Bisnis data center global terus menunjukkan prospek pertumbuhan yang masif, didorong oleh akselerasi transformasi digital dan kebutuhan yang kian mendesak akan infrastruktur yang tangguh. Di tengah dinamika ini, Managing Director Equinix Indonesia, Haris Izmee, mengungkapkan lima tren krusial yang akan mendominasi lanskap data center pada tahun 2026, khususnya dalam menyiapkan ekosistem yang siap kecerdasan buatan (AI) dan konektivitas yang tak terputus. Ekonomi digital Indonesia, dengan segala potensi dan tantangannya, menjadi arena penting di mana tren-tren ini akan terwujud. Equinix, sebagai pemain kunci dalam infrastruktur interkoneksi global, secara proaktif mempersiapkan diri untuk menyambut era baru ini.
1. Pergeseran ke Infrastruktur Berdensitas Tinggi: Era AI yang Haus Daya
Tren pertama yang digarisbawahi Haris Izmee adalah pergeseran fundamental dari infrastruktur data center berdensitas rendah yang umum di kisaran 2-5 kilowatt (kW) per rak, menuju infrastruktur berdensitas tinggi yang didesain khusus untuk AI, membutuhkan daya 30 kW atau lebih per rak. Perubahan ini bukan sekadar peningkatan angka, melainkan refleksi dari evolusi beban kerja komputasi. Aplikasi AI, terutama yang melibatkan pembelajaran mesin (machine learning), pembelajaran mendalam (deep learning), dan AI generatif, memerlukan daya komputasi yang sangat besar dari unit pemrosesan grafis (GPU) dan akselerator khusus lainnya. Komponen-komponen ini menghasilkan panas yang luar biasa, melampaui kemampuan sistem pendingin udara tradisional.
"Tahun lalu masih banyak perusahaan yang bereksperimen dengan AI. Tahun ini kita melihat kemungkinan akan banyak use case penggunaan AI yang benar-benar diimplementasikan dalam skala besar," kata Haris dalam pertemuan dengan media di Jakarta, Selasa (3/2/2026). Pernyataan ini menegaskan bahwa fase eksplorasi AI telah berakhir, digantikan oleh fase implementasi yang menuntut infrastruktur yang lebih kuat dan efisien. Solusi pendinginan generasi berikutnya, termasuk desain yang siap untuk pendinginan cair (liquid cooling), menjadi keharusan. Pendinginan cair menawarkan efisiensi termal yang jauh lebih tinggi, memungkinkan data center untuk mengakomodasi kepadatan daya yang ekstrem tanpa risiko overheating. Fasilitas seperti Equinix JK1 di Jakarta, yang diluncurkan pada tahun 2025, secara strategis dirancang untuk mendukung kepadatan yang siap AI ini, lengkap dengan interkoneksi privat berlatensi rendah yang vital untuk kinerja AI optimal.
2. Ekspektasi Always-On: Ketahanan Sejak Awal (Resilience by Design)
Tren kedua menyoroti ekspektasi yang tak tergoyahkan terhadap ketersediaan data center: Always-On. Di era digital ini, downtime atau waktu henti operasional tidak lagi dapat ditoleransi, terutama untuk sektor-sektor kritis seperti e-commerce, fintech, gaming, layanan kesehatan digital, dan berbagai layanan digital real-time lainnya. Setiap menit kegagalan sistem dapat berarti kerugian finansial yang signifikan, kerusakan reputasi yang tak terpulihkan, dan hilangnya kepercayaan pelanggan.
Haris Izmee menekankan bahwa hal ini mendorong konsep "ketahanan yang dirancang sejak awal" (resilience by design). Ini berarti bahwa strategi ketahanan bukan lagi sebuah add-on atau tambalan, melainkan elemen integral yang dipertimbangkan dan diimplementasikan sejak tahap perancangan dan pembangunan data center. Ini mencakup redundansi pada setiap komponen kritis—mulai dari sumber daya listrik ganda (2N atau N+1), sistem pendinginan yang berlapis, jaringan yang terhubung ke beberapa penyedia, hingga protokol keamanan fisik dan siber yang ketat. Tujuannya adalah untuk memastikan operasional yang tidak terganggu, bahkan di tengah potensi kegagalan komponen atau bencana tak terduga. Untuk bisnis yang mengandalkan infrastruktur digital untuk setiap aspek operasional mereka, Always-On bukan lagi kemewahan, melainkan fondasi esensial untuk kelangsungan dan kesuksesan bisnis.
3. Kedaulatan Data: Persyaratan Arsitektural dan Kepercayaan Konsumen
Tren ketiga adalah semakin menguatnya kedaulatan data sebagai persyaratan arsitektural fundamental bagi data center. Ini bukan hanya masalah kepatuhan hukum, tetapi juga cerminan dari meningkatnya kesadaran dan kekhawatiran konsumen terkait di mana dan bagaimana data pribadi mereka disimpan dan diproses. Haris mengatakan, kedaulatan data sejak tahap perancangan adalah sesuai dengan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) serta Peraturan Pemerintah No 71 (PP 71) di Indonesia. Regulasi ini secara eksplisit mengatur bahwa data pribadi yang bersifat sensitif perlu diproses dan disimpan di dalam negeri.
Namun, tantangannya adalah bagaimana menyeimbangkan kebutuhan akan kolaborasi lintas negara—yang seringkali esensial untuk inovasi dan efisiensi—dengan perlindungan data yang memadai. Solusinya memerlukan infrastruktur yang memungkinkan kolaborasi global didukung oleh perlindungan yang memadai, dokumentasi yang transparan, serta jalur transfer data yang terkontrol dan sesuai regulasi. "Konsumen juga sekarang sangat sensitif terkait kedaulatan data. Mereka ingin datanya di Indonesia, tetapi mereka bisa menggunakan keamanan, AI, fitur, cloud, dan sebagainya yang di luar negeri," jelas Haris. Ini menunjukkan permintaan ganda: keamanan data lokal yang ketat sekaligus akses ke inovasi dan layanan global. Data center modern harus mampu menyediakan kedua aspek ini, bertindak sebagai jembatan yang aman antara kedaulatan data lokal dan kebutuhan konektivitas global.
4. AI Terdistribusi: Pengambilan Keputusan Lebih Dekat ke Sumber Data
Tren keempat adalah munculnya AI yang terdistribusi, di mana pengambilan keputusan dan pemrosesan data semakin bergeser lebih dekat ke lokasi tempat data itu dibuat atau dikumpulkan. Ini adalah evolusi dari komputasi awan (cloud computing) menuju komputasi edge (edge computing) yang diperkuat AI. Dengan miliaran perangkat IoT (Internet of Things) yang menghasilkan data secara real-time—mulai dari sensor industri, kamera pengawas, perangkat medis, hingga kendaraan otonom—memindahkan semua data ini ke pusat data sentral untuk diproses akan menimbulkan latensi yang tidak dapat diterima dan membebani bandwidth jaringan secara masif.
AI terdistribusi memungkinkan analisis data dilakukan secara lokal, di "tepi" jaringan, menghasilkan respons yang hampir instan. Misalnya, dalam pabrik pintar, AI di edge dapat mendeteksi anomali pada mesin secara real-time dan memicu tindakan korektif tanpa penundaan. Dalam konteks kendaraan otonom, keputusan kritis tentang pengereman atau kemudi harus dibuat dalam milidetik. Tren ini memerlukan arsitektur data center yang lebih terfragmentasi, dengan pusat data mikro atau edge node yang ditempatkan secara strategis di lokasi-lokasi terpencil atau dekat dengan sumber data, semuanya terhubung kembali ke pusat data regional atau hyperscale untuk pemrosesan yang lebih kompleks dan penyimpanan jangka panjang. Ini mengoptimalkan kinerja, mengurangi bandwidth yang dibutuhkan, dan meningkatkan privasi data dengan meminimalkan pergerakan data sensitif.
5. Hybrid Multi-Cloud: Model Operasional Standar
Tren kelima yang tak terhindarkan adalah Hybrid Multi-Cloud yang telah menjadi model operasional standar bagi banyak perusahaan. Konsep ini melibatkan penggunaan kombinasi infrastruktur on-premise (di lokasi), private cloud, dan beberapa penyedia public cloud secara bersamaan. Director of Sales Equinix Indonesia, Deon Montasser, menjelaskan bahwa model multi-cloud ini membantu perusahaan agar tidak tergantung pada satu penyedia (vendor lock-in), mengoptimalkan biaya, dan memanfaatkan keunggulan spesifik dari masing-masing platform cloud.
Di Asia Pasifik, adopsi multi-cloud terus meningkat secara signifikan karena perusahaan mencari fleksibilitas, skalabilitas, dan ketahanan yang lebih besar. Dengan menempatkan beban kerja pada cloud yang paling sesuai untuk setiap tugas—baik dari segi biaya, kinerja, atau kepatuhan regulasi—perusahaan dapat membangun arsitektur IT yang lebih lincah dan responsif. Namun, pengelolaan lingkungan hybrid multi-cloud yang kompleks memerlukan strategi interkoneksi yang kuat. Data center seperti yang disediakan Equinix memainkan peran vital sebagai hub netral yang memungkinkan konektivitas langsung dan privat antar private cloud, public cloud, dan infrastruktur on-premise, memastikan kinerja yang optimal dan keamanan yang ditingkatkan dibandingkan koneksi melalui internet publik.
Dampak Sektor Industri dan Fokus Indonesia
Anthony Ho, Director of Product and Solution Marketing APAC Equinix, menambahkan bahwa industri dengan use case AI tinggi mencakup bioteknologi, layanan kesehatan, keuangan, insurtech (teknologi asuransi), logistik, transportasi, dan konstruksi. Di sektor-sektor ini, AI dapat meningkatkan efisiensi operasional, memungkinkan inovasi produk dan layanan, serta memberikan wawasan prediktif yang berharga.
Untuk konteks Indonesia, Deon Montasser secara spesifik menyoroti bahwa bank dan layanan keuangan menjadi industri yang paling membutuhkan infrastruktur data center yang kuat. Sektor ini menghadapi tekanan ganda: kebutuhan untuk berinovasi dengan cepat guna memenuhi permintaan konsumen yang terus berubah, sekaligus mematuhi regulasi yang ketat terkait keamanan dan kedaulatan data. AI, analitik data besar, dan layanan real-time menjadi krusial bagi lembaga keuangan untuk tetap kompetitif, mengelola risiko, dan meningkatkan pengalaman pelanggan.
Kelima tren ini secara kolektif melukiskan gambaran masa depan data center yang dinamis dan semakin canggih. Data center tahun 2026 bukan lagi sekadar tempat penyimpanan server, melainkan pusat saraf digital yang cerdas, terdistribusi, Always-On, dan sangat terinterkoneksi, yang secara fundamental siap untuk mendukung gelombang inovasi AI dan tuntutan ekonomi digital yang tak henti. Adaptasi proaktif terhadap tren ini akan menjadi kunci keberhasilan bagi bisnis dan penyedia infrastruktur di Indonesia dan seluruh dunia.

