0

Pihak Inara Rusli Ungkap Anak Batuk-Minta Dijemput dari Rumah Virgoun

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Kondisi kesehatan dan psikis ketiga buah hati pasangan selebriti Inara Rusli dan Virgoun memprihatinkan selama berada di kediaman Virgoun. Kekhawatiran Inara Rusli memuncak ketika mengetahui anak-anaknya mengalami masalah kesehatan yang tak kunjung sembuh, diduga kuat berkaitan dengan lingkungan tempat tinggal mereka saat ini yang dianggap tidak sehat bagi pertumbuhan anak-anak. Kuasa hukum Inara Rusli, Daru Quthny dan Herlina, mengungkapkan detail perihal ini dalam sebuah konferensi pers yang digelar di kawasan Cipete, Jakarta Selatan, pada Rabu, 4 Februari 2026.

"Anak-anak sudah batuk selama hampir sebulan dan tidak sembuh-sembuh dikarenakan, terpapar asap rokok dari orang-orang yang berada di rumah tersebut yang hampir semuanya itu merokok aktif," ungkap Herlina, menjelaskan salah satu faktor utama yang memengaruhi kesehatan anak-anak. Paparan asap rokok pasif yang terus-menerus diduga menjadi penyebab utama gangguan pernapasan yang dialami oleh ketiga anak tersebut. Lingkungan yang seharusnya mendukung tumbuh kembang optimal justru berpotensi menimbulkan dampak negatif jangka panjang bagi kesehatan pernapasan mereka. Herlina menambahkan bahwa selain batuk yang tak kunjung reda, anak-anak juga menunjukkan gejala lain yang mengindikasikan ketidaknyamanan mereka di lingkungan tersebut.

Kondisi kesehatan yang memburuk ini semakin diperparah dengan kerinduan mendalam dari ketiga anaknya terhadap Inara Rusli. Daru Quthny, kuasa hukum lainnya, mengaku telah menerima bukti rekaman video yang memperlihatkan ketiga anak tersebut secara terang-terangan meminta untuk segera dijemput oleh ibu mereka. "Anak-anaknya yang saya terima videonya memang mereka juga pastilah yang namanya anak minta pulang. ‘Mami, tolong jemput, kapan mau dijemput?’ seperti itu. Artinya anak itu sudah minta dijemput," beber Daru Quthny, menggambarkan betapa besar keinginan anak-anak untuk kembali ke pelukan ibunya. Permintaan langsung dari anak-anak ini menjadi bukti kuat adanya tekanan emosional dan kerinduan yang sangat besar.

Berdasarkan hasil asesmen yang dilakukan oleh psikolog anak, dampak dari lingkungan dan konflik berkepanjangan ini sudah mulai merusak kondisi mental anak-anak. Penurunan kualitas kesehatan dan psikis ini menjadi dasar kuat bagi Inara Rusli, mantan personel girlband Bexxa, untuk terus memperjuangkan kepulangan anak-anaknya. "Berdasarkan laporan perkembangan hasil psikotes psikolog anak, pengakuan anak-anak tersebut, dan berita hoaks terhadap Inara, mengakibatkan anak-anak mengalami penurunan kondisi psikis dan kesehatan secara signifikan," jelas Herlina. Laporan psikolog anak tersebut merinci berbagai perubahan perilaku dan emosional yang dialami anak-anak, termasuk kecemasan, ketakutan, dan penurunan daya tahan fisik.

Perseteruan antara Inara Rusli dan Virgoun ini merupakan buntut dari laporan Inara Rusli ke Komnas Anak pada akhir Januari 2026. Dalam laporannya, Inara Rusli menuding Virgoun telah membawa paksa ketiga anak mereka tanpa izin sejak November 2025. Padahal, berdasarkan putusan tetap dari pengadilan, hak asuh anak sepenuhnya jatuh ke tangan Inara Rusli. Tindakan Virgoun ini dianggap melanggar hukum dan putusan pengadilan yang sudah berkekuatan hukum tetap.

Selain soal membawa anak, Inara Rusli juga mengeluhkan akses komunikasinya kepada buah hatinya yang diduga ditutup rapat oleh pihak mantan suami. Hal ini semakin menambah daftar kekhawatiran Inara Rusli terhadap kesejahteraan anak-anaknya. Terputusnya komunikasi ini tentu sangat berdampak pada ikatan emosional antara ibu dan anak, serta dapat menimbulkan perasaan terasing dan terlupakan pada anak-anak. Inara Rusli merasa berhak untuk berkomunikasi secara rutin dengan anak-anaknya, memberikan dukungan emosional dan memastikan bahwa mereka merasa dicintai dan diperhatikan.

Pihak Inara Rusli menekankan bahwa kesehatan dan kesejahteraan anak-anak adalah prioritas utama. Mereka berharap agar pihak Virgoun dapat memahami kondisi anak-anak dan mengizinkan mereka untuk kembali ke lingkungan yang lebih sehat dan kondusif. Permintaan untuk dijemput dari anak-anak sendiri menjadi bukti nyata bahwa mereka tidak merasa nyaman dan aman di tempat tersebut.

Dalam konferensi pers tersebut, Daru Quthny juga menyampaikan bahwa pihaknya telah berupaya untuk melakukan mediasi dan komunikasi yang baik dengan pihak Virgoun, namun belum mendapatkan respons yang memuaskan. "Kami sudah berusaha untuk mencari solusi terbaik demi anak-anak, namun sepertinya belum ada titik temu. Kami berharap Virgoun bisa bersikap lebih bijak dan mengutamakan kepentingan anak-anak di atas segala perselisihan," ujar Daru Quthny.

Herlina menambahkan bahwa laporan ke Komnas Anak adalah langkah terakhir setelah berbagai upaya komunikasi menemui jalan buntu. "Ini bukan keinginan kami untuk memperpanjang masalah, tapi kami terpaksa melakukan ini demi melindungi anak-anak kami. Kesehatan dan tumbuh kembang mereka tidak bisa ditunda," tegas Herlina. Ia juga menyayangkan adanya pemberitaan yang dianggap hoaks dan berpotensi merusak citra Inara Rusli di mata publik, yang pada akhirnya juga turut memengaruhi kondisi psikis anak-anak.

Keterangan dari kuasa hukum Inara Rusli ini memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai situasi yang dialami oleh ketiga anak mereka. Isu kesehatan yang disebabkan oleh paparan asap rokok pasif, kerinduan mendalam yang diungkapkan melalui video, serta dampak psikologis dari konflik orang tua, semuanya mengindikasikan bahwa anak-anak membutuhkan perlindungan dan lingkungan yang lebih baik. Pihak Inara Rusli berharap agar kasus ini dapat segera menemukan solusi yang terbaik demi masa depan anak-anak. Keputusan pengadilan mengenai hak asuh anak yang telah ditetapkan, seharusnya menjadi pedoman bagi kedua belah pihak untuk bertindak demi kebaikan buah hati mereka.

Lebih lanjut, pihak Inara Rusli mengungkapkan bahwa selain masalah kesehatan fisik akibat lingkungan yang tidak sehat, anak-anak juga mengalami kesulitan dalam beradaptasi. Lingkungan baru yang mereka tinggali diduga tidak menyediakan fasilitas atau suasana yang mendukung aktivitas dan perkembangan mereka sebagai anak-anak. Kurangnya stimulasi yang sesuai dengan usia dan kebutuhan perkembangan mereka juga menjadi perhatian tersendiri. Hal ini dikuatkan oleh pengakuan anak-anak yang disampaikan kepada psikolog anak, di mana mereka mengungkapkan perasaan kesepian dan kurangnya perhatian yang mereka rasakan.

Tim kuasa hukum Inara Rusli menegaskan bahwa mereka memiliki bukti-bukti yang kuat untuk mendukung setiap klaim yang disampaikan. Mulai dari rekam medis yang menunjukkan perburukan kondisi kesehatan anak-anak, hingga rekaman video dan kesaksian dari pihak-pihak terkait yang membuktikan adanya tekanan psikologis yang dialami oleh anak-anak. Mereka juga siap untuk melanjutkan proses hukum jika diperlukan, demi memastikan hak-hak anak terpenuhi sepenuhnya.

Masa depan anak-anak adalah tanggung jawab bersama, dan dalam kasus ini, pihak Inara Rusli merasa bahwa hak-hak anak telah terabaikan. Oleh karena itu, mereka akan terus berjuang agar anak-anak dapat kembali ke lingkungan yang aman, sehat, dan penuh kasih sayang. Harapan terbesar adalah agar Virgoun dapat bersikap dewasa dan menempatkan kepentingan terbaik anak di atas segala ego dan perselisihan pribadi. Peran orang tua sangat krusial dalam membentuk karakter dan kesejahteraan anak, dan perseteruan yang berlarut-larut seperti ini hanya akan menambah luka bagi anak-anak yang seharusnya dilindungi.

Pihak Inara Rusli juga mengimbau kepada publik agar tidak mudah termakan isu-isu negatif yang beredar dan dapat merugikan semua pihak, terutama anak-anak. Fokus utama saat ini adalah pemulihan kondisi kesehatan dan psikis anak-anak agar mereka dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Kerjasama dan pengertian dari semua pihak sangat dibutuhkan untuk mewujudkan hal tersebut.

(ahs/wes)