BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Situasi pembalap asal Spanyol, Jorge Martin, tampaknya semakin pelik terkait cedera tangan kirinya. Setelah menjalani operasi awal, kondisinya belum menunjukkan pemulihan yang signifikan. Bahkan, dalam dua pekan terakhir, Martin harus menghadapi kenyataan pahit bahwa ia bahkan tidak mampu mengangkat botol minumnya sendiri, sebuah indikasi betapa parahnya rasa nyeri dan keterbatasan gerak yang dialaminya. Kondisi ini memaksa Martin untuk kembali mempertimbangkan langkah drastis, yaitu operasi lanjutan, demi memastikan kesiapannya menghadapi kompetisi musim 2026.
Martin, yang sebenarnya telah bersemangat untuk kembali menguji motor terbarunya menjelang musim depan, menggelar sesi latihan tertutup di Sirkuit Valencia, Spanyol. Tujuannya adalah untuk mengevaluasi performa dan adaptasinya dengan tunggangan barunya. Namun, euforia tersebut harus pupus seketika ketika, tak lama setelah sesi uji coba tersebut, cederanya kambuh dengan intensitas yang lebih mengkhawatirkan. Hal ini menjadi alarm keras baginya, yang akhirnya berujung pada keputusan untuk kembali menemuhi meja operasi.
"Saya pikir saya sudah pulih, tapi dua minggu setelah seri di Valencia, saya bahkan tidak bisa mengangkat botol air. Saya mulai merasakan banyak nyeri di tangan atau tulang selangka selama tinggal di rumah," ujar Jorge Martin, mengungkapkan kekecewaannya yang mendalam kepada media internasional, seperti yang dikutip dari Motorsport pada Rabu (4/2). Pernyataannya menggambarkan betapa jauhnya ia dari kondisi optimal, bahkan untuk aktivitas sehari-hari yang paling sederhana sekalipun. Rasa sakit yang terus-menerus dirasakan di area tangan dan tulang selangka menjadi bukti bahwa proses penyembuhannya tidak berjalan sesuai rencana.
Lebih lanjut, Martin menjelaskan bahwa keputusan untuk kembali menjalani operasi bukanlah hal yang mudah, namun merupakan keniscayaan demi masa depannya di dunia balap. "Jadi, saya menyadari bahwa saya harus menjalani pemeriksaan ulang cedera saya. Saya harus menjalani operasi lagi. Beberapa tulang masih belum sembuh. Saya menjalani operasi secepat mungkin," tambahnya, menegaskan urgensi dan keseriusan situasinya. Ia merasa ada bagian dari tulang yang belum sepenuhnya menyatu atau pulih, sehingga memerlukan intervensi medis lebih lanjut.
Kondisi yang dialami Martin ini tentu menimbulkan keraguan besar, baik bagi dirinya sendiri maupun para penggemarnya. Ia sendiri bergulat dengan pertanyaan fundamental: apakah tangannya benar-benar siap untuk kembali beraksi di lintasan balap, atau justru masih membutuhkan waktu pemulihan yang lebih panjang dan intensif? Ketidakpastian ini menjadi beban psikologis tersendiri bagi seorang atlet profesional yang dituntut untuk selalu berada dalam performa puncak.
"Melakukan dua operasi lagi sangat berat, tapi saya memutuskan itu yang terbaik untuk masa depan saya, dan akhirnya bisa mencapai 100 persen karena saya pikir selama 2025 saya belum pernah mencapai 100 persen sepanjang musim," tuturnya, merujuk pada musim 2025 yang ia rasakan belum pernah berada dalam kondisi fisik sepenuhnya. Ia menyadari bahwa untuk bersaing di level tertinggi MotoGP, kondisi fisik prima adalah syarat mutlak. Ketidakmampuannya mencapai performa optimal di musim sebelumnya menjadi salah satu motivasi utama baginya untuk menyelesaikan masalah cedera ini secara tuntas.
Martin menambahkan dengan nada sedikit melankolis namun penuh tekad, "Sayang sekali, tapi akhirnya saya menutup babak itu, dan sekarang saya sudah dalam perjalanan untuk akhirnya mencapai 100 persen." Ia melihat operasi kedua ini bukan sebagai kemunduran, melainkan sebagai langkah penting untuk "menutup babak" dari cedera yang mengganggunya, dan membuka lembaran baru menuju pemulihan total. Perjalanan menuju kesempurnaan fisik memang seringkali dipenuhi rintangan, namun semangat pantang menyerah Martin patut diapresiasi.
Harapan terbesar Martin saat ini adalah dapat pulih sepenuhnya tepat sebelum seri tes pramusim yang krusial di Buriram, Thailand, pada tanggal 21-22 Februari mendatang. Lokasi yang sama, Buriram, juga akan menjadi tuan rumah seri pembuka MotoGP musim depan, seminggu setelah sesi tes tersebut. Dengan demikian, sesi tes di Buriram menjadi sangat vital baginya untuk menguji kesiapan motor dan dirinya sendiri sebelum kompetisi resmi dimulai. Keterlambatan dalam pemulihan bisa berarti kehilangan kesempatan berharga untuk beradaptasi dengan sirkuit dan kondisi lintasan.

Ia membeberkan rencana dan targetnya, "Tujuannya adalah untuk hadir di tes Buriram. Kami sedikit di ambang batas untuk hadir di sini (Sepang), tapi akhirnya dokter mengatakan lebih baik menunggu. Saya akan menjalani pemeriksaan lagi pada Senin dan jika semuanya baik-baik saja, maka saya akan mulai mengendarai motor di Spanyol sebelum berangkat ke Tailan." Keputusan untuk tidak hadir di tes Sepang sebelumnya menunjukkan kehati-hatian tim medis dan Martin sendiri, yang lebih memilih menunggu hingga kondisi benar-benar memungkinkan. Rencana untuk kembali berlatih di Spanyol sebelum bertolak ke Thailand adalah strategi yang cerdas untuk memastikan ia tidak kehilangan momentum, sembari tetap memprioritaskan pemulihan.
Lebih dalam mengenai perjalanan pemulihannya, Martin menjelaskan bahwa rasa sakit yang ia alami bukan hanya pada tangannya, tetapi juga merembet ke area tulang selangka. Hal ini mengindikasikan adanya masalah yang lebih kompleks, kemungkinan terkait dengan cara ia bertumpu atau menahan beban saat menggunakan motor. "Tulang selangka saya juga terasa sakit. Saya pikir ini adalah cedera yang mungkin datang dari cedera tangan saya yang asli. Mungkin cara saya menahan tangan saya sedikit berbeda dan itu memberi saya masalah di tulang selangka juga," ungkapnya, memberikan gambaran lebih rinci mengenai dampak cedera yang ia alami. Hal ini menunjukkan bahwa penanganan cedera tidak bisa hanya terfokus pada satu area, melainkan harus komprehensif.
Jorge Martin, yang dikenal sebagai salah satu pembalap muda paling berbakat di MotoGP, mengakui bahwa musim 2025 menjadi musim yang penuh tantangan baginya. Ia tidak pernah merasa berada dalam kondisi fisik 100% sepanjang musim tersebut. Hal ini tentu saja mempengaruhi performanya di lintasan, meskipun ia tetap mampu menunjukkan beberapa penampilan gemilang. "Selama musim 2025, saya merasa saya tidak pernah mencapai 100 persen. Saya selalu berjuang untuk mencapai performa maksimal," ujarnya, menjelaskan bahwa ia harus berjuang ekstra keras untuk bersaing dengan pembalap lain yang dalam kondisi fisik prima.
"Saya merasa saya harus menyelesaikan ini sekarang. Ini sangat penting untuk masa depan saya," tegas Martin, menekankan kembali pentingnya operasi ini untuk karirnya. Keputusan ini adalah investasi jangka panjang. Ia tidak ingin cedera ini terus menghantuinya di musim-musim mendatang, yang berpotensi menghambat kemajuannya dan menghalangi ambisinya untuk meraih gelar juara dunia. Memiliki kondisi fisik yang optimal adalah fondasi utama bagi setiap pembalap untuk bisa mengeluarkan seluruh potensi terbaiknya.
Keputusan untuk kembali ke meja operasi ini juga menimbulkan pertanyaan mengenai kesiapan tim Pramac Racing, tim yang dibelanya, untuk musim 2026. Dengan absennya Martin dalam beberapa sesi penting, tim perlu merancang strategi alternatif untuk memaksimalkan persiapan motor dan pembalap lainnya. Namun, Martin yakin bahwa dengan penanganan yang tepat kali ini, ia akan kembali lebih kuat dan siap untuk memberikan yang terbaik bagi timnya. "Saya ingin sekali menyelesaikan ini dan bisa berlomba dengan normal, tanpa rasa sakit," tuturnya, mengungkapkan kerinduannya untuk kembali menikmati balapan tanpa dihantui rasa sakit dan keterbatasan fisik.
Lebih jauh, Martin memberikan gambaran mengenai proses pemulihan pasca-operasi. Ia memperkirakan bahwa setelah operasi, ia akan memerlukan waktu untuk rehabilitasi dan fisioterapi yang intensif. Namun, ia optimis bahwa dengan dukungan tim medis dan dedikasi pribadinya, ia akan mampu melewati masa pemulihan ini dengan baik. "Dokter telah memberikan instruksi yang jelas, dan saya akan mengikuti semuanya dengan cermat. Prioritas utama saya sekarang adalah pemulihan," katanya, menunjukkan kedisiplinan dan komitmennya terhadap proses penyembuhan.
Menjelang akhir pernyataannya, Jorge Martin menyampaikan pesan kepada para penggemarnya yang setia. Ia berterima kasih atas dukungan yang terus diberikan dan berharap mereka dapat memahami situasinya saat ini. "Saya tahu ini berita yang tidak menyenangkan, tetapi saya berjanji akan melakukan segalanya untuk kembali lebih kuat," ujarnya, mencoba menenangkan kekhawatiran para penggemarnya. Ia menyadari bahwa dukungan dari para penggemar adalah sumber motivasi yang besar baginya, terutama di masa-masa sulit seperti ini.
Proses pemulihan cedera ini memang menjadi ujian berat bagi Jorge Martin. Namun, dengan tekad yang kuat dan dukungan yang memadai, diharapkan ia dapat segera pulih sepenuhnya dan kembali bersaing di lintasan MotoGP dengan performa yang luar biasa pada musim 2026. Perjalanan menuju puncak seringkali harus melewati lembah kegelapan, dan Martin kini tengah berjuang untuk keluar dari kegelapan tersebut menuju cahaya kesembuhan dan kejayaan. Keputusan untuk kembali operasi, meskipun berat, adalah langkah bijak yang menunjukkan profesionalismenya dalam menjaga karir balapnya agar tetap berada di jalur yang tepat. Masa depan yang cerah di dunia MotoGP menanti jika ia berhasil mengatasi rintangan ini. Ia berharap agar operasi kali ini menjadi yang terakhir dan ia bisa fokus pada performanya di lintasan.

