Jakarta – Misi bersejarah Artemis 2, yang dijadwalkan untuk membawa empat astronaut kembali mengelilingi Bulan setelah lebih dari lima dekade, harus menghadapi penundaan signifikan. Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA) mengumumkan bahwa peluncuran misi krusial ini, yang semula ditargetkan pada 8 Februari 2026, kini harus diundur setidaknya hingga awal Maret 2026, dengan potensi penundaan lebih lanjut. Alasan utama di balik keputusan ini adalah masalah kebocoran bahan bakar yang terdeteksi selama uji coba pra-peluncuran kritis, menyoroti kompleksitas dan risiko inheren dalam eksplorasi antariksa.
Penundaan ini muncul setelah serangkaian uji coba pra-peluncuran yang intens, dikenal sebagai ‘gladi resik basah’ (wet dress rehearsal), yang dimulai pada 31 Januari dan memuncak pada 2 Februari. Dalam simulasi krusial ini, tim teknik NASA berupaya untuk mereplikasi setiap aspek dari prosedur peluncuran, termasuk pengisian penuh roket Space Launch System (SLS) dengan bahan bakar kriogenik – 2,65 juta liter hidrogen cair dan oksigen cair. Bahan bakar ini, yang disimpan pada suhu sangat rendah, adalah jantung dari kekuatan pendorong SLS yang tak tertandingi, memungkinkan roket raksasa ini melepaskan diri dari gravitasi Bumi dan meluncur menuju Bulan.
Namun, proses pengisian bahan bakar tidak berjalan mulus. Para engineer mendeteksi beberapa kebocoran di berbagai titik sistem bahan bakar. Meskipun tim peluncuran berhasil mengatasi kebocoran awal dan memastikan tangki roket SLS tetap terisi penuh, laju kebocoran kembali meningkat secara signifikan menjelang akhir simulasi hitung mundur. Peningkatan laju kebocoran ini, yang terjadi sekitar lima menit sebelum simulasi berakhir, memaksa NASA untuk menghentikan latihan demi alasan keamanan dan analisis data yang lebih mendalam. Petinggi NASA, dalam pernyataan resminya seperti dikutip dari Space.com pada Selasa (3/2/2026), menegaskan bahwa meskipun banyak target tercapai, tantangan yang dihadapi selama uji coba dua hari ini memerlukan peninjauan menyeluruh. "Untuk memungkinkan tim meninjau data dan melakukan gladi bersih kedua, NASA kini akan menargetkan Maret sebagai kesempatan peluncuran paling awal untuk penerbangan uji coba," demikian bunyi pernyataan tersebut.
Artemis 2 bukanlah sekadar penerbangan luar angkasa biasa; ia adalah misi uji coba berawak pertama dari program Artemis NASA, sebuah inisiatif ambisius untuk mengembalikan manusia ke permukaan Bulan dan membangun kehadiran jangka panjang di sana sebagai batu loncatan menuju Mars. Program Artemis dirancang sebagai serangkaian misi yang semakin kompleks, dimulai dengan Artemis 1 yang berhasil diluncurkan tanpa awak pada akhir 2022. Misi Artemis 1 membuktikan kemampuan roket SLS dan kapsul Orion dalam melakukan perjalanan ke Bulan dan kembali, membuka jalan bagi misi berawak. Artemis 2 akan membawa empat astronaut dalam perjalanan pulang pergi selama 10 hari mengelilingi Bulan, menguji sistem pendukung kehidupan Orion dan kemampuan manuver pesawat dengan awak manusia sebelum misi pendaratan. Ini adalah langkah vital sebelum Artemis 3, yang dijadwalkan akan mendaratkan astronaut di permukaan Bulan pada pertengahan dekade ini, termasuk astronaut wanita dan orang kulit berwarna pertama yang menginjakkan kaki di permukaan Bulan.
Kembalinya manusia ke Bulan bukan hanya tentang mengulang sejarah misi Apollo yang fenomenal pada abad ke-20, tetapi juga tentang membangun masa depan eksplorasi ruang angkasa. Melalui program Artemis, NASA dan mitra internasionalnya berencana untuk mendirikan pangkalan di Bulan, membangun Stasiun Gateway yang mengorbit Bulan, dan mengembangkan teknologi baru yang diperlukan untuk misi jangka panjang ke Mars. Pangkalan di Bulan akan berfungsi sebagai laboratorium ilmiah dan pos terdepan untuk pengujian teknologi yang akan digunakan dalam perjalanan ke Mars, seperti sistem pendukung kehidupan tertutup dan teknik penambangan sumber daya di luar Bumi (in-situ resource utilization). Setiap penundaan, meskipun terlihat kecil, dapat memiliki efek domino pada keseluruhan jadwal program yang sudah padat dan penuh tantangan, termasuk potensi dampak pada pengembangan Gateway dan persiapan untuk misi Mars.
Jantung dari misi Artemis 2 adalah roket Space Launch System (SLS), peluncur super berat paling kuat di dunia yang dirancang untuk mengangkut muatan besar dan awak manusia melampaui orbit Bumi rendah. Dengan ketinggian yang menjulang dan kekuatan dorong yang luar biasa, SLS mampu membawa kapsul Orion dan modul lainnya menuju Bulan dengan kecepatan dan efisiensi yang belum pernah ada sebelumnya. Kapsul Orion, yang akan menjadi rumah bagi para astronaut selama perjalanan mereka, adalah pesawat ruang angkasa generasi baru yang dirancang untuk misi eksplorasi luar angkasa dalam. Orion dilengkapi dengan sistem pendukung kehidupan canggih, pelindung panas yang mampu menahan suhu ekstrem saat masuk kembali ke atmosfer Bumi pada kecepatan hipersonik, dan kemampuan navigasi yang presisi untuk memastikan kembalinya awak dengan selamat. Menguji coba sistem-sistem ini dengan awak manusia di dalamnya adalah tujuan utama Artemis 2, menjadikannya tonggak penting dalam validasi teknologi untuk misi yang lebih jauh dan kompleks.
Di dalam kapsul Orion, yang akan mengelilingi Bulan tanpa mendarat, akan ada empat individu luar biasa: Komandan Reid Wiseman, Pilot Victor Glover, Spesialis Misi Christina Koch, dan Spesialis Misi Jeremy Hansen dari Badan Antariksa Kanada (CSA). Keempat astronaut ini telah menjalani pelatihan intensif selama bertahun-tahun, mempersiapkan diri untuk setiap skenario yang mungkin terjadi di luar angkasa, mulai dari prosedur darurat hingga penelitian ilmiah. Mereka adalah pionir, mewakili berbagai latar belakang dan keahlian, yang akan mengukir sejarah sebagai manusia pertama yang melakukan perjalanan ke Bulan di abad ke-21. Sebagai bagian dari protokol kesehatan dan keselamatan yang ketat, para astronaut ini telah menjalani karantina di Houston, Texas, sejak 21 Januari. Tujuan karantina ini adalah untuk memastikan mereka bebas dari penyakit sebelum memasuki kapsul Orion, yang merupakan lingkungan tertutup dan rentan. Dengan penundaan peluncuran, Wiseman dan rekan-rekannya kini diizinkan untuk keluar dari karantina. Namun, mereka harus kembali menjalani isolasi dua minggu sebelum tanggal peluncuran baru yang, pada saat ini, masih belum secara definitif diumumkan oleh NASA, menunjukkan fleksibilitas dan adaptasi yang diperlukan dalam program antariksa.
Masalah kebocoran bahan bakar, meskipun berhasil diatasi sementara selama gladi resik, menyoroti tantangan teknis yang melekat dalam peluncuran roket super berat. Bahan bakar kriogenik seperti hidrogen cair dan oksigen cair sangat reaktif, mudah terbakar, dan memerlukan penanganan yang sangat hati-hati pada suhu ekstrem, mendekati nol mutlak. Kebocoran, bahkan yang kecil, dapat menjadi ancaman serius bagi keamanan misi dan kru, berpotensi menyebabkan kebakaran atau ledakan. Keputusan NASA untuk menunda peluncuran adalah bukti dari komitmen teguh badan antariksa tersebut terhadap keselamatan awak. Sejarah eksplorasi antariksa telah mengajarkan pelajaran berharga tentang konsekuensi dari mengabaikan masalah teknis, sekecil apa pun, seperti tragedi Challenger dan Columbia. NASA selalu menekankan bahwa keamanan adalah prioritas utama, dan tidak ada misi yang akan diluncurkan sampai semua sistem dinyatakan aman dan siap. Proses peninjauan data yang cermat dari gladi resik ini akan sangat penting untuk mengidentifikasi akar masalah kebocoran dan menerapkan solusi yang tepat, bahkan jika itu berarti memerlukan waktu lebih lama dan biaya tambahan.
Penundaan ini, meskipun frustrasi bagi banyak pihak, adalah bagian tak terpisahkan dari pengembangan teknologi antariksa yang mutakhir. Selain masalah teknis, jadwal peluncuran ke Bulan juga sangat bergantung pada jendela waktu yang spesifik, yang ditentukan oleh posisi relatif Bumi dan Bulan. Jendela ini penting untuk memastikan lintasan yang optimal bagi kapsul Orion untuk mencapai Bulan dan kembali ke Bumi dengan aman, meminimalkan penggunaan bahan bakar dan memaksimalkan efisiensi misi. Perhitungan orbital yang kompleks memastikan bahwa Orion dapat menggunakan gravitasi Bulan untuk "melontarkannya" kembali ke Bumi pada sudut yang tepat untuk masuk kembali atmosfer yang aman. NASA telah mengidentifikasi beberapa tanggal potensial untuk peluncuran Artemis 2 pada bulan Maret, yaitu antara 6-9 Maret dan 11 Maret. Jika masalah yang dihadapi masih belum bisa diselesaikan dan peluncuran terpaksa diundur lagi, ada jadwal cadangan yang terbuka pada bulan April, termasuk 1 April, 3-6 April, dan 30 April. Setiap jendela peluncuran ini memerlukan perhitungan yang cermat dan kondisi yang tepat untuk memastikan kesuksesan misi. Penundaan bukan hanya soal jadwal; ia juga berdampak pada anggaran dan sumber daya, dengan setiap hari penundaan berarti biaya operasional tambahan dan potensi penjadwalan ulang untuk ratusan atau bahkan ribuan personel yang terlibat dalam misi ini, dari engineer di Kennedy Space Center hingga tim pendukung di Johnson Space Center.
Meskipun menghadapi rintangan, semangat eksplorasi dan inovasi NASA tetap membara. Penundaan Artemis 2 adalah pengingat bahwa perjalanan ke bintang-bintang adalah upaya yang kompleks dan penuh tantangan, namun hasilnya – penemuan, pengetahuan, dan inspirasi – jauh melebihi segala kesulitan. Tim engineer dan astronaut akan terus bekerja tanpa lelah untuk mengatasi masalah ini, memastikan bahwa ketika Artemis 2 akhirnya meluncur, ia akan melakukannya dengan keamanan dan kesuksesan maksimal. Dunia akan terus menantikan momen bersejarah ketika manusia kembali mengelilingi Bulan, membuka babak baru dalam sejarah penjelajahan antariksa dan mempersiapkan umat manusia untuk melangkah lebih jauh, bahkan hingga ke Planet Merah, dengan pelajaran yang didapat dari setiap tantangan yang berhasil diatasi.

