Fenomena yang berulang dan kini semakin mengkhawatirkan kembali melanda dunia komputasi papan tunggal (Single Board Computer/SBC). Raspberry Pi, platform yang dikenal luas karena komitmennya menyediakan solusi komputasi berbiaya rendah dan mudah diakses, sekali lagi mengumumkan kenaikan harga untuk sejumlah lini produk utamanya. Ironisnya, pengumuman ini datang hanya berselang dua bulan setelah penyesuaian harga sebelumnya, mempertegas betapa rapuhnya rantai pasok global dan tekanan inflasi yang tidak pandang bulu, bahkan terhadap produk yang menjadi ikon keterjangkauan.
Kenaikan harga terbaru ini, yang berlaku efektif dalam waktu dekat, menyasar hampir seluruh lini produk Raspberry Pi 4 dan Raspberry Pi 5 dengan kapasitas RAM 2 GB ke atas, serta modul komputasi (Compute Module) terbaru, yakni Compute Module 4 dan Compute Module 5, juga untuk varian dengan RAM 2 GB ke atas. Pengumuman ini disampaikan langsung oleh CEO Raspberry Pi, Eben Upton, yang menjelaskan bahwa lonjakan harga komponen, khususnya memori akses acak (RAM), menjadi pemicu utama di balik keputusan sulit ini. Upton secara gamblang menyatakan bahwa biaya beberapa komponen krusial telah meningkat lebih dari dua kali lipat hanya dalam satu kuartal terakhir, memaksa perusahaan untuk kembali menyesuaikan harga jual produknya agar tetap dapat beroperasi secara berkelanjutan.
Secara spesifik, kenaikan harga yang akan diterapkan adalah sebagai berikut: model dengan RAM 2 GB akan mengalami kenaikan sebesar USD 10, varian 4 GB naik USD 15, versi 8 GB melonjak USD 30, dan konfigurasi tertinggi 16 GB akan naik hingga USD 60. Jika dikonversikan secara kasar ke mata uang Rupiah dengan asumsi kurs sekitar Rp 15.800 per USD, kenaikan tersebut setara dengan sekitar Rp 158.000 untuk model 2 GB, Rp 237.000 untuk 4 GB, Rp 474.000 untuk 8 GB, dan angka yang cukup fantastis, Rp 948.000, untuk varian 16 GB. Angka-angka ini tentu bukan jumlah yang sedikit, terutama bagi komunitas yang selama ini mengandalkan Raspberry Pi sebagai alternatif komputasi yang hemat anggaran.
Ini bukanlah kali pertama Raspberry Pi melakukan penyesuaian harga dalam waktu singkat. Sebelumnya, pada Desember lalu, perusahaan ini juga telah menaikkan harga produk yang sama sebesar USD 5 hingga USD 25, tergantung pada konfigurasi RAM. Sebagai contoh, Compute Module 5 versi 16 GB saat itu sudah mengalami kenaikan sebesar USD 20, atau sekitar Rp 316.000. Dengan kenaikan berturut-turut ini, total peningkatan harga untuk beberapa model tertinggi bisa mencapai angka yang signifikan, mengubah persepsi Raspberry Pi dari "sangat murah" menjadi "lumayan mahal" di mata sebagian penggunanya.
Namun, tidak semua produk Raspberry Pi terdampak oleh kenaikan harga kali ini. Raspberry Pi 5 versi 1 GB yang baru saja diluncurkan dua bulan lalu, serta Raspberry Pi 4 varian 1 GB, masih mempertahankan harga lama. Demikian pula dengan Raspberry Pi 400 versi all-in-one, yang mengintegrasikan Raspberry Pi ke dalam keyboard, tidak mengalami kenaikan. Produk-produk generasi lama seperti Raspberry Pi 3 dan Raspberry Pi Zero juga aman dari lonjakan harga. Eben Upton menjelaskan bahwa Raspberry Pi masih memiliki stok memori LPDDR2 yang cukup untuk mendukung produksi produk-produk lama tersebut hingga beberapa tahun ke depan. Ketersediaan stok memori lama ini menjadi penentu utama mengapa model-model tersebut tidak terpengaruh, menunjukkan bahwa krisis RAM saat ini lebih spesifik menyasar jenis memori yang lebih baru dan berkinerja tinggi, seperti LPDDR4 dan LPDDR5 yang digunakan pada Pi 4 dan Pi 5.
Kenaikan harga yang berulang ini menyoroti krisis memori global yang lebih luas, yang telah memengaruhi industri semikonduktor selama beberapa waktu. Lonjakan permintaan untuk chip memori, didorong oleh pertumbuhan pesat di sektor kecerdasan buatan (AI), pusat data, komputasi awan, serta perangkat mobile dan otomotif, telah menekan pasokan dan mendorong harga naik secara signifikan. Perusahaan-perusahaan pembuat memori, yang juga menghadapi tantangan dalam meningkatkan kapasitas produksi dan biaya bahan baku yang meningkat, terpaksa menaikkan harga jual produk mereka kepada pelanggan seperti Raspberry Pi. Situasi geopolitik dan gangguan pada rantai pasok global, seperti pandemi dan konflik regional, juga turut memperkeruh kondisi ini, menciptakan ketidakpastian yang berkelanjutan.
Eben Upton sendiri memperkirakan bahwa tekanan harga memori ini masih akan terus berlanjut sepanjang tahun 2026. Meskipun demikian, ia tetap optimis bahwa situasi ini bersifat sementara dan berharap penyesuaian harga dapat ditarik kembali ketika kondisi pasar memori kembali stabil. Harapan ini tentu saja menjadi angin segar bagi komunitas Raspberry Pi, namun realitas pasar semikonduktor yang volatil dan kompleks menunjukkan bahwa pemulihan mungkin tidak terjadi secepat yang diharapkan.
Dampak dari kenaikan harga ini berpotensi sangat luas, terutama bagi komunitas yang menjadi tulang punggung keberadaan Raspberry Pi. Para hobiis, yang selama ini mengandalkan Raspberry Pi untuk proyek-proyek DIY (Do It Yourself) mulai dari server media rumahan, konsol game retro, hingga sistem otomatisasi rumah pintar, mungkin akan berpikir dua kali sebelum membeli model terbaru. Peningkatan biaya awal ini dapat menghambat eksplorasi dan inovasi di kalangan penggemar teknologi.
Sektor pendidikan juga akan merasakan imbasnya. Raspberry Pi telah menjadi alat yang sangat berharga dalam mengajarkan dasar-dasar pemrograman, elektronika, dan robotika di sekolah-sekolah dan universitas di seluruh dunia. Dengan harga yang lebih tinggi, anggaran yang terbatas untuk pengadaan perangkat keras di lembaga pendidikan dapat terbebani, berpotensi membatasi akses siswa terhadap teknologi penting ini. Misi awal Raspberry Pi Foundation untuk mempromosikan ilmu komputer di kalangan kaum muda bisa terancam jika produk mereka menjadi kurang terjangkau.
Selain itu, para pengembang dan perusahaan rintisan (startup) yang menggunakan Raspberry Pi untuk prototipe, perangkat Internet of Things (IoT), atau solusi embedded system berbiaya rendah juga akan terkena dampak. Kenaikan harga komponen dapat memengaruhi total biaya kepemilikan (Total Cost of Ownership/TCO) dan profitabilitas proyek, terutama bagi mereka yang beroperasi dengan margin tipis atau membutuhkan skala besar. Hal ini bisa mendorong mereka untuk mencari alternatif lain yang lebih murah, meskipun mungkin dengan kompromi pada kinerja atau ekosistem pendukung.
Kondisi ini juga memicu pertanyaan tentang daya saing Raspberry Pi di pasar SBC yang semakin ramai. Ada banyak pemain lain yang menawarkan papan tunggal serupa, seperti Orange Pi, Rock Pi, dan BeagleBone, yang mungkin akan mengambil keuntungan dari kenaikan harga Raspberry Pi. Meskipun Raspberry Pi memiliki ekosistem perangkat lunak yang matang dan komunitas yang sangat aktif, perbedaan harga yang signifikan dapat menjadi faktor penentu bagi banyak konsumen.
Untuk menghadapi tantangan ini, Raspberry Pi kemungkinan besar akan terus mencari cara untuk mengoptimalkan rantai pasok mereka, menjalin kemitraan strategis dengan pemasok memori, dan mungkin mengeksplorasi desain ulang produk di masa depan untuk mengurangi ketergantungan pada komponen yang paling rentan terhadap fluktuasi harga. Bagi konsumen, adaptasi juga akan menjadi kunci. Beberapa mungkin akan beralih ke model Raspberry Pi yang lebih lama dan tidak terdampak, atau mencari produk dengan kapasitas RAM yang lebih rendah. Sementara yang lain mungkin akan mempertimbangkan platform SBC alternatif atau bahkan beralih ke solusi komputasi berbasis mikrokontroler seperti Arduino atau ESP32 untuk proyek-proyek yang tidak memerlukan daya komputasi tinggi.
Secara keseluruhan, kenaikan harga Raspberry Pi yang berulang ini adalah cerminan nyata dari gejolak ekonomi global dan kerentanan rantai pasok teknologi modern. Meskipun harapan akan stabilisasi pasar memori tetap ada, untuk saat ini, para penggemar, pendidik, dan pengembang harus menghadapi kenyataan bahwa perangkat komputasi yang dulunya merupakan simbol keterjangkauan kini harus membayar harga yang lebih tinggi. Ini adalah pengingat penting bahwa bahkan inovasi yang paling revolusioner pun tidak kebal terhadap kekuatan pasar global yang tak terduga.

