Jakarta – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan bahwa serangkaian peristiwa cuaca ekstrem yang melanda Indonesia belakangan ini, mulai dari curah hujan dengan intensitas sangat tinggi hingga pemicu bencana hidrometeorologi yang masif, merupakan manifestasi nyata dari perubahan iklim global. Fenomena ini, menurut para ahli, bukan lagi sekadar prediksi teoretis, melainkan sebuah realitas yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat dan lingkungan.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Eddy Hermawan, mengungkap bahwa indikator perubahan iklim global semakin jelas dan tidak terbantahkan. "Global warming bukan lagi teori, tetapi sudah menjadi aksi nyata di atmosfer. Hal itu ditandai dengan kenaikan muka laut, peningkatan cuaca ekstrem, hingga munculnya ancaman baru seperti siklon tropis," ungkap Eddy dalam keterangan tertulisnya pada Rabu (5/2/2026). Ia menyoroti kemunculan siklon-siklon tropis yang sebelumnya jarang terjadi di wilayah Indonesia, seperti Seroja, Cempaka, dan Dahlia, yang telah menyebabkan kerusakan signifikan, khususnya di wilayah Jakarta dan pantai utara Jawa. Keberadaan siklon-siklon ini menjadi bukti konkret pergeseran pola iklim yang memerlukan perhatian serius.
Eddy menjelaskan bahwa penyebab hujan ekstrem dapat dibedakan berdasarkan durasinya. Hujan ekstrem dengan durasi pendek, yang berlangsung hanya dalam hitungan jam, umumnya dipicu oleh gelombang atmosfer ekuatorial. Salah satu contoh paling relevan adalah gelombang Kelvin. Gelombang Kelvin adalah osilasi atmosfer skala besar yang bergerak ke timur di sepanjang ekuator, mempengaruhi distribusi tekanan dan kelembaban udara. Ketika gelombang ini melintasi suatu wilayah, ia dapat memicu konveksi kuat dan pembentukan awan kumulonimbus raksasa, yang kemudian melepaskan curah hujan sangat lebat dalam waktu singkat. Fenomena ini seringkali bertanggung jawab atas banjir bandang lokal yang terjadi mendadak dan melumpuhkan aktivitas perkotaan dalam hitungan jam.
Sementara itu, hujan ekstrem yang berdurasi panjang, bahkan bisa berlangsung harian hingga mingguan, dipicu oleh fenomena iklim berskala lebih besar, yakni La Niña dan Indian Ocean Dipole (IOD). "Kalau hujannya berhari-hari, itu bukan sekadar gelombang atmosfer, tapi karena La Niña dan Indian Ocean Dipole (IOD). Itu yang membuat hujan terus-menerus," jelas Eddy.
La Niña adalah fase dingin dari El Niño-Southern Oscillation (ENSO) di Samudra Pasifik. Kondisi ini ditandai dengan mendinginnya suhu permukaan laut di Pasifik ekuator bagian tengah dan timur, yang secara tidak langsung menyebabkan peningkatan aktivitas konveksi dan curah hujan di wilayah Indonesia dan sekitarnya. La Niña dapat berlangsung selama berbulan-bulan, bahkan lebih dari setahun, sehingga secara signifikan meningkatkan potensi terjadinya musim hujan yang lebih basah dan berkepanjangan di sebagian besar wilayah Indonesia.
Indian Ocean Dipole (IOD) adalah fenomena iklim di Samudra Hindia yang menggambarkan perbedaan anomali suhu permukaan laut antara Samudra Hindia bagian barat dan timur. IOD positif, yang berarti suhu permukaan laut di Samudra Hindia bagian barat lebih hangat dari biasanya dan di bagian timur lebih dingin, cenderung membawa curah hujan yang lebih tinggi ke wilayah Indonesia. Sebaliknya, IOD negatif dapat mengurangi curah hujan. Interaksi antara La Niña dan IOD, yang terkadang terjadi bersamaan, dapat memperkuat dampak satu sama lain, menciptakan kondisi atmosfer yang sangat tidak stabil dan memicu periode hujan ekstrem yang panjang dan merata di berbagai daerah di Indonesia. Kedua fenomena ini bekerja dalam skala basin samudra, memengaruhi sirkulasi atmosfer global dan lokal, sehingga dampaknya terhadap pola curah hujan di Indonesia sangat signifikan dan mampu mempertahankan kondisi basah dalam jangka waktu yang lama.
Selain menjelaskan penyebab hujan ekstrem, Eddy juga menuturkan secara rinci mengapa siklon tropis, yang secara historis jarang terjadi di garis lintang rendah Indonesia, kini mulai masuk dan bahkan terbentuk di wilayah ini. Menurutnya, kawasan Indonesia berada pada jalur Asian Monsoon, sebuah sistem angin muson yang membawa uap air melimpah dari benua Asia. Namun, ada faktor-faktor lokal yang spesifik, terutama di wilayah seperti Jakarta dan sekitarnya, yang menjadikannya lokasi ideal bagi pembentukan pusaran atmosfer yang dapat berkembang menjadi siklon.
"Uap air dari Asia bergerak masuk karena wilayah Jakarta dan sekitarnya berupa dataran aluvial, pantai landai, serta mengalami pemanasan hingga lebih dari 12 jam per hari, sehingga membentuk pusat tekanan rendah," papar Eddy. Dataran aluvial yang datar dan rendah, ditambah dengan garis pantai yang landai, memungkinkan massa udara hangat dan lembap terkumpul. Pemanasan permukaan daratan yang intens dan berlangsung lama, lebih dari setengah hari, menciptakan zona tekanan rendah yang persisten. Pusat tekanan rendah ini bertindak seperti "magnet" yang menarik massa udara dari sekitarnya, memulai proses pembentukan pusaran.
Di lapisan atmosfer yang lebih tinggi, sekitar 500 hektopascal (hPa) atau pada ketinggian sekitar 5,8 kilometer dari permukaan laut, terjadi dinamika yang lebih kompleks. "Kondisi itu membuat Jakarta menjadi lokasi ideal terbentuknya pusaran atmosfer. Di lapisan sekitar 500 hektopascal, atau ketinggian 5,8 kilometer, terjadi pusaran angin yang sangat kuat," jelasnya. Pusaran tersebut merupakan hasil pertemuan angin baratan dan timuran yang memutar atmosfer di atas Jakarta selama berjam-jam. Konvergensi angin dari arah yang berlawanan pada ketinggian ini, ditambah dengan adanya pusat tekanan rendah di permukaan, menciptakan efek putaran yang semakin kuat dan terorganisir. Dampaknya, hujan tidak hanya deras, tetapi juga terkonsentrasi lama di satu wilayah, berpotensi memicu atau menjadi bagian dari sistem tekanan rendah yang lebih besar, bahkan berkembang menjadi bibit siklon atau siklon tropis. Fenomena ini menjelaskan mengapa siklon tropis seperti Seroja, Cempaka, dan Dahlia, yang sebelumnya dianggap anomali, kini menjadi ancaman nyata bagi Indonesia.
Perlu Prediksi Berbasis AI dan Big Data
Melihat kompleksitas dan intensitas bencana hidrometeorologi yang semakin meningkat, Eddy Hermawan menekankan pentingnya transformasi radikal dalam sistem peringatan dini bencana di Indonesia. Pendekatan konvensional dalam prediksi cuaca ekstrem, yang mengandalkan model-model lama dan data terbatas, tidak lagi memadai untuk menghadapi tantangan perubahan iklim di masa depan.
"Kita harus masuk ke AI, big data, machine learning, deep learning, agar prediksi lebih presisi, tepat waktu, dan terlokalisasi," tegasnya. Integrasi teknologi kecerdasan buatan (AI) memungkinkan analisis data dalam skala yang belum pernah ada sebelumnya. Big data, yang mencakup data dari satelit, radar cuaca, stasiun pengamatan darat, sensor lingkungan, hingga data sosial media, dapat diproses dan diinterpretasikan secara real-time. Machine learning dan deep learning memungkinkan sistem untuk belajar dari pola-pola cuaca masa lalu dan memprediksi kejadian di masa depan dengan akurasi yang lebih tinggi.
Teknologi ini dapat memberikan prediksi yang jauh lebih presisi, tidak hanya tentang kapan hujan akan turun, tetapi juga di mana, berapa intensitasnya, dan durasinya secara sangat lokal. Prediksi yang tepat waktu sangat krusial untuk memberikan waktu yang cukup bagi masyarakat untuk melakukan evakuasi atau mitigasi, serta bagi pemerintah untuk menyiapkan respons darurat. Dengan kemampuan prediksi terlokalisasi, peringatan dini dapat disampaikan kepada komunitas yang benar-benar berisiko, menghindari "kebisingan" peringatan umum yang kurang efektif.
Eddy berharap hasil-hasil riset atmosfer BRIN, yang kini semakin diperkaya dengan pendekatan teknologi mutakhir, dapat menjadi dasar yang kuat bagi upaya mitigasi bencana, pemetaan risiko, serta bahan pengambilan kebijakan yang lebih adaptif dan proaktif. Pengelolaan bencana hidrometeorologi di Indonesia harus semakin berbasis sains, memanfaatkan temuan-temuan terbaru dan teknologi canggih untuk mengurangi kerugian jiwa dan materi.
Daya Tahan Lingkungan yang Melemah: "Hutan Beton" dan Perkotaan Tak Siap
Selain faktor-faktor atmosfer dan teknologi, Eddy Hermawan juga menyoroti aspek lingkungan yang tak kalah krusial dalam memperparah dampak bencana hidrometeorologi. Menurutnya, lemahnya daya tahan lingkungan menjadi variabel penting yang sering terabaikan. Perubahan tutupan lahan yang drastis, dari "hutan hijau" alami yang berfungsi sebagai penyerap air menjadi "hutan beton" perkotaan yang padat, telah menghilangkan kemampuan alami tanah untuk meresap air.
Ketika hujan lebat terjadi, air tidak memiliki ruang yang cukup untuk meresap ke dalam tanah. Permukaan yang tertutup beton dan aspal mempercepat aliran air ke saluran drainase yang seringkali tidak memadai, atau langsung menggenangi jalanan dan permukiman. Akibatnya, sistem drainase perkotaan kewalahan, dan banjir menjadi tak terhindarkan. Hilangnya vegetasi dan daerah resapan juga mengurangi cadangan air tanah, yang dapat menyebabkan kekeringan di musim kemarau, menciptakan siklus bencana yang kompleks.
Dengan demikian, Eddy Hermawan menekankan bahwa banjir di Jakarta, misalnya, tidak hanya soal curah hujan yang tinggi akibat perubahan iklim, tetapi juga soal ketidaksiapan lanskap perkotaan dalam menghadapi beban hidrometeorologi ekstrem. Pembangunan yang tidak berkelanjutan, tanpa mempertimbangkan kapasitas lingkungan untuk menyerap dan mengelola air, telah menciptakan kota-kota yang sangat rentan terhadap banjir dan genangan.
Maka dari itu, solusi untuk menghadapi ancaman hujan ekstrem dan siklon tropis harus bersifat holistik. Tidak hanya berfokus pada pemahaman ilmiah dan teknologi prediksi, tetapi juga pada penguatan daya tahan lingkungan. Ini mencakup implementasi tata ruang kota yang berkelanjutan, pembangunan infrastruktur hijau seperti taman kota dan area resapan air, restorasi ekosistem pesisir dan hulu sungai, serta edukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan.
BRIN melalui riset-risetnya terus berupaya menyediakan data dan informasi yang akurat untuk mendukung pengambilan keputusan. Dengan sinergi antara sains, teknologi, kebijakan, dan kesadaran lingkungan, Indonesia diharapkan dapat membangun ketahanan yang lebih baik dalam menghadapi ancaman perubahan iklim dan bencana hidrometeorologi di masa depan. Tantangan ini adalah panggilan bagi semua pihak untuk bertindak secara kolektif demi keberlanjutan dan keselamatan bangsa.

