada harga Bitcoin yang tinggi dan biaya energi yang rendah. Dengan kedua faktor tersebut bergerak melawan mereka, strategi adaptasi, termasuk diversifikasi ke sektor AI, menjadi krusial untuk bertahan di tengah badai. Pasar kripto kembali membuktikan sifatnya yang sangat dinamis dan penuh tantangan, memaksa semua pemain untuk terus berinovasi dan beradaptasi.