Sebuah temuan revolusioner dari para peneliti di Israel telah mengguncang pemahaman kita tentang penentu umur panjang manusia. Menurut studi terbaru dari Institut Sains Weizmann, separuh dari rentang hidup seseorang ternyata sudah ‘terprogram’ sejak ia masih dalam kandungan ibu, dengan faktor genetik memegang peranan dominan dalam penentuan awal ini. Penelitian ini secara fundamental mengubah cara kita memandang keseimbangan antara takdir genetik dan pengaruh lingkungan dalam membentuk perjalanan hidup kita.
Ben Shenhar, seorang mahasiswa doktoral di bidang fisika dan penulis utama studi dari Institut Sains Weizmann, menjelaskan bahwa rentang hidup manusia adalah hasil interaksi kompleks dari berbagai faktor. "Rentang hidup dipengaruhi banyak faktor, termasuk gaya hidup, gen, dan terpenting soal faktor kebetulan seperti organisme yang identik secara genetik dibesarkan di lingkungan yang sama tetapi meninggal dalam waktu berbeda," ungkap Shenhar, sebagaimana dikutip dari Times of Israel. Pernyataannya menyoroti bahwa meskipun genetik adalah fondasi, ada lapisan-lapisan lain yang juga membentuk nasib biologis kita.
Gen, cetak biru kehidupan kita, memegang peranan sentral dalam menentukan berapa lama kita akan menghirup udara di dunia ini. Dalam konteks umur panjang, genetik nampaknya berperan bak pisau bermata dua. Di satu sisi, terdapat cacat genetik yang melemahkan, yang dapat menyebabkan berbagai penyakit kronis dan secara signifikan memperpendek umur harapan hidup seseorang. Ini bisa berupa predisposisi terhadap kondisi seperti penyakit jantung, kanker, atau kelainan neurodegeneratif yang mempercepat proses penuaan seluler dan organ. Namun, di sisi lain, ada pula varian genetik yang justru bersifat protektif dan bermanfaat, yang dapat meningkatkan peluang seseorang untuk mencapai usia yang sangat tua dengan kualitas hidup yang baik.
Shenhar memberikan ilustrasi menarik untuk menjelaskan fenomena gen pelindung ini. Ia mencontohkan seseorang yang bisa mencapai usia 100 tahun tanpa mengalami kondisi medis serius yang berarti, seperti diabetes, penyakit jantung koroner, atau demensia. Kemampuan luar biasa ini, menurutnya, sering kali bukan hanya karena gaya hidup sehat atau keberuntungan semata, melainkan karena individu tersebut memiliki warisan genetik yang memberikannya gen pelindung. Gen-gen ini bekerja aktif untuk menetralkan atau mengurangi risiko penyakit yang lazim berkembang seiring bertambahnya usia, memungkinkan tubuhnya untuk berfungsi optimal lebih lama.
Para ilmuwan menegaskan bahwa mekanisme genetik yang memengaruhi umur panjang sangatlah kompleks. "Sejumlah gen telah diidentifikasi, meskipun seperti kebanyakan sifat kompleks, usia panjang mungkin dipengaruhi ratusan bahkan ribuan gen," ujar Shenhar. Ini berarti bahwa umur panjang bukanlah hasil dari satu atau dua gen "ajaib," melainkan merupakan orkestrasi rumit dari jaringan genetik yang luas, di mana setiap gen mungkin memberikan kontribusi kecil namun signifikan terhadap ketahanan dan kemampuan regenerasi tubuh. Pemetaan dan pemahaman tentang seluruh spektrum gen ini menjadi salah satu tantangan terbesar dalam penelitian penuaan.
Lebih lanjut, studi yang dilakukan oleh Institut Sains Weizmann ini dibangun di atas fondasi penelitian sebelumnya, terutama studi kembar historis yang telah lama menjadi pilar dalam memahami kontribusi genetik terhadap berbagai sifat manusia. Studi-studi kembar identik (monozigot) dan kembar non-identik (dizigot) dari Swedia dan Denmark, yang datanya terkumpul sejak abad ke-19, telah menjadi sumber daya tak ternilai. Dengan membandingkan kesamaan dan perbedaan dalam rentang hidup antara pasangan kembar, para peneliti berusaha mengidentifikasi sejauh mana genetik berperan dibandingkan dengan faktor lingkungan. Namun, penelitian terbaru ini mencoba melangkah lebih jauh dengan menghitung dan mengoreksi faktor-faktor yang mungkin terlewatkan dalam analisis sebelumnya.
Salah satu temuan paling krusial dari penelitian terbaru ini adalah identifikasi dan koreksi terhadap apa yang disebut "faktor mortalitas ekstrinsik." Penelitian sebelumnya sering kali mengasumsikan bahwa perbedaan rentang hidup antara kembar, atau variasi dalam populasi umum, sebagian besar disebabkan oleh faktor genetik intrinsik atau lingkungan yang memengaruhi proses penuaan biologis. Namun, para peneliti menemukan bahwa ada banyak kasus di mana kematian terjadi karena sebab-sebab di luar kendali proses biologis alami tubuh, yang secara signifikan dapat mendistorsi estimasi kontribusi genetik.
Untuk mengilustrasikan dampak faktor mortalitas ekstrinsik, para peneliti mencontohkan kasus kembar yang meninggal dengan usia yang sangat berbeda. Bayangkan sepasang kembar identik: kembaran pertama meninggal pada usia 90 tahun karena sebab alami, mungkin karena kegagalan organ yang berkaitan dengan usia tua. Sementara itu, kembaran kedua meninggal pada usia yang jauh lebih muda, katakanlah 30 tahun, bukan karena penyakit genetik bawaan, melainkan karena kecelakaan lalu lintas, tindak kekerasan, atau terinfeksi penyakit menular yang parah. Dalam analisis tradisional yang tidak memperhitungkan faktor ekstrinsik ini, perbedaan usia 60 tahun antara kedua kembar ini mungkin akan disalahartikan sebagai bukti rendahnya heritabilitas umur panjang atau pengaruh lingkungan yang sangat besar.
Padahal, penyebab kematian kembar kedua adalah murni dari luar tubuh (ekstrinsik) dan tidak mencerminkan potensi genetiknya untuk hidup lebih lama. Contoh ini menunjukkan bagaimana data tentang kematian yang disebabkan oleh faktor-faktor ekstrinsik—seperti kekerasan, kecelakaan, dan penyakit menular—dapat "menutupi" atau mendistorsi estimasi heritabilitas (bagian dari keragaman sifat yang terpengaruh oleh genetik). Dengan data baru yang lebih komprehensif dan metode statistik yang lebih canggih, para peneliti telah berhasil memvalidasi prediksi bahwa mortalitas ekstrinsik memang secara signifikan menutupi heritabilitas umur panjang yang sebenarnya. Ini berarti bahwa kontribusi genetik terhadap rentang hidup manusia mungkin jauh lebih besar daripada yang diperkirakan sebelumnya.
Uri Alon, penulis studi senior dan seorang ahli biologi sistem dari Institut Weizmann, menjelaskan mengapa studi kembar sebelumnya gagal memperhitungkan faktor krusial ini. Studi-studi terdahulu, meskipun menggunakan metode statistik yang canggih untuk mengukur heritabilitas sifat-sifat lain seperti tinggi badan, tekanan darah, atau bahkan sifat kepribadian, tidak terdampak oleh mortalitas ekstrinsik dalam cara yang sama. "Rata-rata umur harapan hidup adalah satu sifat khusus yang dipengaruhi mortalitas ekstrinsik," ucap Alon. "Karena penyebab kematian tidak dicatat secara rinci dalam studi kembar lama, jadi tidak dikoreksi untuk efek ini."
Implikasi dari temuan ini sangat luas. Pertama, ini menegaskan bahwa genetik memang merupakan faktor penentu yang sangat kuat dalam potensi umur panjang kita, bahkan lebih kuat dari yang kita duga. Ini berarti bahwa sejak embrio mulai terbentuk di rahim ibu, cetak biru genetiknya sudah memegang kunci yang signifikan terhadap berapa banyak waktu yang akan ia miliki di bumi ini. DNA kita membawa informasi yang tidak hanya menentukan warna mata atau rambut, tetapi juga predisposisi terhadap penuaan, ketahanan terhadap penyakit, dan kecepatan proses degenerasi seluler.
Namun, pengakuan bahwa 50% umur manusia ditentukan sejak di kandungan bukanlah bentuk fatalisme. Ini lebih merupakan pemahaman mendalam tentang titik awal biologis kita. Sisanya 50%, yang tidak kalah pentingnya, adalah kanvas di mana pilihan gaya hidup, kondisi lingkungan, akses terhadap perawatan kesehatan, dan faktor-faktor kebetulan lainnya melukiskan perjalanan hidup kita. Ini mencakup segala sesuatu mulai dari pola makan, tingkat aktivitas fisik, manajemen stres, hingga paparan terhadap polusi, kualitas sistem medis, dan bahkan risiko kecelakaan atau penyakit menular yang dapat dicegah.
Penelitian ini juga membuka jalan bagi era kedokteran personalisasi yang lebih canggih. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang gen-gen spesifik yang memengaruhi umur panjang dan kerentanan terhadap penyakit, di masa depan, mungkin akan memungkinkan untuk melakukan skrining genetik dini untuk mengidentifikasi individu yang memiliki predisposisi genetik untuk hidup lebih lama atau mereka yang berisiko tinggi terhadap penyakit tertentu. Informasi ini dapat digunakan untuk mengembangkan strategi intervensi yang sangat disesuaikan, mulai dari rekomendasi diet dan olahraga yang spesifik hingga terapi gen atau obat-obatan yang ditargetkan untuk mengoptimalkan potensi umur panjang seseorang.
Selain itu, temuan ini menyoroti pentingnya penelitian lebih lanjut di bidang epigenetika—studi tentang perubahan ekspresi gen yang tidak melibatkan perubahan urutan DNA, melainkan dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Meskipun genetik memberikan cetak biru awal, bagaimana gen-gen ini diekspresikan—apakah mereka "menyala" atau "mati"—dapat dipengaruhi oleh diet ibu selama kehamilan, paparan toksin, dan stres. Ini berarti bahwa bahkan jika separuh umur kita ditentukan sejak di kandungan secara genetik, lingkungan dalam rahim pun dapat memodifikasi bagaimana gen-gen tersebut berinteraksi dengan dunia luar.
Pada akhirnya, studi dari Institut Sains Weizmann ini tidak hanya menggeser paradigma kita tentang umur panjang tetapi juga menggarisbawahi kompleksitas yang luar biasa dari proses kehidupan itu sendiri. Ini adalah pengingat bahwa meskipun kita memiliki batas-batas biologis yang telah ditentukan sejak awal, ada ruang yang luas untuk agensi dan pilihan manusia dalam membentuk kualitas dan durasi hidup kita. Memahami interaksi antara takdir genetik dan faktor-faktor ekstrinsik adalah kunci untuk membuka rahasia umur panjang yang sehat, dan penelitian semacam ini membawa kita selangkah lebih dekat untuk memahami dan, pada akhirnya, mungkin memperpanjang perjalanan luar biasa yang kita sebut kehidupan.

